
***
Hari ini Tuan Sadewa mengajak Alira pergi ke hotel untuk bertemu calon mertuanya yang baru tiba kemarin. Ia juga sudah menyediakan gamis lengkap dengan pasmina yang dipilihkan oleh asisten rumah tangganya untuk Alira pakai.
Tuan Sadewa ingin anak satu-satunya itu supaya terlihat sopan di depan calon besannya.
Tuan Sadewa naik ke kamar Alira sambil menenteng satu set gamis yang sudah Mak Imah pilihkan.
"Alira! Alira bangun, Nak, hari ini kita harus pergi menemui calon mertua kamu." Panggil Tuan Sadewa, tapi tak ada sahutan.
"Alira! Kamu dengar Papa tidak?"
Berkali-kali pintu diketuk dan memanggil nama Alira, tetapi penghuninya seperti tak mendengar.
"Sayang bangun sudah siang!" Panggilnya lagi sambil mengetuk pintu. Namun, masih saja tak ada jawaban. Karena Alira tak kunjung bangun Tuan Sadewa memutuskan untuk masuk.
"Astaghfirullahaladzim Alira."
Tuan Sadewa Kurdi menggeleng-gelengkan kepalanya. Bagaimana tidak? Alira masih bergemul di bawah selimut tebalnya sambil memeluk boneka tedy kesayangannya. Padahal jam di dinding kamar itu sudah menunjuk di angka delapan pagi, tetapi Alira belum juga bangun. Sungguh gadis yang sangat pemalas.
Bagaimana jika nanti Alira sudah menikah dan tinggal di rumah mertuanya, tetapi jam segini belum bangun? Mau di taruh dimana mukanya di hadapan Kyai Syarif. Dirinya pasti akan sangat malu karena nanti dianggap tidak bisa mendidik anak gadisnya dengan baik?
Di simpannya gamis di sofa dekat tempat tidur kemudian duduk di tepi ranjang.
"Alira bangun Nak, kita harus pergi ketemu sama calon mertua kamu!"
Di usapnya lembut kepala putri kesayangannya. Alira menggeliat seperti ulat kemudian membuka kedua matanya sedikit.
"Engh. Whoam." Alira menutup mulutnya karena menguap dan masih mengantuk juga masih dalam proses pengumpulan nyawa.
"Papa kenapa sih bangunin, Alira, mana masih pagi juga?"
"Masih pagi katamu? Ini sudah jam delapan lebih, ayo bangun! Hari ini kamu harus ikut Papa ke hotel. Cepetan bersih-bersih, pake baju yang rapi. Tuh, Papa sudah belikan baju gamis." Tunjuk Tuan Sadewa pada sofa dimana tadi ia sudah meletakkan gamis yang dibawanya.
Melihat itu kedua mata Alira langsung membola sempurna.
Bagaimana bisa dia memakai pakaian yang model emak-emak gitu? Hampir ia nyaris tidak pernah memakai pakaian seperti itu meski ia juga tidak memakai pakaian yang kurang bahan juga. Ia lebih suka memakai pakaian yang casual dan tidak ribet.
"Papa seriusan nyuruh Al, pakai baju itu?"
"Iya memangnya kenapa? Mulai sekarang dan seterusnya kamu harus biasakan memakai pakaian itu! Sekarang cepat bersihkan diri dan jangan lupa baju di pakai!" tegasnya tanpa mau dibantah kemudian berlalu dari kamar putrinya.
Alira cengo. Bisa-bisanya dia harus memakai pakaian yang kelebaran itu untuk sekarang dan seterusnya? Papanya pasti sedang bercanda?
"Hadeh, mimpi apa gue semalam mesti pake baju beginian?"
Diamatinya baju itu sejenak kemudian berjalan malas menuju kamar mandi.
__ADS_1
Sekitar dua puluh menit lebih Alira di kamar mandi dan langsung menuju sofa tepat dimana baju gamis yang telah di sediakan papanya tadi.
Alira memandangi baju gamis itu lagi ketika pada akhirnya ART nya datang mengingatkan kalau papanya sudah menunggu di bawah.
Dengan terpaksa Alira akhirnya memakainya lengkap dengan hijab pasmina. Ralat, Alira tidak memakai pasminannya dia hanya melilitkannya di leher karena tidak bisa memakainya.
Alira terlihat cantik dalam balutan gamis navy itu yang membuat kulit putih bersihnya semakin kontras dan juga hijab pasmina yang menambah kesan wanita Sholehah. Yah, walaupun hanya dipakain asal, tetapi Alira memang sangat cantik.
Setelah memastikan penampilannya Alira segera turun. Ia menuruni anak tangga dengan hati-hati karena gamis yang dipakainya membuat ia tidak leluasa melangkah.
"Pah!"
Tuan Sadewa yang sedang membaca koran di ruang tamu mengalihkan pandangannya ke sember suara. Seketika koran di tangannya terlepas, kedua matanya tak berkedip menatap Alira yang menjelma menjadi wanita sholehah.
"Masya Allah putri Papa cantik sekali." Puji Kurdi menghampiri yang membuat Alira tersipu. Aneh saja rasanya dia dipuji cantik saat tengah memakai gamis.
"Papa baru tau kalau anak perawan Papa ini memang sudah cantik dari lahir?" jawab Alira dengan pedenya.
"Iya, tapi kali ini aura kecantikan kamu semakin terpancar dengan kamu memakai gamis ini, sayang."
"Papa ngomong gitu biar aku tetep pakai baju Ini kan?"
"Tidak, Papa ngomong apa adanya. Ya sudah kita berangkat sekarang. Kita sudah terlambat!"
Akhirnya mereka menuju perjalanan ke hotel di mana calon besan Tuan Sadewa menginap untuk sementara. Tak ada sopir, Tuan Sadewa sendiri yang menyetir karena sopir satu-satunya sedang izin pulang kampung menjenguk keluarganya.
Di sana mereka berdua di sambut hangat oleh Kyai Syarif dan istrinya-Bu Nyai Halimah. Tuan Sadewa memperkenalkan Alira kepada calon mertuanya.
"Ini Alira putri saya satu-satunya."
Bu Nyai Halimah tersenyum. "Oh ini toh yang namanya Alira? Cantik," pujinya yang membuat kedua pipi Alira merona.
Alira balas tersenyum kemudian meraih tangan Bu Nyai menempelkannya ke pipi. Meski sedikit nakal, tetapi Alira masih tahu tata krama. Kyai Syarif hanya menangkupkan kedua tangan di depan dada.
Mereka lalu dipersilahkan untuk duduk. Alira duduk di dekat papahnya sementara di sampingnya ada Bu Nyai Halimah. Kyai Syarif duduk di sebelah istrinya sementara di sebelahnya lagi ada satu bangku kosong. Alira sudah bisa menebak siapa yang akan menempati jika bukan si manusia kaku itu.
Seperti teman lama yang baru pertama kali bertemu lagi setelah berpisah pada umumnya, Tuan Sadewa dan Kyai Syarif pun bernostalgia mengenang masa-masa dimana dulu pernah menuntut ilmu di pondok yang sekarang dipimpin oleh Kyai Syarif, karena beliau menikah dengan kyai mereka yaitu Bu Nyai Halimah.
Sedangkan Tuan Sadewa setelah lulus mondok beliau pulang kampung dan menikah dengan Almira-mamanya Alira kemudian mereka merantau ke Jakarta dan menetap.
"Ohiya, ngomong-ngomong dimana Nak Irham dari tadi aku tidak melihatnya?" tanya Tuan Sadewa karena sejak ia datang tak melihat calon menantunya.
"Oh aku lupa. Irham sedang ada urusan di luar mungkin sebentar lagi dia datang," sahut Kyai Syarif.
Sejak tadi Alira hanya diam saja menyimak sembari memilin ujung pasminanya, ia seperti tengah gelisah ditambah lagi ia juga gugup.
"Nak Alira usianya berapa?" tanya Bu Nyai Halimah tiba-tiba membuat gadis yang setengah melamun itu kaget.
__ADS_1
"Hah? Sa--saya, Bu Nyai?" jawab Alira gugup. Ia benar-benar sedang grogi apalagi saat wanita cantik nan anggun di sebelahnya ini membawa tangan kanannya kemudian menggenggamnya.
Ada perasaan hangat yang Alira rasakan. Seperti ada sesuatu yang mengalir ke dalam tubuhnya hingga menimbulkan rasa nyaman.
'Seperti inikah rasanya tangannya di genggam seorang ibu?' Alira membatin, ada setitik cairan bening yang menggenang di kedua netranya.
Sebagai anak yang lahir tanpa sempat melihat seorang ibu tentu hal seperti ini sangat menyentuh hatinya.
"Mau 22 tahun Bu Nyai," sahutnya setelah menenangkan hatinya tiba-tiba melow.
"Ummi! Panggil saja, Ummi!"
Alira hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Assalamualaikum," suara bariton khas laki-laki mengalihkan perhatian mereka.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Mereka serempak.
"Kamu kenapa lama sekali Irham dari tadi kami sudah menunggumu?" Kyai Syarif bertanya.
Gus Irham meraih tangan Abah dan Umminya juga tangan calon mertuanya.
"Maaf Abah tadi selepas dari sana Irham mampir ke tempat Dede sebentar," sahutnya setelah berdiri tegak. Diliriknya gadis yang duduk di detat Umminya.
Seperti Tuan Sadewa Gus Irham pun terdiam melihat Alira yang terlihat anggun seperti Umminya. Pakaiannya tertutup dan berkerudung meski tidak sempurna, tetapi Alira benar-benar terlihat sangat berbeda.
Merasa ada yang memperhatikan Alira segera menoleh dan melotot ke arah Gus Irham seolah mengancam agar jangan main-main dengannya. Gus Irham segera menjatuhkan pandangannya ke bawah sambil beristighfar dalam hati.
"Pah, Al kebelet pipis," bisiknya di telinga Tuan Sadewa.
"Iya, tapi jangan lama-lama."
Alira segera beranjak dari sana setelah berpamitan kepada kedua calon mertuanya, tetapi tidak dengan laki-laki kaku itu. Alira justru melempar tatapan tajam yang membuat Gus Irham menunduk kembali.
Alira ternyata tidak pergi ke toilet, tetapi gadis itu berjalan menuju taman. Ia sengaja ingin menghindar dari pembicaraan pernikahan yang mungkin sekarang sedang dibahas. Jujur saja ia benar-benar belum siap untuk menikah saat ini, tetapi ia juga tidak mau kehilangan papanya. Pria itu adalah satu-satunya orang yang Alira punya di dunia ini.
Air mata Alira tiba-tiba saja mengalir tanpa terasa. Begitu berat beban hidup yang harus ia tanggung.
"Nih, buat hapus air mata kamu."
Sebuah tangan kekar mengulurkan sekotak tisu kecil ke depan muka Alira. Alira menoleh ke samping.
"Elo siapa?"
Next capter >>
Dear readers, jangan lupa tinggalkan jejak yaa walau sepatah dua patah
__ADS_1