
***
Sebagai seorang yang sudah merawat dan membesarkan Alira dengan kedua tangannya sendiri, tentu ini sangat berat bagi Tuan Sadewa harus melepas gadis itu dari tangannya dan melepas semua tanggung jawabnya atas Alira kepa Gus Irham, tapi lagi-lagi dia teringat jika ini semua demi kebaikan Alira. Jadi mau tidak mau dirinya harus ikhlas.
Seseorang mengetuk pintu dari luar mengalihkan pandangan Tuan Sadewa Kurdi dari bingkai di tangannya. Sejak kemarin pria berbadan tegap itu mengurung diri di kamar, tidak mau bertemu dengan siapa-siapa, tidak mau keluar dari kamar sampai makan saja harus di antar Mbak Imah ke kamar.
"Siapa?"
"Alira, Pah."
Tuan Sadewa beranjak dari depan meja kecil di dekat jendela kamarnya kemudian membuka pintu untuk Alira. Senyum gadis itu mengembang sempurna kemudian mengikuti langkah papanya duduk di sofa dekat ranjang. Wajah papanya tampak lesu dan tak bersemangat.
"Papa kenapa?" tanya Alira cemas. Dia takut jika orang yang paling di kasihinya ini sampai sakit lagi.
Tuan Sadewa menghirup napas sebanyak-banyaknya guna mengisi rongga dadanya yang sesak. "Papa tidak apa-apa. Papa cuma sedih karena sebentar lagi kamu akan pergi ninggalin Papa," ungkapnya dengan wajah sendu.
Alira menghambur memeluk Tuan Sadewa erat. "Kalo gitu Al, nggak usah nikah aja ya, biar Al gak kemana-mana. Biar Al nemenin Papa terus di rumah ini," ucap Alira terisak.
Sesungguhnya Alira juga tidak mau berpisah dengan papanya, terlebih harus meninggalkan rumah penuh kenangan masa kecilnya itu, tapi kata Mbak Minah yang sudah seperti keluarga sendiri itu mengatakan jika setiap perempuan yang sudah menikah itu harus mengikuti kemana pun suaminya pergi.
Tuan Sadewa mengurai pelukan, menggelengkan kepala sebagai tanda tak setuju dengan ucapan Alira.
"Tidak sayang. Kamu harus tetap menikah dengan Gus Irham." Di usapnya kepala Alira lembut. "Dengerin Papa! Kamu tidak boleh melawan pada suami, kamu harus nurut apa kata dia selama itu baik buat kamu."
"Kalo Al nggak mau?"
"Dosa. Kamu mau lihat Papa masuk neraka karena kamu durhaka sama suami kamu?" Alira menggeleng cepat. "Makannya kamu harus nurut sama Gus Irham ya? Insa Allah dia laki-laki yang baik dan bertanggung jawab."
Alira hanya mengangguk saja meski dalam hatinya kini tengah resah memikirkan dirinya yang sebentar lagi akan menikah.
'Ah nggak, nggak. Dia udah janji ga bakal nyentuh gue tanpa seizin dari gue, tapi nanti gue dosa nggak ya?' batin Alira berperang. Alira jadi takut apalagi setelah mendengar ucapan papanya barusan.
Tiba-tiba Mbak Minah datang dia memberi tahu jika Kyai Syarif beserta istri dan calon suami Alira sudah datang. Tuan Sadewa mengajak Alira untuk turun setelah menyuruh putrinya membersihkan wajahnya.
Tuan Sadewa Kurdi menggandeng tangan Alira menuruni anak tangga satu persatu hingga tangga paling bawah dengan sangat hati-hati karena Alira tampak kesulitan dengan baju kebaya juga jarik yang melilit di tubuhnya.
__ADS_1
Tak ada pesta atau pun tamu undangan yang hadir dalam pernikahan mereka. Hanya ada Kyai Syarif, Bu Nyai Halimah, Miftah, Tuan Sadewa, Mbak Minah, satpam di rumahnya, penghulu dan kedua calon pengantin. Sebenarnya Tuan Sadewa ingin pernikahan anak satu-satunya ini diadakan pesta besar, tetapi karena waktunya tidak cukup jadi sederhana saja.
Gus Irham begitu lancar mengucapkan ijab kobul menjabat tangan Tuan Sadewa yang menikahkan mereka hanya dengan satu tarikan napas sampai terdengar kata 'sah' dari para saksi.
Alira rasanya ingin menangis saja. Entah apa ia harus senang atau sedih dengan pernikahan ini yang jelas dia tidak sedang bahagia. Alira merasa kebebasannya sudah terenggut karena pernikahan ini. Mungkin jika dirinya menikah dengan orang yang ia cintai tentu ia rela melepas cita-citanya menjadi wanita karir, tetapi ini ....
Menjadi istri dari seorang Gus sama sekali tak pernah ada dalam benak Alira, terlebih harus tinggal di pesantren. Alira tidak bisa membayangkan seperti apa kehidupannya di sana nanti.
"Eits, mau ngapain?" Alira membalikkan badannya begitu menyadari Gus Irham yang sudah sah menjadi suaminya hendak ikut masuk ke dalam kamarnya.
Usai melafalkan kata nikah tadi Tuan Sadewa menyuruh mereka beristirahat sebentar karena hari ini juga Alira akan diboyong ke kediaman Kyai Syarif di Jawa Timur. Itu adalah kesepakatan Tuan Sadewa dan ayah mertua Alira.
"Masuk," jawab Gus Irham tenang.
"Enak aja, ini kamar gue. Lo nggak boleh masuk." Alira berusaha menutup pintu, tetapi Gus Irham lebih dulu menerabas masuk ke dalam membuat Alira berang.
"Keluar nggak, lo sekarang atau gue teriak nih!"
Gus Irham tersenyum. "Aku kan suami kamu, kalo mau teriak teriak saja."
Alira benar-benar marah, emosinya sudah di ujung tanduk sekarang. Ternyata selain kaku Gus Irham juga sangat menyebalkan.
"Kenapa nggak jadi teriak?" tanya Gus Irham, kedua tangannya dilipat di depan dada menatap Alira dengan senyum jahil.
Alira hanya mendengus, pura-pura tak mendengar lalu masuk ke dalam kamar mandi. Selang beberapa menit terdengar suara gemerecik air dari dalam kamar mandi. Gus Irham tersenyum, entah apa yang ada di dalam pikiran laki-laki tampan itu.
"Sebenarnya Alira anak yang baik dan penurut, hanya saja saya yang kurang memperhatikannya. Saya hanya menjejalinya dengan harta tanpa memikirkan perasaannya yang juga butuh saya."
Ucapan papa mertuanya saat mereka makan di hotel kembali terngiang di pikiran Gus Irham.
"Nak, Irham. Tolong bimbing Alira dan jangan pernah meninggalkannya sekalipun Alira yang meminta saya mohon?"
Kalimat-kalimat itu terus saja membayang di ingatannya. Ia sudah berjanji pada papa mertuanya jadi apa pun sikap Alira padanya akan dia terima dengan lapang dada.
"Ssttt ... ssttt."
__ADS_1
Gus Irham mencari sumber suara.
"Woi, gue yang panggil."
Gus Irham menoleh ke arah kamar mandi dan mendapati kepala Alira yang menyembul di pintu yang terbuka sedikit.
"Ambilin handuk gue dong di lemari!" Perintahnya sambil menunjuk lemari yang ada di dekat Gus Irham. Gus Irham beranjak mendekati lemari lalu mengambil handuk dan memberikannya pada Alira tanpa sepatah kata.
Beberapa menit kemudian Alira keluar hanya mengenakan handuk lalu berjalan ke lemari. Sepertinya dia lupa jika di kamar dia tidak sendirian, ada Gus Irham yang kini telah sah menjadi suaminya.
"Astaga. Elo ngapain masih di sini?" Alira baru tersadar dan dia amat terkejut mendapati Gus Irham masih berada di dalam kamarnya, lalu buru-buru menutupi bagian tubuhnya yang terbuka dengan selimut yang dia tarik dari atas kasur.
"Cepat keluar!" Usirnya.
Gus Irham hanya tersenyum saja tanpa beranjak sedikit pun dari tempatnya. Ia ingin tahu apa yang akan Alira lakukan padanya.
"Ngapain palah senyum-senyum? Keluar nggak!"
"Kalo saya nggak mau kamu mau apa?"
Sepertinya Gus Irham ingin menggoda istrinya.
Alira mendesis kemudian mendorong Gus Irham agar keluar dari kamarnya.
"Huh! Enak aja dia mau ...," Alira tak melanjutkan ucapannya. Ia ngeri sendiri jika tadi kegitannya yang hendak memakai baju dilihat semuanya oleh Gus Irham.
***
Sekitar pukul empat sore Alira bener-bener diboyong dari rumah papahnya ke rumah mertuanya di Jawa Timur. Sepanjang jalan Alira terus menangis karena ini untuk pertama kalinya Alira jauh dari pria yang sudah membesarkannya. Gus Irham sampai bingung harus berbuat apa untuk menenangkan istrinya.
"Al, kamu nggak apa-apa?" tanya Gus Irham, nada suaranya terdengar cemas. Bagaimanapun kini Alira sudah menjadi tanggung jawabnya jadi sudah sepantasnya ia melindunginya.
Alira tak menjawab, pandangannya tertuju ke luar jendela. Air matanya terus saja mengalir jatuh membasahi pasmina yang di kenakannya. Pikirannya kosong, raganya di sini, tetapi jiwanya masih tertinggal di rumahnya.
Bis yang mereka tumpangi sudah jauh meninggalkan Jakarta, meninggalkan kenangan masa kecil Alira untuk memulai kehidupan barunya sebagai seorang istri dari Gus Irham.
__ADS_1
Next capter >>
Hai hai reader, jangan lupa tinggalin jejaknya yaa