ISTRI NAKAL GUS TAMPAN

ISTRI NAKAL GUS TAMPAN
Cemburu


__ADS_3

***


Buru-buru Alira menutup kaca mobilnya, ia tidak mau jika sampai kedua orang itu melihatnya.


"Kenapa Al, kok seperti cemas gitu?" tanya Gus Irham yang melihat dari kaca spion, Alira seperti tengah panik.


"Hah? Nggak ada apa-apa," sahutnya gugup, ia enggan jujur pada suaminya apa yang ia lihat tadi.


Gus Irham tak bertanya lagi. Lampu sudah berubah warna hijau dan mobil kembali berjalan hingga setengah jam kemudian memasuki pelataran pesantren. Alira Segera turun setelah menyalami tangan suaminya.


"Yakin nggak ikut?"


"Yakin."


"Ya sudah, aku pergi dulu," pamitnya. Alira hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Ayo, Mif, kita berangkat sekarang," titahnya pada Miftah. Kang santri itu mengangguk lalu kembali menjalankan mobilnya.


Alira masih berdiri di tempat mengamati mobil yang baru saja berlalu hingga menghilang setelah pintu gerbang ditutup. Ia membuang napas kasar demi mengusir gelisah.


Jujur, ia sedikit tidak rela jika Gus Irham pergi ke pesantren Kyai Hanan. Bukan apa, ia hanya takut Ning Alia akan berulah lagi dan meminta yang aneh-aneh lagi. Cemburu? Tentu saja kini ia cemburu karena ia sangat mencintai suaminya.


"Ning, Alira udah pulang?"


Alira menoleh ke belakang dan mendapati Ayu sudah berdiri tak jauh darinya, ia tersenyum ramah. Alira balas tersenyum.


"Iya, Ayu."


Mereka lalu masuk beriringan, Ayu langsung menuju ke dapur sedang Alira berjalan ke kamarnya. Setibanya di sana ia meletakkan tas pinggangnya di sofa lalu menjatuhkan diri di sana, mengempas napas kasar, mengedarkan pandangan ke sekitar.


"Siapa?" tanyanya saat mendengar pintu diketuk dari luar.


"Saya, Ning, Ayu."


Alira beranjak, membukakan pintu. Gadis berjilbab putih itu tersenyum, di tangannya membawa nampan berisi teh hangat.


"Saya bikinin teh anget, Ning."


"Iya, makasih, Ayu." Alira menggeser tubuhnya memberi jalan agar gadis itu bisa masuk. Ayu meletakkan cangkir di meja sofa lalu bergegas keluar. Alira kembali duduk setelah menutup pintu kembali.


Ia meraih cangkir bening itu lalu mengesap teh yang tidak terlalu panas dan tidak dingin, pas. Ponsel di tasnya berbunyi ia langsung menggapainya. Ada pesan dari nomor baru.


[Al, tadi gue kayak liat lo di lampu merah. Itu beneran elo-kan?]


Hampir saja Alira melempar ponselnya saat membaca pesan tersebut. Meski nomor itu tak ada di kontak, tetapi Alira paham itu pesan dari siapa. Ricky. Iya, itu Ricky. Kenapa laki-laki itu menghubunginya lagi, padahal nomornya sudah ia blokir.

__ADS_1


[Bukan] balasnya kemudian.


[Yakin itu bukan elo? Tapi kok, gue liat yang depan suami elo deh]


Tidak salah lagi, Ricky tadi juga melihatnya.


[Tenang, gue nggak akan ganggu lo lagi, kok. Tadi gue cuma kebetulan aja lagi jalan-jalan] balas Ricky lagi.


Alira tak membalas lagi, ia mematikan data kemudian menyimpan ponselnya di meja. Ia lalu bangkit lalu keluar kamar.


***


Menjelang ashar Gus Irham kembali.


"Mif, besok mobilnya dicuci ya, buat jemput abah!" titahnya setelah turun dari mobil.


"Nggih, Gus."


Gus Irham lalu masuk ke dalam, ia melihat istrinya tengah terlelap di atas tempat tidur. Ia berjalan mendekat, mengamati istrinya yang tengah tidur, senyumnya mengembang sempurna.


Pantas saja telponnya tak di angkat, rupanya tidurnya sangat pulas. Pasti ia kecapean. Gus Irham kemudian beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Lima belas menit kemudian ia keluar dengan sudah berganti pakaian koko biru laut siap pergi ke masjid untuk mengimami sholat.


Selama ia pergi, pesantren ia serahkan kepada Kyai Rosid, beliau adalah adik abahnya yang selama initurut membantu mengurus pesantren.


"Al, bangun! Udah sore. Mandi dulu!"


Perlahan Alira menggeliat lalu membuka kedua matanya, mengerjap beberapa kali sambil mengumpulkan nyawa.


"Astaghfirullah, Gus." Alira langsung terduduk begitu menyadari siapa yang duduk di dekatnya. Gus Irham tersenyum.


"Jam berapa ini, Gus."


"Hampir jam lima," sahutnya masih dengan senyum manisnya.


"Astaghfirullah, kenapa aku nggak dibangunin? Aku belum mandi, belum sholat." Alira turun dari tempat tidur, berjalan ke arah lemari lalu mengambil handuk kemudian ke kamar mandi.


Ia sedikit kesal karena Gus Irham tidak membangunkannya, terlebih suaminya itu tak menelponnya sehingga ia tak bisa menyambutnya.


Setelah mandi dan sholat Alira duduk di sebelah Gus Irham yang sedang sibuk dengan laptopnya. Alira mengamati apa yang sedang suaminya kerjakan.


Tak lama kemudian ia beranjak ke dapur untuk membuatkan suaminya kopi setelahnya ia kembali dengan secangkir kopi yang masih mengepulkan asap. Alira meletakkan minuman itu di dekat laptop lalu kembali duduk.


Beberapa kali Gus Irham melirik istrinya yang sepertinya tengah gelisah. Itu terlihat dari kedua tangan Alira di pangkuan yang saling menaut, meremas satu sama lain, menggambarkan jika ia tengah gelisah.


"Ada yang ingin kamu katakan, Al? Katakan saja!" ucapnya setelah menoleh Alira sekilas.

__ADS_1


Alira tak lantas menjawab, tetapi menarik napas dalam dan menghempasnya.


"Emmm ... ada apa, Gus, diminta menemui kyai Hanan? Apa disuruh lamar Ning Alia lagi?" tanyanya, wajahnya menunduk dalam. Gus Irham mengurai senyum samar, menutup laptopnya kemudian membenarkan posisi duduknya.


"Kenapa? Kamu cemburu, kalau aku disuruh nikahin dia?"


"Hah?" Cepat Alira menoleh suaminya hingga netra mereka bertemu. Entahlah, Alira selalu merasa hatinya ikut bergetar apalagi melihat senyumnya. Duh, langsung buyar apa yang ada di otaknya.


"Kamu cemburu?" ulang Gus Irham.


"Cemburu?"


"Iya."


"Ya wajar dong, Gus, aku cemburu kamu kan suami aku dan aku nggak akan ngebiarin siapapun merebut kamu dari sisiku."


Adudu, sejak kapan Alira jadi sebucin ini. Namun, Gus Irham senang mendengarnya.


"Aawww," jerit Alira karena Gus Irham mencubit hidung mungilnya.


"Kamu ya, awalnya saja nolak lama-lama jatuh cinta juga." Ia masih ingat dengan awal-awal pertemuan mereka. Alira yang menurutnya tidak punya sopan santun, galak, ketus, tapi kini sudah jauh berubah lebih baik.


Alira berdecak. "Nggak usah ungkit-ungkit masa lalu, aku malu." Jujur, Alia berterima kasih karena papanya menjodohkannya dengan pria seperti Gus Irham. Sudah ganteng, sholeh lagi.


Gus Irham tersenyum, kedua tangannya bergerak membingkai wajah istrinya.


"Aku beruntung punya istri sepertimu, Al."


"Justru aku yang beruntung punya suami seperti kamu, Gus."


Mereka saling melempar senyum, getaran cinta yang mereka rasakan kini semakin besar. Gus Irham berdoa semoga mereka tetap akan bersama di hari kebangkitan nanti.


"Mas! Boleh aku masuk?" Panggilan dari luar disertai ketukan mengurai jarak keduanya. Alira beranjak untuk membuka pintu.


"Muka kamu kenapa, Al , kok merah gitu?" tanya Asya sambil menunjuk wajah Alira yang merona. "Hayo habis ngapain?"


"Apa sih, jangan fiktor deh." sungut Alira.


Asya tergelak kemudian melongok ke dalam. "Mas Irham mana?"


"Ada." Alira mundur ke belakang memberi jalan adik iparnya agar bisa lewat.


Asya nyelonong masuk menghampiri kakaknya.


"Eh, Cha? Kok kamu pulang, katanya mau nemenin umi?"

__ADS_1


Asya duduk di sofa depan Gus, bibirnya mengerucut seperti ikan lohan.


"Disuruh umi pulang," sahutnya. Gus Irham hanya mengangguk paham lalu melanjutkan pekerjaannya lagi.


__ADS_2