
Saat Dinda sedang di kata-katai oleh Farah, tiba-tiba Nurmi datang membawa dua buh es celup yang di belinya di tulang jual es pinggir sana.
''Farah, kamu ngapain di sini ?'' Tanya Nurmi.
''Aku ngapain emang nya ?'' Farah malah balik bertanya.
''Kamu pasti mau jahatin kak Dinda kan.''
''Hei Nurmi, jangan sok tau kamu, lagian wanita gak tau asal usul dari mana malah di belain.''
''Heii..'' Nurmi hendak menjawab lagi, tapi di hentikan oleh Dinda, sudah terlalu sering Nurmi dan Farah beradu mulut selama ini, Dinda sudah merasa tak enak hati tiap melihat mereka bertengkar gara-gara diri nya
''Nurmi udah yuk, kita pulang aja,'' Ajak Dinda seraya menarik tangan Nurmi.
Dinda dan Nurmi lalu berjalan melewati lapangan Bola untuk pulang ke rumah, tak sengaja bola yang di tendang oleh pemuda di sana hampir mengenai perut Dinda, tapi cepat di tahan oleh Nurmi, dan punggung Nurmi lah yang terkena bola.
''Aaawww'' Pekik Nurmi.
semua mata melihat Nurmi yang melindungi Dinda.
''Nurmi kamu gak papa ?'' Tanya Dinda khawatir.
''Gak papa kok kak.''
Bagas yang melihat dari lapangan bola pun berlari menghampiri mereka berdua.
''Kalian gak papa ?'' Tanya Bagas.
''Gak papa kak Bagas'' Jawab mereka serentak.
''Tapi Nurmi kenapa-kenapa, dia terkena bola karena melindungi ku.'' Ucap Dinda cepat.
''Ada yang sakit'' Bagas membalik-balikkan tubuh Nurmi, melihat di mana ada sakit nya.
''Gak sakit kok kak, Nurmi kan udah biasa kena bola, kakak lupa ya siapa Nurmi ini ?'' Nermi menyengir seraya menyombongkan diri nya.
''Iya lah, kamu kan Ronaldo wati di kampung ini.'' Bagas mengacak rambut nya Nurmi,
''Kamu bisa main bola ?'' Dinda tak percaya bila Nurmi bisa main bola kaki, karena biasa nya bola kaki permainan para lelaki.
''Adik mu ini jagoan nya.'' Jawab Bagas.
__ADS_1
''iya kak, dulu waktu kecil aku sering main bola di sini, tapi setelah dewasa Bapak tak mengijinkan lagi''
''Ooo...'' Dinda hanya ber oo ria saja.
''ya udah kak Bagas, kita pulang dulu ya.'' Pamit Dinda lalu segera pulang ke rumah bersama Nurmi.
Sedangkan di sudut lain lapangan bola kaki itu, ada sepasang mata yang menatap benci terhadap mereka, siapa lagi kalau bukan Farah yang hati nya penuh kebencian, Farah sudah naksir pada Bagas dari dulu, tapi dia tak pernah mengungkapkan perasaan nya, hanya berani menunjukkan lewat perbuatan nya saja, tapi sayang nya, Bagas tak menanggapi perasaan Farah.
Setelah kepulangan Dinda dan Nirmi dari sana, datang lah beberapa pemuda ingin menggoda Bagas.
''Gas, kamu suka sama Dinda'' Anto
''Siapa yang gak suka, cewek cantik dan baik kayak Dinda.''Jawab Bagas.
''Hei, ingat dia udah hamil.''
''Siap melahirkan bayi itu nanti kan bisa aku dekati.''
''Wah, wah, Nekat banget kamu Gas, kalau ternyata dia masih bersuami gimana ?'' Ucap Anto lagi, Bagas hanya diam tak menjawab lagi, dan terus memikirkan perkataan sahabat nya itu.
Sesampai Farah di rumah nya, muka nya sudah terlihat sangat kesal sekali, Mak Leha yang melihat putri nya kesal dan berjalan dengan menghentak-hentak kan kaki nya pun bertanya pada Farah kenapa.
''Kamu kenapa, Farah ?''
''Aneh, pulang-pulang selalu aja marah-marah.i' Gumam Mak Leha yang tak tau kalau selama ini Farah selalu vemburu terhadap Dinda.
Keesokan hari nya, Pak Asep dan Istri nya seperti biasa pergi ke ladang subuh-subuh buta, sedangkan Dinda tinggal di rumah bersama Nurmi, Nurmi saat ini sedang mencuci pakaian di sungai belakang rumah merwka, sedangkan Dinda sedang memasak untuk bekal makan siang pak Asep dan Bu Tuti.
Biasa nya Nurmi yang membawakan makan siang untuk orang tua nya, tapi hari ini Dinda ingin ikut bersama Nurmi ke kebun, karena sudah dua bulan tinggal bersama keluarga pak Asep tak sekalipun Dinda di ijin kan untuk ke sana.
Setelah bersiap-siap mereka berdua segera menaiki sepeda untuk ke kebun, Nurmi yang mendayung sepeda nya, sedangkan Dinda hanya duduk saja di belakang.
Setelah menempuh perjalanan setengah jam menggunakan sepeda, akhirnya mereka sampai di lereng gunung.
''Kak, sepeda nya kita taruh di sini aja, tapi apa kakak sanggup naik kak.?'' Ucap Nurmi.
''Masih jauh ya.'' Tanya Dinda saat melihat jalan menanjak untuk sampai di kebun nya pak Asep.''
''Gak jauh kak, bagi yang udah biasa kek aku, tapi kalau kakak yang baru pertama kemari Nurmi gak tau.''
''Kita coba aja deh, kalau kakak gak sanggup nanti kakak berhenti di tengah jalan aja.'' Ucap Dinda akhir nya.
__ADS_1
''Oke deh,''
Akhir nya mereka mendaki menju ke kebun pak asep, baru setengah jalan perjalanan, Dinda sudah terlihat ngos-ngosan karena tidak terbiasa mendaki menaiki gunung, tak seperti Nurmi yang haru-hari nya memang selalu ke sana untuk membawakan makan siang orang tua nya.
''Kakak udah gak sanggup ya ?'' Tanya Nirmi saat meihat Dinda sudah kualahan dengan bercucuran keringat.
''Masih sanggup kok, lanjut aja tuk.'' Bohong Dinda.
Mereka kembali berjalan, di sepanjang perjalanan nampak parapetani berbagai macam tanaman yang di tanam di sana,
''Neng Dinda mau kemana ?'' tanya salah satu warga yang melihat mereka.
''Mau ke tempat bapak Buk !'' Jawab Dinda.
''Oohh Hati-hati neng, ingat kandungan nya, kalau dah gak sanggup berenti dulu Neng.'' Ibuk Tersebut memperingat kan.
''Iya Buk, makasih buk.'' Jawab Dinda dan Nurmi serentak.
Berjalan beberapa saat lagi, akhir nya mereka sampai di kebun nya Pak Asep, di sana terlihat Buk Tuti sedang membersihkan Rumput-rumput kecil yang tumbuh di antara sayuran sawi yang dibtanam pak Asep.
'' Buk..'' Panggil Nurmi.
''Kamu udah datang.'' Jawab Buk Tuti tanpa menoleh.
''Kakak duduk di gubuk aja dulu ya.'' Nurmi membawa Dinda ke gubuk milik Pak Asep.
Buk Tuti pun menoleh saat mendengarkan penuturan putri nya yang menyuruh Dinda istirahat di gubuk.
''Lahhh Dinda kok ikut kesini ?'' Tanya Buk Tuti seraya bangun dan berjalan menuju gubuk untuk melihat jondisi Dinda, karena untuk sampai kemari mereka harus berjalan kaki menaiki gunung.
''Iya Buk, Dinda bosen di rumah sendirian.'' Jawab Dinda.
''Tapi kami gak papa kan, perut mu ada yang sakit .?'' Tanya Buk Tuti khawatir.
''Gak ada Buk, bayi Dinda kan kuat Buk.'' Dinda tersenyum menampakkan deretan gigi putih nya.
''Iya Ibuk tau, tapi besok-besok gak usah kemari lagi ya, kamu pun Nurmi, jangan ajak kakak mu kemari dengar.'' Tegas Bu Tuti.
''Nurmi gak ngajakin Dinda kok buk, Dinda yang mau datang sendiri.'' Dinda membela, sebelum Nurmi sempat menjawab.
Lalu Bu Tuti melanjutkan pekerjaan nya, Nurmi pun ikut membantu, tapi tidak dengan Dinda karena mereka tak mengijinkan Dinda untuk turun dari gubuk tersebut. Dinda pun tak membantah, dia hanya duduk saja di gubuk itu untuk beristirahat.
__ADS_1
Tbc.....