Istri Pengganti Tuan Muda Tampan

Istri Pengganti Tuan Muda Tampan
Bab 45.


__ADS_3

Hari- berganti hari, Bulan beganti Bulan , tak terasa waktu cepat berlalu, genap setahun sudah Adinda tinggal bersama keluarga Pak Asep, tak ada satu pun yang datang mencari nya, ingatan Dinda pun samar-samar mulai kembali. Dinda mulai ingat tentang kehidupan nya dulu, Dinda mulai ingat jika diri nya pernah membuat dekorasi pesta yang megah, Namun Dinda belum bisa menjabarkan tentang siapa diri nya sebenar nya.


Kadang-kadang Dinda bermimpi memeluk seorang wanita paruh baya, yang memeblai rambut nya dengan penuh kasih, itu adalah Mama Rose, tapi sayang nya Dinda tidak tau apa hubungan nya dengan wanita itu. Tak jarang pula Dinda bermimpi buruk, belakangan ini, Dinda sering memimpikan tentang kecelakaan yang begitu dahsyat.


Hari ini Anak yang Dinda lahirkan sudah berumur Lima bulan, bayi kecil itu di berinama Aliando, Keluarga kecil Pak Asep sangat merasa bahagia dengan kehadiran anggota baru. Aliando seperti penyemangat baru untuk Pak Asep dan Bu Tuti, mereka menganggap Aliando seperti cucu nya sendiri.


Selama melahirkan Aliando, banyak ibuk-ibuk yang memandang sinis terhadap Dinda, mereka menuduh Dinda menumpang melahirkan anak haram nya di kampung mereka dan berpura-pura hilang ingatan agar tidak di usir dari sana. Untung saja pak Rt setempat tak termakan hasutan beberapa warga, hasutan itu bermula muncul tentunya dari Farah yang selalu iri terhadap dinda.


Hari ini Dinda hanya berdua denga Aliando di rumah, karena yang lain sudah ke kebun termasuk juga dengan Nurmi, hari-hari Nurmi memang di habiskan dengan membantu orang tua nya di kebun, karena setelah lulus dari Sekolah menengah, Pak Asep tak cukup biaya untuk mengkuliahkan nya di Kota.


Dinda melihat hp nya Weny yang sedang di charger di samping tempat tidur mereka, Dinda berinisiatif ingin mencari informasi tentang diri nya, mungkin saja ada yang bisa di ingat nya. Dinda merasa selama ini sudah sangat membebankan Pak Asep apalagi sekarang dengan kehadiran buah hati nya tentu nya menambah beban untuk keluarga tersebut.


Saat mengambil Hp nya Nurmi, Dinda bingung harus berbuat apa, Karena selama ini pun Nurmi selalu menawarkan Dinda untuk menggunakan hp nya, rapi Dinda tidak tau harus memulai nya dari mana.


Dinda mbuka aplikasi-aplikasi sosial media milik nya Nurmi, Nurmi sepertinya banyak pengikut di Facebook,


''Apa aku buat facebook juga ya, biar orang-orang yang mengenaliku bisa liat nanti.'' Gumam Dinda.


tanpa menunggu lagi, Dinda segera membuatkan akun Facebook untuk diri nya sendiri, lalu merapikan rambut panjang nya dan mengambil beberapa foto untuk di upload nya di sana. Lalu mencari beberapa orang untuk di tambahkan teman.


''Udah beres, tinggal tunggu hasil nya, semoga aja ada orang yang mengenaliku.'' Ucap Dinda seraya meletakkan kembali hp nya Nurmi.


Karena merasa bosan hanya berdiam diri di rumah seharian, akhirnya Dinda menggendong bayi nya dan berjalan-jalan sebentar di luar.


Sore hari di depan rumah Pak Asep sangat ramai sekali orang-orang yang menonton permainan bola kaki, karena setiap sore nya para pemuda akan berolah raga di sana.


Dinda duduk di salah satu bangku yang tak jauh dari lapangan bola tersebut. Seperti biasa, jika sore hari, Farah pasti akan ke sana untuk melihat Bagas yang bermain bola.

__ADS_1


''Eehh ada anak haram di sini.'' Sindir Farah saat melihat Dinda dengan bayi nya. Dinda diam saja tidak menanggapi.


''Hei, kamu ngapain di sini.'' Sinis Farah lagi.


''Kamu sendiri ngapain ?'' Dinda malah balik bertanya.


''Aku nanyain kamu, kamu jngan malah nanyak balik. Aku tentunya di sini nonton kak Bagas main bola lah.''


''Yaa sama lah, aku juga nonton bola, kan gak mungkin di sini aku nanam sayur.'' Jawab Dinda tak kalah sinis


''Hei kamu berani ya ngelawan aku.'' Farah sudah emosi karena Dinda melawan nya, padahal selama ini Dinda tak pernah menjawab nya, selalu saja Nurmi yang beradu argument dengan nya.


''Kenapa aku harus takut dengan mu.''


''Dasar wanita murahan, melahirkan anak haram di kampung orang, kumu pasti pura-pura hilang ingatan kan untuk mengakal-ngakali warga supaya tidak di usir dari kampung ini.''


''Hei dasar wanita tak tau diri kau ya, udah numpang di rumah orang berani mengata-ngati ku.'' Farah menganggkat tangan nya ingin menampar Dinda.


''FARAH.'' Suara bentakan yang sangat Farab kenali, siapa lagi kalau bukan suara bariton nya Bagas.


''Kak Bagas.'' Ucap Dinda dan Farah serentak.


''Kamu gak apa-apa Din.'' Tanya Bagas khawatir.


''Tidak kak, Dinda gak kenapa-kenapa kok.'' Jawab Dinda santai.


''Dia duluan kak,'' Farah membela diri.

__ADS_1


''Farah, kamu selalu mencari masalah sama Dinda, sebenar nya apa sih yang Dinda lakuin sampai kau begitu membenci nya.'' Tanya Bagas tegas.


Farah terdiam, matanya memanas seakan ingin menelan Dinda hidup-hidup karena orang yang di cintai nya malah membela rival nya.


''Farah cuma gak suka aja sama Dinda karena sudah membuat Bulek Sama Pak lek susah, harus membiayai hidup nya dan juga anak Ha...'' Bohong Farah, Farah hampir saja keceplosan menyebutkan anak haram di depan Bagas.


''Udah-Udah, mulai sekarang kamu jangan gangguin Dinda lagi. Dinda kamu pulang lah, hari pun sudah sore, tidak baik buat Al sore-sore di luar.'' Bagas mengusap sayang kepala Aliando.


''Iya Kak, Dinda pulang dulu ya kak.'' Dinda pamit lalu pergi meninggalkan Bagas Dan Farah di sana.


''Kamu mau ngapain lagi di sini '' Bagas menatap Farah yang masih berdiri di dekat nya.


''Mau liat kak Bagas main bola'' Jawab Farah polos.


''Pulang sana, main bola nya udah selesai''


''Yaahh Kau gak sempat nonton dong'' Sesal Farah.


''Iya lah gak sempat nonton, dari tadi asik gangguin Dinda aja.'' Sindir Bagas, lalu pergi kembali ke kerumunan anak-anak muda yang sedang beristirahat di pinggir lapangan dan meninggalkan Farah sendirian di sana.


Beberapa anak-anak kecil yang melihat dari awal Farah mengatai Dinda tadi, mereka menertawakan Farah karena di tinggal dan di cuekin oleh Kak Bagas.


''Apa senyum-senyum'' Bentak Farah pada anak-anak itu.


''Hahah hahah ahahah'' Anak-anak itu malah tertawa semakin besar, bukan nya takut malah mereka melihat lucu Farah yang marah-marah tak jelas sendiri.


''Dasar bocah, awas kalian ya, ku jewer baru taurasa'' Kesal Farah, lalu pergi meninggalkan lapangan bola dan pulang ke rumah nya dengan hati yang dongkol. Sudah dongkol sama Dinda di tambah lagi dongkol terhadap anak-anak tadi.

__ADS_1


Tbc....


__ADS_2