
***
Hidup itu aneh yah? Kita tidak tahu dengan siapa kita akan bertemu dan dengan siapa kita akan menikah. Begitupun dengan Alira dan Gus Irham. Mereka sama-sama tidak menyangka akan bertemu kembali dan kemudian menjadi sepasang suami istri.
Terutama Alira, ia memang tidak bisa mengingat sosok Gus Irham di masa kecilnya, tetapi baru menyadari jika setiap berdekatan dengan Gus Irham ia merasa seperti tak asing. Ada rasa nyaman yang selalu ia rasakan yang selama ini Alira tidak tahu jika itu karena dulu mereka sempat bersama.
"Gus, bisa nggak kamu ceritain sedikit aja masa kecilku?!" pinta Alira dengan penuh harap. Ia ingin tahu dan mengingat semuanya tentang kebersamaannya bersama Gus Irham.
Gus Irham tersenyum kemudian melirik jam dinding yang ada di kamar itu.
"Sudah malam, lain kali saja yah ceritanya. Sekarang kamu tidur!" Perintahnya sambil mengusap kepala Alira seperti terhadap anak kecil.
Alira mengerucutkan bibirnya kemudian mengangguk.
"Ya udah deh gak apa-apa. Sana tidur lagi di sofa!" Alira mendorong badan suaminya untuk menjauh darinya.
"Jadi tidur di sofa lagi nih?"
__ADS_1
"Iyalah, kan tempat tidurnya cuma satu."
Gus Irham menggaruk belakang kepalanya. "Iya juga sih. Ya sudah aku tidur dulu." Gus Irham berdiri kemudian kembali ke sofa dan berbaring.
Alira hanya menatapnya. Sebenarnya Alira tahu apa yang diinginkan suaminya, tapi untuk saat ini biarlah seperti ini dulu sampai ia benar-bisa yakin bahwa hatinya sudah milik suaminya.
Alira menghela napas panjang kemudian berbaring. Kedua matanya menerawang langit-langit kamar yang berwarna putih. Entahlah, kenapa orang-orang selalu melakukan itu padahal di sana tidak ada apa-apa, tetapi seolah mereka akan menemukan jawaban.
Getar ponsel di atas nakas mengagetkan Alira.
"Iya Mbak, besok aku ke Jakarta."
Alira bangun kemudian menghampiri suaminya, ia ingin memberitahu jika papanya sakit, tetapi urung. Melihat Gus Irham tertidur sangat lelap ia jadi tidak tega. Pasti suaminya sangat lelah dan juga capek karena harus mengurus ini itu jadi ia memutuskan besok saja memberi tahu.
Meski tak bisa tidur dengan nyenyak karena terus memikirkan papanya, tetapi akhirnya Alira bisa terlelap juga.
***
__ADS_1
Sekitar jam tujuh pagi Alira dan Gus berangkat ke Jakarta dengan menaiki kereta api dan tentunya setelah berpamitan pada abah dan umminya. Mereka juga menitipkan salam untuk Tuan Sadewa.
Selama perjalanan Alira tidak bisa duduk dengan tenang, ia masih saja gelisah memikirkan papanya. Bagaimana pun Alira sangat menyayangi pria itu. Alira tak ingin kehilangan papanya meski kini ia sudah menikah, sudah ada yang menjaganya, tapi tetap saja Tuan Sadewa sangat berarti bagi Alira.
Gus Irham menoleh ke samping, melihat Aira. Kedua tangan gadis di sebelahnya saling menaut. Gus Irham tahu jika istrinya sedang tidak tenang karena itu ia memberanikan diri menggenggam tangan Alira ya ada di pangkuan.
"Sabar ya, insya Allah papa nggak kenapa-kenapa," kata Gus Irham menenangkan. Alira hanya mengangguk, ia sedang teramat sedih sehingga berbicara saja enggan.
Hampir pukul delapan malam mereka tiba di rumah besar berpagar cokelat yang menjulang tinggi. Alira tergesa turun karena sudah tidak sabar bertemu sang papa, tetapi pintunya terkunci. Ia memanggil-manggil satpam di rumahnya. Namun, tak ada jawaban.
Kemana semua orang?
"Al, lihat ini!"
Alira menghampiri suaminya. Seketika ia syok melihat secuil kertas yang tertempel di pagar yang bertuliskan 'RUMAH INI DISITA BANG'.
Next capter
__ADS_1