
***
Setelah menginap beberapa hari di rumah sakit keadaan Tuan Sadewa berangsur membaik beliau diizinkan dibawa pulang dan selama itu pula ia dirawat sama dokter paruh baya itu. Setiap kali dokter Nadia memeriksanya selama itu pula Tuan Sadewa selalu curi-curi pandang.
Paras dokter berkaca mata itu mengingatkannya pada sosok almarhumah istrinya-Almira. Ya, mereka sangat mirip. Bedanya dokter Nadia berkaca mata sedang istrinya tidak. Atau jangan-jangan mereka ada hubungan darah? Kembar yang terpisah karena suatu peristiwa misal?
Ah, tapi sepertinya itu tidak mungkin karena selama ia mengenal mamanya Alira, perempuan itu punya orang tua yang lengkap. Ada abah juga ummi.
"Papa naksir sama Dokter Nadia?" Pertanyaan itu tercetus begitu saja dari bibir Alira. Bukan tanpa alasan, selama menunggui papanya Alira selalu memperhatikan jika tatapan papanya berbeda saat melihat dokter yang ternyata ibunya Farhan.
Laki-laki itu juga beberapa kali menjenguk papanya, mereka terlihat sangat akrab meski baru pertama bertemu. Farhan yang pandai berbicara membuat papanya merasa lebih baik, sangat berbeda dengan Gus Irham yang berperangai serius dan sedikit kaku.
Kedua pipi Tuan Sadewa mendadak berubah sedikit merona, dadanya mendadak berdetak lebih kencang mendapat pertanyaan yang sepertinya itu tidak pantas untuk pria seusianya, 'jatuh cinta' sepertinya tidak seharusnya ia rasakan.
"Kamu ini bicara apa sih, Al," dalihnya lalu menenangkan detak jantungnya yang masih saja bergejolak.
Alira selesai mengemasi barang-barang tinggal menunggu Gus Irham yang sedang membayar biaya rumah rawat inap.
"Dia janda loh, Pah," bisik Alira tepat di telinga menggoda sang papa lagi.
"Hmmm, mulai kumat lagi nakalnya." Dipukulnya pelan kepala Alira yang tertutup hijab. Gadis itu hanya nyengir.
Tuan Sadewa lalu meraih tubuh Alira ke dalam pelukannya.
"Dengerin Papa! Tidak ada satu perempuan pun yang akan bisa menggantikan posisi almarhumah mama kamu di hati Papa," tegas dan penuh keyakinan.
Bertahun-tahun ia rela menduda demi menjaga kesetiaannya kepada mamanya Alira. Ia tidak mau menduakan meskipun wanita itu sudah lama tiada.
Alira merasa bangga, ia begitu kagum pada papanya yang begitu setia menjaga hatinya sementara Gus Irham. Ah, belum juga ada setahun menikah, tapi suaminya sudah punya wanita lain dan bodohnya dirinya baru tahu. Sejak kapan pula Gus Irham punya simpanan? Atau jangan-jangan justru dirinya yang jadi simpanan?
Susah payah Alira menahan air matanya yang hendak keluar, tapi selalu saja gagal hingga dua butir kristal itu berhasil lolos dari kedua netranya. Namun, segera ia seka dengan ujung hijabnya. Ia tidak mau terlihat sedang bersedih di depan papanya meskipun hatinya sedang merasa hancur.
"Tapi kalo Papa mau nikah lagi nggak pa-pa kok, Al setuju. Biar ada yang merawat dan nemenin Papa." Kata Alira sambil melepas pelukan.
Pria yang masih terlihat lemah itu mengangkat tangannya menggenggam jemari putrinya, tersenyum.
"Kan sudah ada Mbak Minah sama Nurul yang nemenin dan merawat Papa."
"Tapi kan ini beda, Pah. Mereka nggak mungkin ada buat Papa 24 jam, tapi kalo Papa nikah lagi dan punya istri dia akan nemenin Papa setiap hari. Mau ya, ya?" Alira mengerjam-ngerjapkan kedua matanya di depan wajah sang papa.
"Mau apa?" Tuan Sadewa pura-pura polos, tidak paham maksud ucapan Alira.
__ADS_1
Alira memutar bola malas, ia tahu jika papanya paham apa yang ia katakan.
Obrolan keduanya terjeda karena kedatangan Gus Irham. Gus Irham membantu mertuanya naik ke kursi roda kemudian mendorongnya keluar. Sementara Alira berjalan di sampingnya sambil membawa tas berisi baju kotor.
Ponsel Gus Irham yang berada di saku berbunyi, ia berhenti mendorong kursi roda.
"Sebentar ya, Pah, ada telepon. Al, saya angkat telpon sebentar, ya, jangan kemana-mana!"
Tanpa menunggu jawaban laki-laki itu berjalan menjauh. Alira hanya menatap punggungnya, menguatkan hatinya yang semakin berdenyut nyeri.
"Pasti perempuan itu yang menelpon kalo bukan ngapain dia menjauh?"
"Perempuan siapa, Al?"
"Hah? Bukan siapa-siapa, Pah, cuma tukang sayur," jawab Alira asal.
Selama perjalanan Alira hanya diam menatap luar jendela menatap pohon-pohon di tepi jalan yang seolah berlari ke belakang. Alira mengingat kembali saat pertemuannya dengan laki-laki yang sedang menyetir.
"Hah." Alira membuang napas berat untuk mengurangi sesak di dadanya, tapi itu berhasil membuat Gus Irham memalingkan wajahnya sekilas, mengerutkan dahi.
"Kamu kenapa? Capek?" tanyanya sambil sesekali menatapnya.
Alira kembali membuang napas, menoleh suaminya sebentar kemudian menggeleng.
"Biar Bibi yang bawa tasnya, Non."
Alira hanya mengangguk membiarkan tas yang tak seberapa berat itu berpindah tangan.
"Di bagasi juga ada makanan, tolong bawain ya, Mbak!" Ia hanya membawa tas kecil miliknya saja itu baginya sudah terasa berat.
"Baik, Non. Nurul! Bantuin Bibik!"
Tergopoh gadis berhijab biru muda itu keluar dari dalam rumah menghampiri bibinya.
"Kamu habis ngapain sih kok, lama banget?"
"Maaf, Bik. Tadi Nurul habis solat," jawab gadis itu cengengesan.
"Oh ya wes, bawain masuk buruan!"
"Iya baik, Bik."
__ADS_1
Alira meletakkan tasnya di sofa ruang tamu lalu pergi ke kamar papanya. Hati-hati saat ia membuka pintu karena takut mengganggu istirahatnya. Benar saja ia melihat pria yang masih terlihat tampan meski usianya tak lagi muda itu sedang tertidur. Pandangannya kemudian menyisir sekitar, tak ada siapa-siapa. Kemana suaminya? Padahal baru sebentar tapi laki-laki itu sudah tidak ada.
Alira menutup pintu kembali lalu langkahnya terayun menuju kamarnya sendiri. Alira tampak heran karena melihat Gus Irham tampak sudah mandi dan berpakaian rapi, tapi ia cuek dan tak ingin bertanya. Alira masih kecewa sama suaminya yang sudah tak jujur.
"Saya mau keluar, mungkin pulangnya malam. Kamu nggak apa-apa 'kan kalo saya tinggal?" tanyanya.
Alira yang sedang melepas peniti di hijabnya memutar badan. "Nggak pa-pa, aku biasa di rumah sendirian," sahutnya tanpa ekspresi.
Gus Irham terdiam, ia merasa jika sikap Alira terlihat sangat dingin sejak tiba di rumah sakit. Atau mungkin karena lelah harus bolak-balik dari rumah ke rumah sakit? Atau ada hal lain yang membuatnya berubah seperti itu.
"Kamu marah sama saya?"
"Nggak."
"Tapi sikap kamu berubah?"
"Berubah gimana? Dari dulu aku selalu seperti ini."
Gus Irham tak berkata apa-apa lagi, ia lebih memilih diam daripada melanjutkan obrolan karena sepertinya istrinya sedang tidak mood.
"Apa?" tanya Alira saat Gus Irham mengulurkan tangan ke arahnya.
"Salim, kan saya mau pergi."
Dengan gerakan malas Alira meraih tangan suaminya lalu menempelkannya ke pipi.
"Kamu mau saya bawakan apa?"
Biasanya, perempuan jika sedang hilang mood saat dibawakan makanan akan langsung semangat.
"Gak usah. Aku nggak mau apa-apa. Udah pergi sana!"
Gus Irham menghela napas dalam, ternyata usahanya gagal. Ia memang tidak pandai dalam merayu perempuan yang sedang ngambek. Dulu saat bersama Ning Alia pun ia lebih memilih menghindar sampai mood perempuan itu kembali lagi.
Sifat Alira tak jauh beda, mereka hampir memiliki sifat yang sama padahal mereka tak ada hubungan darah? Atau memang semua perempuan seperti itu? Aneh?
"Ya sudah, saya pergi dulu."
"Selamat bersenang-senang dengan pacarmu, Gus."
Kalimat itu berhasil menghentikan langkah Gus Irham yang hampir mencapai pintu lalu memutar tubuhnya menghadap Alira.
__ADS_1
"Maksud kamu?"
Hai readers, jangan lupa tinggalkan jejak, like dan dukung terus karya ini karena itu bikin mood author naik 1k kali lipat 😅