
Sudah hampir dua jam para warga mengerumuni rumah nya pak Asep, tapi belum ada titik terang yang di temukan oleh pak Rt.
''Sudah-sudah sekarang begini saja, malam besok kita semua akan ke balai desa, di sana besok kita kumpul kannsemua warga untuk membahas masalah ini.'' Ucap Pak Rt.
''Udah Pak, tidak usah di bahas lagi, langsung usir saja.'' Teriak Farah dari dalam kerumunan tersebut.
''Tidak bisa seperti itu, Pak Rt saya setuju dengan pak Rt, kita kumpulkan semua warga lalu kita buat vote, kalau banyak warga yang setuju kak Dinda pindah maka kak Dinda akan pindah dari kampung ini, tapi kalau banyak warga yang tidak setuju kak Dinda harus tetap tinggal di sini.'' Usul Nurmi akhir nya.
''Iya, iya, itu usulan yang masuk akal.'' Pak Rt segera setuju dengan usulam Nurmi barusan.
Para Ibuk-ibuk sudah saling menatap satu sama lain, apa mereka harus setuju juga untuk keputusan pak Rt barusan.
''Giman Ibuk-ibuk ? Setuju ya kalau malam besok kita akan berkumpul di balai desa.'' Ucap Pak Rt.
Ibuk-ibuk itu semua pada diam, tidak menjawab.
''Setuju'' ucap Farah.
Farah tentu nya sudah ada rencana di dalam otak nya agar tetap bisa membuat Dinda pergi dari kampung ini.
Dinda di dalam kamar hanya mendengarkan saja para warga yang ribut di depan rumah bersama dengan Aliando sang bayi munyil nya. Dinda tidak di izin kan keluar ileh pak Asep, takut nya akan terjadi hal-hal yang tidak terduga nanti nya.
Setelah semua sepakat kalau malam besok akan ke balai desa, akhir nya para ibuk-ibuk pun pergi meninggalkan rumah nya Pak Asep, semua pulang ke rumah nya masing-masing.
Keesokan hari nya, desas desus tentang nanti malam ada perkumpulan warga di balai desa sentar terdengar di kampung tersebut. Pagi-pagi sekali, Farah sudah pergi dari rumah nya ingin menjalan kan misi untuk menghasut warga agar tidak memilih Dinda tetap tinggal di sini.
Tempat tujuan pertama Farah adalah warung-warung tempat di mana biasa nya para ibuk-ibuk berbelanjaa di pagi hari.
''Selamat pagi ibuk-ibuk.'' Sapa farah dengan ceria nya.
''Pagi Farah, tumben sekali pagi-pagi sudah ke warung.''
__ADS_1
''Iya ni buk, saya meu belanja, karena ibuk gak bisa pergi lagi gak enak badan.''
''Lahhh Mak Leha sakit apa ? Bukan nya tadi mala. sehat - sehat aja tuh'' Jawab salah satu warga.
''Tau tuh, tiba-tiba aja skit saat pulang dari rumah nya Paklek tadi malam.''
''Oohh Mak Leha ikut juga di sana tadi malam ya.?''
''Memang nya ada apa di rumah nya Pak Asep ?'' Tanya ibuk yang lain penasaran, karena tidak ikut dalam perkumpulan ibuk-ibuk yang mendemo rumah nya Pak Asep tadi malam.
''Ooh ibuk gak tau ya, kita semua mau ngusir Dinda dari sini, Dinda itu pura-pura aja hilang ingatan ya, karena mau numpang buang sial di kampung ini.'' Farah berbisik-bisik.
''Numpang buang sial gimana sih maksud nya, saya gak ngerti.''
''Maka nya ibuk jangan cuma jualan aja di warung sesekali keluar biar bisa tau gosip yang lagi hot.'' Sindir ibuk yang lain nya.
''Iya Buk, nanti malam ibuk datang aja ke balai desa, biar kita ramai-ramai mengusir wanita pembawa sial itu dari kampung kita.'' Farah memprovokasi.
''Lah kata nya mau belik sayur, tidak jadi neng.?''
''Gak dulu deh buk, bingung mau belik saturan apa, mau nanyak sak ibuk dulu di rumah. Ingat itu buk jangan lupa datang nanti malam ya.'' Farah beralasan tidak tau harus belik sayuran apa, padahal memang tak ada niat untuk membeli.
Dari satu warung ke warung yang lain nya, entah sudah berapa warung yang Farah kunjungi hanya untuk memprovokasi para ibik-ibuk saja, hingga siang hari, Farah masih sibuk kesana kemari mencari kerumunan warga hanya untuk mengasut mereka saja.
Malam pun sudah tiba, sudah ada beberapa warga yang berkumpul di balai desa, karena tadi setelah sholat ashar pak Rt sudah memberi pengumuman di toa musholla kampung, bahwa malam ini ada rapat dan perkumpulan semua warga di balai desa, hampir semua ibuk-ibuk tau apa yang akan di bahas di sana nanti, tapi ada juga yang tidak tau.
Yang paling cepat hadir di sana adalah Farah tentu nya si biang kerok. Tak lama setelah warga berkumpul, datang lah Pak Asep dan keluarga nya, tentu nya ada Dinda dan Aliando di sana.
''Assalammualaikum'' Ucap Pak Asep.
''Waalaikum salam,'' Jawab semua warga serentak.
__ADS_1
''Sepertinya semua sudah hadir, jadi acara nya bisa kita muali saja sekarang.'' Ucap Pak Rt
''Iya Pak, lebih cepat lebih baik.'' Jawab salah satu warga.
''Baik lah Bapak-bapak dan ibuk-ibuk semua, berhubung kita sudah berkumpul di sini, jadi saya ingin membicarakan tentang usulan beberapa warga yanng ingin mengusir nak Dinda dari kampung ini.'' Ucap Pak Rt
''Loh pak, kenapa di usir, emang nya nak Dinda buat salah apa?'' Tanya salah satu bapak-bapak yang berdiri dari kerumunan warga tersebut.
''Karena beberapa orang mengatakan kalau Nak Dinda membuat kampung kita menjadi sial.'' Jawab Pak Rt lagi.
''Siapa yang bilang begitu pak, orang itu lah yang membuat sial.'' Geram salah seorang warga, karena selama ini Dinda tak pernah membuat ulah apapun di kampung ini.
''Hei pak, jangan belain perempuan itu terus ya.'' Jawab ibu-ibu yang lain nya.
''Iya Betul, Dinda cuma mau bawa sial aja kemari dengan melahir kan anak har*m nya di sini, pakek sok-sokan hilang ingatan lagi.'' Farah menimpali.
''Sudah..... Sudah semua nya tenang, sekarang begini saja, siapa yang setuju kalau Dinda tinggal di sini berkumpul di sebelah kanan dan tidak setuju Dinda untuk tinggal ke sebelah kiri, ayo cepat bapak ibuk semua, biar kita bisa putuskan masalah ini''
Pak Rt merasa riwet tentang permasalahan ini, karena pendapat warga berbeda-beda. Warga pun bangun dari duduk nya dan berjalan ada yang ke kirindan ada yang ke kanan, semua Bapak-bapak dan para pemuda berada di sebelah kanan, ada juga beberapa ibuk-ibuk di sana. Sedang kan di bagian sebelah kiri hanya ada beberapa ibuk-ibuk saja tanpa ada satu orang lelaki pun di sana. Pak Rt mulai menghitung warga satu persatu dari dua belah sisi tersebut. Dan ternyata hasil nya sangat jauh lebih banyak yang berada di sebelah kanan, dan otomatis Dinda tidak jadi di usir dari kampung.
Keluarga pak Asep sangat bersyukur dengan hasil keputusan nya karena Dinda akan tetap tinggal bersama mereka di sana, karena kalau Dinda harus di usir, mereka tidak tau harus menitip kan Dinda di mana.
Lain hal nya denga ibuk-ibuk yang berada di pihak nya Farah, mereka sangat kecewa dengan hasil putusan dari Pak Rt. Apalagi Farah, wajah nya sudah tidak bisa di bilang lagi seperti apa, antara kesal dan malu sudah bercampur, karena hasutan nya pada warga tidak membuah kan hasil yang memuaskan.
Tbc.....
Dukung karya aku terus ya sobat.
Dengan cara like, koment,subscribe dan vote
terimakasih 🙏
__ADS_1
Salam sayang dari author Jhuwee dealova 😘