
***
Seperti halnya Alira, Farhan pun tak mengira jika Gus Irham dan Asya bersaodara. Selama ia mengenal Asya, gadis itu memang sedikit tertutup soal keluarganya. Ia lebih sering menceritakan teman-teman dan kegiatannya di kampus dan di panti. Sebenarnya Asya gadis yang menarik dan cukup cantik, baik dan juga pintar dalam hal agama, cocok untuk dijadikan pendamping hidup.
Namun, Asya belum mampu memikat hatinya seperti Alira. Meski ia lebih dulu mengenal Asya ketimbang Alira, tetapi entah kenapa hatinya lebih tertarik kepada Alira ketimbang gadis manis yang kini duduk berseberangan darinya. Atau cinta memang benar buta adanya? Ah, embuh.
"Kenapa?" tanya Farhan melihat gadis di dekatnya seperti tengah menahan senyum lebih tepatnya menahan tawanya.
Asya mengatur posisinya dan bersikap biasa meski hatinya sedang merasa senang.
"Enggak, aku cuma heran aja sama kamu. Emang aku sama Mas Irham nggak mirip, ya?"
Farhan memperhatikan wajah Asya seksama hingga kedua mata mereka saling tatap untuk seperkian menit lamanya. Entahlah, tiba-tiba Farhan seperti merasa ada yang aneh yang ia rasakan di dalam hatinya.
"Gimana? Mirip nggak?"
Pertanyaan Asya membuat Farhan tersadar kemudian memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
"Enggak, mungkin kamu lebih mirip ummi atau abah kamu?"
"Iya, kebanyakan orang bilang juga gitu. Aku sama Mas Irham emang gak mirip. Aku lebih mirip abah," terangnya berdasarkan orang-orang yang menilai. Bukan hanya orang, tetapi saat berkaca pun ia mengakui itu. Wajah Kyai Syarif lebih dominan, bahkan sifat keras kepalanya pun menurun kepadanya.
Farhan mengangguk-anggukan kepalanya paham. Mereka terus mengobrol banyak hal sampai tak terasa waktu terus berlalu. Farhan berpamitan dan berjanji akan mengantar Asya ke stasiun besok. Tentu saja gadis itu tak keberatan bahkan senang karena memang itu yang diharapkan.
Farhan mengendarai mobilnya menuju ke rumah dan entah kenapa ia merasa lega saat mendengar jika Gus Irham bukanlah pacar apalagi calon suami Asya. Tidak mungkin ia jatuh cinta pada gadis itukan? Karena di dalam hatinya masih ada Alira.
Saat melewati komplek menuju rumah Alira mendadak Farhan ingin melihat wajah gadis itu meski dari kejauhan. Tidak apa itu sudah cukup untuk mengobati rasa rindunya.
Farhan memarkir mobilnya di seberang rumah Alira, akan tetapi gadis itu tak nampak. Pintu pagar maupun rumahnya tertutup rapat. Mungkin Alira sedang di kamar mandi atau sedang menyuapi papanya atau ... ah, entah.
Saat hendak menjalankan mesin mobilnya tiba-tiba sebuah mobil hendak masuk ke rumah Alira. Pengemudinya keluar yang ternyata Gus Irham. Suami Alira itu kemudian membuka pintu pagar lalu kembali masuk ke mobil dan membawanya ke dalam.
__ADS_1
Tak berapa lama Alira keluar dari dalam, mungkin karena mendengar suara mesin mobil. Alira Tersenyum kemudian meraih tangan Gus Irham yang baru keluar dari mobil. Laki-laki yang masih tetap gagah dan berwibawa meski wajah lelah tak mampu disembunyikan itu mengusap kepala Alira yang tertutup hijab. Mereka lalu berjalan masuk ke rumah dan sebelum masuk Alira sempat menoleh ke belakang.
Farhan buru-buru melajukan kendaraannya kembali sebelum Alira menyadari keberadaannya. Melihat Alira bahagia tentu ia juga bahagia meski hatinya sakit, tetapi ia harus ikhlas. Bukankah cinta seharusnya seperti itu? Bahagia melihat orang yang kita sayang bahagia meski tak bersama kita? Lalu dirinya ... siapa pemilik hatinya? Entah.
Farhan tiba di depan rumah sakit dan melihat ibunya sudah menunggunya. Wanita yang masih mengenakan seragam jas putih kebanggan itu tersenyum melihat putranya sedang menghampiri.
"Kok lama, kemana dulu nih?" tanya dokter Nadia karena tidak biasanya anak lelakinya ini terlambat menjemput.
"Ah, Ibu kayak nggak tau anak muda aja. Ngapel, ngapel." Farhan mengerling genit.
"Awas ya kalo sampai jadi pebinor!"
"Apa tuh?"
"Perebut bini orang."
Farhan tergelak mendengar istilah baru ibunya, pebinor atau perebut bini orang. Secinta dan senekatnya ia tidak akan mungkin tega menghancurkan kehidupan orang yang ia cintai. Kini ia ikhlas merelakan Alira bersama Gus Irham karena ia yakin jika laki-laki itu yang terbaik untuk Alira.
Dokter Nadia menoleh sekilas, memasok udara ke paru-paru kemudìan membuangnya perlahan.
"Ibu keinget sama pasien, Ibu," jawabnya tak bersemangat.
"Pasien Ibu kenapa?" Buru Farhan sambil sesekali melihat jalan agar tak terjadi kecelakaan.
"Ada pasien Ibu yang kena kanker dan umurnya mungkin nggak lama lagi. Ibu kasian, dia anak panti dan umurnya masih kecil."
"Terus?"
Dokter Nadia menoleh putranya lagi. Rasanya percuma bicara sama Farhan karena putranya ini tidak akan paham perasaannya, sebagai seorang dokter tentu ia sangat sedih karena tidak bisa berbuat banyak untuk menolong pasien yang sedang ditangani. Seberapa besar pun usahanya jika Tuhan sudah berkehendak dirinya bisa apa karena hidup dan mati bukan ada di tangannya, tetapi di tangan SANG pemilik diri.
"Bu, tadi Farhan ke rumah gadis itu," katanya memecah kebisuan. Dokter Nadia tak menjawab, menunggu kalimat selanjutnya.
__ADS_1
"Farhan lihat, dia bahagia dan suaminya pun kelihatannya sangat mencintainya," sambungnya lesu. Meskipun sudah mengikhlaskan Alira nyatanya hanya menyebut namanya saja masih membuat hatinya bergetar.
Dokter Nadia mengusap lengan putranya seolah menyalurkan kekuatan."Kamu yang sabar ya, Ibu yakin Allah sudah menyiapkan seorang gadis yang lebih baik dari dia."
"Iya, Bu."
Hening kembali, keduanya larut dengan pikiran masing-masing. Dokter Nadia sedang berpikir untuk mengenalkan putranya pada seorang gadis yang dijumpainya di rumah sakit tempatnya bekerja.
"Mau Ibu kenalin sama cewek nggak?"
Pertanyaan Dokter Nadia membuat Farhan menoleh secepat kilat.
"Hah? Maksud Ibu?"
"Begini ... pasien Ibu yang kena kanker itu punya kakak perempuan maksud Ibu gadis itu pemilik pantinya. Anaknya cantik, ramah, baik, dan insya Allah sholehah," terangnya mengenai gadis itu.
Mendengar ciri gadis yang akan dikenalkan ibunya entah mengapa ingatannya justru melayang pada Asya. Perempuan itu juga cantik, ramah, baik, dan juga memiliki panti asuhan. Apa mungkin itu orang yang sama? Ah, rasanya tidak mungkin karena ibunya tidak mengenal Asya. Mungkin hanya kebetulan mereka memiliki ciri-ciri yang sama?
"Kamu mau 'kan, kalau Ibu kenalin sama dia?" sambungnya.
Farhan menarik kedua sudut bibirnya ke samping hingga membentuk senyum sempurna. "Iya, terserah Ibu aja. Aku nurut, yang penting Ibu bahagia."
Dokter Nadia balas tersenyum, dia sangat banggamempunyai anak seperti Farhan meski bukan lahir dari rahimnya, tetapi ia sangat menyayanginya sepenuh hati.
Mobil terus melaju hingga memasuki sebuah komplek perumahan di daerah Jakarta dan mereka dikejutkan dengan kehadiran laki-laki yang sudah menunggu di teras. Baik Farhan maupun dokter Nadia sama-sama asing dan tak mengenal pria itu.
"Maaf, Bapak siapa ya, dan ada perlu apa datang ke rumah kami?" sapa Farhan yang sudah turun dari mobil kemudian di susul ibunya.
Bukannya menjawab pertanyaan pria itu justru mendekat, menatap wajah Farhan penuh kerinduan, mengangkat sebelah tangannya membelai wajah Farhan.
"Kamu ...," ucapannya tertahan karena tak kuasa menahan haru, kedua matanya berkaca dan dan bibirnya bergetar saat mengucap, "putraku?"
__ADS_1
Hufs, akhirnya bisa up juga. Jangan lupa tinggalin jejak kalo udah baca ya readers, sayang. Biar authornya semangat up nya.