Istri Untuk Reyhan

Istri Untuk Reyhan
Bab 30


__ADS_3

Reyhan sedang duduk di rumah tamu untuk menunggu sang istri bersiap, karena sudah berjanji sebelum pergi ke kantor akan mengantar sang istri terlebih dahulu.


Sambil fokus memeriksa email dari ponsel miliknya, terdengar suara pesan masuk dari ponsel satunya lagi.


Pesan tersebut dari Meysi, jika dirinya dan Arga sudah tiba di tempat tujuan dan jam makan siang ini mereka akan melakukan meeting dengan kolega penting di sana.


Setelah membalas pesan dari adiknya, Reyhan kembali meletakkan ponsel miliknya.


Bersamaan dengan Zahra yang perlahan menuruni tangga, Reyhan tidak berkedip melihat sang istri yang begitu cantik.


Apalagi Zahra menggunakan baju yang di belikan olehnya beberapa hari yang lalu, baru hari ini ia berani memberikannya.


“Sudah siap?” tanya Reyhan pada istrinya.


Zahra mengangguk.


Reyhan mengulurkan tangannya, agar mereka bergandengan tangan untuk melangkah menuju mobil.


Sebenarnya, Zahra masih sedikit canggung apalagi dengan perubahan Reyhan saat ini. Namun, ia berusaha agar tidak menyakiti hati suaminya.


“Kamu cantik memakai pakaian ini,” puji Reyhan saat di dalam mobil.


“Iya, pakaiannya sangat cantik. Terima kasih sudah membelikannya untukku.”


Reyhan tersenyum lalu mengangguk, Reyhan mulai melajukan mobilnya menuju rumah Zahra.


Hari ini, Reyhan ingin membawa mobil sendiri, karena ingin berduaan dengan istrinya.


30 menit melakukan perjalanan menuju rumah ibu mertuanya, akhirnya mereka tiba di depan rumah tersebut.


Reyhan hanya bisa mengantar sang istri hingga depan rumah saja, karena siang ini ia ada meeting penting yang tidak bisa di wakilkan.


Sebelum keluar, Reyhan kembali menarik tubuh istrinya untuk memeluknya, bahkan berulang kali mengecup kedua pipi istrinya.


Tubuh sang istri begitu candu, sehingga membuatnya selalu ingin memeluknya sejak semalam.


“Tunggu aku menjemputmu sore nanti, jangan pulang sendiri,” Ujar Reyhan sembari memeluk istrinya.


Zahra yang tidak banyak diam dan tidak melawan. Ia pasrah dengan apa yang di lakukan oleh suaminya padanya.


“Iya,” sahut Zahra.


Zahra memberanikan diri melepaskan diri dari dekapan sang suami, lalu membenarkan kerah baju Reyhan yang tampak tidak beraturan.


“Terima kasih.” Kembali mengecup pipi sang istri.


“Sekarang keluar lah, Ibu pasti sangat merindukanmu.” Setelah puas dengan tubuh istrinya.


Zahra mengulurkan tangannya, untuk pertama kalinya.


Reyhan mengerti dan membiarkan Zahra mencium punggung tangannya. Untuk pertama kali Zahra mencium tangan sang suami, karena sebelumnya hubungan dirinya dan suami masih belum sedekat hari ini.


“Hati-hati di jalan.” Sebelum membuka pintu mobil.


Entah kenapa, kata-kata tersebut membuat Reyhan enggan untuk jauh dari istrinya. Namun, apalah daya siang ini dirinya harus ke kantor.


“Kamu ini, membuatku malas untuk pergi!” menarik kembali istrinya ke dalam dekapannya.


Zahra di buat bingung dengan tingkah sang suami, yang sejak pagi tidak berhenti memeluknya.


“Muuachh ... sudah keluar lah, salam untuk Ibu.” Setelah mengecup di bagian bibir istrinya cukup lama.


“Baiklah, aku keluar dulu ya,” pamit Zahra sembari tersenyum.


Reyhan membalas senyum yang istri dan membiarkan Zahra keluar dari mobil, sebelum melajukan mobilnya Reyhan menghela napas.


“Paman benar, menikah itu sungguh nikmat,” gumamnya terkekeh mengingat ucapan suami dari aunty Sifa waktu itu.


Setelah memastikan sang istri masuk ke dalam rumah, Reyhan meninggalkan rumah tersebut.

__ADS_1


Di dalam rumah, Zahra menghela napas lega. Akhirnya dirinya bebas sejenak dari dekapan sang suami yang sejak tadi di buat tegang.


“Zahra, kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya sang ibu yang baru keluar dari kamar.


“Ibu.” Zahra langsung memeluk sang ibu.


Setelah puas berpelukan, Zahra mengajak ibunya untuk duduk di sofa.


“Reyhan terlalu berlebihan, Zahra!” protes sang ibu.


Zahra yang mendengarnya mengernyit heran.


“Ada apa Bu?” tanyanya penasaran.


Setelah pernikahan Zahra, Meysi memberikan rumah tinggal untuk orang tua Zahra dan adiknya. Karena Meysi sudah menganggap ibu dari Zahra seperti ibunya sendiri, sehingga dirinya tidak tega melihat mereka tinggal di rumah yang masih sewa yang sangat sempit.


“Lihat ini.” Sang ibu memperlihatkan saldo tabungannya yang di kirim oleh Reyhan pagi tadi.


Zahra yang melihatnya membulatkan matanya, nominal yang begitu banyak.


“Hati kakak beradik itu terbuat dari apa? Pasti orang tuanya sang bangga pada mereka. Sebenarnya, Ibu tidak ingin menerima uang ini. Tapi, Reyhan memaksa.”


“Memangnya, Ibu bertemu dengan Reyhan kapan?”


“Kami tidak bertemu, tapi Reyhan menghubungi Ibu.”


Zahra menghela napas berat.


“Apa yang harus Ibu lakukan sekarang?”


Zahra menyandar punggung di kursi sofa empuk itu.


“Reyhan bicara apa pada Ibu?” tanya Zahra lembut.


“Reyhan mengatakan, jika Ibu adalah bukan Ibu mertuanya. Melainkan seperti Ibu kandungnya, ia tidak menerima penolakan. Maka dari itu Ibu harus menerima uang itu.”


Ibu Zahra menggoyangkan tangan putrinya yang terlihat sedang melamun.


“Zahra. Apa hubungan kalian baik-baik saja?”


Zahra tersenyum lalu merebahkan kepala di paha ibunya.


“Sangat baik Bu. Terutama Meysi yang menganggap Zahra seperti kakak kandungnya sendiri, perhatiannya melebihi Reyhan Bu.”


“Ibu sudah menduga, jika anak itu berhati malaikat. Terlihat caranya berbicara dan memperlakukan Ibu sangat baik. Beri dia kasih sayang yang tulus nak, terlihat dia begitu merindukan kasih sayang orang tuanya.”


“Iya, Bu.”


Ibunya mengusap rambut halus Zahra, hingga merapikan rambut anaknya dan menyelipkan ke belakan daun telinga.


Namun, ia tidak sengaja melihat tanda merah yang samar-samar di leher putih putrinya.


“Semoga aku bisa segera mendapatkan cucu,” gumamnya dalam hati.


***


Setelah makan siang, Meysi dan Arga kini melanjutkan meetingnya lagi bersama klien penting di sebuah hotel.


Meysi menjelaskan tentang bisnis yang sedang di tekuninya saat ini, mendengar penjelasan itu mereka merasa puas. Apalagi Meysi menjelaskannya sangat detail, bahkan mereka sangat kagum dengan Meysi yang masih muda mampu menguasai beberapa bisnis tersebut.


Meeting itu selesai hingga sore hari, mereka saling berjabat tangan dan saling melempar senyum.


Arga melihatnya membuatnya sedikit cemburu, apalagi pria yang berjabat tangan dengan Meysi tersebut terlihat menyukai Meysi.


Karena Arga memperhatikan pria itu yang netranya tidak berpindah menatap Meysi yang tengah menjelaskan tentang bisnisnya.


Setelah meeting selesai, mereka semua kembali ke kamarnya masing-masing.


Malam hari sudah tidak ada lagi pekerjaan yang mereka kerjakan, Arga berniat mengajak Meysi untuk jalan-jalan. Ia mendapati dari sosial media, ada tempat yang bagus untuk di kunjungi di kota tersebut.

__ADS_1


Tok! Tok!


Ceklek! Pintu terbuka, melihat Meysi yang sudah memakai pakaian yang seperti biasa baju kaos yang kebesaran.


Arga tidak heran lagi dengan cara berpakaian Meysi, karena sejak dulu sudah senang memakai pakaian yang seperti laki-laki.


“Sudah siap?” tanya Arga.


“Sudah,” sahut Meysi.


Sebelum pergi, Meysi terlebih dahulu mengambil tas kecil miliknya yang tidak pernah ketinggalan.


Setelah itu, mereka melangkah bersama menuju lift.


Arga sudah menyewa mobil untuk mereka jalan-jalan.


“Kita mau ke mana?” tanya Meysi, karena belum mengetahui Arga membawanya.


“Ke suatu tempat,” sahut Arga.


Meysi hanya menghela napas berat, lalu menyenderkan punggung di kursi.


Setengah hari melakukan perjalanan udara dan darat. Lalu di lanjut dari siang hingga sore meeting bersama klien, lalu melihat kantor cabang mereka di sana. Membuat Meysi kelelahan, tanpa Arga sadari jika Meysi tertidur pulas di kursinya.


Tiba di tempat tujuan, Arga memarkirkan mobilnya di parkiran. Ia menoleh ke sampingnya, melihat Meysi yang tertidur pulas dengan helaan napas yang beraturan.


“Dia tidur?” gumam Arga.


Ia mendekatkan wajahnya agar melihat wajah Meysi lebih dekat, perlahan ia merapikan rambut Meysi yang menutupi sebagian wajahnya.


“Dia cantik sekali. Apakah aku bisa memiliki mu? Ku rasa itu sangat mustahil, karena kamu pasti tidak mau dan sudah menganggapku adik,” gumamnya dalam hati.


Arga semakin mendekatkan wajahnya, hingga menyisakan hanya beberapa senti saja.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan itu begitu kencang dari luar, Arga melihat ada beberapa pria yang mengetuk kaca mobilnya.


Ketukan tersebut, sontak membuat Meysi terbangun dari tidurnya.


“Ada apa?” tanya Meysi terlihat panik.


Arga hanya mengangkat kedua bahunya, ia membuka setengah kaca mobilnya.


“Woi! Keluar kalian! Kalian ingin berbuat mesum di dalam mobil? Kurang ajar sekali!” bentak salah satu pria yang memandang mereka dengan murka sembari menunjuk wajah Arga.


Meysi dan Arga mengernyit bingung dengan apa yang di ucapkan oleh pria itu.


“Apa maksud Bapak? Kami tidak melakukan apapun?!” protes Meysi.


“Tidak melakukan bagaimana? Sangat jelas, jika kalian sedang berbuat mesum di dalam mobil!” bentak pria itu.


“Arga, kenapa kamu diam saja? Jelaskan pada mereka!” geram Meysi yang melihat Arga tidak membela.


“Keluar kalian!” teriak pria itu menggedor pintu mobil.


“Arga!” pekik Meysi.


“Kamu di dalam mobil saja. Aku akan mencoba menjelaskannya di luar dengan mereka,” ujar Arga pada Meysi.


“Aku akan ikut.”


Arga menahan tangan Meysi, lalu menggelengkan kepalanya.


Meysi hanya bisa menghela napas berat.


Melihat Meysi pasrah, Arga tersenyum untuk pertama kalinya Meysi menuruti apa yang dia ucapkan.


***

__ADS_1


__ADS_2