
***
Kata orang, witing tresno jalaran soko kulino. Cinta hadir karena seringnya bersama, apa ini juga yang sedang Alira rasakan? Mengapa hanya mendengar suaminya menyebut nama wanita lain ada yang terasa menusuk di dada? Seperti pisau yang seakan sedang menyayat-nyayat hatinya. Perih dan rasanya sakit.
Kenapa?
Ada apa dengan dirinya?
Kenapa perasaannya tiba-tiba aneh begini padahal sebelumnya tidak apa-apa? Apa dirinya mulai punya rasa untuk Gus Irham?
Tapi kenapa rasanya aneh dan sakit?
Apakah mencintai seseorang itu sakit seperti ini?
Yang ia tahu cinta itu indah, tapi kenapa dirinya justru merasakan sakit?
Pertanyaan itu terus saja muncul di pikiran Alira sampai ia tak mendengar saat Gus Irham memanggilnya berulang-ulang sambil mengguncang bahunya. Alira menoleh laki-laki yang sedang duduk di belakang kemudi.
Alira baru tersadar jika mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah Kyai Hanan.
"Mmm, i-iya Gus?"
Gus Irham memalingkan wajahnya sekilas pada Alira lalu kembali fokus menyetir. Mereka hanya pergi berdua tanpa ditemani Miftah, bukan apa. Gus Irham hanya ingin lebih dekat dengan istrinya juga agar Alira terbiasa dengannya.
"Kamu kenapa? Melamun?"
"Enggak, cuma sedang menikmati pemandangan luar aja," jawab Alira sekenanya.
Jalan yang mereka lalui kini mulai memasuki daerah pantai. Alira juga mendengar debur ombaknya.
__ADS_1
"Kamu yakin?" Gus Irham tak lantas percaya begitu saja. Alira tiba-tiba jadi pendiam sejak percakapan di kamar tadi. Ada apa dengan istrinya ini?
"Iya yakin."
"Kamu tidak apa-apa?"
"Enggak. Emangnya aku kenapa?"
Entahlah, Gus Irham merasa ada yang sedang istrinya sembunyikan darinya, tapi ia tidak berani bertanya. Takut Alira mengira dirinya suami yang posesif dan yang lain. Gus Irham ingin mereka dekat perlahan dan Alira bisa menerima status mereka.
Sebenarnya dari rumah ke tempat Kyai Hanan hanya membutuhkan waktu kurang lebih satu jam setengah, tapi ini hampir dua jam mereka belum sampai karena Gus Irham membawa mobilnya sangat pelan. Bukan tanpa alasan ia melakukannya. Gus Irham ingin berlama-lama dengan istri gemasnya.
Mereka tiba di rumah Kyai Hanan menjelang azan dzuhur dan Alira baru tahu jika Kyai Hanan juga mempunyai pondok yang lumayan besar, mungkin lebih besar dari pesantren milik abah mertuanya.
Gus Irham langsung ke masjid dan mengajak Alira untuk ikut salat berjamaah. Alira pergi untuk mengambil air wudu dan tak sengaja ia bertemu dengan Ning Alia. Alira ingin menyapa, tetapi melihat wajah gadis manis yang menatap tak suka ia urung.
Usai salat dzuhur meraka menuju kediaman Kyai Hanan. Mereka disambut sangat ramah oleh pengasuh pondok pesantren Al-Falah terlebih oleh Ning Alia. Wajahnya tampak berseri-seri, tetapi saat melihat pada Alira mendadak berubah. Alira tak ambil pusing untuk itu toh ia diajak suaminya.
Setelah berbasa-basi sebentar Kyai Hanan mengutarakan maksudnya meminta Gus Irham datang ke kediamannya.
"Begini, Gus. Beberapa hari lalu Alia meminta saya untuk mengatakan ini pada Gus Irham, tapi saya belum sempat dan baru bisa sempat sekarang," tutur Kyai Hanan.
Gus Irham mengangguk sopan. Ia tahu betul kesibukan sahabat abahnya ini, harus mengisi ceramah di berbagai tempat bahkan, sampai ke luar negeri.
"Begini ...," Kyai Hanan membenarkan duduknya, mencari posisi nyaman untuk menyampaikan pesan yang sebenarnya menurutnya amat berat, tetapi demi putri kesayangannya yang terus merengek.
"Gus Irham maukah menikah dengan putri saya, Aliya?"
***
__ADS_1
Entah sudah berapa banyak air mata yang telah Ning Alia keluarkan karena dimarahi abahnya. Iya, ini memang salahnya. Perasaan yang ia miliki untuk putra Kyai Syarif itu terlalu besar sehingga membuat Ning Alia tidak berpikir jernih.
Ning Alia tidak memberi tahu abahnya jika Gus Irham sudah menikah sehingga abahnya mau saja saat dirinya menyuruh melamar Gus Irham untuknya dan tadi, abahnya sangat kaget karena baru mengetahui Gus Irham sudah menikah dengan anak kota itu.
Ning Alia masih ingat ekspesi wajah abahnya tadi, merah padam setelah mengantar Gus Irham dan istrinya sampai di teras.
"Alia. Kemari kamu!" panggilnya dengan nada lembut. Namun, di dalam hatinya bergejolak menahan amarah.
Bagaimana tidak marah? Anak yang dibangga-banggakan dan disayang tega menghancurkan kehormatannya sebagai Kyai besar? Ia merasa sudah kehilangan muka jika bertemu dengan sahabatnya nanti. Pantas saja Kyai Syarif mengutus langsung putranya agar Gus Irham sendiri yang mengatakan langsung.
Alia yang sedari tadi bersembunyi di balik pintu sekat menghampiri abahnya yang sedang berdiri di dekat jendela. Menunduk, tak berani mengangkat wajahnya. Ia tahu abahnya kini sedang marah besar karena kebodohannya.
"I--iya, Abah panggil Alia?"
Pria berkoko coklat serta peci berwarna putih itu memutar tubuhnya. "Duduk!"
Alia menurut. Mereka duduk berhadapan. Alia masih tak berani menatap abahnya.
"Kenapa kamu melakukan ini sama Abah? Kenapa kamu tidak jujur kalau Gus Irham sudah menikah? Kamu mau bikin Abahmu ini kehilangan muka di depan sahabat Abah sendiri, hhmmm?"
Alia tak langsung menjawab. Ia benar-benar sedang ketakutan sekarang. Oh andai umminya masih hidup tentu wanita itu akan membantunya berbicara pada abahnya.
"Maafkan Alia, Abah." Hanya itu yang mampu keluar dari bibir mungil Alia.
"Kamu tau kesalahan kamu apa?"
"Iya Abah."
"Dan sebagai hukumannya kamu tidak boleh kembali ke pesantren!"
__ADS_1
Next capter >>>