
***
Sekitar pukul sembilan malam mereka tiba di pesantren, tak ada keluarga yang menyambut karena Bu Nyai Halimah sedang di rumah sakit menunggu Kyai Syarif. Hanya ada beberapa Mbak ndalem dan Kang ndalem. Gus Irham langsung menyuruh Alira istirahat karena ia akan langsung pergi ke rumah sakit. Sementara Asya pun langsung pergi ke kamar.
Sebenarnya baik Asya maupun Alira ingin ikut ke rumah sakit, tetapi Gus Irham menyuruh mereka untuk beristirahat dan baru besok mereka boleh menjenguk ummi mereka.
Setibanya di kamar Asya meletakkan tasnya di ranjang, merebahkan tubuh yang terasa sangat letih setelah berjam-jam duduk di dalam kereta. Setelah beristirahat sejenak gadis itu lalu bangun, mengedarkan pandangan ke sekitar.
Beberapa tahun tak pulang, tapi kamarnya tidak ada yang berubah. Masih sama seperti sediakala bahkan, tetap bersih dan terawat. Mungkin umminya yang menyuruh Mbak santri untuk selalu membersihkannya.
"Hah, bauk, lengket lagi." Asya beranjak dari duduk menuju lemari saat merasai baju yang dipakainya tak nyaman. Ia mengambil handuk kemudian keluar untuk membersihkan diri.
Saat melewati kamar Gus Irham ia melihat pintunya sedikit terbuka. Asya jadi teringat ucapan Kakak ipar sekaligus sahabatnya itu saat di kereta bahwa Alira tengah hamil, itu artinya ia akan mempunyai keponakan yang lucu dan menggemaskan.
Ia melongok sedikit ke dalam, Alira tengah merapikan baju-bajunya di lemari.
"Assalamualaikum calon Mamah muda?"
Alira terperanjat dan reflek menoleh ke belakang lalu tersenyum.
"Boleh masuk?"
"Masuk aja, Cha. Dih, kayak di rumah siapa aja inikan rumah kamu."
Asya masuk lalu duduk di kursi dekat meja yang biasa Gus Irham gunakan untuk bekerja.
"Al, yang di kereta tadi siang beneran?"
Alira menjeda kegiatannya, menoleh pada Asya.
"Yang mana?" tanyanya pura-pura tak paham.
"Yang kamu hamil itu?"
Gleg
Sudah Alira duga Asya pasti akan bertanya soal ini, padahal suaminya saja tidak menanyakan ini karena tahu mereka belum pernah melakukan sesuatu jadi mana mungkin ia bisa hamil?
Alira tak menggubris pertanyaan Asya, ia justru melanjutkan pekerjaannya yang tertunda membuat sang sahabat mengerucutkan bibirnya.
"Al, kok, kamu gak jawab sih?" kesalnya.
"Pertanyaan apa?"
"Yang tadi?"
"Oh, itu?" jawab Alira santai. Asya makin kesal dibuatnya, padahal ia sudah penasaran luar biasa. Alira selesai membereskan baju, ia lalu mendekat pada Asya dan duduk di tepi ranjang berhadapan.
"Emangnya kenapa kalo aku hamil?"
"Jadi kamu beneran hamil?" Wajah Asya tampak berbinar, ia sudah membayangkan bermain dengan keponakannya yang lucu.
"Emmm ... kasih tau gak yaa?" goda Alira sambil senyum-senyum.
"Dih, kasih tau lah!"
"Gak ah, masih rahasia."
"Pelit."
"Biarin. Wek." Alira menjulurkan lidahnya seolah mengejek. Asya tak mau kalah, gadis itu ikut mengeluarkan lidahnya membalas kakak iparnya. Mereka lalu saling tertawa bahagia.
Punya kakak ipar sahabat sendiri semenyenangkan ini. Pikir Asya merasa beruntung karena Gus Irham menikah dengan Alira.
"Astaghfirullah, udah jam segini. Aku kan tadi mau ke kamar mandi. Ah, gara-gara kamu jadi kemalemankan aku." pekiknya saat melihat jam di pergelangan tangannya sudah menunjuk hampir jam setengah sebelas.
"Lah, kok, aku? Kamu yang mulai," protes Alira tak terima, Asya yang memulai mengajaknya ngobrol kenapa ia yang disalahkan.
__ADS_1
"Hehe, ya udah aku kembali ke kamar ya, Kakak ipar." Ia beranjak menuju pintu.
"Iya adik ipar," sahut Alira, ekor matanya masih mengikuti hingga tubuh gadis itu menghilang di balik pintu.
"Hah." Alira menghempaskan napas kasar lalu meraba perutnya yang masih rata.
Pe-er nya bertambah satu.
***
Alira terbangun dan membuka matanya saat merasai sesuatu yang dingin menyentuh keningnya. Tampak Gus Irham berada di dekatnya, sepertinya suaminya itu baru saja mencium keningnya.
"Gus? Kamu udah pulang?" Alira membawa tubuhnya untuk duduk. "Gimana keadaan Abah?" sambungnya.
Gus Irham menarik napas dalam seperti ada beban berat yang sedang pikul.
"Ada apa?" Alira jadi cemas, sepertinya telah terjadi sesuatu yang buruk.
"Besok saja saya ceritakan, saya capek sekali. Saya mau istirahat sebentar. Tolong nanti kamu bangunkan saya jam setengah tiga." titahnya. Alira mengangguk.
"Mau kemana, Gus, katanya mau tidur?" tanya Alira karena katanya capek, tetapi pria itu
Gus Irham lalu berjalan ke arah sofa kemudian merebahkan tubuhnya di sana.
"Gus!"
"Saya hanya ingin tidur sebentar."
Sebenarnya Alira ingin menyuruh suaminya pindah ke kasur, akan tetapi mendengar jawaban tadi Alira tahu jika Gus Irham tidak sedang ingin diganggu.
Alira mencoba tidur lagi dengan posisi kini menghadap suaminya, Gus Irham tampak terlelap. Wajahnya tetap tampan seperti biasa meski ada gurat sedih dan lelah karena belum sempat beristirahat sama sekali.
"Kasihan kamu, Gus, pasti capek." Alira jadi merasa iba, ia lalu bangkit dan pergi ke dapur bermaksud membuat minuman hangat untuk suaminya.
"Lagi ngapain, Al?"
"Astaghfirullahaladzim, Acha!"
"Hehe, kaget ya? Maap," maaf Asya nyengir. "Itu minuman buat siapa?"
Alira tak menjawab, tetapi berlalu meninggalkan sahabatnya di dapur. Asya mengikuti hingga ke kamar.
"Loh, Mas Irham udah pulang?" tanyanya begitu melihat kakaknya sudah berbaring di sofa.
"Udah tadi." Jawab Alira sambil menaruh minuman di meja.
"Dia kenapa? Sakit?" sambung Asya penasaran.
"Nggak tau, tapi kayaknya kecapean. Kan kamu tau sendiri Mas mu tadi malam langsung ke rumah sakit." Alira duduk di dekat Gus Irham, mengecek keadaan suaminya dengan menaruh punggung tangannya di kening pria itu.
"Gimana? Panas?" Asya ikut cemas melihat kakanya tidur seperti orang pingsan, tak bergerak sedikit pun.
"Nggak terlalu panas, tadi dia minta dibangunkan jam setengah tiga." Alira menoleh jam di atas tempat tidur, pukul dua limabelas menit.
Alira megusap-usap rambut suaminya yang terlelap. Entahlah, tiba-tiba ia merasa takut kehilangan laki-laki itu. Apa karena kini ia benar-benar sudah jatuh cinta dengan suaminya itu?
"Al, kamu nangis?" tanya Asya karena melihat kakak iparnya itu meneteskan air mata. Buru-buru Alira mengusap wajahnya dengan ujung jilbab instannya dan membuang wajahnya ke sisi.
"E--enggak, siapa yang nangis?"
"Alah nggak usah bohong! Jelas-jelas kamu tadi aku lihat lagi nangis. Nangisin Mas Irham, ya? Kamu cinta kan sama dia?" Asya terus memojokkannya dan Alira terus menyangkal.
"Enggak!"
"Iya!"
"Enggak ih!"
__ADS_1
"Hilih, nggak mau ngaku."
Mendengar keributan Gus Irham terbangun lalu duduk dan melihat istri serta adiknya sedang berdebat, mereka tidak sadar jika sedang diperhatikan.
"Ngaku aja kenapa sih!?" Paksa Asya.
"Nggak ma-u," kekeh Alira. Mereka tidak melihat Gus Irham karena posisi mereka duduk membelakanginya. Kedua gadis itu terus berdebat sampai deheman dari Gus Irham membuat persetruan itu berhenti lalu menoleh ke belakang.
"Gus!"
"Mas Irham!"
Seru mereka bersamaan. Gus Irham tersenyum lalu membenarkan posisi duduknya.
"Mas, Alira cinta tuh sama kamu," ucap Asya spontan membuat kedua mata Alira langsung membelalak.
"Ohiya?" Gus Irham menatap istrinya meminta penjelasan perkataan adiknya.
Alira langsung gelagapan, wajahnya langsung merah padam kerena malu. Ia membuang mukanya ke samping, menyembunyikan kedua pipinya yang merona.
"Tuh, kan, Mas, dia malu tuh."
Jika saja bukan di depan Gus Irham pasti sudah diuyel-uyel tuh mulut Asya.
Gus Irham hanya tersenyum. "Kamu sudah sholat?" lalu tanyanya pada Asya.
"Belum, Mas."
"Sana gih, kamu sholat dulu!" Bukan bermaksud mengusir, tapi ia tidak mau Asya terus menggoda istrinya.
"Iya deh, Acha ke kamar dulu ya, Mas." Katanya sambil berdiri, sebelum pergi ia melirik Alira yang masih memalingkan wajahnya.
"Ehemm, kenapa sih nengok situ terus, Al? Mas Irham nya di sini loh."
"Acha ..." Alira sudah bersiap dengan senjata di tangannya.
"Aaaa, kabuuurr."
Asya segera berlari keluar kamar sebelum Alira melemparnya dengan sendal. Gus Irham hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan dua perempuan yang dicintainya. Ternyata beni kelakuan asli istri dan adiknya jika sedang bersama.
"Itu minuman buat saya?" Tanya Gus Irham sambil menunjuk gelas.
"Oh, iya, Gus." Alira bangun dan mengambil gelas itu lalu memberikan pada Gus Irham yang langsung diseruputnya.
"Udah jam setengah tiga, Gus." Alira mengingatkan. Gus Irham menyimpan gelasnya kembali ke meja.
"Iya," sahutnya lalu beranjak ke kamar mandi, sebelum mencapai pintu ia berbalik. "Al!"
"Iya, Gus." Sahut Alira menatap suaminya.
"Kita sholat berjama'ah."
"Baik, Gus." Alira hendak mengambil sajadah untuk bersiap.
"Alira!" panggil Gus Irham lagi. Lagi Alira melihat suaminya. "Apa kamu tidak ingin mewujudkan ucapan kamu di kereta?"
Dahi Alira mengerut. "Ucapanku di kereta? Ucapan yang mana, Gus?" Sepertinya Alira mulai amnesia atau pura-pura lupa.
"Ah, bukan apa-apa. Lupakan!" Gus Irham segera masuk ke kamar mandi.
"Ucapku di di kereta?" Alira mengingat-ingat apa yang ia katakan saat masih dalam perjalanan hingga beberapa saat kemudian ia menepuk kepalanya sendiri.
Mulutmu harimaumu.
"Mati aku."
selamat sore readers semua, sebelumnya terima kasih karena masih setia menunggu Alira juga Gus Irham update meski yaa, nggak tentu, tapi author makasih bangt loh. Btw sepi komen, tapi yaa udahlah gak pa-pa. tapi kalo bisa kasih bintang, like atau komen, vote. duh, pasti lebih seneng dan semangat updatenya. hehehe
__ADS_1