
***
Alira memukul-mukul dadanya berharap rasa sakit yang ia rasakan menghilang, pemandangan tadi sungguh sangat melukai hatinya. Alira ingin berteriak sekeras mungkin, atau menangis sejadinya. Namun, tenggorokannya terasa kering, dadanya pun kian sesak. Laki-laki yang berstatus sebagai suami itu membuatnya kecewa.
"Papa," lirihnya dalam isak. Alira tidak tahu siapa lagi yang harus ia panggil. Tuan Sadewa adalah satu-satunya orang yang ia punya.
Oh, andaikan ia punya mama yang akan mendekap ke dalam pelukan hangatnya, membiarkannya menangis di dalam pelukannya. Membelainya dengan penuh kasih sayang.
Air matanya kian luruh, tapi dibiarkannya. Alira lelah dengan hidupnya.
Oh, apakah cinta sesakit ini? Jika iya Alira tidak ingin merasakan ini. Ini terlalu sakit buatnya yang baru mengenal cinta.
"Papa." Dikeluhkannya nama pria yang kini masih terbaring lemah di ranjang dengan jarum suntik tertancap di lengan, juga alat bantu pernapasan yang terpasang di kedua lubang hidung.
Alira menekan dadanya, mencoba menetralisir rasa sakit yang ia rasakan, tetapi tidak bisa. Semakin ia berusaha justru semakin membuat dadanya sesak.
"Alira?" Panggilan seseorang membuat Alira tersentak lalu buru-buru mengusap pipinya, menoleh.
"Farhan?"
Laki-laki itu tersenyum kemudian tanpa izin duduk di samping Alira yang sedang berada di taman rumah sakit. Alira bergeser sedikit agar mereka tak terlalu dekat.
"Ka-kamu nga-ngapain di sini?" tanya Alira berusaha terlihat baik-baik saja. Ia tidak mau terlihat sedang sedih apalagi di depan Farhan.
"Kenapa? Nggak boleh?"
"Bukan gitu, tapi ...."
Farhan tertawa kecil melihat gadis di dekatnya terlihat bingung, sangat lucu dan menggemaskan menurutnya.
"Nggak, mamaku seorang dokter dan dia kerja di sini."
"Oh."
"Hu um."
Mereka lalu diam, bingung harus ngomong apa. Jujur saja Farhan sangat gugup, hatinya berdebar-debar tak karuan. Ah, hanya duduk di dekat orang yang kita suka saja sudah membuatnya begitu bahagia gimana kalau sampai memilikinya? Sungguh beruntung dirinya jika itu sampai terjadi, tapi sayang, itu tidak mungkin.
"Kamu sendiri ngapain? Siapa yang sakit?"
Gadis bergamis biru muda dengan pasmina putih tak lantas menjawab, tetapi mengalihkan pandangan lurus ke depan dimana terdapat seorang suami yang sedang menyuapi istrinya yang sedang duduk di kursi roda.
__ADS_1
Alira membayangkan jika itu dirinya dan Gus Irham. Ah, apa ini terlalu berlebih?
"Al, kamu nggak pa-pa?"
Alira kembali menoleh laki-laki yang kini tengah menunggu jawaban darinya sebelum kemudian senyumnya mengembang.
"Nggak pa-pa, papaku sakit."
"Sakit? Sakit apa?"
"Jantungnya kumat."
"Oh, lalu suami kamu mana?"
"Eemm, dia ..., ah, jadi mama kamu kerja di sini?" Alira sengaja mengalihkan pembicaraan, ia tidak ingin membahas suaminya sekarang.
Farhan hanya mengangguk, mereka lalu terlibat obrolan. Farhan memang pandai mencari topik pembicaraan sampai Alira lupa akan kesedihannya. Alira baru tersadar ketika ponselnya berbunyi dan tertera nama manusia kaku memanggil. Alira memang belum mengganti nama kontak suaminya saat pertemuan syarat itu.
"Kok nggak diangkat? Dari suami kamu ya?"
Alira hanya tersenyum canggung lalu pamit kembali ke ruang di mana papanya dirawat, tapi sebelum itu Alira membeli pesanan papanya di supermarket tak jauh dari rumah sakit.
Baru saja membuka pintu pertanyaan menyelidik menyambut. Alira diam, pura-pura tak mendengar. Ia menyimpan buah yang dibelinya ke nakas lalu duduk di sofa. Tuan Sadewa masih tertidur karena efek dari obat yang diminum.
Gus Irham menyusul. "Mbak Minah sama Nurul saya suruh pulang," terangnya tanpa dipinta. Alira masih acuh bahkan seperti tak mendengar orang bicara di dekatnya. Alira malah sibuk bermain ponsel membalas pesan dari Asya. Ah, Alira kangen pada sahabatnya itu, sudah berapa bulan mereka tidak bertemu? Apa khabarnya gadis itu sekarang? Alira rindu.
"Al, kamu dengar sayakan?" Gus Irham mulai tidak sabar karena Alira seperti tak menganggapnya.
Dipanggilnya sekali lagi nama istrinya, Alira hanya 'hmm' saja tanpa beralih sedikit pun dari layar pendar di tangannya.
Gus Irham menarik napas dalam, mencoba bersabar menghadapi sikap Alira yang terkadang berubah-ubah.
Gus Irham lalu bangkit hendak ke aula untuk solat dzuhur karena waktunya sudah tiba.
"Saya mau solat dulu kamu jangan kemana-mana."
"Mau solat apa mau ketemu temen spesial?" sindir Alira tanpa melihat suaminya.
Gus Irham yang hampir mencapai pintu menoleh, merasa tidak mengerti dengan ucapan istrinya barusan. Namun, ia tetap memilih pergi meninggalkan Alira. Ia tidak ingin kalau sampai terlambat solat.
Alira membuang napas kasar, lalu menyandarkan punggung ke belakang.
__ADS_1
"Tuh, kan, gak dijawab? Pasti mau ketemu perempuan itu lagi? Siapa sih dia? Pacarnya? Atau istrinya yang lain?"
Alira mencoba mnepis prasangka buruk terhadap suaminya, tapi bayangan saat Gus Irham mengusap kepala gadis itu mengusiknya.
Apa dia harus bertanya pada suaminya langsung?
Alira merasa lelah meski hari ini ia tidak melakukan apa-apa, akan tetapi ia merasa kecapean. Bukan capek fisik, tapi batin. Gadis itu membaringkan tubuhnya dan dalam sekejap Alira sudah terlelap. Dalam tidurnya, Alira bermimpi bertemu dengan mamahnya. Almira memeluk dan membelai kepalanya.
"Mama," igaunya.
Gus Irham yang baru saja masuk terkesiap lalu menghampiri, berjongkok di bawah istrinya.
"Jangan tingalin Al, Mah. Alira mau sama Mama." Tanpa sadar Alira meraih tangan Gus Irham dan mendekapnya seolah itu adalah mamanya.
Gus Irham hanya diam membiarkan tangannya dipeluk istrinya. Ditatapnya wajah Alira lama, ia merasa kasihan. Alira yang sedari kecil belum pernah merasakan seperti apa rasanya mempunyai seorang ibu.
Ah, mungkin memang sebaiknya Alira berada di dekat Umminya agar mendapat kasih sayang.
Gus Irham melepas jaketnya kemudian menyelimuti istrinya.
"Jangan pergi!"
Gus Irham mengurungkan niatnya saat hendak berdiri, menoleh Alira yang tenyata kembali mengigau. Beberapa saat dibiarkannya keadaan seperti itu sampai Gus Irham benar-benar yakin Alira sudah kembali tenang.
Gus Irham bangkit kemudian menghampiri banker ternyata mertuanya sudah sadar. Sebenarnya sudah sejak tadi dan Tuan Sadewa mendengar igauan putrinya.
"Sebenarnya dia anak yang baik, hanya saja kurang kasih sayang dari mamanya meskipun saya sudah memberikan semuanya. Namun, Alira tetap membutuhkan sosok seorang ibu," ucap Tuan Sadewa dengan wajah sedih. Gus Irham hanya mengangguk setuju.
Tak berselang lama dokter yang merawat Tuan Sadewa Kurdi datang untuk memeriksa. Pria berkarisma itu terus menatap dokter Nadia tanpa berkedip, ia merasa familiar dengan parasnya seperti pernah bertemu, tapi ia lupa dimana?
"Pak Sadewa harus banyak istirahat, makan yang cukup dan ingat! Obatnya ya, Pak!" Nasehat dokter Nadia dengan tersenyum ramah.
Tuan Sadewa hanya diam, dia masih sibuk dengan pikirannya.
"Baik Dokter terima kasih," jawab Gus Irham.
Dokter Nadia keluar dan tepat saat Tuan Sadewa mengingat mirip siapa dokter cantik berkaca mata yang baru memeriksanya.
'Dia ...."
hai readers, maafken karena baru bisa up. jangan lupa selalu tinggalkan jejak dan likenya yaa? makasieh
__ADS_1