
***
Alira baru saja hendak menjalankan mobilnya lagi setelah menurunkan Asya di depan rumahnya ketika ponsel miliknya yang berada di dalam tas berbunyi.
"Halo, Pah?" sapa Alira sesaat setelah menganggat telpon.
[Selamat sore, dengan Mbak Alira?]
Alira menjauhkan ponselnya memastikan jika yang menghibunginya adalah papanya-Tuan Sadewa Kurdi.
"Kamu siapa? Kenapa HP papa saya ada sama kamu? Dimana Papa saya?"
Alira mulai diserang kepanikan karena seseorang yang menelponnya bukanlah papanya melainkan seorang perempuan. Apa itu penjahat, penculik yang hendak meminta uang tebusan? Tapi selama ini papanya tidak mempunyai musuh, jika banyak saingan bisnis iya?
[Tenang Mbak, saya Suster Rini. Saat ini Tuan Sadewa ada di rumah sakit, beliau ...,]
"Apa? Rumah sakit? Papah saya kenapa, sus?" potong Alira cepat, ia benar-benar takut terjadi hal buruk pada papanya.
[Tenang Mbak! Jantung beliau kumat lagi dan sekarang sedang ditangani dokter Fadli]
"Baik, sus, saya akan segera ke sana."
Alira menutup sambungan lalu buru-buru tancap gas, ia sudah tau dimana rumah sakit tempat biasanya papahnya di rawat karena ini bukan untuk pertama kalinya. Tuan Sadewa memang memiliki riwayat penyakit jantung dan sering bolak-balik masuk rumah sakit.
Selama dalam perjalanan Alira tidak bisa berkonsentrasi saat menyetir, pikirannya kacau membayangkan jika suatu hal buruk akan terjadi pada pria yang sudah merawatnya sedari kecil, sampai rela tidak menikah lagi demi agar bisa mencurahkan kasih sayang sepenuhnya padanya.
Karena pikirannya bercabang, Alira tidak melihat jika lampu lalu lintas berubah warna merah dan seorang pengguna jalan sedang menyeberang.
Alira menginjak rem mendadak begitu menyadari ia hampir saja menabrak orang. Napasnya naik turun antara kaget dan takut, hampir saja dirinya menghilangkan nyawa orang.
Dengan emosi yang sudah di ubun-ubun dibuka kaca mobil sampingnya.
"Woy! Cari mati ya, lo?" makinya.
Laki-laki itu tak menjawab, hanya diam menatap Alira.
"Kalo mau menyeberang lihat-lihat dong!"
"Saya sudah hati-hati, Mbak. Mbak nggak lihat ... itu lampu masih merah, artinya Mbak yang salah."
__ADS_1
Laki-laki itu menunjuk lampu lalu lintas. Alira mengekor dengan kedua matanya dan benar saja lampunya merah, tetapi karena sedang panik dan kesal perjalannya terganggu Alira tidak bisa berpikir jernih dan justru marah-marah tidak jelas.
"Tetep aja lo yang salah, nyebrang gak liat-liat. Sengaja lo pasti-kan biar ketabrak terus minta ganti rugi? Basi."
Laki-laki hanya itu tersenyum saja menanggapi tuduhan Alira, sudah tau salah bukannya minta maaf palah marah-marah dan menuduhnya sengaja menabrakan diri biar bisa minta tebusan. Gadis yang aneh? Begitu pikir laki-laki itu.
"Lain kali hati-hati kalo bawa kendaraan ya, Mbak, bahaya. Kalo Mbak nanti nabrak orang gimana?"
Alira berkacak kesal menatap laki-laki berkoko navy yang berdiri di samping mobilnya.
"Ck, udah, Mas gak usah sok-sok menasehati! Bilang aja minta ganti rugi berapa? Gue sudah sering ditipu orang dengan cara kayak ini, pura-pura ketabrak padahal modus biar dapat duit, iya-kan?" Alira kemudian mengambil sejumlah uang di dalam dompet lalu melempar ke muka laki-laki itu.
"Nih, makan tuh duit!"
Kemudian menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu, baginya saat ini papanya yang terpenting. Alira tidak mau sampai kehilangan pria itu.
"Astaghfirullahaladzim, anak zaman sekarang." Gumam laki-laki itu sambil menggelengkan kepalanya menatap mobil Alira yang mulai menjauh.
Ia berdoa semoga gadis itu diberi hidayah agar merubah prilakunya agar lebih sopan kepada yang lebih tua.
"Gus Irham nggak pa-pa?" tanya seseorang yang baru tiba di tempat itu. Dia adalah sopir dari laki-laki yang hampir ketabrak itu yang ternyata bernama Gus Irham. Putra dari kyai Syarif, pemilik pondok pesantren di Jawa Timur. Gus Irham sedang ada keperluan di Jakarta sehingga laki-laki berusia 28 tahun itu harus meninggalkan rumah juga Ummi dan Abahnya untuk beberapa minggu.
"Loh, itu uang apa, Gus, kok banyak banget?" tanya sopir yang bernama Miftah, dia penasaran mengapa Gus-nya itu memegang uang yang jumlahnya tidak sedikit. Ada mungkin sekitar 20 lembar uang merah.
Gus Irham menoleh tangannya. "Oh ini ... ah, sudahlah ayo kita mesti cepat sampai ke rumah sakit sebelum asyar."
"Oh iya, Gus, monggo."
***
Sementara Alira di dalam mobil mengomel sendiri, memaki laki-laki yang hampir tertabrak olehnya, ia sampai memukul stir berkali-kali saking kesalnya.
"Hah, sialan tuh orang. Menghambat perjalan aja. Lagian gue heran, zaman sekarang orang nyari duit segitunya, menghalalkan segala cara?" dumelnya.
"Amit-amit kalo sampai ketemu orang kayak tadi lagi."
Tiba di rumah sakit Alira segera masuk dan ia diantar oleh suster Rini yang sudah menunggunya di dekat pintu masuk atas perintah dari Tuan Sadewa Kurdi hingga di depan pintu ruangan bertuliskan vvip.
Alira mendorong pintu itu lalu melangkah masuk dan melihat papanya tergolek di atas tempat tidur dengan mata terpejam. Ada selang infus yang tertancap di pergelangan tangannya, juga alat bantu pernafasan yang menyambung ke hidungnya.
__ADS_1
Air matanya jatuh perlahan membasahi kedua pipinya yang putih, tas di tangannya pun merosot jatuh ke lantai. Perlahan kedua kakinya melangkah mendekat lalu duduk di dekat banker, meraih tangan Tuan Sadewa yang tak bergerak sama sekali.
"Pah ...,"
Di tatapnya wajah sedang tertidur itu, hatinya merasa teriris. Alira menyalahkan dirinya sendiri karena semua ini tidak akan pernah terjadi jika saja ia mau menuruti keinginan papanya, tetapi ia benar-benar belum siap untuk menikah.
"Maafin Alira, Pah."
Alira menghambur memeluk Tuan Sadewa sambil terisak.
"Papa kenapa bisa kayak gini? Jangan tinggalin Alira, Pah. Alira masih butuh Papa. Al, sayang sama, Papa."
Alira terus saja menangis, ia takut setelah kehilangan mamanya apa kini ia juga harus kehilangan orang satu-satunya yang menjadi sandaran hidupnya selama ini? Tidak! Alira tidak sanggup menjalani hidup ini sendirian. Alira masih membutuhkan papanya.
"Pah, bangun! Alira masih mau sama-sama Papa! Alira nggak mau sendirian!"
Di guncang-guncangnya tubuh Tuan Sadewa supaya bangun, tetapi kedua mata itu tatap terpejam erat dan itu membuat air mata Alira kian deras.
"Pah, bangun! Alira bakal nurutin semua kemauan Papa asalkan Papa bangun! Papa bangun!"
"Benar, kamu bakalan menuruti semua keinginan Papa?"
Sontak Alira melepas pelukan, menghapus jejak air mata di kedua pipinya. "Papah." Senyumnya mengembang sempurna, ia begitu bahagia melihat papanya sudah sadar
Tuan Sadewa Kurdi balas tersenyum, sebelah tangannya terangkat mengusap wajah Alira. Jelas sekali jika ia sangat menyayangi anak gadisnya itu.
Seseorang mengetuk pintu dari luar. Tuan Sadewa menoleh.
"Assalamualaikum?" salam seseorang yang baru masuk.
Tuan Sadewa tersenyum melihat siapa orang yang kini berjalan ke arahnya. "Nak Irham."
Laki-laki yang dipanggil dengan nama Irham itu mendekati ranjang Tuan Sadewa.
"Apa khabar, Om Bayu?"
Kalimat itu berhasil membuat Alira mengangkat wajahnya, ia ingin tau siapa yang memanggil papanya dengan sebutan 'Om' dan seketika kedua bola matanya membola sampai hampir meloncat dari tempatnya melihat laki-laki tampan yang berdiri di hadapannya.
"Elo ...."
__ADS_1
Next capter >>