ISTRI NAKAL GUS TAMPAN

ISTRI NAKAL GUS TAMPAN
Sisi Lain Gus Irham


__ADS_3

***


Dari kaca spion dalam Miftah sesekali melirik putri nbungsu Kyai Syarif itu dengan sedikit tersenyum. Sedari dulu gadis itu tak pernah berubah, emosinya selalu sudah mereda meski di depan umum bisa tampak tenang, tetapi jika di depan orang-orang yang telah mengenalnya ia akan seperti itu, ngomel tidak ada hentinya sampai istri Gus nya itu tak ada kesempatan bicara.


"Pokoknya aku nanti aduin sama Abah biar Abah bilang sama Kyai Hanan suruh anaknya dididik yang baik, biar bisa mikir dulu kalo mau ngomong." Asya masih saja bicara tak berhenti, ia baru berhenti kala menyadari ada sepasang mata tengah mengawasi.


Dipalingkannya wajah ke sisi lalu diam, malu. Degub di dalam sana mendadak tak beraturan, entah. Padahal, ia sudah berusaha melenyapkan rasa itu tapi nya belum juga sepenuhnya menghilang.


Suasana dalam mobil hening sampai mobil memasuki pelataran ndalem, Asya turun lebih dulu dan masuk ke dalam sambil menghentak-hentakan kaki ke lantai. Di teras ia berpapasan dengan Gus Irham yang hendak keluar.


"Kenapa manyun begitu?"


"Au ah, Acha capek. Mau mandi," jawabnya sedikit kesal, lalu melewati Gus Irham.


Pria yang sudah rapi dengan koko dan sarung serta peci warna hitam melanjutkan langkahnya menghampiri istrinya.


"Capek?" Tanyanya sambil membantu menurunkan belanjaan dari dalam mobil. Alira hanya menanggapi dengan senyuman.


Mereka lalu masuk setelah Miftah dan beberapa Mbak ndalem yang baru datang dari dalam membawa barang belanjaan ke dapur.


Mereka lalu duduk di ruang tamu bersisian. Alira baru sadar kala memperhatikan penampilan suaminya.


"Mas Irham mau kemana udah rapih aja?" tanya Alira, ia tahu jika Gus Irham pasti hendak pergi karena sudah berpakaian bagus.


"Ndak kemana-mana, emang di rumah nggak boleh pake baju bagus? Kan biar istriku seneng kalo lihat suaminya ganteng," goda, senyum di bibirnya mengembang sempurna membuat jantung Alira berdesir setiap melihatnya. Wajahnya pun terasa menghangat dan ia yakin, kini ada seburat rona merah di pipinya.


Ah, sejak kapan Gus Irham jadi tukang gombal begini?


Cubitan kecil mendarat di lengan Gus Irham, cukup sakit, ia mengaduh.


"Gombal. Udah ah, aku mau mandi."


Gus Irham masih memandangi punggung istrinya hingga hilang ditelan pintu sekat. Ia lalu menghembuskan napas dalam, ada kelegaan setiap mengingat jika Alira kini telah menerima dirinya sepenuhnya. Tanpa paksaan dan bahkan terlihat sangat tulus.


Ponsel di dalam saku bergetar menandakan ada pesan yang masuk. Ia meraihnya lalu menggeser layar ke atas, ada beberapa pesan yang masuk yang belum sempat ia baca. Namun, ada satu notif yang membuat dahinya mengerut.


"Papa?"

__ADS_1


Segera dibukanya, ia sangat penasaran ada apa papah mertuanya mengirim pesan, biasanya langsung menelpon kala menanyakan keadaan anaknya.


[Nak Irham, kamu yang membeli kembali rumah papah?] Isi pesan yang dikirim.


[Iya, pah. Irham ada sedikit rizky. Semoga papa senang karena bisa tinggal di rumah yang dulu lagi.] balasnya, lalu menyimpan ponselnya lagi di saku ketika melihat Alira datang.


Saat masih berada di Jakarta ia memang sempat pergi ke rumah papa mertuanya yang lama dan di sana ia melihat ada tulisan 'rumah ini di jual' jadi ia membelinya karena ia tahu, rumah itu punya kenangan yang indah di masa kecil istrinya.


Memang cukup mahal, tetapi dibanding melihat kebahagiaan Alira nanti itu nilai yang tak sebarapa.


***


Malam harinya usai makan malam Gus Irham pamit ke pondok lagi untuk mengisi kajian kitab kuning menggantikan abahnya. Sebenarnya kondisi Kyai Syarif sudah membaik, hanya saja beliau masih belum boleh terlalu capek, harus banyak istirahat sampai benar-benar pulih.


Setelah membantu mencuci piring bekas makan, Alira juga Asya menemani uminya ngobrol sejenak di ruang tamu.


"Umi masuk dulu, kalian juga istirahat. Biar nggak sakit kayak abah," nasehatnya sebelum beranjak masuk.


"Iya, Mi," jawab mereka serempak.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam." Alira mendongak dan melihat Gus Irham masuk, ia beranjak menghampiri suaminya, meraih tangannya lalu menciumnya. Gus Irham mendaratkan kecupan kecil di kening, tapi berhasil membuat desiran halus di dalam sana.


Mereka pun lalu masuk ke dalam kamar. Namun, sebelumnya Alira pergi ke dapur untuk mengambil air putih. Namun, saat melewati depan pintu kamar mertuanya samar Alira mendengar keduanya sedang bercakap, apalagi seperti tengah membahas dirinya. Ia menghentikan langkah, menoleh sekitar untuk memastikan tidak ada orang yang melihat jika ia menguping.


"Udah tiga bulan mereka menikah kok belum ada tanda-tanda kita bakal nimang cucu ya, Bah?" Terdengar umi nya berbicara, sepertinya beliau menginginkan kehadiran malaikat kecil di rumah ini.


"Ya Umi sabar aja, namanya belum rezki, tapi In Sya Allah, mereka pasti akan dapat keturunan yang shaleh dan shalehah nanti," Kali ini Kyai Syarif yang berucap.


"Hah, semoga aja ya, Bah. Umi udah kepingin banget lihat mereka punya anak pasti cantik dan ganteng-ganteng."


"Lah iya pasti, lah wong kakeknya juga ganteng begini."


"Ck, perasan."


"Kalo aku gak ganteng mana mungkin Umi dulu mau sama Abah, iyo toh? Iyo toh?"

__ADS_1


"Udah, udah. Gombal terus. Udah malem Abah istirahat. Inget apa kata dokter, Abah harus banyak istirahat biar cepet sembuh!"


Alira senyum-senyum sendiri mendengar obrolan kedua mertuanya, ia lalu meraba perutnya yang masih rata. Entahlah, mendengar percakapan mereka barusan ia jadi merasa bersalah karena selama ini telah menunda memberikan haknya pada Gus Irham. Mungkin jika sejak awal tentu ia sudah hamil.


Alira membuang napas lalu mengempaskan perlahan, dadanya tiba-tiba terasa sesak seperti ada yang mengganjal. Perasaan bersalah mulai menghantuinya, perasaan telah berdosa pada suaminya karena selama ini ia telah mendzolimi suaminya.


Dua butir air mata tiba-tiba meluncur ke pipinya. Namun, segera di usapnya dengan menggunakan telapak tangan kemudian segera mengayunkan langkah melanjutkan mengambil air putih di dapur.


Alira menuang air ke dalam gelas lalu membawanya ke kamar, kosong. Pandangannya mengedar sekitar mencari keberadaan Gus Irham, kemana? Beralih menoleh kamar mandi saat terdengar gemerecik air mengalir dari dalam sana, mungkin suaminya sedang mengambil air wudhu karena itu rutinitas wajib yang dilakukan suaminya sebelum tidur.


Ah, kadang Alira merasa insecure, merasa tidak pantas menjadi seorang istri dari Ustadz yang sholeh seperti Gus Irham. Siapa dirinya, hanya seorang perempuan yang minim sekali akan pengetahuan ilmu agamanya.


"Al?"


Sentuhan di pundak mengagetkan lamunannya, ia buru-buru menghapus jejak air mata yang entah kapan membasahi pipinya, menoleh dan tersenyum.


"Kamu nangis? Kenapa? Kamu sakit?" Tampak sekali wajah tenang itu tengah khawatir. Alira menggeleng. "Terus kenapa nangis? Apa aku menyakitimu?"


Alira menggeleng lagi. "Nggak, Mas Irham nggak salah apa-apa. Aku ... aku minta maaf ya, Mas?"


Dahi Gus Irham mengerut. "Untuk?"


"Semuanya, termasuk karena terlambat memberikan hak kamu atas aku."


Gus Irham terdiam sesaat lalu mendekat tubuh Alira. Anan dan yaman, itulah yang Alira rasakan jika sedang bersama Gus Irham, jadi tidak salah jika perasaan cinta itu timbul cepat di hatinya.


"Jangan suka bikin aku panik, Al. Aku nggak apa-apa, kan waktu itu aku yang sanggup penuhi syarat dari kamu." Ucap Gus Irham sambil mengeratkan pelukannya.


Alira kian merasa beruntung saja dengan perjodohannya, seandainya dulu ia menolak tak mungkin ia seberuntung ini mendapatkan suami yang baik, bertanggung jawab, sholeh, tampan lagi.


"Kenapa kamu sebaik ini sih, Mas?"


Gus Irham melepaskan pelukannya, menatap Alira yang juga menatapnya.


"Karena sejak awal aku mencintai kamu bidadariku. Aaawww, kok nyubit sih?"


"Habis Mas Irham gombal." Alira beranjak menuju lemari, berpura-pura mencari sesuatu yang sebenarnya untuk menghindar karena ia yakin kini wajahnya tengah memerah.

__ADS_1


__ADS_2