ISTRI NAKAL GUS TAMPAN

ISTRI NAKAL GUS TAMPAN
Rencana Kembali Ke Pesantren


__ADS_3

***


Tuan Sadewa mengajak Farhan dan dokter Nadia untuk makan siang. Suasana diselimuti rasa canggung Alira dan Farhan. Keduanya masih sama-sama tak percaya jika mereka bersaudara kandung, Farhan yang masih menyimpan perasaan untuk Alira jadi bingung harus bersikap bagaimana? Ternyata selama ini ia mencintai adik kandungnya sendiri, tapi perasaan tidak mungkin dibohongi.


"Papah masih nggak percaya, ternyata masih bisa ketemu dan melihat kamu lagi," kata Tuan Sadewa memandangi anak lelaki yang baru dijumpainya. Farhan hanya tersenyum. "Jangan pernah tinggalin Papah lagi, Nak!" Kini tangannya menggenggam tangan Farhan yang ada di meja.


Lagi Farhan hanya tersenyum. "I-iya, Om."


"Kok, Om? Papah dong, kayak Alira!"


"I-iya, Pah. Farhan nggak akan ninggalin Papah," ralat Farhan canggung.


"Terima kasih, Nak."


Alira juga Gus Irham yang menyaksikan itu hanya tersenyum bahagia juga dokter Nadia yang duduk di sebelah Farhan, tapi ia juga sedih karena sebentar lagi mereka akan berpisah. 15 tahun lebih ia merawat dan membesarkan Farhan tentu ini sangatlah berat baginya.


Usai makan dokter Nadia dan Farhan pamit. Sebenarnya Tuan Sadewa ingin Farhan langsung tinggal bersamanya dan ia rasa dokter Nadia tidak akan keberatan, tetapi mungkin butuh waktu untuk Farhan pamitan pada wanita yang sudah merawatnya selama ini. Terlebih Dokter Nadia tinggal seorang diri, tentu Farhan akan semakin berat meninggalkannya.


***


Malam harinya usai menyantap makan malam Alira berniat mengatakan kepada Papahnya akan kembali ke pasantren bersama suaminya, tetapi urung ketika melihat sang Papah sedang duduk melamun di teras belakang. Sepertinya pria yang masih terlihat awet muda meski sudah menginjak kepala empat itu sedang memikirkan sesuatu entah apa, yang jelas ia terlihat sedang sedih.


Atau mungkin sedang merindukan anak lelakinya yang baru saja ditemukan, setelah bertahun-tahun terpisah?


"Sepertinya Papah lagi sedih? Nanti aja deh ngomongnya."


"Sayang!" Panggilan itu mencegah langkah Alira yang hendak masuk ke dalam. Gadis dalam balutan hijab putih instan itu berbalik, "sini, duduk sama Papah." Tuan Sadewa menepuk kursi di sebelahnya menyuruh Alira duduk.


"Sepertinya ada yang mau kamu omongin sama Papa?"


Alira terdiam sejenak, menimbang apakah harus berterus terang perihal rencananya bersama sang suami kembali ke Jawa.


"Tumben jadi pendiam gini?" Tuan Sadewa meraih cangkir berisi teh yang tinggal setengah lalu mengesapnya.


Alira hanya tersenyum canggung. Yang dikatakan Papanya memang benar, meski bukan anak yang pembawaan ramai, tetapi ia juga bukan gadis pendiam. Hanya saja akhir-akhir ini Alira mulai memikirkan Papanya jika ia pergi dari sini, sementara Farhan masih belum mau pindah.


"Pah!" panggilnya. "Kami mau pulang ke rumah abah sama ummi."


Jujur ini sangat berat bagi Alira, tetapi mertuanya juga sedang membutuhkan suami dan dirinya.


"Apa kalian tidak mau nginep beberapa hari lagi disini?" tanya Sadewa dengan raut yang sedikit murung.


"Sebenarnya kami mau, Pah, tapi sekarang Alira sudah menikah, dan Gus Irham juga punya kewajiban mengurus pesantren."

__ADS_1


Sadewa menarik nafas pelan.


"Ya, Papa juga mengerti." TSadewa tersenyum walau sebenarnya dalam hatinya ia ingin Alira lebih lama lagi, akan tetapi dia juga harus paham akan situasi Alira sekarang yang sudah menjadi seorang istri yang berkewajiban mengikuti kemanapun suaminya pergi.


Alira menggenggam tangan Papanya


"Papah nggak keberatan 'kan, kami tinggal?" tanya Alira memastikan. Alira tidak mau Papanya bersedih karena Alira takut itu akan berdampak buruk bagi kesehatan sang Papah.


Tuan Sadewa tersenyum melihat putri cantiknya ini mengkhawatirkan dirinya.


"Papah nggak apa-apa, sayang. Lagian Papah juga sebentar lagi ada temannya. Do'ain saja semoga kakak kamu mau segera tinggal sama Papa."


"Aamiin, semoga ya, Pah."


Selanjutnya mereka hanya mengobrol ringan. Tuan Sadewa menanyakan kapan rencana mereka akan pergi dan Alira mengatakan besok malam mereka akan berangkat. Alira merasa lega karena tidak khawatir lagi jika meninggalkan Papanya.


"Kalau begitu Alira pamit ke kamar dulu ya, Pah." Alira beranjak dari tempat duduk.


"Iya, sayang."


"Papah juga tidur! Ini udah malam dan juga hawanya juga mulai dingin."


"Sebentar lagi, Papah masih mau di sini."


Tuan Sadewa menatap punggung putrinya sampai menghilang di telan pintu.


'Semoga kakakmu bisa menghapus perasaan terlarang itu padamu dan menganggap kamu sebagai seorang adiknya' batin Sadewa.


Sebenarnya ia juga mengetahui kalau Farhan memiliki perasaan yang spesial terhadap Alira, dan itu cukup membuat ia takut kalau-kalau perasaan itu tidak bisa Farhan lenyapkan.


Setibanya di kamar Alira melihat Gus Irham sedang mengotak-atik laptopnya dengan mimik serius. Alira yang melihat menghela nafas kemudian pergi ke dapur untuk membuatkan suaminya itu susu coklat hangat.


Alira kembali ke kamar dan masih dengan pemandangan yang sama


"Ini Gus diminum dulu!" Alira meletakan nampan berisi susu coklat tersebut di meja samping laptop.


Gus Irham menoleh sekilas, detik berikutnya kedua bibirnya tertarik ke samping.


"Terima kasih ya, istriku yang sholehah."


Jangan tanya wajah Alira yang mendadak panas, juga jantungnya yang langsung berdebar kencang.


'Apa-apaan ini kenapa aku selalu saja degdgan gini sih?' Alira membatin.

__ADS_1


"I-iya, Mas. Sama-sama."


Alira berjalan ke arah tempat tidur untuk menetralkan detak jantungnya karena terus berdekatan dengan laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya. Duduk di tepi ranjang memperhatikan suaminya.


"Sepertinya kamu sibuk banget, Mas, jadi kapan kita akan kembali ke pondok?"


Gus Irham menghentikan aktivitas sejenak, menoleh ke arah istrinya.


"Memangnya kamu tidak masalah jika meninggalkan, Papah?"


"Tadi aku udah ngomong sama Papah dan beliau nggak keberatan."


"Alhamdulillah, kalau Papah mengizinkan kita pulang, tapi bagaimana dengan Farhan? Apa dia akan tinggal disini secepatnya?" tanya Gus Irham yang tampaknya sudah selesai dengan pekerjaannya.


"Kalau masalah itu besok aku tanya sama dia, kapan dia mau tinggal di sini nemenin, Papa," jawab Alira yang menyenderkan kepalanya di headboard tempat tidur.


Gus Irham menangguk lalu beranjak mendekati Alira.


"Besok kamu temani aku ya, Mas, ketemu kak Farhan?"


"Boleh."


"Aku akan tanya dulu sama kak Farhan siapa tau besok dia sibuk." Alira menggapai ponselnya yang ada di atas nakas kemudian mengirim pesan pada kakaknya.


Sementara Gus Irham masuk ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Itu adalah salah satu kebiasaannya sebelum pergi tidur, sholat dua rokaat kemudian baru tidur.


Dari masuk kamar mandi, sholat kemudian berdoa Alira masih sibuk dengan ponsel pintarnya dan saking fokusnya sampai tidak sadar jika Gus Irham kini membaringkan kepalanya di pangkuan. Gadis itu baru sadar setelah meletakkan ponselnya kembali ke tempat semula.


"Ahh." Alira sedikit kaget. Sepertinya ia harus membiasakan diri dengan sikap Gus Irham yang kadang membuat jantungnya ingin keluar dari tempatnya.


Di tatapnya wajah yang memejam dengan seksama. Wajah yang tenang dan juga tampan tentunya. Perlahan Alira memberanikan diri mengangkat tangan kanannya mengusap-usap kepala suaminya.


"Kamu capek banget ya, Mas," gumamnya sendiri seraya terus mengelus rambut hitam halus suaminya.


"Iya." Gus Irham tiba-tiba membuka matanya sehingga Alira menarik tangannya, tapi terlambat karena pria itu menarik tangannya lagi ke tempat semula.


"Boleh ... aku tidur di sini? Sebentar saja kok," sambung Gus Irham meminta persetujuan. Padahal, tanpa bertanya pun sudah barang pasti Alira mengizinkannya.


"I-iya, boleh." Meski ada rasa canggung, tapi jujur Alira suka Gus Irham bersikap manja seperti ini.


Gus Irham kembali memejamkan matanya. Alira lira terus membelai rambutnya sampai suaminya benar-benar terlelap baru ia menidurkan lelaki itu ke bantal.


Alira mengedarkan pandangannya ke sekeliling sebelum kemudian ikut berbaring, tatapi pikirannya justru terpusat pada Farhan. Alira takut kakaknya itu menolak untuk tinggal bersama sang papah karena alasan ada dirinya. Karena itulah ia memutuskan untuk ikut Gus Irham kembali ke pesantren.

__ADS_1


__ADS_2