Istri Pengganti Tuan Muda Tampan

Istri Pengganti Tuan Muda Tampan
Bab 73


__ADS_3

Suasana makan siang ala keluarga pak Asep terlihat bahagia, namun mereka seperti kehilangan sesuatu, tatkala Dinda sudah kembali pulang ke keluarga nya membuat keluarga pak Asep sangat kehilangan, karena Dinda begitu di sayang dalam keluarga itu, Pak Asep dan Bu Tuti tidak membeda-bedakan antara Nurmi dan juga Dinda.


''Kalau ada kak Dinda, pasti lebih seru ya buk.'' Celetuk Nurmi tiba-tiba


''Iya, tapi Dinda pasti sekarang udah bahagia ya sama keluarga nya.'' Jawab Buk Tuti yang terus saja mengunyah makanan dalam mulut nya.


''Pasti dong buk, siapa sih yang tidak bahagia kalau bertemu dengan kelaurga, apa lagi keluarga yang selalu di rindukan.'' Pak Asep menimpali.


''Hmmm'' Suasana hening pun terjadi sesaat di sana, entah apa yang mereka fikirkan tiba-tiba.


Nurmi mengambil hanfon nya dan menselfi dirinya dan juga orang tua nya yang sedang makan lalu di kirim kan ke nomor nya Dinda.


''Tak menunggu berapa lama, balasan dari Dinda pun sudah masuk.


''Rindunya dengan kalian.'' Begitulah bunyi pesan balasan yang di kirim Dinda ke hp nya Nurmi.


Nurmi pun terus berbalas pesan dengan Dinda. Sampai makan siang di atas gubuk itu selesai.


***


Sore hari


sepulang dari kantor, Irfan dan Kelvin datang berkunjung ke rumah tua, tempat di mana si pembunuh di masih di sekap oleh Joni, Setelah mengendarai mobil lebih kurang satu jam, mereka sampai di sana.


Irfan melihat ke sekeliling rumah, dan ini adalah rumah masa kecil nya dulu, yang masih terawat dan masih terlihat bagus, ternyata sang papa membawa penjahat itu kemari. Pikir Irfan.


Di depan pintu saja, ada beberapa orang penjaga dan menunduk hormat saat Irfan masuk ke sana, Joni yang tengah bersantai di ruang tamu sontak kaget melihat kehadiran Irfan di sana.


''Tuan Muda'' Joni sontak langsung berdiri


Irfan hanya tersenyum dan terus berjalan mendekat ke sana.


''Di mana dia.?'' Ucap Irfan langsung pada inti nya


''Ada di kamar Tuan Muda.'' Jawab Joni


''Akubingin melihat nya.''


Joni dan Kelvin saling tatap menatap, mereka taku kalau Irfan masuk ke dalam dan tidak bisa mengontrol emosinya, bisa-bisa lelaki itu akan mati.

__ADS_1


''Tapi Tuan Muda.'' Sela Kelvin


''Kenapa Vin.'' Irfan menaut kan alis nya


Irfan terus berjalan tanpa memeperdulikan mereka berdua lagi.


''Joni, tunjukkan di mana kamar nya.'' Teriakan Irfan menggelegar di dalam rumah tersebut.


Joni dan Kelvin buru-buru berlari menyusul Irfan dari belakang.


''Sebelah sini Tuan Muda.'' Joni menunjukkan salah satu kamar, dan mengambil kunci nya di dalam saku celana.


Saat mereka masuk ke sana terlihat lah seorang lelaki yang sedang duduk di atas tempat tidur, dengan tangan yang di rantai sebelah, dan kaki juga di rantai.


Irfan berjalan santai mendekati pria tersebut, hingga akhirnya satu pukulan pun mendarat di wajah sang lelaki.


Bugk..... ''Bangsa*t..'' Pukulan keras dari Irfan


Pria itu pun terhuyung ke belakang, karena tubuh nya tidak siap menerima pukulan yang tiba-tiba dari Irfan.


Irfan kembali menghajar lelaki itu, sampai tubuh nya harus di pegang oleh Kelvin dan juga Joni


''Tuan Muda, tenangkan diri anda Tuan.''


''Aku akan menghabisi nya, dia sudah berani membuat aku kehilangan Dinda dengan waktu yang lama.''


''Tuan, tenang kan diri anda, kalau dia mati kita tidak bisa meneror Nona Celine lagi.'' Ucap Kelvin lagi, dan mampu membuat emosi nya Irfan sedikit melemah.


Irfan keluar dari kamar tersebut, dan duduk di ruang tamu untuk menetralisirkan emosi nya yang sudah menjalar sampaibke ubun-ubun.


''Vin, kelvin.'' Panggil Irfan dengan suara menggelegar nya menggema seisi rumah tersebut.


''Iya, Tuan muda.'' Kelvin


''Kenapa kalian masih mengurung nya di sini, apa kalian ingin melindungi nya. Iya, Hah.?''


''Tidak Tuan muda, bukan begitu.''


Irfan terus tersulut emosi nya tatkala melihat lelaki pembunuh bayaran tersebut, Irfan tak bisa membayangkan nasip istrinya saat mereka mencoba membunuh nya.

__ADS_1


Kelvin jadi khawatir melihat sikap tuan nya saat bertemu dengan pembunuh itu, entah seperti apa reaksi nya saat bertemu dengan Celine, otak di balik kejadian tersebut, karena seminggu terakhir Celine tidak pernah menampakkan diri nya di depan Irfan setelah kejadian bertemu dengan Dinda itu terjadi.


Joni datang dengan membawa segelas air untuk Irfan, semoga saja dapat sedikit meredam amarah nya.


''Tuan Muda,'' Panggil Joni


Irfan menoleh ke arah Joni


''Tuan, kami sangat mengerti terhadap perasaan anda, tapi apakah anda ingin membunuh nya juga seperti yang sudah dia lakukan terhadap Nona Dinda.''


''Kalau bisa aku akan membunuh nya.''


''Jika dia mati, kita tidak punya alat untuk terus meneror Nona Celine, kami melindungi nya di sini hanya agar Nona Celine menjadi jera, dan terus-terusan hidup dalam rasa bersalah dan rasa ketakutan, hingga akhir nya Nona Celine datang meminta maaf dan mengakui perbuatan yang telah dibperbuat oleh nya.'' Joni menjelaskan panjang lebar, agar dapat di cerna oleh Irfan dengan kepala dingin nya.


Irfan diam beberapa saat, sebenar nya Irfan sudah tau maksud dari sang papa mengurung pria itu di sini, namun emosinya sangat sulit di bendung saat berhadapan langsung dengan pria yang sudah mencoba memisah kan nya dengan istri dan putra nya.


''Aku ingin dia menelfon Celine sekarang juga, aku ingin mendengar langsung apa jawaban perempuan itu saat mendengar suara orang yang pernah di bayar nya.''


Irfan dan Joni saling memandang, dan mengangguk satu sama lain.


Ketiga nya serentak bangun dan berjalan mendekati kamar tafi lagi, Joni masuk duluan untuk menjaga-jaga agar Irfanbtak lagi mengamuk seperti tadi.


''Tuan, maafkan aku, aku hanya bekerja untuk uang saja, aku tidak bermaksud untuk membunuh istri mu, bahkan saat kami meninggalkan nya di jurang itu istrimu masih dalam keadaan bernyawa, kami tidak membunuh nya.'' Lelaki itu bersujud di kaki Irfan, menyesali atas perbuatan yang pernah di buat nya dulu.


Irfan hanya diam saja, tangan nya di peganginoleh Kelvin , melihat Irfan tidak ada reaksi apapun, Kelvin pun melepaskan kemabalibtangan Irfan, mungkin bos nya sudah bisa mengendalikan emosinya tidak seperti tadi lagi.


Joni mengambil kursi yang ada di kamar tersebut dan meletakkan untuk di duduki oleh Irfan, Kelvin pun memegang tangan pria pembunuh itu dan menuntun nya agar duduk di atas tempat tidur yang ada di kamar tersebut, posisi nya Irfan dan lelaki itu sekarang sedang berhadapan. Irfan terlihat mengeraskan rahang nya, wajah nya begitu dingin, bahkan Kelvin tidak pernah melihat bos nya dalam keadaan semarah ini.


Tbc...


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian bestie


Dengan cara like,komen,subscribe dan vote


Terimakasih 🙏


Salam sayang dari author Jhuwee dealova😘


Dukungan kalian menjadi motivasi buat author terus menilis. 🫰

__ADS_1


__ADS_2