
***
Lantunan ayat suci terdengar pagi ini. Gus Irham segera menutup kitab yang baru dibacanya, lalu menyimpannya di rak. Ia sudah bangun sejak sepertiga malam tadi untuk melaksanakan solat tahajud, ia juga mengajak Alira hanya saja istrinya itu kembali tidur. Mungkin kecapean karena kegiatan mereka tadi.
Mengayunkan langkah mendekati Alira lalu membangunkannya. Butuh usaha beberapa kali untuk membuat perempuan itu membuka kedua matanya kemudian beranjak ke kamar mandi.
"Kamu solat di rumah saja," titah Gus Irham. Alira hanya mengangguk. "Saya ke masjid dulu," sambungnya, kemudian mengulurkan tangan untuk Alira cium.
Sepeninggal Gus Irham Alira segera melaksanakan solat subuh. Usai solat ia beranjak ke dapur. Di sana sudah ada Mbak-Mbak santri yang bertugas untuk memasak. Di sana juga ada Ayu yang sudah Alira kenal. Alira tak tinggal diam, ia turut membantu apa saja yang ia bisa.
"Ning, nitip goreng ayam sebentar ya. Saya mau ke kamar mandi," pinta ayu segera berlalu setelah Alira mengangguk menyanggupi.
Alira berdiri di dekat kompor sambil membalik ayam agar tidak gosong. Sungguh seperti bukan Alira yang dulu yang tahunya hanya tinggal makan tanpa harus repot memasak, tetapi kini Alira sudah mulai terbiasa di dapur meski belum terlalu pandai dalam mengolah berbagai masakan.
Tak berapa lama Ayu kembali dari arah pintu samping.
"Matur newun, Ning. Maaf merepotkan."
"Nggak apa-apa, Ayu." Alira bergeser memberikan posisinya pada gadis manis itu.
"Cie, yang lagi belajar masak." Asya yang baru datang meledeknya. Perempuan itu sudah rapi dengan gamis juga pasmina.
Alira mendengus kesal, sahabatnya ini memang tahu jika ia tak pernah masak.
"Al, dipanggil Mas Irham tuh," sambungnya. Lantas ia mendekati meja, mengambil gelas untuk membuat teh hangat.
Alira beranjak meninggalkan dapur.
"Mau teh, nggak?"
Alira yang hampir mencapai pintu sekat menoleh.
"Biar aku buatin sekalian Mas Irham."
"Boleh kalo nggak ngerepotin."
"Halah basa-basi."
Alira terkekeh kemudian melanjutkan langkahnya.
"Ning Asya kapan pulang?" tanya Ayu, gadis itu tampak kaget karena Ning nya sudah kembali.
Asya nyengir. "Hehe, kemarin, Yu. Kamu apa khabar?
"Alhamdulillah baik, Ning. Ning Asya gimana?"
__ADS_1
"Baik juga."
Rasanya sangat canggung, padahal dulu mereka cukup akrab bahkan bisa dibilang Ayu adalah orang yang paling sering Asya ajak bertukar cerita segala hal, termasuk hubungan asmaranya dengan Kang ndalem yang sudah lama mengabdi di pesanten abahnya ini.
Cuma Ayu yang tahu. Abah, ummi bahkan Gus Irham pun tidak tahu. Mereka menyimpan rapat-rapat hubungan dan saat bertemu pun mereka bersikap biasa saja.
"Ning, udah ketemu Kang Miftah?" tanya Ayu hati-hati dan pelan, takut jika sampai terdengar orang.
Asya menjeda tangan yang sedang mengaduk minuman, menoleh pada Ayu yang berdiri di dekatnya.
"Belum," sahutnya. Sesaat bayangan Kang santri itu menari di kepala. Namun, segera ia tepis. Ia tidak mau mengenang kembali Kang ndalem yang punya paras lumayan tampan itu.
"Sejak kepergian Ning Asya, aku lihat dia sering melamun," lanjut Ayu, gadis itu tidak tahu jika Asya kini sedang melawan mati-matian membuang perasaan yang dulu ada kini hadir kembali.
Asya buru-buru menyelesaikan kegiatannya menyeduh teh, memindahkannya ke atas nampan dan bersiap membawanya.
"Kang Miftah per ...."
"Aku ke depan dulu ya, Yu." Tak ingin mendengar lebih banyak lagi tentang pria itu, Asya segera berlalu meninggalkan Ayu.
Asya Bernapas lega bisa terlepas dari obrolan yang akan membuatnya terjebak dengan situasi perasaan bersalah pada Kang ndalem itu.
Masuk ke sebuah ruangan yang dipenuhi dengan kitab-kitab, Asya melihat Gus Irham sedang duduk sambil mengotak-atik laptopnya.
"Tehnya, Mas." Ia menaruh cangkir dekat laptop. Gus Irham menoleh sekilas lalu kembali pada pekerjaannya.
Asya berdecak. "Biasanya juga baik." Ia lalu duduk di kursi depan kakaknya.
"Iya, tapi kalau lagi ada maunya."
Lagi Asya berdecak. "Mas Irham su'udzon aja nih. Oh iya, Mas, kita jadi ke rumah sakit 'kan?"
Gus Irham menutup laptopnya, menatap adik perempuan satu-satunya. "Memangnya kamu sudah siap ketemu sama abah?"
Gus Irham sebenarnya sedikit khawatir jika Asya ikut ke rumah sakit akan berpengaruh pada kesehatan abah mereka. Ia masih ingat betapa murkanya abah saat adiknya itu lebih memilih pergi dari rumah daripada tinggal di pesantren.
"Sebenarnya sih Acha belum siap, tapi Acha kangen banget sama abah, sama ummi."
Gus Irham bisa melihat kerinduan di mata adiknya yang sedikit berkaca itu. Ia lalu berdiri, mengusap kepala Asya yang tertutup hijab.
"Ya sudah, nanti Mas bakal lihat kondisi abah dulu kalau beliau sehat kamu boleh masuk, tapi kalo abah masih sakit kamu nggak apa 'kan, nunggu abah sampai pulih?"
Asya mengangguk. "Iya, Acha mau."
"Anak pintar, ya sudah sana kamu siap-siap sebentar lagi kita berangkat," titah Gus Irham. Asya kembali mengangguk.
__ADS_1
"Alira mana, Mas?" tanya Asya kemudian, sejak masuk ke ruangan ini ia belum melihat kakak iparnya itu padahal tadi sahabatnya itu dipanggil, sekarang kemana?
"Oh, dia di kamar. Mungkin sedang bersiap-siap soalnya tadi Mas menyuruhnya." Terang Gus Irham sambil meraih cangkir teh kemudian mengesapnya. Asya hanya ber oh saja.
***
Sekitar jam delapan mobil yang akan digunakan sudah siap di halaman depan ndalem, Miftah yang diminta mencuci dan mengecek mesin mobil sudah sedari usai subuh melakuan titah Gusnya.
"Mif!" Panggil Gus Irham melambaikan tangan pada Miftah. Pria yang hanya mengenakan kaos oblong serta celana warna hitam yang digulung itu berlari kecil menghampiri Gus Irham.
"Saya, Gus."
"Nanti kamu ikut sama saya ke rumah sakit setelah itu kita pergi ke rumah Kyai Hanan."
"Nggih, Gus. Kalau begitu saya tak siap-siap dulu," pamit Miftah kemudian berlalu. Gus Irham hanya mengangguk.
Laki-laki yang usianya lebih muda dari Gus Irham itu mengambil ember yang tadi digunakan untuk mencuci mobil, ia juga membereskan selang menggulungnya lalu membawanya ke belakang. Namun, langkahnya terhenti saat hampir saja bertabrakan dengan Asya yang baru saja keluar.
Pandangan mereka bertemu, dan perasaan yang memang masih ada kini seakan kembali bersemi.
"Ning Acha," lirihnya hampir tak terdengar. Asya hanya diam seribu bahasa, hal yang ingin ia hindari kini justru terjadi. Bertemu dungan Miftah, tetapi rasanya memang tidak mungkin. Miftah adalah santri kepercayaan abahnya yang paling bebas keluar masuk ndalem, jadi mustahil jika mereka tak bertemu.
Buru-buru Miftah menjatuhkan matanya ke bawah. "Maaf, Ning. Silahkan." Ia menggeser tubuhnya agar Asya bisa lewat.
Asya berlalu begitu saja tanpa melihat Miftah sedikit pun. Namun, siapa yang tahu jika hatinya kini sedang kacau lantaran melihat pria itu lagi.
Miftah menghela napas dalam, netranya masih mengawasi punggung gadis itu. Ada yang sesak di dalam sana, di sudut hatinya. Ia mencintai putri Kyai Syarif itu, tetapi ia sadar siapa ia dan siapa Asya. Ia hanya pungguk yang merindukan bulan, terlalu jauh jika berharap jadi menantu Kyai kondang itu.
"Hah." Kembali Miftah menghempas napas demi mengurangi denyut nyeri di dalam hatinya, melanjutkan langkah kembali kedalam tepat saat Asya membalikkan tubuhnya menatap punggung lelaki itu hingga hilang dari pandangan.
Tak berapa lama Alira muncul dari dalam disusul Miftah yang sudah berganti pakaian.
Gus Irham membukakan pintu mobil untuk istri dan adiknya, ia sendiri lalu duduk di samping Miftah yang langsung menjalankan mobilnya meninggalkan halaman ndalem.
Selama perjalanan tak ada yang bersuara, baiķ Alira atau pun Asya anteng. Namun, itu justru membuat Gus Irham terheran. Ia lalu melirik spion di atasnya demi melihat apa yang sedang istri dan adiknya lakukan.
Senyumnya mengembang begitu melihat Alira tengah menelpon, tadi sebelum berangkat Alira minta zin untuk menghubungi Papanya. Pandangannya lalu beralih pada Asya, gadis itu sedang duduk di dekat pintu mobil menatap luar jendela. Asya terlihat murung seperti ada yang sedang ia pikirkan.
"Kamu masih kepikiran abah?" terka Gus Irham. Asya tersentak lalu menoleh pada kakaknya lewat spion depan, tetapi itu justru membuat ta2tapannya bertemu dengan Miftah.
Baik Asya atau pun Miftah sama-sama terdiam sejenak lalu segera berpaling, denyut itu kembali Miftah rasakan.
"I-iya, Mas. Aku takut abah masih marah sama Acha."
"Kamu tenang saja, nanti Mas pikirkan caranya agar abah tak marah lagi," ucapnya menenangkan adiknya. Asya hanya mengangguk setuju.
__ADS_1
Alira yang tak tahu apa-apa menjadi heran. Hendak bertanya, tetapi situasi tidak memungkinkan. Mungkin nanti saja jika ada waktu luang. Hanya Miftah yang tahu jika sebenarnya bukan itu yang sedang dipikirkan Asya, tetapi gadis itu merasa tidak nyaman karena berada satu mobil dengannya.