
***
"Waalaikumsalam," sahut Alira juga Tuan Sadewa hampir bersamaan.
Tuan Sadewa Kurdi tersenyum ramah melihat siapa yang datang, begitu juga dengan Gus Irham yang langsung mendekat lalu meraih tangan calon mertuanya itu kemudian menempelkan ke wajahnya. Alira heran mengapa laki-laki yang belum ia kenal itu menyalami papahnya.
"Apa khabar, Om?" tanya Gus Irham.
"Alhamdulillah, Om, baik. Abah sama Ummimu bagaimana?" Tuan Sadewa balik bertanya.
"Alhamdulillah juga, mereka titip salam buat, Om. Mereka minta maaf karena belum bisa jenguk, Om, sekarang."
"Tidak apa melihat kamu saja Om sudah senang."
Alira masih terbengong melihat laki-laki berbeda generasi di depannya yang tampak sangat akrab layaknya teman yang lama tak bertemu. Siapa sebenarnya laki-laki itu?
Segudang pertanyaan memenuhi otak Alira hingga rasanya kepalanya mau meledak saja.
"Alira," panggil Tuan Sadewa, Alira tersentak lalu menoleh papanya.
"I-iya, Pah," sahut Alira gagap.
"Ini Nak Irham, calon suami kamu."
"A-apa? Ca-calon suami Alira?"
Kedua mata Alira kian membulat mendengar apa yang baru saja papanya katakan.
***
Entah sudah yang keberapa kalinya Alira melirik laki-laki tampan yang duduk berselang meja darinya. Laki-laki yang beberapa saat lalu hampir membuatnya masuk penjara karena menabrak orang.
"Pokoknya gue nggak mau nikah sama, lo!" tegas Alira lagi.
Mereka kini sedang berada di kantin rumah sakit setelah Tuan Sadewa memperkenalkan mereka dan juga memberitahu Alira jika Gus Irham adalah calon suaminya. Alira sudah tidak bisa menolak lagi karena tadi sudah berjanji akan menuruti papanya, tapi setidaknya ia masih punya harapan membatalkan perjodohan jika laki-laki itu menolaknya.
Gus Irham hanya diam sejak tadi tanpa memberi komentar sedikit pun, kedua matanya menatap ke bawah. Iya, kedatangannya ke Jakarta adalah untuk memenuhi perintah Abahnya menemui sahabatnya dan juga calon istrinya.
__ADS_1
"Woi! Lo budeg ya? Denger gak gue ngomong apa?"
Darah muda Alira mendidih karena sejak tadi ia mengoceh, tapi laki-laki di hadapannya ini seperti tidak mendengarnya sama sekali. Ia ngomong sama orang tapi berasa ngomong sama tembok.
Gus Irham menghela lapas sebelum kemudian mengangkat wajahnya, menatap Alira sesaat kemudian mengalihkan pandangan ke sekitar. Banyak orang yang sedang makan kini melihat ke arah mereka berdua. Mungkin dalam benak mereka tengah berpikir jika dirinya sedang dimarahi oleh istrinya.
"Bisa tidak, ngomongnya jangan keras-keras. Kamu tidak lihat orang-orang pada melihat ke arah kita?"
Sontak Alira menoleh kanan kiri dan seketika wajahnya yang merah padam karena marah berubah pucat karena malu.
"Kenapa lo nggak bilang dari tadi?" Ingin rasanya Alira enyah dari sana saat ini juga. Bisa-bisanya hampir semua pengunjung yang sedang makan kini memperhatikan mereka berdua. Mau ditaruh dimana mukanya coba?
Gus Irham tersenyum melihat wajah Alira yang semula jutek kini berubah semerah tomat.
'Gadis yang unik' pikirnya.
Keadaan tiba-tiba hening, Alira benar-benar kehilangan muka saat ini. Bisa-bisanya ia sampai tidak sadar sedang jadi tontonan gratis. Alira jadi merasa canggung sekarang, tidak tau harus berbuat apa untung ada pelayan yang datang menyuguhkan pesanan sehingga sedikit menolong Alira dari rasa malu.
Usai makan Gus Irham mengantar Alira sampai di depan pintu dimana Tuan Sadewa sedang dirawat lalu pamit ke mushola untuk melaksanakan Ibadah.
"Hah? Sholat?" Jawab Alira menggeleng. Ia lupa kapan terakhir dirinya sholat, mungkin saat masih SMP.
"Oh, ya sudah saya permisi mau ke aula dulu nanti saya kemari lagi."
Alira menatap punggung laki-laki yang akan menjadi suaminya hingga menghilang di balik tembok. Ia merasa tidak akan pernah cocok dengan Gus Irham, mereka sungguh jauh berbeda ibarat langit dan bumi.
Alira kemudian masuk.
"Sini Nak, duduk dekat Papah!" Pintanya melambaikan tangan, Alira menurut dengan wajah teramat lesu. "Bagaimana kamu sudah ngobrol sama Nak Irham-kan? Dia baik-kan? Tampankan? Sholeh lagi."
Tuan Sadewa mencecar Alira dengan pertanyaan, beliau begitu antusias ingin mendengar komentar Alira mengenai calon menantu pilihannya.
Alira memonyongkan bibirnya ke depan. "Kayaknya kami nggak akan cocok, Pah."
Dahi Tuan Sadewa mengerut mendengar penuturan putrinya. "Apanya yang tidak cocok? Nak Irham itu justru orang yang paling cocok buat jadi suami kamu. Dia anak sholeh, rajin ibadah, kurang apalagi?" Tuan Sadewa mulai menaikkan intonasi suaranya.
"Justru karena itu kami nggak cocok apalagi dia seorang 'Gus', masa iya 'Gus' punya istri kayak Alirakan nggak mungkin, Pah?" dalih Alira yang sebenarnya hanya alasan agar perjodohan itu dibatalkan.
__ADS_1
"Justru itu Papah menjodohkan kamu dengannya. Pokoknya Papah tidak mau dengar alasan kamu lagi. Kamu harus tetap menikah dengan Gus Irham atau kamu lebih memilih melihat Papah mati?" ancam Tuan Sadewa.
"Pah, kok Papah ngomong kayak gitu sih?"
"Habisnya kamu menolak menikah dengan Gus Irham."
Alira menundukkan wajahnya, ia benar-benar bingung harus berbuat apa. Disatu sisi ia belum siap untuk menikah, disisi lain ia merasa tidak pantas bersanding dengan seorang anak kyai.
Menurutnya Gus Irham cocoknya bersanding dengan Asya yang kalem dan agamis. Siapalah dirinya yang tidak bisa apa-apa, mengaji, sholat saja ia jarang mana pantes jadi istri seorang 'Gus'? Alira rasa papanya salah memilih jodoh untuknya.
Melihat Alira diam Tuan Sadewa berbicara lagi. "Ya sudah lebih baik Papah mati saja sekarang." Tuan Sadewa mencopot alat bantu pernapasan juga jarum suntik yang menancap di pergelangan tangannya, tetapi sebelum itu terjadi Alira lebih dulu mencegahnya.
Alira memeluk papanya agar tidak melakukan itu.
"Pah, jangan! Papah mau ngapain?" Alira mulai terisak sambil terus memeluk Tuan Sadewa yang berontak agar Alira melepasnya, tetapi Alira tak menghiraukan. Ia justru makin erat memeluk sang papa.
"Papah mau nyusul mamah kamu." Ucapnya sambil menyingkirkan Alira yang mencegahnya.
"Pah, jangan kayak gini, Alira sayang sama Papah. Alira nggak mau kehilangan Papah," ucapnya terisak.
Tuan Sadewa tersenyum, sebenarnya tadi ia hanya berpura-pura agar Alira mau menerima dijodohkan dengan Gus Irham. Ia tahu Alira sangat menyayanginya dan tidak akan mungkin mau kehilangannya.
"Kamu maukan, menikah sama Nak Irham?"
Alira diam, ia masih bingung menentukan jawaban antara mengiyakan atau menolak.
"Kamu maukan, menikah dengan Gus Irham?" ulang papanya.
Alira melepaskan pelukan, menatap laki-laki yang sudah membesarkannya kemudian mengangguk perlahan. "Iya, Alira mau menikah kalo itu bikin Papah senang."
Mungkin kini saatnya Alira membalas jasa pria yang sudah rela merawatnya dengan penuh kasih sayang selama ini, meski untuk itu ia harus mengubur dalam-dalam cita-citanya menjadi wanita karir.
"Terima kasih sayang, kamu memang anak yang penurut. Papa yakin kamu akan bahagia jadi istri Gus Irham. Gus Irham pasti akan menjadi suami yang baik buat kamu."
Alira memaksa tersenyum meski dalam hati ia sangsi jika ia bisa bahagia menikah dengan orang yang tidak ia cinta, terlebih dengan orang asing yang baru dikenalnya beberapa jam yang lalu.
Next capter >>
__ADS_1