
***
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 12 jam, akhirnya Gus Irham dan Alira tiba di kediaman Kyai Syarif. Beliau beserta istri yang sudah tiba lebih dulu menyambut sepasang pengantin baru itu di teras.
Wajah lelah tampak sekali dari keduanya. Kyai Syarif langsung menyuruh putranya untuk mengajak istrinya beristirahat guna melepas penat sementara ia menuju ke masjid, sedang Bu Nyai Halimah menuju ke dapur untuk membuatkan teh hangat untuk Gus Irham dan Alira.
Mungkin efek terlalu lelah dan mengantuk karena di bis tak bisa tidur dengan nyaman sehingga Alira tak memprotes saat Gus Irham ikut masuk ke dalam kamar bersamanya. Alira masih tampak sedih dan menunduk sejak tadi, badannya lemas seperti tak bertenaga. Gadis berhijab pashmina pink itu langsung menjatuhkan badannya di kasur empuk milik Gus Irham dan
tanpa sungkan langsung terlelap.
Gus Irham yang melihat itu hanya
menggelengkan kepalanya kemudian berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan sholat isya yang sudah sangat terlambat dan juga sholat malam. Diperjalanan tadi Gus Irham tak sempat sholat isya karena bis yang ditumpanginya tak mau berhenti di masjid.
Sebenarnya Gus Irham ingin mengajak Alira untuk sholat, akan tetapi urung karena melihat
Alira sangat lelah dan juga masih sedih. Namun, untuk malam ini saja dia akan membiarkannya dulu, tapi tidak untuk besok dan seterusnya. Ia akan mendisiplinkan istrinya agar tak meninggalkan kewajibannya sebagai umat yang beragama.
Usai sholat Gus Irham juga merasa sangat lelah dan mengantuk, kemudian dia ikut membaringkan tubuhnya di sebelah Alira dengan hati-hati agar jangan sampai membangunkannya, bisa ngamuk-ngamuk istri cerewetnya itu.
"Untung saja gadis cerewet ini sudah tidur, kalau tidak pasti dia sudah ngomel-ngomel tidak jelas," gumamnya dengan tersenyum samar.
Di pandanginya wajah gadis cantik yang terlelap itu. Sedikit hatinya merasa lega karena pada akhirnya ia bisa berada di samping gadis kecilnya, yaa meskipun Alira belum menyadari siapa dirinya yang sesungguhnya. Biarlah waktu yang akan menjawab semuanya.
Gus Irham sengaja menaruh bantal di tengah sebagai sekat agar begitu terbangun Alira tidak ngamuk-ngamuk kemudian lamat laun kedua matanya terpejam terlelap.
***
Suara alarm milik Gus Irham yang nyaring mengusik tidur Alira hinga terbangun dan membuka matanya.
"Ah, udah pagi." Alira belum sadar kalau dirinya tengah memeluk pinggang Gus Irham.
Sebenarnya Gus Irham sudah bangun dari tadi, hanya saja ketika ia merasakan ada tangan mungil yang melingkar di pinggangnya ia pura-pura masih tidur. Ia ingin tau reaksi istrinya saat bangun dan melihat perbuatannya sendiri jadi tidak bisa menuduhnya.
Merasa ada yang aneh Alira mendongakkan kepalanya dan betapa terkejutnya ia ternyata dirinya tengah memeluk Gus Irham.
"AAAAAAA." teriak Alira dan refleks turun dari tempat tidur, tetapi karena terburu-buru kakinya tersangkut pada selimut yang dipakainya tadi.
BRUG
"Aww, sakit!" Aduhnya sambil memegangi kakinya yang sakit. Mendengar bunyi gedebug Gus Irham yang sedang berpura-pura tertidur gegas menolong istrinya.
"Biar saya bantu." Gus Irham mengulurkan tangannya, tetapi Alira menepisnya.
"Gak usah. Gue bisa sendiri." Alira mencoba berdiri, tapi sepertinya kakinya terkilir. "Awww," ringisnya menahan sakit.
"Makannya biar saya bantu."
"Gak! Gue nggak mau dibantu sama elo." Alira mencoba bangun lagi lagi, tapi kakinya benar-benar terasa sakit. "Aduh, kaki gue."
__ADS_1
Karena tidak tega melihat istrinya kesakitan Gus Irham langsung membopong Alira paksa dan mendudukkannya ke sofa.
"Jangan dipegang disitu, sakit tau gak!" bentak Alira saat Gus Irham hendak memegang kakinya.
"Iya, saya minta maaf, tapi ini harus segera dipijat agar tidak bengkak nanti."
"Emang elo bisa mijat?"
"Insa Allah."
Akhirnya Alira membiarkan kakinya dipijat oleh suaminya. Alira beberapa kali meringis menahan sakit di pergelangan kalinya.
"Sakit?" tanya Gus Irham. Alira menggangguk. "Tahan sebentar nanti juga enakan." Alira menutut.
'Lumayan juga pijitan si kaku ini' diam-diam Alira mengagumi kepawaian tangan suaminya dalam memijit dan benar saja, rasa sakitnya berangsur menghilang.
"Sebentar lagi subuh sebaiknya kamu ambil wudhu nanti kita solat sama-sama," ajak Gus Irham usai memijit.
Alira berpikir sejenak, ia teringat kapan terakhir dia sholat karena lebih sering absen.
"Tapi gue udah lama gak sholat!"
"Itu tidak masalah, kamu tinggal mengikuti gerakan saya saja."
Akhirnya sepasang pengantin baru itu melaksanakan sholat shubuh berjamaah meski Alira terkadang salah karena dia lupa dengan gerakannya, tapi Gus Irham dengan sabar membimbingnya.
Sehabis sholat kedua sejoli itu duduk di sofa yang terdapat di kamar itu. Alira menatap tajam ke arah Gus Irham, dia ingin meminta penjelasan kepada Gus Irham soal masalah sejam yang lalu.
ujar Gus Irham dengan tingkat kepedean level tinggi.
Alira mendelik, tidak menyangka jika laki-laki yang merupakan 'Gus' ini ternyata sangat alay.
"Ck, pede sekali lo. Gue cuma mau tanya sama lo. Kok bisa tadi pas bangun gue meluk elo? Itu pasti ulah elo kan yang modus mau deket-deket sama gue?" Tuduh Alira sambil menunjuk muka suaminya. Gus Irham menurunkan tangan Alira.
"Kamu bisa gak kalau ngomong sama suami itu jangan pakai elo-gue? Saya itu suami kamu loh! Apa pantas seorang istri panggil suaminya sendiri begitu?" tegurnya yang membuat Alira bungkam sesaat.
"Ya ... bisa, tapi gue gak mau
lo mau apa? Sekarang ga usah mengalihkan pembicaraan deh,
cepet jawab!"
"Kalau saya tidak mau jawab kamu mau apa?"
Alira benar-benar kesal dibuatnya. Awalnya saja kaku dan sekarang amat-amat menjengkelkan.
Gus Irham berdiri dari duduknya lalu mendekati Alira yang tengah duduk bersebrangan darinya, memangkas jarak di antara mereka. Alira yang melihat itu sedikit takut, pasalnya dia belum pernah sebelumnya sedekat ini dengan seorang laki-laki. Apalagi posisi mereka sekarang sangat intim dan bahkan ia bisa merasakan nafas Gus Irham yang menyapu wajahnya.
Bulu kuduk Alira meremang. Keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya. Jantungnya pun berdetak tak beraturan.
__ADS_1
"E-elo mau ngapain?" tanya Alira yang berusaha menetralkan jiwanya yang bergetar.
Gus irham masih dalam mode memandangi wajah Alira dari dekat. Sebenarnya dia juga sangat gugup karena ia juga sebelumnya sangat menjaga batasan dengan seorang perempuan. Alira adalah wanita pertama yang dekat dengannya selain Ummi dan adik perempuannya.
"Sekali lagi kamu ngomong begitu ke saya, saya tidak akan segan-segan membuat kamu susah bernafas melalui bibir cerewetmu ini!" ancam Gus Irham dan jujur saja dia merasa ada yang aneh dalam dirinya saat di dekat Alira.
Alira menelan ludahnya dengan susah payah lalu menutup mulutnya sendiri.
Gus Irham tersenyum lalu menjauh dari Alira, tetapi kemudian berbalik dan mendaratkan bibirnya di kening Alira sambil merapal doa.
"Elo." Alira kesal dan reflek mendorong Gus Irham, tapi tenaganya yang tak seberapa hanya membuat tubuh suaminya tergeser sedikit.
"Ssttt. Sekali kamu panggil saya dengan sebutan itu maka saya pastikan saya akan benar-benar melaksanakan omongan saya tadi!" ancamnya lagi. Sebenarnya ia juga tidak tega, tetapi Alira memang harus belajar menghormati suaminya.
Alira diam tak berkutik, wajahnya pucat, dia tidak mau mati sia-sia karena kehabisan oksigen.
"Mulai sekarang kamu harus memanggil saya dengan sebutan yang sopan dan kalo bisa yang manis tentunya!"
Mendengar ucapan suaminya barusan kedua bola mata Alira membola sempurna. "Ma-maksud elo eh, ka-kamu apa?" Alira terbata.
"Ya kamu harus membuat panggilan khusus untuk saya
Seperti 'Sayang' misal," kata Gus Irham tersenyum jahil. Entah mengapa ia tiba-tiba gemas sekali pada istrinya ini.
"Jangan mimpi!" tukas Alira.
"Kamu bilang apa tadi?" Tanya Gus Irham menatap Alira tajam membuat gadis itu begidig ngeri.
"E--nggak ada. Terus mesti panggil apa dong?"
"Kamu pikirkan saja sendiri, dan ingat. Yang mesra, tapi hanya jika kita sedang berdua. Kalo di luar kamu bisa panggil apa saja asalkan sopan. Kamu mengerti sekarang, sayang?" bisik Gus Irham tepat di telinga Alira membuat darahnya berdesir.
Alira mendengus kesal. "Ternyata Gus Irham nggak kayak yang gue bayangin?"
"Maksud kamu? Saya punya pikiran kotor begitu? Lagi pula sama istri sendiri tidak apa-apa seperi itu, malah itu dapat pahala."
"Mana ada pahala begitu?" protesnya. Gus Irham tersenyum, mengacak rambut Alira kemudian berdiri.
"Hari ini saya mau mengajar anak-anak. Kamu mau ikut?" Tanyanya sambil berjalan ke arah lemari lalu meraih handuk. Alira tak menjawab, dia masih syok mendapati sifat suaminya yang jauh dari ekspektasi.
Alira pikir seorang 'Gus' itu sangat menjaga wibawanya, tetapi suaminya ini ... apa pantas disebut sebagai seorang 'Gus' dengan otaknya yang rada-rada itu?
Sebenarnya Kyai Syarif sudah memberikan Gus Irham cuti untuk tidak mengajar dulu. Namun, dia menolak dengan alasan anak-anak didiknya sebentar lagi akan menghadapi ujian.
"Al, tolong siapkan baju saya ya!"
"Eh, kamu belum jawab pertanyaanku?"
"Nanti saja aku jawab setelah selesai ngajar, ya?"
__ADS_1
Akhirnya Alira menyiapkan baju untuk suaminya meski sambil ngedumel. Niat hati ingin membuat pria kaku itu tidak betah setelah menikah dengan dirinya dan sekarang, justru jadinya dirinya sendiri yang terjebak tak berdaya.