ISTRI NAKAL GUS TAMPAN

ISTRI NAKAL GUS TAMPAN
Dia Istri Saya


__ADS_3

***


Gus Irham baru saja keluar dari ruangannya ketika seseorang memanggilnya kemudian berbalik ke arah sumber suara. Tampak tiga orang gadis sedang berjalan menghampiri dan satu dari mereka adalah Ning Alia. Sebenarnya tadi Gus Irham sudah melihat, tetapi sengaja mempercepat langkahnya untuk menghindari Mbak pengurus keamanan itu.


Kedua samti yang berjalan bersama Ning Alia berpamit setelah mengucap salam sambil mengangguk pada Gusnya dan meninggalkan keduanya.


"Saya Ning, ada apa memanggil?" tanya Gus Irham setelah kedua santrinya jauh.


"Saya mau tanya sama, Gus. Perempuan yang di rumah njenengan siapa?" Ada nada cemburu dari pertanyaan gadis yang memakai baju warna putih dan sarung batik berwarna ungu.


Gus Irham memang belum sempat memperkenalkan istrinya kepada santrinya termasuk Ning Alia, bukan tidak mau, tetapi belum sempat karena sibuk mengajar dan juga beberapa hari ini ia selalu diminta abahnya menemaninya mengunjungi sahabat-sahabatnya. Sebenarnya bisa saja abahnya ditemani Miftah, tetapi Miftah harus mengurus tambak juga jadi mau tidak mau Gus Irham menurut.


Gus Irham menarik napas perlahan. Ia sudah menduga ini pasti akan terjadi cepat atau lambat Ning Alia pasti akan bertanya ini.


"Dia ...," Gus Irham menjeda ucapannya, melihat ekspresi wajah Ning Alia sesaat sebelum melanjutkan kalimatnya. "Dia istri saya."


Ada kekagetan yang Gus Irham tangkap dari wajah gadis manis di depan, semacam tak percaya.


"Istri? Njenengan sudah menikah?"


Entah hanya perasaan Gus Irham saja atau memang benar adanya. Ning Alia seperti kecewa mendengan itu barusan.


"Iya, saya sudah menikah."

__ADS_1


"Kapan? Lalu saya bagaimana, Gus?" Ada setitik cairan bening di kedua mata Ning Alia. Hatinya hancur dan harapannya selama ini sia-sia.


Empat tahun mereka menjalin kasih secara diam-diam tanpa ada satu orang pun yang tahu dan Ning Alia berharap suatu saat akan menjadi pendamping hidup Gus Irham.


"Maafkan saya karena saya tidak bisa menepati janji saya sama kamu."


Lolos sudah air mata yang sejak tadi ditahannya, dadanya mendadak terasa sesak, hatinya sakit seperti ada ribuan jarum yang tertanam di sana. Bayangan membina rumah tangga yang manis dengan sang pujaan kini benar-benar pupus.


Ning Alia merasa Gus Irham membohonginya, mempermainkan perasaannya, padahal ia sudah merancang masa depannya bersama Gus Irham nanti.


"Njenengan tega menyakiti saya? Menghianati saya? Mempermainkan perasaan saya?"


Gus Irham hanya diam menunduk, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Perjodohan yang sudah abah dan papanya Alira lakukan. Semula ia hendak bicara pada abahnya mengenai niatnya melamar Ning Alia, akan tetapi abahnya lebih dulu berbicara soal perjodohannya dengan Alira. Sebagai anak yang berbakti tentu Gus Irham tidak bisa menentang keputusan abahnya apalagi dirinya adalah satu-satunya lelaki abahnya jadi mau tidak mau ia harus mau.


Beberapa santri putra dan putri lewat, mereka heran melihat Ning Alia yang menangis di depan Gus Irham. Apa yang Gus tampan itu lakukan pada Ning alia.


Beberapa santrinya pun mulai memperhatikan ke arah mereka bahkan Gus Irham mendengar salah satu di antaranya mulai bergosip.


"Itu Ning Alia kenapa nangis ya?"


"Aku juga nggak tau. Mungkin diputusin sama Gus Irham kali."


"Kamu denger nggak katanya di rumah Bu Nyai ada perempuan?"

__ADS_1


"Sodaranya mungkin?"


"Bukan! Aku dengar-denger sih katanya itu istri Gus Irham."


Meski jarak mereka lumayan jauh, tetapi obrolan kedua santri yang baru saja lewat tadi masih Gus Irham dengar dengan jelas.


Gus Irham menarik napas panjang. Ini adalah salahnya tidak langsung memperkememperkenalkan Alira begitu tiba di pondok. Gus Irham pikir nanti saja kalau Alira sudah terbiasa tinggal di area pesantren.


"Ning, sekali lagi saya minta maaf. Semua ini atas kehendak abah dan saya ...," Kalimat Gus Irham terhenti karena Ning Alia memotongnya.


"Kan njenengan bisa menolaknya dan mengatakan akan melamar aku, Gus!"


Bicara memang muda, tapi mempraktikannya sulit. Baru juga Gus Irham membuka mulutnya untuk bicara, tetapi suaranya seakan tercekat di tenggorokan dan tidak mau keluar. Akhirnya Gus Irham tidak punya pilihan lain selain menerima.


"Tidak semudah itu, Ning. Saya juga memikirkan perasaan abah juga ummi."


"Lalu kamu apa nggak mikirin perasaanku, Gus?"


Ada kilatan kemarahan dan kekecewaan diwajah yang biasanya tenang itu. Gus Irham sampai tidak berani berlama-lama bertatapan dengan Ning Alia.


"Bukan begitu, Ning. Saya ... saya ...."


"Gus!"

__ADS_1


Next capter >>


Hai, hai readers, jangan lupa tinggalin jejaknya yaa, terima kasih


__ADS_2