
***
Tidak seperti biasanya, pagi ini Alira bangun lebih pagi dari biasanya dan langsung ke dapur untuk memasak. Alira ingin membuat sarapan untuk dibawa ke rumah sakit. Semalam ia dan Mbak Minah dipaksa pulang oleh Gus Irham, padahal Alira ingin menunggui papanya dan menemaninya.
"Kamu pulang saja sama Mbak Minah, Biar saya yang jagain Papa di sini!"
Begitu titah Gus Irham semalam ketika Alira ngeyel mau menunggui Tuan Sadewa. Meski sebenarnya enggan, tetapi akhirnya Alira menurut dan sekarang ia sudah bersiap kembali ke rumah sakit.
Alira memeriksa kembali barang bawaannya, memastikan jika ia sudah membawa baju ganti untuk suami dan papanya. Semalam Alira juga berpikir untuk merubah sikapnya yang kadang-kadang masih tak sopan pada suaminya. Padahal ia sudah berjanji pada papanya untuk menjadi istri yang baik.
Dan semalam, Alira baru sadar jika Gus Irham sangat baik. Bukankah memang dia selalu baik? Iya, hanya saja Alira yang masih belum menerima pernikahannya.
"Ayo Mbak Alira, kita berangkat sekarang!" ajak Nurul yang baru saja keluar dari kamarnya.
Mereka lalu segera pergi menaiki mobil milik Alira yang tidak ikut disita oleh Bank karena mobil itu sudah atas nama Alira. Dulu Alira membelinya dengan uang jajan yang ia kumpulkan sejak SMP. Dulu Alira memang nakal, tapi bukan berarti dia suka menghamburkan uang. Alira hanya sering keluar rumah dan bermain dengan teman-temannya.
Bermain pun hanya sekedar nonton di bioskop, jalan-jalan ke Mol, atau berlibur kemana saja yang penting senang.
Tiba di rumah sakit Alira membuka pintu dan masuk.
"Assalamualaikum, Pah?"
Tuan Sadewa yang sedang sarapan menoleh pintu dan tersenyum.
"Waalaikumsalam," jawab Tuan Sadewa.
Alira mendekat sementara Nurul mengikuti dari belakang.
"Alira suapin ya, Pah?" Tuan Sadewa hanya mengangguk. Alira lalu mengambil alih sendok lalu mulai menyuapi papanya.
"Kamu tidak tanya suamimu dimana?"
"Hah?"
"Gus Irham."
Ah, Alira baru sadar jika sejak tadi ia tak melihat Gus Irham di ruangan itu. Kemana?
"Emmm, kemana dia?"
"Tuh."
Alira memutar kepalanya mengikuti arah pandang papanya. Di sofa yang panjangnya sekitar dua meter, Gus Irham sedang terlelap. Wajahnya terlihat sangat kelelahan.
__ADS_1
"Semalam dia tidak tidur karena terus mengaji di dekat Papa."
Ada desiran halus yang tiba-tiba manyusup ke dalam hatinya demi mendengar ucapan papanya barusan. Benarkah yang dikatakan papanya?
"Dia juga solat malam dan berdoa buat kesembuhan Papa."
Ah, rasanya tidak tahu lagi harus bersikap bagaimana pada Gus Irham nanti? Bagaimana caranya ia harus mengucapkan rasa terima kasihnya pada suaminya?
Tak berapa lama suster datang untuk memeriksa keadaan pasiennya.
"Sus, ruang adminnya dimana ya? Saya mau bayar uang tagihan?"
Semalam sebelum pulang Alira sempat melihat tagihan rawat inap papanya dan jumlahnya tidak sedikit karena ini adalah ruang vvip.
"Oh, Mbak Alira tenang saja. Semuanya sudah lunas."
"Hah? Lunas? Siapa yang bayar?"
"Suami Mbak Alira. Kalo begitu saya permisi. Obatnya jangan lupa diminum ya, Pak."
'Kenapa dia sebaik itu?' Alira membatin.
"Kamu bangunin suami kamu gih! Dia juga belum makan dari semalam," titah papanya. Alira mengangguk lalu mendekati sofa.
Entah kenapa ia tiba-tiba merasa sangat gugup. Tidak biasanya ia segugup dan secanggung ini saat akan membangunkan suaminya.
"Astaghfirullah, jam berapa ini?"
"Hampir jam sembilan."
Gus Irham meraup wajahnya. "Maaf, saya nggak tau kamu datang."
"Nggak apa-apa. Kamu cuci muka gih, kita sarapan!"
Gus Irham mengangguk kemudian beranjak ke kamar mandi. Alira dengan dibantu Nurul menyusun rantang di meja. Tak berapa lama Gus Irham keluar lalu mereka makan dalam diam, hanya sesekali Gus Irham melirik istrinya karena sikap Alira menurutnya sangat berbeda. Lebih lembut dan juga sangat manis, tapi ia suka dan berharap Alira akan seperti ini terus.
Alira yang merasa ada yang memperhatikan akhirnya menoleh.
"Kenapa melihatku terus, Gus?"
Sontak saja Gus Irham gelagapan karena tertangkap basah. "Emm ... tidak apa-apa, ayo lanjutkan makannya." Katanya lalu menyuap.
Gus Irham jadi salah tingkah dibuatnya. Jantungnya pun mendadak berdetak lebih cepat dari biasanya.
__ADS_1
Alira hanya tersenyum melihat suaminya yang grogi. Ia tahu apa yang sedang laki-laki itu rasakan sebab, dirinya pun juga merasakan hal yang sama.
Nurul yang duduk di samping anak majikan Bibinya senyum-senyum sendiri melihat keduanya. Menurutnya Alira dan Gus Irham sangat lucu dan romantis.
"Halo assalamualaikum?" Telpon masuk di ponsel Gus Irham tepat saat mereka baru saja selesai sarapan.
"Di mana?"
Meski mereka berhadapan, tetapi Alira tidak bisa mendengar dengan jelas suara si penelpon. Hanya saja sepertinya seorang perempuan.
"Baik, aku ke sana. Kamu tunggu ya, jangan kemana-mana!"
Sambungan berakhir, Gus Irham menoleh Alira yang sedang membereskan rantang bekas mereka makan.
"Al," panggil Gus Irham. Alira menjeda kegiatannya demi melihat ke arah suaminya.
"Iya?"
"Saya mau keluar sebentar kamu nggak apa-apa kan, kalo saya tinggal sebentar?"
Alira tak lantas menjawab, diam beberapa saat. Panggilan Gus Irham terhadapnya sangat formal, tapi pada perempuan di telpon tadi terdengar sangat beda, 'aku'. Belum pernah suaminya menyebut dirinya sendiri dengan sebutan itu, selalu memakai kata saya. Sebutan terhadap orang asing.
Ah, ia jadi merasa ragu dengan perasaan suaminya jika lelaki itu mencintainya.
"Al, kamu tidak apa-apa?" Lambaian tangan di depan wajah membuat Alira terkesiap.
"Ah, i--iya aku dengar. Iya nggak apa-apa kan ada Nurul." Dadanya mendadak bergemuruh hebat, ada denyut yang terasa nyeri di dalam sana.
"Kalo begitu saya pergi dulu." Gus Irham segera berlalu. Alira masih terdiam di tempat.
Beribu pertanyaan kini memenuhi isi kepalanya. Siapa yang akan suaminya temui? Kenapa tidak memberitahunya? Atau jangan-jangan ....
Alira segera menepis pikiran tidak baik itu. Tidak mungkin suaminya seperti itu? Gus Irham sangat menjaga dirinya dan dia tahu batasan-batasannya.
Dari kejauhan Gus Irham melihat seorang gadis yang tengah duduk di sebuah kafe yang ada di seberang rumah sakit. Gadis berpakaian syar'i itu menoleh ke arahnya, tersenyum seraya melambaikan tangan. Gus Irham balas tersenyum lalu menghampirinya.
"Lama banget, capek tau nunggunya," kata gadis itu lalu mengerucutkan bibinya. Gus Irham hanya tersenyum seraya mengusap kepala gadis itu.
"Maaf, tadi Mas ada perlu. Sudah makan?" tanya Gus Irham setelah duduk.
"Belum, kan nungguin, Mas Irham." Jawabnya dengan tersenyum manis.
"Ya sudah pesen gih, tapi Mas sudah makan. Mas temenin kamu saja ya, tapi Mas pesan kopi."
__ADS_1
Gadis itu mengangguk lalu memanggil pelayan kafe.
Di seberang jalan, Alira berdiri mematung. Air matanya tiba-tiba mengalir melihat pemandangan di depan sana. Tadi ia hendak membeli buah apel atas permintaan papanya dan tanpa sengaja melihat suaminya sedang duduk bersama seorang gadis yang entah siapa karena gadis itu duduk membelakanginya.