Istri Pengganti Tuan Muda Tampan

Istri Pengganti Tuan Muda Tampan
Bab 70


__ADS_3

Irfan bingung harus memulai pacaran kembali dengan sang Istri, sedangkan dulu dirinya tidak pernah pacaran dengan Adinda. Kare pembicaraan antara kedua nya, Irfan sampai lupa niat nya masuk ke kamar ingin mengambil ponsel dan menghubungi Kelvin, Irfan larut bermain dengan buah hati nya.


''Sayang, nanti sore kita ke rumah mu yuk.'' Ajak Irfan,


Siapa tau dengan mengunjungi rumah masa kecil nya, sedikit banyak Dinda akan mengingat tentang masa lalu nya lagi.


''Rumah ku '' Dinda menautkan kedua alis nya.


''Iya, siapa tau dengan kita ke sana akan membuat mu mengingat beberapa hal.''


''Baik lah Mas, aku tidak sabar untuk ke sana.'' Jawab Dinda antusias.


''Ya sudah, kamu mandi dan siap-siap ya, Al biar Mas antar ke mbak Nunun saja''


''Al kita tinggal lagi Mas.?''


''Iya Sayang, kita nanti akan ke suatu tempat juga.''


Setelah selesai bersiap-siap, kedua nya turun dari lantai atas, di sana ada Mbak Nunun dan Mama Rose yang sedang bersantai sore di ruang keluarga.


''Ma, kita pergi bentar ya.'' Pamit Irfan


''Iya, pergilah'' Mama Rose tak mau kepo kemana anak dan menantu nya hendak pergi, karena Mama Rose sekarang sudah tidak kesepian lagi dengan hadir nya Al dalam keluarga nya.


Saat dalam perjalanan, tiba-tiba Irfan menghentikan mobil nya di sebuah toko bunga, Irfan membeli dua ikat bunga mawar dan bunga tabur juga.


''Mas, kita mau kemana sih ?'' Penasaran Dinda saat melihat suami nya menaruh bunga di jok belakang.


Irfan hanya diam saja seraya menggenggam dan mengecup tangan sang istri.


Sampai mereka memasuki komplek pemakaman, di sana Dinda sudah merasa tidak nyaman, Dinda terbayang-bayang tentang kecelakaan yang selalu di mimpikan nya.


Irfan turun dari mobil menggenggam erat tangan sang istri dan menuntun nya terus berjalan sampai di depan pusara mantan tunangan nya dulu yaitu Natasya.


Irfan memanjat kan doa-doa sebisa nya, setelah itu baru mulai mencurah kan isi hati nya.


''Sya, Mas minta maaf karena sudah lama tidak datang menemui mu. Hari ini Mas datang kembali dengan Dinda, Mas sempat putus asa karena kehilangan nya, tapi sekarang sahabat mu sudah kembali kepada Mas.'' ucap Irfan


Dinda hanya mendengar kan setiap ucapan sang suami, dengan kepala yang semakin pusing.

__ADS_1


''Sayang, di depan pusara sahabat mu aku ingin melamar mu kembali, bersedia kah kamu menjadi istri ku.'' Ucap Irfan menghadap ke Dinda.


Dinda tidak menjawab, hanya terus saja menitikan air mata nya, karena bayangan masa lalu saat Irfan melamar nya di sini dulu terputar jelas dalam ingatan nya.


''Sayang, kamu kenapa.? Apa kepala mu sakit lagi ?'' Irfan khawatir melihat istrinya terus menangis tanpa menjawab satupun perkataan nya.


''Sayang, jawab aku. Apa ada yang sakit ?''


Dinda menggelengkan kepala nya dengan terus terisak. Semakin kemari Dinda semakin ingat kenangan bersam Irfan di sini dulu, Dinda juga ingat tentang kecelakaan yang merenggut nyawa sahabat nya.


''Sayang'' Irfan memeluk istrinya yang terus terisak.


''Aku mau Mas, aku mau jadi istrimu yang sesungguhnya.'' Jawab Dinda dalam dekapan Irfan.


Setelah puas menangis, Dinda akhirnya duduk dengan tegak dan menyeka air mata nya yang masih saja keluar.


''Sya, aku ingat sekarang, aku tau kenapa mimpi tentang kecelakaan itu terus saja datang dalam mimpiku, ternyata aku kehilangan sahabat yang sangat berarti dalam insiden itu.'' Dinda mengusap pusara sahabat nya.


Irfan mendengar semua perkataan Dinda, rupanya selama ini Dinda masih bermimpi tentang kecelakaan tersebut, dan sekarang Dinda sudah mengingat tentang sahabat nya juga.


''Sayang, apa kamu sudah ingat semua.'' Tanya Irfan antusias.


Irfan bernafas lega, akhir nya Dinda bisa mengingat tentang diri nya walaupun baru sedikit, setidak nya itu dapat membuktikan jika diri nya pernah ada dalam kehidupan Dinda dulu.


''Terimakasih sayang, terimakasih, akhirnya kamu ingat tentang ku walau baru sedikit'' Irfan menarik kembali Dinda dalam pelukan nya. Irfan tak henti-hentinya mengecup puncak kepala sang istri.


Setelah selesai dengan urusan di makam nya Natasya, keduanya pun pergi dari sana, sekarang tempat tujuan mereka adalah rumah nya Dinda, yang sekarang masih di tempati oleh Weny dan bik Marni, Selama tidak ada Dinda di sana, bik Marni di gaji oleh Weny.


''Mas, aku tidak asing dengan jalan ini.''


''Tentu sayang, ini jalam menuju ke rumah mu.''


Dinda menatap keluar jendela, melihat kesana kemari, memperhatikan setiap hal yang mereka lewati. ini adalah jalan yang Dinda lewati sedari kecil, pastinya tidak asing bagi dirinya.


Sesampai nya mereka di depan rumah besar itu, Irfan segera turun dan membukakan pintu untuk istrinya.


Dinda mendongak kesana kemari melihat-lihat sekeliling rumah yang di rasa sangat familiar dengan diri nya.


Ting....Tung.... Irfan memencet bel pintu rumah itu. Selang beberapa menit nampak seorang wanita paruh baya yang membuka kan pintu rumaha tersebut.

__ADS_1


''Non Dinda....'' Bik Marni menghambur ke dalam pelukan nya Dinda, Bik Marni terus saja menangis.


''Non, Nona kemana saja selama ini'' Bik Marni melepaskan pelukan nya.


Dinda pun ikut terharu, rupanya dulu dirinya di kelilingi oleh orang-orang yang begitu menyayangi diri nya.


''Bik, boleh kita masuk.'' Tanya Irfan akhirnya.


''Tentu Tuan, silahkan ayo silahkan masuk Non.''Bik Marni mempersilah kan Nona dan tuan nya masuk ke dalam.


Bik Marni pamit ke dapur untuk membuat kan munum, saat di dapur bik Marni segera menelfon Weny meminta nya agar segera pulang. Namun bik Marni tidak mengatakan jika Dinda sedang di rumah sekarang.


''Silahkan di minum, non, tuan.'' Ucap Bik Marni seraya meletakkan dua gelas jus di depan Irfan dan Dinda.


''Bik, boleh saya minta album foto-foto nya Dinda dulu.'' Tanya Irfan


Bik Marni menaut kan alis nya saat mendengar permintaan suami dari majikan nya itu.


''Begini Bik, Dinda sebenar nya hilang ingatan,siapa tau dengan melihat foto-foto tentang dirinya dulu, dia akan mengingat sedikit tentang masa lalu nya.'' Irfan menjelaskan karena melihat tatapan bingung dari bik Marni.


Bik Marni syok mendengar kalau Dinda ternyata hilang ingatan, pantesan saat memeluk nya tadi Dinda seperti tidak mengenal nya, ternyata memang Dinda tidak mengenal bik Marni rupanya.


''Baik tuan, tunggu sebentar.'' Bik Marni masuk ke salah satu kamar yang ada di rumah tersebut dan mengambil beberapa album foto, dari album saat Dinda masih kecil bersama orang tua nya, sampai album foto saat Dinda sudah dewasa. Lalu memberikan nya pada Irfan yang masih duduk di samping sang istri.


''Ini Tuan album nya.'' Bik Marni menyerahkan


''Makasih Bik.'' Jawab Irfan dan mengabil album tersebut lalu menyerahkan pada Dinda.


Dinda membuka satu persatu album foto itu, tak terasa air mata nya kembali menetes dengan sendiri nya.


Tbc...


Dukung terus ya bestie


Dengan cara like,komen,subscribe dan vote


Terimakasih


Salam sayang dari author Jhuwee dealova

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti buat ku 🙏🙏🙏


__ADS_2