
sesaat setelah kepulangan Ibuk-Ibuk tetangga dan Buk Rt yang menjenguk Dinda, tib-tiba pindu rumah Pak Asep kembali di ketuk dari luar.
''Siapa lagi tu.'' Ucap Nurmi
''Coba di buka aja dulu nak, liat siapa yang datang''
''Iya Buk.'' Nurmi berjalan mendekati pintu lalu membuka nya.
''Bude.'' Ucap Nurmi, saat melihat Mak Leha yang berada di luar dengan anak gadis nya bernama Farah.
Mak Leha adalah kakak perempuan Pak Asep, datang kemari juga ingin menjenguk Dinda karena dengar kabar kalau Dinda sudah di bawa pulang oleh adik laki-laki nya itu.
''Masuk Bude.'' Nurmi mempersilahkan Mak Leha masuk.
Saat masuk ke dalam, Dinda masih duduk di ruang tamu, belum sempat kembali ke kamar nya setelah kepulangan Ibuk-ibuk tadi.
''Jadi ini korban yang jatuh itu.'' Ucap Mak Leha.
''Iya Mbak.'' Jawab Buk Tuti.
Farah hanya melihat saja penampilan Dinda, Dinda terlihat begitu cantik dan anggun, ada perasaan iri di hari Farah.
''Mbak duduk dulu ya biar saya buatkan minum.''
''Gak usah, janganbrepot-repot Tuti, kami cuma sebentar aja kok.''
''Iya Bulek, jangan repot-repot kami cuma sebentar, cuma mau mastiin aja kalau Nurmi ada kawan nya di rumah malam ini.'' Celetuk Farah.
''Cepat sembuh ya nak, siapa nama mu ?''
__ADS_1
''Nama saya Dinda Buk.'' Jawab Dinda
''Oohh, Dinda cepat sembuh ya, kami pulang dulu.'' Pamit Mak Leha, lalu keluar dari rumah pak Asep dengan putri nya untuk pulang.
Dinda kembali lagi ke kamar nya bersama Nurmi.
''Itu tadi siapa ? sodara ya ?'' Tanya Dinda.
''Iya kak, itu Bude, Bude itu kakak nya bapak kak, dan gadis itu tadi nama nya farah anak nya Bude. Tapi Farah itu agak cerewet dikit kak''Jawab Nurmi.
***
Hari-hari berlalu begitu cepat, tak terasa dua bulan sudah tragedi penculikan Dinda, sampai saat ini, Dinda belum juga ada kabar di mana keberadaan nya, enta apa penyebab nya penculikan Dinda tak bisa di lacak oleh anak buah Kelvin.
Hari-Hari Irfan sekarang di sibukkan hanya dengann pekerjaan nya saja, Irfan juga sering lembur dan tidur di kantor belakangan ini, Irfan kembali menjadi sosok yang dingin dan pendiam, hanya berbicara yang penting dan seadanya saja.
''Selamat siang Tuan Irfan,'' Ucap Celine saat sudah memasuki ruangan Irfan.
Irfan hanya mengangguk dan mempersilahkan Celine untuk duduk dengan isyarat tangan nya saja.
''Tuan Irfan, saya harap kerja sama antara perusahaan saya dengan perusahaan anda akan terus berjalan sampai kapanpun''
''Saya harap juga begitu Nona Celine, selama dua perusahaan saling menguntungkan jadi tidak ada salah nya jika kerja sama ini terus berjalan.'' Jawab Irfan.
Celine tersenyum bahagia mendengar jawaban Irfan, agenda Celine datang ke kantor Irfan hari ini hanya untuk menandatangani kontrak perpanjangan kerja sama antara kedua perusahaan mereka.
Setelah urusan nya selesai, Celine pamit undur diri dari kantor Irfan, Celine belakangan ini terlihat seperti wanita kalem dan sopan sekali, tidak seperti Celine yang dulu selalu agresif dan menebar pesona saat bersama Irfan.
''Sabar Celine, sabar, kamu pasti akan mendapat kan nya, penghalang munsudah pergi dari dunia ini, jadi kamu jangan gegabah, jik tidak nanti Irfan akan ilfil terhadap mu.'' Celine membatin saat keluar dari ruangan Irfan, karena sangat sulit bagi Celine untuk menahan diri saat berada di dekat Irfan.
__ADS_1
Setelah kepergian Celine, Irfan kembali menyibukkan diri nya dengan berkas-berkas yang menunpuk di atas meja nya, hanya dengan bekerja lah Irfan bisa mengalihkan pikiran nya dari Dinda. Irfan sendiri tidak tau harus mencari Dinda di mana, karena tak ada jejak atau tanda yang di tinggal lkan oleh penculik itu, mereka seperti hilang di telan bumi, entah ke planet mana kah mereka menghilang.
***
Dua Bulan berlalu, Hari-hari Dinda di lewati di rumah nya Pak Asep dan Bu Tuti, Dinda beruntung bertemu dengan keluarga yang baik seperti mereka. Walau tak sedikit orang-orang kampung yang mencibir nya mengatai nya hamil di luar nikah,
Saat ini usia kandungan Dinda sudah memasuki bulan ke empat, selama dua bulan terakhir, Dinda rutin memeriksakan kandungan nya di tempat Bidan setempat.
Sampai saat ini ingatan Dinda belum pulih juga, Dinda hanya mengingat nama nya dan mengingat dirinya telah menikah, tapi Dinda tidak ingat siapa nama suami nya, wajah Irfan sering muncul dalam mimpi Dinda, di dalam mimpi itu seakan Irfan pergi menjauh dari nya, semakin di kejar semakin menghilang. Dinda rasa itu adalah petunjuk, apakah lelaki itu suami nya...?, Dinda tak pernah menceritakan bauk pada Nurmi atau Bu Tuti perihal mimpi nya itu.
Sore hari Dinda dan Nurmi sedang menonton beberapa pemuda bermain sepak bola di lapangan bola kaki dekat rumah Pak Asep.
Benerapa pemuda memandang Dinda, tidak sedikit yang naksir dengan Dinda, tapi tak berani mendekati nya karena Dinda sedang hamil, apalagi perut buncit nya sudah mulai kelihatan.
Hanya Bagas lah yang berani mendekati Dinda, Bagas mendekati nya hanya untuk berteman saja, walau di hati nya ada perasaan naksir terhadap Dinda, tapi di pendam nya selama ini. Bagas adalah pemuda yang ramah dan humoris, Bagas putra dari pak Rt setempat.
''Kakak mau es celup itu ? '' Tunjuk Nurmi kearah penjual es yang nengkreng di samping lapangan.
''Boleh.'' Jawab Dinda, dan melihat kearah yang di tunjukkan oleh Nurmi.
Saat Nurmi sudah pergi membeli es, tiba-tiba datang Farah duduk di samping Dinda
''Hei, Bunting, jangan liat-liat Bagas kamu ya.'' Ucap Farah tiba-tiba, tapi Dinda sudah tak heran lagi, karena selama ini memang Farah sangat ketus terhadap nya, mulut nya saja seperti tak di sekolah kan.
Dinda yang mendengarkan penuturan Farah tersebut, mengalih kan pandangan nya ke arah lain karena malas berdebat dengan nya.
Selama ini Farah dan Nurmi sangat sering terlibat adu mulut, itu semua terjadi karena Farah sering menjelek-jelekkan Dinda pada masyarakat dan menghasut beberapa warga untuk membenci nya, Farah cemburu karena Dinda di dekati oleh Bagas. Sedangkan Nurmi selalu saja membela Dinda dan melindungi nya selayak nya kakak kandung nya sendiri.
TBC.....
__ADS_1