
Di dapur saat ini Dinda dan Nurmi sedang membereskan piring-piring kotor bekas mereka makan malam bersama tadi.
''Kak, kita buat pisang goreng saja pisang yang sudah matang itu, buat ngemil-ngemil sambil duduk.'' Nurmi mengusul kan
''Boleh juga, sekalian kita buat kan kopi dan teh'' Jawab Dinda
Mereka segera mengeksekusi pisang yang sudah matang tersebut, membuat pisang goreng agar ada cemilan untuk malam ini.
''Eeehh kak, tapi orang kaya emang nya mau makan pisang goreng.''
Dinda berfikir sejenak. ''Kayak nya mau, tadi aja mereka mau makan sambal terasi bikinam ibuk kan'' Jawab Dinda akhir nya.
''Kak, ayah nya Aliando sangat tampan ya.''
Dinda menoleh saat mendengar ucapan Nurmi dan tersenyum malu, karena teringat tadi Irfan mencium bibir nya.
''Kak, kok malah senyum sendiri sih.''
''Kakak juga gak tau kenapa ayah nya Aliando setampan itu.'' Jawab Dinda malu-malu.
''Pantesan saja Aliando tampan sekali, rupanya dia terlahir dari bibit unggul, mama nya yang cantik dan papa nya yang luarbiasa tampan nya.''
''Kamu kebanyakan ngaur deh Nurmi, kakak kan biasa saja, tidak secantik yang kamu gambarkan itu.''
''Kak, kalau kakak pulang ke kota nanti, misal nya ada kawan papa nya Aliando yang tampan, cari satu buat ku ya kak.'' Canda Nurmi
Dinda terdiam saat Nurmi mengatakan Dinda akan pulang ke kota, itu artinya Dinda akan meninggal kan keluarga pak Asep yang selama ini sudah menampung dirinya di sini.
''Kak.'' Nurmi melihat raut wajah Dinda yang berubah.
''Kakak bahagia karena akhir nya keluarga kakak datang menjemput, tapi kakak sedih harus berpisah dengan kalian.'' Lirih Dinda.
''Kakak jangan sedih, nanti kakak datang lah berkunjung lagi kemari dengan si Om tampan.''
''Sayang, masih lama ya.'' Irfan datang memanggil Dinda karena Aliando yang mulai rewel, sepertinya sudah mengantuk.
''Sudah siap, tinggal membuat kopi saja.'' Jawab Dinda.
''Kakak ke depan saja, Mungik Al sudah mengantuk kakak ajak tidur saja, biar Nurmi yang terusin buat kopi.'' Nurmi menyela.
''Gak papa ni .'' Tanya Dinda.
''Ihh kakak, udah sana kayak sama siapa saja.'' Usir Numi.
Akhir nya Dinda mencuci tangan dan mengambil lih Aliando dari tangan Irfan dan membawa nya ke kamar, tanpa di sadari nya Irfan juga mengekori di belakang Dinda ikut masuk ke kamar juga.
Dinda kaget melihat Irfan sudah ada di dalam kamar, padahal dirinya berniat ingin menyesui Aliando agar tertidur.
''Mas kok di sini sih .''
''Memang nya kenapa ? Aku ingin liat Aliando tidur''
__ADS_1
''Aliando tidur nya dengan menyusi.''
''Ya tidak apa-apa,''
''Mas keluar dulu, aku malu harus menyusui nya di depan mu.''
''Aku suami mu sayang.''
''Iya, aku belum terbiasa, Mas keluar lah dulu.''
''Hhhuuffff, ya sudah nanti kalau dia sudah tidur aku masuk lagi ya'' Pasrah Irfan akhir nya.
Dinda tak menjawab, terus saja membaring kan bayi munyil itu untuk menidur kan nya.
Di luar, Nurmi sudah meletakkan pisang goreng dan juga kopi di depan orang tua nya dan juga keluarga Dinda yang masih berbicara di ruang tamu.
Sedangkan Irfan saat ini diri nya sedang di luar rumah, Irfan berniat ingin mencari angin segar di luar sambil menunggu Dinda yang sedang menidur kan anak mereka.
Saat sedang duduk-duduk di bawah pohon yang ada di depan rumah pak Asep, tiba-tiba datang lah Mak Leha dengan anak gadis nya, ingin melihat tamu kehormatan yang datang ke rumah adik laki-laki nya itu.
''Hay... '' Farah menyapa Irfan
Irfan hanya tersenyum saja,
''Ibuk masuk saja ke rumah paklek, Farah di sini saja.'' Ucap Farah pada Mak Leha.
Mak Leha pun langsung masuk saja tidak peduli dengan putri nya yang mau kecentilan terhadap Irfan.
''Kalian dari kota ya.'' Farah membuka suara.
''Aku Farah, aku kawan nya Dinda di sini.'' Bohong Farah,
''Ya ampun, ada ya manusia setampan ini, andai saja dia bisa jadi suami ku, aku gak akan ngejar-ngejar kak Bagas lagi deh.'' Farah membatin saat melihat ketampanan Irfannsecara dekat
Saat Mak leha masuk cuma seorang diri, Nurmi segera menanyakan keberadaan sepupu nya.
''Farah Di mana, kok bulek sendirian aja. ?''
''Farah ada di luar.'' Jawab Mak Leha.
Saat mendengarkan Farah ada di luar, Nurmi segera bangkit dan masuk ke dalam kamar nya.
''Kak, apa Al sudah tidur'' Nurmi berbisik
''Sudah, kenapa.?''
''Kalau sudah, kakak keluar aja, biar aku yang jagain Al di sini.''
''Ada apa ?''
''Udah, kakak cepat keluar bawain pisang goreng dan kopi yang sudah aku taruh di atas meja di dapur ya, Ayah nya Al ada di luar.''
__ADS_1
''Hhmmmp'' Dinda segera bangkit dan kelaur berjalan ke dapur untuk mengambil pisang goreng yang akan di bawa keluar untuk suami nya.
Saat keluar dari rumah, Dinda melihat sudah ada Farah yang duduk di samping suami nya.
''Pantas saja Nurmi menyuruh kunsegera keluar, pasti Farah mau keganjenan deh.'' Batin Dinda.
''Mas..'' Panggil Dinda saat keluar.
''Sayang,'' Irfan segera bangun saat melihat Dinda sudah mendekat.
''Mas, ini kopi nya.'' Dinda menari nampan berisikan kopi dan pisang goreng di depan Irfan.
''Makasih sayang, Al sudah tidur ya ?''
''Sudah Mas.''
''Duduk lah di sini'' Irfan menepuk tempat di sebelah nya agar Dinda duduk
''Di sini sejuk sekali kalau malam ya.'' Ucap Irfan lagi.
''Iya Mas, di sini kan tempat nya pegunungan makanya dingin.''
''Apa ada penginapan di dekat-dekat sini sayang.''
''Ada, tapi di kota.'' Farah menimpali dengan cepat, sebelum Dinda sempat menjawab.
Irfan pun menoleh melihat Farah saat Farah menyela pembicaraan nya dengan Dinda.
''Kalau ada, kami akan menginap di sana saja malam ini.''
''Tapi tidak ada mobil Mas, tidak ada kendaraan umum juga di sini.''
Irfan diam sejenak, berfikir bagaimana cara diri nya dan keluarga ke kota, karena mereka tidak datang dengan mobil, tidak mungkin mereka harus menggunakan helikopter kan ke tempat penginapan tersebut.
''Mas menginap saja di sini untuk malam ini.'' Tawar Dinda.
''Kayak nya memang harus begitu, apa aku boleh tidur di kamar mu.'' Irfan menggoda Dinda. Dinda membulat kan mata nya saat mendengar pertanyaan dari sang suami.
''Mas cuma bercanda '' Irfan mencubit gemas hidung sang istri.
Sedang kan Farah yang berada di samping mereka saat ini diri nya seperti obat nyamuk untuk mereka berdua. Farah merasa semakin iri terhadap Dinda, apalagi kemesraan yang di perlihat kan oleh nya dan sang suami, Semakin memuat nya seperti cacing yang sedang kepanasan.
Farah akhir nya pulang, karena merasa tidak di perdulikan di sana, Farah pulang seorang diri tanpa menunggu Mak Leha yang masih di dalam rumah pak Asep. Farah berjalan dengan menghentak-hentak kan kaki nya karena merasa dongkol terhadap dua sejoli yang asik bermesraan di depan mata nya.
Tbc....
Dukung terus ya bestie
Dengan cara like,komen,subscribe dan vote
Terimakasih 🙏
__ADS_1
Salam sayang dari author Jhuwee dealova 😘
Dukungan kalian sangat berarti buat ku. 🫰