ISTRI NAKAL GUS TAMPAN

ISTRI NAKAL GUS TAMPAN
Syarat Dari Alira


__ADS_3

***


"Loh, Nak Irham mana? Bukannya tadi kalian sama-sama?"


Baru juga menutup pintu setelah masuk, Tuan Sadewa sudah langsung menanyakan calon menantunya pada Alira. Segitu cepatnya laki-laki kaku itu merebut hati papanya. Pikirnya.


Alira berdecak kesal mendengar pertanyaan dari papanya. Bisa-bisanya yang ditanya Gus Irham, padahal yang anak kandungnya adalah dirinya.


Alira melipat bibir bawahnya ke atas seperti biasa jika ia sedang kesal, mengayunkan langkahnya mendekati banker.


"Ngapain sih Papah nanyain dia mulu? Yang anak Papah itu Al, bukan om kaku itu."


Alira benar-benar kesal dengan papanya, ia juga cemburu ketika ada orang lain yang tiba-tiba mencuri kasih sayang pria yang sudah merawatnya sejak kecil. Sebagai anak tunggal tentu saja selama ini kasih sayang dan perhatian Tuan Sadewa hanya untuknya seorang, jadi wajar jika ada yang tiba-tiba mendapat perhatian lebih dari pria paruh baya itu Alira merasa tersisih, merasa punya saingan.


"Alira, kamu jangan ngomong begitu, Nak. Dia itu kan ca ...,"


"Ya, ya, ya," potong Alira memutar bola mata malas, ia tau Tuan Sadewa hendak mengatakan apa. "Calon suami Alirakan, Pah?"


"Nah itu kamu tau."


Alira tak protes lagi apalagi ia benar-benar bosan membahas lelaki yang dipanggil Gus Irham itu. Setampan apapun laki-laki itu Alira tak tertarik sama sekali. Bahkan, selama ini ia belum pernah berpacaran. Bukan tidak laku, banyak yang mengejar cintanya, tapi Alira benar-benar tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun. Ia masih ingin bebas.


Tak berselang lama dokter Fadli masuk dan memeriksa keadaan Tuan Sadewa, beliau begitu telaten mendengar keluh kesah pasiennya. Sebelum keluar dokter Fadli berpesan agar nanti setelah keluar dari rumah sakit Tuan Sadewa supaya banyak beristirahat dan juga olah raga yang cukup agar jantungnya tidak kumat lagi.


"Tuh 'kan, Papah dengar sendiri 'kan dokter Fadli ngomong apa? Papah nggak boleh terlalu capek dan banyak olah raga." Alira mengulang apa yang dokter pribadi papanya katakan tadi.


"Lagian perusahaan biar dihandle Om, Pram aja kenapa?"


Pramudya adalah orang kepercayaan Tuan Sadewa Kurdi diperusahaannya.


"Sekarang Papah istirahat. Alira juga udah ngantuk."


Tuan Sadewa Kurdi hanya mengangguk, beliau begitu patuh dan menurut pun saat anak gadisnya menarik selimut menutupi tubuhnya, mengecup keningnya kemudian berbaring di sofa tak jauh dari ranjang.


Dipandangnya wajah Alira yang sudah terpejam. Hatinya mulai diliputi rasa bersalah karena telah membohongi anak gadis satu-satunya.


"Maafkan Papah, Nak. Papah melakukan ini demi kebaikan kamu." Tanpa diminta air mata Tuan Sadewa meluncur bebas, tetapi sebelum jatuh ke pipi cepat disekanya lalu mengambil ponsen dan menghubungi seseorang.


"Halo, Pram. Semua berjalan sesuai rencana."

__ADS_1


***


Tuan Sadewa sudah kembali ke rumahnya dan beliau benar-benar menuruti nasehat dokter Fadli. Pria yang usianya sudah kepala lima itu istirahat total. Tidak pergi ke kantor dan setiap pagi jalan-jalan di sekitar komplek di temani oleh Alira.


Tuan Sadewa merasa hari-harinya kini berbeda, ia lebih menikmati hidupnya. Tidak seperti sebelumnya yang selalu saja waktunya hanya untuk kerja dan kerja.


Pagi ini pun Alira menemani papahnya olah raga pagi, sarapan bubur di taman dan setelah matahari sedikit naik ke atas mereka pulang.


"Alhamdulillah akhirnya sampai juga." Kata Tuan Sadewa setelah tiba di teras rumah, lalu mendaratkan berat badannya di kursi yang ada di sana diikuti Alira.


"Papah sekarang jadi merasa lebih sehat, badan Papah juga lebih segar," sambungnya, lalu menggerak-gerakkan kedua tangannya ke kiri dan kanan.


"Ya iya-lah, selama ini'kan Papah nggak pernah olah raga makannya badan Papah kaku kayak tiang listrik," seloroh Alira asal. Kemudian keduanya tertawa.


"Ada-ada saja kamu," tanggap Tuan Sadewa lalu diam sesaat. Dia sedang berpikir, entah sudah berapa lama mereka tidak berbincang santai seperti ini. Semenjak usahanya makin besar dan berkembang ia sudah jarang sekali berbicara pada anak gadisnya ini. Mungkin terakhir kali mereka begini saat Alira kelas satu SMP, dan sejak itu mereka jarang ngobrol.


Pantas saja putrinya selalu keluyuran setiap hari? Dan sekarang ia baru sadar betapa dia telah melewatkan moment-moment penting dimana dirinya melihat anak semata wayangnya tumbuh dewasa.


Mengingat itu semua Tuan Sadewa merasa dadanya penuh sesak sehingga kedua matanya pun mengembun.


"Pah!"


Panggilan itu membuat pria bertubuh tinggi besar itu buru-buru mengusap kedua matanya.


Alira tidak melihat papanya menangis karena sejak tadi gadis bersurai panjang itu pun tengah melamun, memikirkan persyaratan yang akan ia ajukan kepada Gus Irham.


"Nanti Al mau pergi boleh ya?" sambung Alira bertanya setelah menatap ke arah papanya.


Dahi Tuan Sadewa mengerut, tetapi segera berubah menjadi sebuah senyuman bahagia. Bagaimana tidak? Anak gadisnya ini tiba-tiba mau pergi keluar minta izin dulu padanya?


***


Alira tiba lebih dulu di kafe tempat ia janjian dengan Gus Irham. Sambil menunggu Alira memesan minuman juga cemilan. Selang beberapa menit orang yang ditunggunya pun datang, Gus Irham tidak sendiri dia bersama Miftah karena tidak mungkin bertemu dengan Alira sendirian meski Alira adalah calon istrinya sendiri, tetapi mereka belum punya ikatan sakral, belum mahram.


Mereka lalu duduk berhadapan berbatas meja dengan Alira.


"Bisa secepatnya mengatakan apa syaratnya? Saya tidak punya banyak waktu! Masih ada urusan yang lebih penting!" ucap Gus Irham dengan raut muka datar seperti biasanya.


Alira mendesis seperti ular. Sok sibuk dan apa tadi katanya? Tidak penting? Jadi menurutnya perjodohan mereka juga tidak penting?

__ADS_1


"Sok sibuk lo," cibir Alira.


Gus Irham tak berkata apa-apa. Ia membenarkan posisi duduknya seperti tengah gelisah.


"Napa lo? Ambean?" tanya Alira yang melihat gelagat Gus Irham.


"Bisa sekarang katakan apa syaratnya?"


"Oi, ngebet banget santai dong ngapain buru-buru. Kita minum aja dulu."


"Gus, kita sudah terlambat," ucap Miftah mengingatkan, sedari tadi ia beberapa kali melihat ke arah jam di pergelangan tangannya sebab, Gus-nya itu akan mengisi ceramah di tempat biasa.


Lelaki berkoko coklat dengan celana bahan warna senada itu menganggukkan kepalanya lalu melihat Alira lagi.


"Maaf saya harus pergi sekarang jadi cepat katakan apa syaratnya!"


"Oke baiklah tapi ...," Alira melirik Miftah seolah mengatakan jika ia hanya ingin bicara berdua dengan Gusnya.


"Syaratnya adalah ...," sambung Alira setelah Miftah berpindah tempat duduk tak jauh dari mereka.


"Gue mau pernikahannya hanya sederhana, hanya ada keluarga kita aja. Gue juga mau pernikahan kita dirahasiakan, gue gak mau temen-temen gue tau kalo gue udah nikah."


Gus Irham menghela napas dalam. Sudah ia duga sebelumnya jika Alira akan memberikan syarat itu padanya.


"Baiklah jika itu mau kamu. Sudah? Kalo begitu saya permisi." Gus Irham berdiri. Alira dengan cepat mencegah dengan mencekal pergelangan tangan Gus Irham.


"Tunggu!"


Gus Irham melirik pergelangan tangannya yang di pegang Alira membuat gadis itu segera melepas pegangannya.


"Sori, gue nggak sengaja." Alira tiba-tiba saja grogi, jantungnya pun tiba-tiba berdetak sangat cepat. Apalagi saat kedua mata mereka tadi sempat bertemu. Tatapan yang tajam, tegas, tapi teduh.


'Kenapa gue jadi deg degan gini ya? Padahal pegang tangannya doang?'


Alira membatin, tidak tau dengan hatinya yang tiba-tiba aneh menurutnya.


"Ma-masih ada sa-satu syarat lagi," ucapnya gagap setelah bisa menenangkan hatinya.


"Apa?"

__ADS_1


"Gua nggak mau tidur sama lo. Lo juga nggak boleh nyentuh gue tanpa dapat izin dari gue!"


Next capter >>


__ADS_2