
***
Alira mengedikkan kedua bahunya, enggan menjelaskan apa yang baru diucapkannya. Seharusnya bukankah Gus Irham mengerti akan sindirannya, atau lelaki itu pura-pura tak paham yang dimaksud?
Gus Irham melangkah lebih dekat pada istrinya membuat Alira mundur beberapa langkah. Namun laki-laki dengan setelan celana bahan hitam dan kemeja warna biru laut itu menangkap tubuh istrinya hingga mereka kini tanpa sekat.
Alira gemetaran, jantungnya tidak baik-baik saja terus berdentum semakin kencang seakan memberontak ingin keluar.
Gus Irham menatap Alira ke dalam kedua mata Alira hingga gadis itu gugup.
"Kamu ngonong apa tadi? Pacar?" tanya Gus Irham penuh selidik.
Alira tak bisa berkata apa-apa, ia masih sibuk menenangkan sesuatu di dadanya agar detaknya normal.
"Si-siapa ya--yang bilang pa-pacar?"
Alira kacau sekarang, kenapa ia begitu gugup hanya karena jarak mereka begitu intim?
"Kamu tadi?"
"Ng-nggak. Aku bilang pagar bukan pacar," dalihnya, entah mengapa ia tidak jujur saja jika beberapa hari lalu dirinya melihat Gus Irham bersama dengan seorang gadis dan sikap suaminya itu sangat mesra.
"Oh ya?"
"I-iya. Tadi aku bilang kalo mau pergi pagar jangan lupa ditutup," dustanya.
Meski sebenarnya masih belum percaya dengan ucapan istrinya, tapi saat melirik jam di pergelangan tangannya Gus Irham segera melepaskan Alira. Ia sudah terlambat sepuluh menit datang dengan waktu yang sudah ditentukan.
"Ah, saya sudah terlambat saya harus segera pergi sekarang."
Alira menğhela napas lega begitu Gus Irham sudah menghilang di telan pintu.
"Ish, kenapa tadi aku nggak jujur aja sii. Kalo waktu itu aku liat dia sama cewk berhijab?"
Alira kesal sendiri mengapa tak punya keberanian hanya karena tatapan suaminya yang seolah melumpuhkan saraf-sarafnya? Alira meruntuki kebodohannya sendiri. Cinta membuatnya lemah.
Sementara Gus Irham setelah berpamitan pada mertuanya segera memacu kendaraannya menuju tempat acara. Iya, tadi saat di rumah sakit abahnya yang menelpon menyuruhnya menggantikan posisinya mengisi pengajian di sana karena abahnya sedang tidak enak badan.
Gus Irham tiba di tempat yang dituju dan langsung dipersilahkan naik panggung. Acara begitu berjalan dengan lancar tanpa kendala meski tadi ia datang sedikit terlambat.
Para jamaah juga terlihat antusias apalagi begitu mendengar jika Kyai Syarif tidak bisa rawuh dan akan diwakili putranya, mereka datang berbondong-bondong karena penasaran dengan anak Kyai kondang itu yang katanya tampan dan memiliki suara merdu saat bersolawat.
Dan mereka memang mengakui jika putra Kyai Syarif itu memang memiliki wajah yang rupawan hingga membuat mereka tersihir dan terpesona, bahkan sampai ada seorang gadis yang nekat naik ke atas panggung meminta untuk dinikahi. Tentu saja Gus Irham menolak dengan halus jika dirinya sudah memiliki istri. Ada juga seorang ibu-ibu yang menawari anak gadisnya untuk ia jadikan istri yang kedua.
__ADS_1
Gus Irham hanya tersenyum saja, tak ada terbesit pun di pikirannya untuk membagi cintanya buat wanita lain apalagi sampai menikah. Alira, Hanya nama itu yang kini memenuhi hatinya.
"Mas Irham!" panggil seseorang membuat Gus Irham yang sedang berbicara dengan seseorang menoleh ke belakang. Seorang gadis berhijab sedang berjalan ke arahnya sambil tersenyum manis.
"Kok kamu ada di sini?" tanya Gus Irham setelah berhadapan.
"Sengaja, mau minta antrin," jawab gadis itu terdengar manja.
"Anterin kemana?"
"Ke mall."
"Mall?"
Mereka lalu berjalan berdampingan menuju parkiran.
"Iya, ada sesuatu yang mau aku beli."
"Apa?"
"Ish, kepo deh."
Gus Irham tertawa lalu mengacak kepala gadis itu yang tertutup hijab. Ia jadi teringat Alira, sifat mereka hampir mirip.
Mereka segera pergi ke pusat perbelanjaan yang ada di kota ini. Gus Irham hanya manut saja mengikuti kemana gadis itu membawanya.
"Mas Irham mau beli cincin?" tanya gadis yang bersamanya karena melihat laki-laki itu terpaku di depan toko.
"Iya tapi Mas tidak tahu ukuran jarinya." Gus Irham diam memperhatikan gadis yanng bersamanya, "tapi kalo dilihat-lihat sepertinya ukurannya sama sama kamu."
"Eh ...."
Gus Irham menarik tangan gadis itu lalu memilih sebuah cincin dan menyuruh gadis itu mencobanya.
"Mas Irham mau beliin aku cincin? Emmm makasih baik banget tau aja kalo aku lagi pingin beli ini."
"Siapa yang mau beliin kamu, ge'er."
"Ck, pelit. Kirain mau beli buat aku?" Bibirnya ditarik maju ke depan sebagai bentuk kesal karena ternyata cuma jadi alat ukur.
Karena ngambek, gadis itu meninggalkan Gus Irham yang sedang melakukan transaksi.
"Nih, buat kamu."
__ADS_1
Gadis yang sedang duduk menekuk wajahnya itu mendadak sumringah melihat kotak kecil terangsur di depannya. "Ini beneran buat aku?"
"Iya, Mas sengaja beli dua tadi. Hitung-hitung itu kado dari Mas. Sekarang kita mau kemana?"
"Cari makan, laper," katanya dengan nada manja.
"Ya udah, ayo."
"Di tempat biasa yaa?"
"Iya terserah kamu."
Mereka kembali naik ke mobil lalu mobil segera berangkat menuju restoran yang jauh dari sana. Sebuah restauran yang cukup mewah.
"Kamu lihatin apa sih dari tadi?" Kedua mata Gus Irham mengikuti arah pandang gadis yang duduk berhadapan bersekat meja darinya.
"Hah? Nggak lihat apa-apa."
"Anda Gus Irham-kan?" Seorang laki-laki yang mengenakan kemeja putih tiba-tiba berdiri tepat di dekat mereka.
Gus Irham kenal siapa dia. Farhan. Iya, pemuda yang mencintai istrinya.
"Sedang apa anda di sini?" Farhan menoleh sekilas pada gadis yang bersamanya. Mengapa bukan Alira? Seharusnya yang duduk di depannya istrinya bukan wanita lain?
"Kalian saling kenal?" tanya gadis itu bingung, tidak menyangka jika kedua pria itu saling mengenal satu sama lain.
"Iya, Cha," jawab Farhan dengan nada sinis. "Kamu mau pesen apa?" sambungnya menatap gadis yang dipanggil Acha.
"Seperti biasa. Mas Irham mau makan apa?"
"Apa saja terserah kamu."
"Oke, samain aja yaa? Nasi rawon dua sama es lemon dua."
"Udah itu aja?"
"Iya, sementara itu dulu."
"Kalo nggak bisa jaga perasaan Alira mending lepasin dia. Bukannya seharusnya menemaninya yaa, kan papanya sedang sakit. Anda palah bersenang-senang dengan gadis lain. Aku nggak nyangka suami Alira yang seorang 'Gus' ternyata seperti ini kelakuannya," bisik Farhan tepat di dekat telinga Gus Irham sebelum kemudian berlalu.
Gus Irham mengeratkan kedua tangannya, dadanya seperti terbakar. Namun, ia cuma bisa menahan emosi karena ada Acha di sana dan lagi pula ini di depan umum, tidak pantas.
"Mas Irham kenapa?" tanya Acha yang melihat raut wajahnya berubah.
__ADS_1
"Tidak apa-apa."
Hai hai reader maaf telat update, akhir-akhir ini otak susah diajak menghalu. Tapi semoga kalian tetap nungguin ya, dan jangan lupa like, star dan tinggalin jejak biar authornya semangat menghalunya karena itu yg bikin author semangat nulis. Hihihi