
Setibanya di rumah ternyata Gus Irham sudah menunggu di depan rumah. Pria yang mengenakan kemeja warna putih dengan lengan yang digulung sampai siku itu menyambut dengan senyum. Alira memaksa tersenyum meski sedang kesal.
"Gus."
Mereka lalu masuk ke dalam. Alira memindahkan kue yang baru dibawanya ke piring dibantu suaminya.
"Kamu sebaiknya siap-siap, sebentar lagi mereka datang," pinta Gus Irham. Alira mengangguk kemudian beranjak ke kamar.
Gus Irham mengayunkan langkah ke depan begitu mendengar bel berbunyi.
"Itu pasti mereka. Biar Papa yang buka." Tuan Sadewa yang baru keluar dari kamar mencegah. Gus Irham mengangguk kemudian menyusul Alira ke kamar.
Namun, pintunya dikunci dari dalam. Beberapa kali memanggil sambil mengetuk tak juga ada jawaban dari dalam, mungkin istrinya masih mandi sehingga ia memutuskan menunggu sebentar.
"Al, kamu sudah selesai mandi?" Panggilnya sekali lagi sembari mengetuk.
Terdengar langkah kaki mendekat lalu disusul anak kunci yang diputar kemudian pintu terbuka. Tampak Alira yang hanya memakai kimono serta rambut yang digulung dengan handuk membuat Gus Irham terdiam beberapa saat, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Sebagai laki-laki normal apalagi mereka sudah halal, tentu penampilan Alira saat ini menimbulkan reaksi yang aneh dalam dirinya. Selama ini mereka menikah baru kali ini Alira berpenampilan seperti itu. Apalagi aroma sabun yang masih menguar sungguh mengganggu penciumannya.
"Gus! Kenapa diam di situ?"
Kibasan tangan di depan wajah membuat Gus Irham tergagap lalu buru-buru melangkah melewati Alira.
"Emmm, mereka sudah datang," ucap Gus Irham kemudian, ia menyentuh dadanya yang masih saja berdegup kencang.
Alira tak menjawab, ia justru memperhatikan sikap suaminya yang menurutnya tidak biasa. Di lihatnya penampilannya sendiri dan, oh, pantas saja pria yang kini tengah berpura-pura sibuk dengan laptopnya di sofa itu menjadi salah tingkah. Rupanya ada bagian tubuhnya yang tak tertutup sempurna.
Bukannya dibenarkan Alira justru membiarkan. Ia tersenyum lalu mendekati suaminya.
"Gus."
Entah kerasukan setan darimana Alira kini berani duduk di pangkuan suaminya yang tentu saja membuat laki-laki itu kaget dan refleks menatap Alira yang juga tengah menatapnya. Pandangan mereka bertemu dan saling melempar senyum. Tangan kanan Alira bergerak menutup laptop, sementara tangan kirinya melingkar di leher suaminya.
__ADS_1
Mereka bertatapan cukup lama, tak ada suara hanya mata yang saling berbicara. Gus Irham baru sadar, jika Alira lebih cantik tanpa sapuan make up apapun di wajahnya. Lalu wajah keduanya saling mendekat. Namun, sebelum sesuatu terjadi ketukan di daun pintu mengagetkan keduanya.
Alira buru-buru berdiri lalu segera berlari menuju lemari berpura-pura mencari baju. Melihat itu Gus Irham tersenyum lalu beranjak membukakan pintu.
"Non, sama Gus, dipanggil tuan disuruh keluar." Kata Mbak Minah menunduk. Gus Irham menoleh Alira sekilas lalu kembali pada wanita berumur 35 tahun di depannya.
"Iya, Mbak. Sebentar lagi kami keluar."
Gus Irham menutup pintunya kembali setelah Mbak Minah berlalu.
"Perlu bantuan?" tanya Gus Irham yang kini berdiri di belakang Alira.
"E-nggak," jawab Alira terbata. Ia masih malu dengan tingkahnya tadi, bisa-bisa ia jadi seberani itu?
Setelah menemukan baju yang pas Alira segera membawanya ke kamar mandi. Sembari menunggu istrinya Gus Irham membuka laptop yang tadi sudah ditutupnya lantaran tingkah Alira yang tiba-tiba aneh.
Gus Irham meraih ponselnya di meja saat benda kecil itu menyala dan bergetar.
[Le, kapan kamu pulang? Abah sudah kangen?] Isi pesan yang ternyata dari umminya. Gus Irham menarik napas dalam. Ia pun ingin segera bertemu dengan abahnya, akan tetapi urusan di jakarta belum beres. Tidak mungkin ia meninggalkan begitu saja, apalagi ini menyangkut papa mertuanya.
Alira keluar dan melihat wajah suaminya tampak murung.
"Kenapa, Gus? Ada masalah?" tanyanya lalu duduk di sebelah suaminya. Gus Irham menunjukkan pesan dari umminya.
Alira terdiam sesaat, ia paham suaminya sebenarnya juga ingin segera pulang untuk menjaga abahnya dan sebagai istri yang baik tentu harus selalu ikut kemanapun suaminya pergi.
"Lusa kita pulang!" ucapnya tiba-tiba membuat pria di sampingnya menoleh cepat.
"Maksud kamu?" tanya Gus Irham yang bingung dengan ucapan istrinya.
"Yaa kita pulang ke rumah abah, ke rumah ummi."
"Kamu serius, Al?"
__ADS_1
"Iya serius, apa aku kelihatan sedang bercanda?"
Gus Irham mengamati wajah istrinya, mencari keseriusan di sana dan jika dilihat dari mimik wajah Alira memang serius, tak ada bercanda atau hanya ucapan belaka.
"Makasih, Al, kamu ...,"
Belum juga kalimatnya selesai Alira sudah membungkamnya.
"Gus itu suamiku jadi kemanapun kamu pergi akan ikut."
Gus Irham terharu mendengar ucapan Alira barusan. Ia tidak menyangka istrinya akan sepenurut ini.
"Ya udah aku mau siap-siap dulu." Alira berdiri lalu segera duduk di depan cermin dan tak butuh waktu lama karena Alira memang tak suka berdandan.
Setelah selesai mereka lalu keluar bergandengan tangan. Samar terdengar perbicangan dari ruang tamu saat keduanya melewati meja makan. Jantung Alira berdebar hebat seperti sedang ditabuh.
"Kenap?" tanya Gus Irham karena tiba-tiba Alira berhenti.
"Degdegan, Gus," sahutnya. Gus Irham tersenyum samar. Istrinya ini kadang lucu, masa mau ketemu kakaknya sendiri saja degdegan?
"Tarik napas dalam, lalu buang."
Alira mengikuti intruksi dari suaminya, menarik napas dari hidung lalu membuangnya perlahan lewat mulut.
"Sudah?"
Alira mengangguk. Kemudian mereka kembali melangkah ke ruang tamu. Ada tiga orang di sana yang diantaranya adalah papanya dan di sofa yang membelakanginya ada dua orang yang duduk. Seorang wanita berhijab dan seorang laki-laki yang kelihatan masih muda.
'Itukah kakakku? Kenapa aku kayak nggak asing yah?' Alira membatin sambil terus berjalan.
"Pah!" Panggilan Alira membuat papanya menoleh ke arahnya diikuti dua tamunya.
Pandangan Alira bertemu dengan Farhan. Gadis itu terdiam dan tampak bingung. Apa ia sedang bermimpi? Jadi Farhan adalah kakaknya?
__ADS_1
Alira duduk bersebelahan dengan Gus Irham, pandangannya masih tak lepas dari laki-laki yang kini juga menatapnya syok.