ISTRI NAKAL GUS TAMPAN

ISTRI NAKAL GUS TAMPAN
Teman Baru


__ADS_3

***


"Nih, hapus air mata kamu pake ini."


Sebuah tangan kekar mengulurkan sebungkus tisu kecil ke depan Alira. Alira menoleh ke samping.


"Elo ...."


Orang itu menampilkan senyum manisnya pada Alira membuat gadis itu terpesona sejenak lalu mengambil tisu dari tangan laki-laki di depannya.


"Makasih," ucapnya lalu mulai membersihkan wajahnya. Semua yang dilakukan Alira tak lepas dari pandangan laki-laki itu. Ia terus menatap Alira dengan penuh kekaguman yang tak bisa ia sembunyikan.


'Cantik sekali gadis ini? Siapa dia? Rasa-rasanya aku jatuh cinta pada pandangan pertama.' gumam lelaki itu terus menatapi Alira.


Mendapat tatapan seperti itu Alira Merasa risih, grogi, sekaligus juga takut.


'Kenapa dia liatin gue terus? Jangan-jangan dia orang jahat terus mau nyulik gue dan minta tebusan uang sama papa kayak di film-film gitu?' Pikiran Alira kemana-mana. Mungkin efek kebanyakan nonton drakor jadi ngelantur.


"Kenalin, namaku Farhan." Laki-laki yang bernama Farhan mengulurkan tangannya ke depan Alira. "Nama kamu siapa?"


Alira tak langsung menerima juga tak menjawab, tetapi justru melihat tangan yang terangsur di depannya.


'Gue harus hati-hati. Bisa jadi pas gue terima tangannya dia ngeluarin pistol terus nyandra gue? Gue harus waspada nih?' Alira membatin lagi. Kedua matanya menyisir sekitar dan tempat itu lumayan ramai jadi dia bisa berteriak untuk minta tolong jika laki-laki itu macam-macam padanya.


Alira memang bukan tipe gadis yang mudah diajak kenalan dengan laki-laki bahkan, teman lelakinya hanya sedikit itu pun hampir semua teman kuliah atau teman SMA-nya dulu.


"Oh, maaf." Farhan menarik tangannya kembali. Sangat tidak enak memang dikacangin padahal ia hanya bermaksud kenalan.


Kemudian hening sesaat. Farhan sedang berpikir mencari cara agar ia bisa kenal dan dekat dengan Alira.


"Kamu ... lagi ngapain di sini, kok sendirian?" tanya lagi. Ia tak ingin menyerah mendekati Alira.


"Nggak lagi ngapa-ngapain. Gue ke sini sama papa," Tak ingin dibilang sombong Alira menjawab apa adanya, kan memang ia ke hotel sama papanya.


"Oh."


Hening kembali. Alira selesai membersihkan wajahnya dan mengembalikan tisu itu pada Farhan, tetapi dia menolaknya.


"Udah buat kamu aja siapa tau nanti kamu butuh lagi."


Alira tersenyum kecut. Membutuhkan lagi? Bahkan ia sama sekali tak ingin menangis. Hanya saja, air matanya yang kadang-kadang keluar sendiri tanpa bisa dirinya cegah.


"Aku tinggal tak jauh dari sini siapa tau kalau kamu kebetulan lewat kamu bisa mampir ke rumahku. Aku hanya tinggal berdua sama ibu ku. Ibu membesarkan aku hanya seorang diri," tutur Farhan lagi tanpa diminta. Ia sepertinya memang sengaja ingin Alira tau tentang siapa dirinya.

__ADS_1


Karena sejak tadi Alira seperti takut berbicara padanya. Apa tampangnya terlihat seperti orang jahat?


"Ayah elo?" tanya Alira mulai tertarik.


"Ayahku meninggal sewaktu aku masih kecil, kecelakaan saat hendak menyebrang," paparnya dengan raut wajah sedih. Meski saat itu ia masih kecil, tetapi memori itu masih bisa di ingatnya dengan jelas. Ayahnya meninggal di depan matanya sendiri.


"Emmm ... maaf, gue udah bikin elo jadi ingat kejadian itu."


"Oh, gak pa-pa. Lagian itu udah lama kok, kamu gak perlu minta maaf. Emmm, jadi nama kamu siapa?"


Alira tertawa kecil karena sepertinya Farhan penasaran betul dengan namanya.


"Kasih tau ngak ya?"


"Kasih tau dong nama kamu siapa?"


"Alira. Panggil aja Al," jawab Alira akhirnya.


"Nama yang cantik secantik orangnya," puji Farhan menggombal.


"Gombal," cibir Alira. Mendadak suasana mencair.


Farhan banyak bercerita tentang hidupnya yang harus besar tanpa seorang ayah. Farhan juga bercerita betapa ibunya harus berjuang keras membesarkannya seorang diri tanpa di dampingi seorang suami.


"Ibu lo pasti wanita yang hebat ya, bisa ngebesarin lo sendirian," ujar Alira usai mendengar cerita Farhan.


Alira terdiam, ia iri karena Farhan dibesarkan oleh seorang ibu. Tidak seperti dirinya yang melihat mamanya saja tidak sempat.


"Sekarang giliran kamu yang cerita dong, masa aku terus?"


"Cerita apa?"


"Apa aja, pasti semua tentang kamu itu menarik."


"Lah, gombal lagi," seloroh Alira yang kemudian diiringi tawa mereka berdua.


Lama-lama mereka menjadi semakin akrab seperti teman lama. Farhan mampu menciptakan obrolan menjadi menarik sehingga Alira yang awalnya tidak mudah akrab sama orang asing terlebih laki-laki, kini tertawa lepas bersama Farhan. Mereka tidak sadar sedang diperhatikan sepasang mata yang berdiri tak jauh dari sana.


Sekitar 20 meter dari sana, Gus Irham berdiri dengan perasaan yang entah apa yang ia sendiri tidak tahu. Apakah itu cemburu atau apa? Tapi masa iya ia cemburu?


"Alira!"


Panggilan itu menghentikan candaan Alira juga Farhan lalu menoleh secara bersamaan.

__ADS_1


"Kamu dicari sama papa kamu," kata Gus Irham lalu melirik laki-laki di depan Alira.


"Ck, iya, iya," jawab Alira kesal. "Gue balik dulu ya, Farhan."


"Eh, tunggu! Dia siapa?" Tanya Farhan sambil melirik Gus Irham.


"Sepupu gue," sahut Alira asal dengan mengatakan calon suaminya adalah sepupunya. Farhan hanya ber 'oh' saja.


"Boleh aku minta nomor kamu?" tanya Farhan lagi.


Alira mengangguk. Lalu mereka bertukar nomor ponsel. Setelah itu Alira segera pergi mengikuti Gus Irham dari belakang. Alira berjalan sambil senyum-senyum sendiri, ia tidak sadar jika sejak tadi laki-laki yang berjalan bersamanya memperhatikannya.


"Ngapain senyum-senyum sendiri?" tanya Gus Irham yang terdengar seperti mengejek. Alira melirik sekilas, tapi tidak menjawab apa-apa.


"Tadi siapa? Pacar kamu?" tanya Gus Irham lagi, kali ini terdengar seperti cemburu. Alira menoleh lagi.


"Kenapa? Lo cemburu?"


Gus Irham menghentikan langkahnya begitu pun Alira, menatap gadis itu sejenak, menghembuskan napas, kemudian pergi dengan langkah lebar-lebar meninggalkan Alira jauh di belakang.


"Kenapa tuh manusia kaku? Aneh gitu?" Alira bermonolog. Dia merasa aneh dengan sikap Gus Irham yang tidak menjawab pertanyaannya.


"Ah bodo amat dia kan emang aneh. Gus, tungguin!"


Alira setengah berlari mengejar Gus Irham yang sudah jauh darinya.


Sementara di taman Farhan tersenyum menatap layar ponselnya. Ia sedang memandangi photo profil Alira di aplikasi hijau.


"Kamu cantik banget Alira. Kayaknya aku benar-benar jatuh cinta sama kamu," gumamnya dengan senyum manis. Dalam hati Farhan bertekad akan mengejar cinta Alira.


Di parkiran Alira terbengong karena ternyata papanya sudah pulang dan meminta Gus Irham untuk mengantarnya.


"Ayo masuk!" perintah Gus Irham karena sejak tadi Alira hanya berdiri di samping mobil.


"Bukain," rengek Alira manja. Gus Irham menghela napas dalam-dalam guna menghalau perasaan kesalnya pada calon istri yang menurutnya sudah cerewet, bawel, sekarang ditambah manja.


"Mif, kita tinggal saja dia. Dia mau pulang sendiri." Gus Irham yang memang sudah duduk di sebelah Miftah segera menyuruhnya menjalankan mobilnya segera.


"Eh tunggu!" Dengan kesal kemudian masuk dan duduk di jok belakang dengan bibir manyunnya. Melihat itu kedua sudut bibir Gus Irham tertarik ke samping hingga membentuk senyum tipis.


"Lucu juga dia kalo lagi ngambek," gumamnya tak sadar, tetapi masih bisa didengar Miftah.


"Iya, Gus, ada apa?" tanyanya.

__ADS_1


"Bukan apa-apa, cepetan jalan!"


Hai hai reader, jangan lupa tinggalin jejak yaa. Makasih


__ADS_2