
Tengah malam di rumah kebesaran Mesya dan suaminya, ia baru saja menyelesaikan panggilan video grup pada keluarga besarnya.
“Huftt ... aku merindukan kakak dan Meysi, padahal baru saja beberapa hari berpisah. Sebaiknya aku ke rumah mereka besok,” gumamnya meletakkan ponselnya di nakas.
Setelah berbicara sendiri, Mesya beranjak dari tempat duduknya. Ia segera berganti pakaiannya untuk tidur.
Sehari di hotel kemarin, ia dan suaminya memutuskan untuk pulang ke rumah mereka. rumah tersebut milik Mesya yang di belinya dengan hasil tabungannya.
Ting! Tong!
Terdengar suara orang menekan bel pintu.
Mesya mengernyit bingung, siapa yang bertamu malam-malam ke rumahnya.
Mesya melangkah keluar kamar, ia perlahan menuruni tangga. Namun, ia melihat sang suami sudah membuka pintu, akan tetapi ia tetap melanjutkan langkahnya karena penasaran dengan tamu yang datang.
Samar-samar Mesya mendengar suara pria dan wanita terlihat saling melempar argumen, Mesya menghentikan langkahnya ia menguping pembicaraan suaminya dengan wanita yang tidak ia kenal sama sekali.
“Kamu cepat pergi dari rumah ini! Sebelum aku meminta orang untuk mengusir mu!” bentaknya.
“Aku tidak akan pergi sebelum bertemu dengan wanita murahan itu, yang sudah merebut mu dariku!”
“Jaga bicaramu! Dia istriku. Rupanya kamu itu selain keras kepala, kamu juga tidak tahu malu! Datang ke rumah orang tanpa rasa malu sedikit pun, teriak-teriak seperti orang tidak waras!”
“Aku memang tidak waras! Itu karena dirimu!” serunya tidak mau kalah.
“Pak. Bawa wanita tidak waras ini keluar dari rumah!” ujarnya memanggil penjaga rumahnya.
“Baik Tuan.”
“Lihat wajahnya dengan teliti, pastikan dia tidak datang ke rumah ini lagi,” menatap tajam wanita tersebut.
“Lepas! Lepaskan aku. Aku bersumpah, hidup kalian tidak akan pernah bahagia di atas penderitaanku! Lihat saja, aku tidak akan pernah membiarkan kalian hidup tenang!” ancamnya dengan setengah berteriak.
Plak!
Tamparan keras tempat di pipi kirinya, karena Indra sudah sangat geram dengan perkataan wanita tersebut.
“Seret saja dia! Pastikan dia tidak akan masuk ke rumah ini lagi!” menunjuk wanita itu dengan telunjuknya dengan menatapnya tajam.
“Aku akan membongkar semua rahasiamu itu! Lihat saja nanti, kamu akan hancur!” ancamnya dengan setengah berteriak, karena penjaga sudah memaksanya untuk keluar dari rumah itu.
Indra tidak peduli dengan perkataan wanita tersebut, bahkan Indra masih menatapnya tajam.
Penjaga tersebut memaksa wanita tersebut keluar dari halaman rumah tersebut, hingga membutuhkan tiga orang untuk membawanya.
__ADS_1
Sementara itu, Indra masuk ke dalam rumah lalu menutup pintu rumahnya.
Namun, ia terkejut melihat istrinya yang tengah berdiri menatapnya dengan wajah yang tidak terbaca.
“Sayang, kamu di sini?” tanya Indar terlihat gugup, akan tetapi berusaha membunyikan.
Dengan senyuman yang di buatnya, ia menarik pelan tangan istrinya untuk menaiki tangga menuju kamar mereka.
Setibanya di kamar, Mesya hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Tampak ia mengoles body lotion di bagian tubuh yang di butuhkan, Indra menghela napas berat melihat istrinya hanya diam sejak mereka masuk kamar.
Indra langsung memeluk erat istrinya dari belakang.
“Aku akan menjelaskannya padamu, semua yang kamu dengar keributan di luar tadi. Tapi, jangan mendiamkan ku seperti ini.”
Masih memeluknya dari belakang.
Tampak Mesya menghela napas berat.
“Kalau begitu jelaskan. Siapa perempuan itu, kenapa dia ingin bertemu denganku? Apakah ada sesuatu yang kalian sembunyikan dariku?” tanya Mesya pelan sembari mengoles handbody lotion di lengannya, dengan mimik wajah yang tidak bisa di baca.
Indra melepaskan dekapannya, tanpa peduli dengan wajah istrinya yang masih cemberut, ia langsung menggendongnya dan meletakkannya pelan di kasur.
“Sepertinya kamu itu sudah mulai pikun, bukannya aku menceritakan wanita itu padamu di waktu malam pertama kita. Kamu lupa? Besok kamu harus temani aku ke rumah sakit, untuk tes DNA,” tutur Indra sembari merapikan rambut istrinya.
“Iya, aku sangat yakin. Maafkan aku sudah membuatmu salah paham,” tutur Indra lembut.
Mesya sejenak berpikir lalu mengangguk.
Cup!
“Jelek banget kalau cemberut begini. Hampir saja ku gigit bibirmu yang manis ini!” serunya pandangannya belum beralih pada bibir istrinya yang warna pink pucat itu.
“Huh! Kenapa dengan bibirku? Apa dia punya salah?!” tanya Mesya masih sedikit ketus.
“Nah ini, aku tidak tahan melihat bibirnya yang maju beberapa senti begini.”
Tanpa menunggu lagi ia melua*at bibir itu, karena sudah tidak bisa menahannya lagi. Hingga Mesya yang belum siap, membuat kesulitan bernapas akibat serang mendadak dari suaminya.
“Hhppmnp ....” Entah apa yang di ucapkan oleh Mesya, bahkan Indra tidak memedulikan ucapan istrinya lagi.
Bahkan ia semakin brutal, hingga membuat mereka sama-sama menikmati malam yang indah itu, di temani sang rembulan yang bersinar terang.
*
__ADS_1
*
*
Pagi sekali, Meysi berangkat dari rumah. Bukan ke kantor, melainkan ke rumah sakit dimana ibunya Zahra di rawat.
Ia bertekad akan menebus kesalahannya kemarin, dan akan melunasi semua biaya rumah sakit mereka yang menunggak banyak.
Setibanya di sana, Meysi langsung menuju ke administrasi dan mencari nama ibu dari Zahra. Karena sebelumnya ia berangkat dari rumah, ia memaksa Arga untuk memberitahu nama ibu dari Zahra.
Dengan bersusah payah membujuknya, akhirnya Arga memberitahu namanya.
“Berapa cicilan mereka yang menunggak?” tanya Meysi.
“Maaf sebelumnya. Apa anda ada hubungan keluarga, dengan pasien?” tanya petugas rumah sakit yang berjaga di tempat tersebut.
“Aku kerabat jauhnya dan baru bisa datang hari ini,” ujar Meysi berbohong, karena saat ini ia masih melakukan penyamaran dengan menggunakan topi dan masker.
Wanita tersebut mengangguk mengerti.
“Jadi berapa nominalnya? Aku tidak punya banyak waktu!” seru Meysi karena menurutnya petugas tersebut banyak bertanya.
“Totalnya dengan biaya saat ini, sekitar 70 juta itu belum termasuk obat-obatan.”
“Kalau begitu hitung semuanya beserta obatnya,” sahutnya sambil mengeluarkan kartu dari dalam dompetnya.
“Ini, aku akan melunasinya semua. Jadi, kalian tidak perlu menagih lagi biaya rumah sakit dengannya. Semuanya sudah aku lunasi tanpa tersisa,” Ujarnya Meysi sambil melirik ke kanan dan ke kiri takut ada yang mengenali dirinya.
Petugas rumah sakit tersebut tampak sibuk, menekan keyboard komputernya. Lalu mengambil kartu yang di berikan oleh Meysi.
“Pin nya Nona,” Ujarnya.
Meysi segera menekan PINnya.
Klik!
“Sudah selesai Nona, terima kasih banyak.” Menyerahkan kartu itu kembali.
Setelah membereskan pembayaran, Meysi segera pergi dari rumah sakit tersebut, dengan langkah yang tergesa-gesa. Ia takut jika ada yang mengenalinya, apa lagi anak buah Toni yang bertebaran dimana mana.
Setibanya di parkiran, tanpa sengaja Meysi menabrak seorang pria hingga tanpa sengaja menjatuhkan dompet miliknya.
“Maaf, Nona. Ini dompet anda,” ujar pria tersebut menyerahkan dompet Meysi padanya.
“Iya, terima kasih.” Meysi langsung mengambil dompet tersebut, lalu melangkah dan masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Pria itu menatap heran, karena melihat Meysi yang begitu tergesa-gesa, lalu menggelengkan kepalanya.
***