
***
Sepeninggal Gus Irham Alira beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sekitar 20 menit Alira sudah selesai. Ia segera berpakaian lalu duduk di depan cermin sambil menyisir rambutnya yang panjang.
Alira paling suka berlama-lama bermain dengan rambutnya, selain halus rambut Alira juga wangi.
Alira beranjak dari tempat duduknya ketika mendengar pintu kamarnya diketuk dari luar, lalu membukanya. Tampak Mbak santri yang Alira duga adalah Mbak ndalem tersenyum dan di tangannya ia membawa nampan berisi teh dan cemilan.
Alira menepi agar Mbak ndalem itu bisa masuk lalu menyimpan nampan itu di meja dekat tempat tidur. Alira hanya diam memperhatikan gerak-gerik gadis yang ia perkirakan satu atau dua tahun di bawahnya.
"Saya permisi, Ning. Kalo butuh sesuatu saya ada di dapur," pamitnya kemudian berlalu.
"Eh, tunggu!" cegah Alira. Mbak santri itu berbalik menghadap Alira.
"Iya Ning?"
Alira ragu saat ingin menyampaikan niatnya, tapi ini benar-benar sudah tidak bisa ditahan lagi, lambungnya sudah perih sejak tadi.
"Gue laper, ada nasi nggak?" tanyanya tanpa malu.
Ada sedikit keterkejutan di wajah Mbak santri itu mendengar ucapan Alira barusan dan Alira yang menyadari itu buru-buru meralat ucapannya.
"Maksudku, aku lapar. Apa ... ada makanan yang bisa aku makan?"
"Oh, ada Ning ...,"
"Panggil aja Alira, Mbak."
"Oh, nggih Ning. Ning Alira kalo lapar makan saja. Tadi Gus Irham sudah berpesan pada saya kalo Ning lapar di suruh makan. Saya sudah masak untuk Ning Alira dan sudah saya taruh di meja makan. Kalo begitu saya permisi, Ning." Usai berkata demikian Mbak santri itu benar-benar berlalu. Alira mengangguk sopan.
Setelah selesai merapikan penampilannya Alira gegas pergi ke ruang makan dan langsung membuka tudung saji. Air liurnya hampir menetes melihat berbagai makanan yang tersedia. Alira menarik salah satu kursi kemudian duduk dan mulai mengambil makanan satu persatu menaruhnya di piring.
__ADS_1
Rasa lezat dan nikmat Alira rasakan setelah satu suap berhasil masuk ke dalam mulutnya. Alira memang tidak pilih-pilih makanan kecuali satu yang sayur yang ia tidak suka dan dia paling anti memakannya dari kecil sampai sekarang.
Sebenarnya makanan yang Alira makan bukan makanan yang enak-enak. hanya makanan sederhana seperti tempe, tahu, ikan goreng gurameh, sayur santan daun singkong dan tumis kangkung. Tapi Alira makan dengan sangat lahap seperti orang tidak makan selama berhari-hari.
"Gus! Gus Irham!"
Panggilan itu menjeda kegiatan Alira menyuap sehingga sendok yang hampir masuk ke mulutnya tertahan lalu menoleh sumber suara. Seorang gadis manis dengan hijab warna ungu tengah menatapnya penuh selidik.
"Kamu siapa? Kok, ada di sini?" tanya gadis itu.
Alira menunjuk dirinya sendiri memastikan jika gadis yang berdiri tak jauh darinya ini berbicara dengannya.
"Iya kamu siapa lagi di sinikan cuma ada kamu."
"Aku Alira," sahut Alira ramah.
"Terus, kamu kenapa makan di sini? Tidak sopan," sindir gadis itu lagi. Mungkin dia mengira Alira adalah santri di pesantren ini.
"Maaf Ning, beliau itu ...,"
"Siapa yang suruh kamu jawab? Aku nggak nanya kamu aku tanya sama dia." Selanya sambil menunjuk ke arah Alira. Mbak ndalem itu menunduk seperti takut padanya.
"Maaf, Ning."
"Kamu belum jawab pertanyaan saya kamu siapa kenapa bisa ada di sini? Duduk di kursi Gus Irham lagi. Kamu santri baru ya? Berani-beraninya kamu makan di rumah Bu Nyai," cecarnya, menyilangkan kedua tangan di dada menandakan jika dirinya seolah berkuasa di rumah itu.
Alira berdiri lalu menghampiri yang dipanggil Ning sama Mbak ndalem. "Kenalin ... Alira." Alira mengulurkan tangannya. Gadis yang tingginya hampir sama dengannya ini hanya menatap tangan Alira saja tanpa berniat membalas lau menoleh Mbak ndalem.
"Ayu, Gus Irham kemana?"
Mbak santri yang bernama Ayu itu menoleh sekilas pada Alira sebelum menjawab. "Anu, Gus Irham lagi ngajar anak madrasah."
__ADS_1
Setelah mengetahui keberadaan orang yang dicarinya gadis itu pegi begitu saja, sempat diliriknya Alira dengan sinis dan jelas menampakkan ketidak sukaannya.
"Ayu, tadi siapa?" tanya Alira pada Ayu. Kedua matanya masih tertuju pada gadis yang menurutnya angkuh, tidak berprilaku layaknya seorang yang dipanggil Ning.
Meski Alira belum pernah mondok, tetapi dia tau cara bersikap sopan pada orang lain terkecuali pada suaminya tentunya. Bukan ia tidak sopan, tetapi memang sejak awal perjodohan ia sama sekali tak menyukai Gus Irham.
Papanya saja yang terus memaksa agar menikah dengan putra sahabatnya dan entah mengapa Alira selalu merasa kesal setiap berada di dekat laki-laki itu? Atau mungkin kare sejak awal pertemuan mereka memang tidak ada kesan bersahabat. Alira yang sedikit pecicilan, cuek, suka asal, dan manja berbanding balik dengan suaminya.
"Namanya Ning Alia. Dia ...," Ayu tak berani meneruskan kalimatnya, ia merasa tidak punya wewenang, merasa tidak pantas ikut campur urusan keluarga Bu Nyainya.
"Maaf Ning, saya tidak berani bilang. Sebaiknya Ning Alia tanyakan saja sama Gus Irham, biar beliau yang menjawab. Saya permisi mau balik ke dapur," pamitnya yang diangguki Alira.
Sebenarnya Alira masih penasaran siapa sebenarnya Ning Alia, sepertinya gadis yang terlihat anggun itu sangat dekat dengan keluarga suaminya? Buktinya tadi ia memangil suaminya dengan sangat mesra dan terdengar manja.
"Emmm ... mungkin sepupu Gus Irham?" tanyanya sendiri lalu melanjutkan makannya sampai selesai kemudian kembali ke kamar.
Perut yang kenyang membuat kedua matanya mengantuk, rasanya ingin tidur lagi, akan tetapi Alira khawatir tiba-tiba Gus Irham datang dan mengomel jadi ia memutuskan hanya berbaring saja.
Tiba-tiba ia teringat ponselnya yang sejak dua hari yang lalu ia matikan datanya karena tidak mau teman-temannya sampai pada menghubunginya. Bisa kacau kalau teman-temannya sampai pada tahu jika dirinya sudah menikah. Sebab, Alira sudah mengatakan bahwa dirinya akan menikah setelah menjadi wanita sukses.
Tapi lihat sekarang? Jangankan menjadi wanita yang sukses, ia justru terjebak dalam pernikahan dengan laki-laki yang papanya jodohkan.
[Assalamualaikum Alira]
Baru juga data di nyalakan satu pesan masuk. Dahi Alira langsung mengerut dalam, merasa asing dengan nomor yang mengiriminya pesan. Pesan itu dikirim kemarin pagi, itu artinya saat ia sedang menikah.
"Siapa ya? Kok, dia tau nama gue?"
Ponsel di tangannya berbunyi lagi menandakan ada pesan masuk lagi.
[Masih ingat aku, nggak? Aku Farhan]
__ADS_1
Next capter >>