ISTRI NAKAL GUS TAMPAN

ISTRI NAKAL GUS TAMPAN
Hampir Saja


__ADS_3

***


Seperti biasa, usai sholat subuh berjamaah di masjid Alira segera kembali ke ndalem, kali ini ia sendirian karena Gus Irham sedang berbincang dengan abah dan beberapa pengurus pondok mengenai kegiatan yang akan dilakukan menjelang memperingati maulid Nabi.


Sedang umi sedang menyimak santri-santrinya mengaji. Kadang Alira malu sendiri masa istri seorang Gus tidak bisa mengaji?


Langkah Alira terayun keluar dari masjid, sesekali membalas sapaan santriwati suaminya yang berpapasan yang hendak ke asrama.


"Assalamualaikum, Ning."


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."


Meski merasa risih dan tidak pantas dengan sebutan 'Ning', tetapi Alira berusaha membiasakan diri seperti apa kata suaminya beberapa waktu lalu saat ia mengeluh tidak nyaman dengan panggilan itu. Saat itu Gus Irham mengatakan jika itu adalah bentuk menghormati istri gurunya. Akhirnya Alira berusaha untuk biasa walaupun yah, masih susah.


Langkah Alira terhenti saat hendak menaruh mukena di lemari, ia menoleh kanan dan kiri saat samar ia mendengar suara orang berbicara.


"Aku juga gitu, Kang. Nggak semudah itu bisa lupain kamu."


Alira menajamkan telinganya, kali ini ia seperti mendengar suara Asya. Ia lalu berjalan ke arah jendela kamarnya.


"Tapi jujur, Kang. Ada orang lain yang kini juga ada di dalam hatiku."


Tidak salah lagi itu memang suara adik iparnya, tapi dengan siapa ia berbicara dan apa yang sedang dilakukannya sepagi ini?


"Saya tau, Ning. Saya juga sadar siapa saya dan siapa ...,"


"Kang! Kan udah pernah saya bilang dari dulu. Aku nggak pernah mandang seseorang dari derajat dan kekayaannya. Kamu masih egois kayak dulu, ya, Kang? Nggak pernah berubah. Nggak pernah mikirin perasaan aku."


Alira menyibak tirai sedikit, tak jauh dari jendela ia melihat Asya yang tengah duduk di bangku panjang, menunduk, bahunya sedikit berguncang. Sepertinya ia sedang menangis. Tak jauh dari ia duduk ada Miftah berdiri, pria kalem itu menatap Asya sekilas lalu meluruhkan pandangan sembarang.


"Bertahun-tahun aku berusaha ngelupain kamu, tapi nyatanya sulit. Sampai aku bertemu dia, dia yang tanpa sengaja bertemu sedikit demi sedikit mulai mengisi hatiku dan menggeser nama kamu. Tapi jujur, aku belum bisa lupain kamu, Kang. Kenangan saat kita bersama dulu selalu saja menghantui setiap aku berusaha lupa," ungkap Asya. Suara tak begitu jelas terdengar mungkin karena sambil terisak.


Miftah menarik napas dalam, tampak sekali ia tengah tersiksa melihat Ning nya menangis.


"Sudah terang, Ning, saya permisi. Ndak enak kalo dilihat orang." Miftah kemudian meninggalkan Asya yang masih duduk sambil sesegukan.


Alira ingin menghampiri setidaknya untuk menenangkan sahabatnya. Sebenarnya ia sudah lama curiga jika keduanya memang ada hubungan karena setiap mereka sengaja atau tidak berpandangan, ìa melihat ada gelagat aneh dari keduanya.


"Mungkin dia sedang memang butuh aku sekarang." Akhirnya Alira memutuskan untuk menghampiri.


"Cha!"

__ADS_1


Tepukan di pundak mengagetkan gadis itu, cepat Asya mengusap kedua pipinya, menoleh pada Alira dan tak lupa tersenyum seolah tak terjadi apa-apa.


"Boleh duduk?" tanyanya lalu duduk di samping gadis itu setelah mendapat izin berupa anggukan kepala.


Suasana hening sejenak, Alira sedang menyusun kata yang tepat.


"Maaf, tadi aku nggak sengaja denger obrolan kalian," ucapnya setelah menarik napas dalam.


Asya tak kaget, bahkan tadi ia juga sempat melihatnya di jendela. "Aku tau, Al."


"Kamu nggak marah?"


Asyahidan tersenyum bahkan tertawa kecil menimbulkan kerut di dahi Alira.


"Kamu udah berapa lama kenal aku sih, Al?"


Alira berpikir sejenak. "Tiga atau empat tahun lebih gitu deh."


Asya kembali tersenyum. "Apa selama ini ada rahasia yang kamu nggak tau?"


"Ada."


"Apa?"


Lagi Asya menanggapi dengan senyum diiringi tawa kecil.


"Ah, jangan bahas itu. Aku males, bahkan kalo boleh minta aku ingin lahir jadi orang biasa aja, tanpa embel-embel panggilan 'Ning."


Mereka bertatapan sejenak. Alira melihat ada luka di netra coklat itu. Luka yang tak pernah ia lihat sebelumnya, apakah ini ada sangkut pautnya dengan Miftah? Sebenarnya sedalam apa perasaan sahabatnya untuk Kang santri itu? Lalu kenapa waktu itu Asya diantar Farhan-kakaknya?


Beribu pertanyaan menumpuk di benak Alira.


"Kamu ... masih cinta sama dia kan?"


Asya menoleh lagi. "Siapa?"


"Miftah."


Asya terdiam sejenak, menunduk kemudian mengangguk pelan.


"Kenapa kamu nggak coba jujur aja sama abah kalo kalian saling menyukai?"

__ADS_1


Asya menghirup napas dalam lalu membuangnya perlahan. Hubungan mereka baru saja membaik setelah bertahun-tahun abahnya marah, ia tidak mau beliau marah lagi gara-gara masalah ini. Abahnya itu keras kepala kalau sudah punya kehendak dan keputusan, tak ada yang bisa melawan, sama seperti dirinya. Makannya dulu ia nekat pergi dari meninggalkan pesantren dengan segala peraturan abah yang membuatnya terkekang, merasa tidak bebas menentukan cita-citanya sendiri.


Ia bukan kakaknya-Gus Irham yang sangat patuh dengan segala perintah dan peraturan yang buat oleh abahnya, termasuk soal pendamping hidup. Mungkin Gus Irham beruntung karena dijodohkan dengan orang yang ia sukai, ia juga tidak tahu alasan abahnya itu menjodohkan kakaknya dengan Alira yang jelas-jelas bukan santri apalagi anak Kyai. Meski begitu ia senang daripada Gus Irham menikah dengan Ning Alia.


"Sayang, sedang apa kalian di sini?"


Suara seseorang dari arah belakang membuat kedua perempuan itu menoleh, tampak Gus Irham sedang menghampiri.


"Mas cari-cari ternyata kamu di sini." Gus Irham mengusap kepala Alira yang tertutup hijab, Alira hanya menanggapi dengan senyum. "Kalian sedang ngomongin aku yah?" sambungnya membuat Asya berdecak, pede sekali kakaknya ini.


"Perasan," cibirnya. Entahlah, akhir-akhir ini sifat Gus Irham sedikit berubah, lebih banyak bicara dan tidak terlalu kaku seperti biasanya. Mungkin ini berkat Alira.


"Mas, ada yang mau aku omongin."


"Soal apa sayang?" Jawab Gus Irham sambil duduk di sebelah istrinya yang masih kosong.


"Mmm ... soal...," lanjut Alira melirik gadis di sampingnya yang langsung menggeleng, meminta Alira agar tidak meneruskan.


"Asya."


Dahi Gus Irham mengerut, menoleh adiknya sekilas penuh tanda tanya. "Dia kenapa?"


"Al, please jangan!" mohonnya, tetapi Alira tidak peduli. Ia juga ingin melihat sahabatnya bahagia.


"Asya kenapa, sayang?" tanya Gus Irham karena Alira tak kunjung menjawab.


Baru juga Alira membuka mulutnya hendak berbicara Miftah datang dan memberi tahu jika ada salah satu orang tua santrinya yang hendak bertemu dengan suaminya. Gus Irham mengangguk dan beranjak meninggalkan samping rumah bersama kang santri itu.


Asya menarik napas lega setelah tadi harus menahan karena tegang. "Hampir aja. Ck, apa-apa sih kamu, Al. Kamu mau bikin aku jantung dan mati muda?" sungutnya dengan bibir manyun. Alira terkekeh melihatnya.


"Uluh-uluh, ngambek. Ya udah iya gak jadi. Jangan ngambek gitu dong, ntar cakepnya ilang," bujuknya seperti pada anak kecil. Asya tetap manyun. "Iya aku minta maaf, aku cuma ingin sahabatku juga bahagia kok, itu aja. Nggak ada maksud lain."


Mendadak ada yang menghangat di dada Asya, gadis itu lalu memeluk kakak iparnya.


"Aku tau, makasih yah? Tapi biar nanti aku ngomong sendiri sama abah."


"Kalo perlu bantuan bilang, aku sama Mas Irham pasti dukung kamu. Yang penting kamu bahagia."


Mereka mengeratkan pelukan, dalam hati keduanya bersyukur karena mereka bukan lagi menjadi sahabat tapi juga satu keluarga.


Asya baru melepaskan pelukannya kala mendengar suara aneh yang berasal dari dalam perut Alira.

__ADS_1


"Hehe, sori. Laper." Katanya sambil nyengir. Asya menggelengkan kepalanya lalu mengajak kakak iparnya masuk.


__ADS_2