Istri Untuk Reyhan

Istri Untuk Reyhan
Bab 51


__ADS_3

Reyhan menatap lekat wajah istrinya yang baru saja mengeluarkan isi perutnya, dengan napas yang naik turun.


“Aku akan panggilan Dokter,” ujar Reyhan sembari mengambil ponselnya.


Sudah berulang kali, Reyhan ingin mengajak istrinya ke rumah sakit untuk memeriksanya.


Apalagi tubuh Zahra semakin hari semakin kurus, karena setelah makan Zahra selalu memuntahkan semua makanannya.


“Sayang, aku baik....”


“Kali ini jangan membantahku lagi! Kamu pikir aku tidak khawatir melihat keadaanmu seperti ini?!” seru Reyhan terlihat rahangnya mengeras menahan amarahnya.


Zahra hanya bisa tertunduk diam, karena memang dirinya baik-baik saja. Hanya saja perutnya saat ini belum bisa menerima makanan masuk, sehingga setiap kali makanan yang masuk selalu keluar.


Reyhan tampak sibuk menghubungi dokter yang biasa menangani keluarganya.


Reyhan kembali duduk di sampingnya yang saat ini tengah memijit pelipisnya yang terasa pusing.


“Pusing?” tanya Reyhan pelan.


Awalnya dirinya sangat ingin marah, karena Zahra begitu keras kepalanya karena tidak mau di bawa ke dokter.


Namun, melihat wajah Zahra yang tampak pucat, apalagi pagi ini setelah sarapan Zahra kembali memuntahkan isi perutnya hingga habis tidak bersisa.


“Iya,” sahut Zahra singkat.


“Berbaringlah di kasur, sebentar lagi Dokter akan tiba.” Menarik pelan lengan Zahra.


Bagaikan kerbau di cucuk hidungnya, Zahra menurut.


Selama kehamilannya, Zahra sering kali membangkang bahkan dirinya pernah tidak ingin melihat wajah suaminya saat itu.


Saat itu Reyhan sangat bingung, karena Zahra tidak mau sama sekali melihat wajahnya.


Beruntung ada Mala, istri dari Toni mengatakan padanya jika itu bawaan bayi. Sehingga Reyhan bisa bernapas lega mendengarnya, karena istrinya tidak benar-benar membencinya.


“Aku akan mengambilkan mu teh hangat,” tutur Reyhan lembut sembari menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuh istrinya.


Namun, Zahra menahannya.


“Aku tidak mau teh. Aku mau kamu di sini,” ujar Zahra menatap sayu wajah suaminya.


Reyhan menarik napas lalu membuangnya lagi, ia masih tidak habis pikir dengan hormon Zahra yang cepat sekali berubah.


Reyhan mengangguk, ia menghubungi pelayan rumahnya untuk mengantar teh manis hangat dengan beberapa lembar roti untuk istrinya.


Zahra menarik Reyhan agar lebih dekat padanya, lalu masuk ke dalam pelukan sang suami. Ia menghirup aroma tubuh Reyhan yang begitu sangat wangi, bahkan ia tidak ragu untuk meletakkan wajahnya di ketiak Reyhan.


“Sayang, geli ...” ujar Reyhan sedikit menjauh karena terkejut dengan tingkah Zahra yang menurutnya sangat aneh.


Namun, Zahra salah sangka mengira Reyhan tidak ingin dekat dengan dirinya.


“Kamu tidak mau aku dekat denganmu?!” menatap tajam Reyhan, bola mata yang sedikit memerah menahan tangis.


“Tidak, bukan begitu. Aku hanya geli,” sahut Reyhan kembali menarik tubuh istrinya agar mendekat.


Namun, Zahra malah menjauh bahkan membalikkan tubuhnya membelakangi suaminya.


“Sayang, maafkan aku. Sungguh! Aku hanya terkejut tadi, jika kamu menginginkannya lagi aku bersedia.” Mencoba membalikkan tubuhnya istrinya pelan.


Zahra membalikkan tubuhnya, lalu menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Aku tidak marah. Tapi, aku mau makan.” Reyhan mengernyit heran.


“Sayang, aku mau makan rujak cingur.” Menggoyangkan lengan suaminya dengan wajah yang memelas.


Sebenarnya Zahra tidak benar-benar marah, hanya saja dirinya memikirkan makanan yang sangat ingin ia makan.


“Rujak cingur? Makanan apa itu?” tanya Reyhan bingung, karena baru pertama kali mendengarnya.


“Sayang tidak tahu rujak cingur?” tanya Zahra menatap suaminya.


Reyhan menggelengkan kepalanya, karena memang dirinya baru mendengar nama makanan tersebut.


Zahra memukul kepalanya pelan, karena tidak habis pikir pada suaminya yang belum pernah mendengar nama tersebut.


“Itu rujak yang sangat enak, ada hidung sapinya yang sudah di masak,” sahutnya.


Reyhan berpikir sejenak, lalu mengangguk.


“Aku mau sekarang,” ujarnya kembali memelas.


“Sebentar Dokter akan datang. Setelah Dokter memeriksa mu, aku akan membelikannya untukmu.”


Wajah Zahra langsung cemberut mendengar ucapan Reyhan.


Belum sempat Reyhan berbicara, terdengar suara ketukan dari luar kamarnya.


“Mungkin itu Dokter,” gumamnya, lalu beranjak dari tempat tidur.


Ceklek...


Pintu kamar terbuka lebar, terlihat dokter setengah baya dan pembantunya membawa nampan yang berisi teh hangat dan beberapa lembar roti.


“Pagi, Tuan.”


Dokter tersebut mengangguk, lalu melangkah kakinya masuk ke kamar.


Terlihat Zahra sudah duduk dan bersandar di tempat tidur.


“Pagi, Nona. Wajah anda terlihat sangat pucat Nona,” Ujar dokter tersebut, sembari mengeluarkan Stetoskop dan Tensimeter atau Sphygimomanometer dari tas miliknya.


“Permisi saya periksa dulu ya tekanan darahnya.”


Zahra mengangguk.


“Istri saya selalu mengeluarkan semua isi makanannya setelah selesai makan, apa itu sangat berbahaya?” tanya Reyhan.


Dokter itu tersenyum, ia mengerti dengan ke khawatiran Reyhan pada istrinya.


“Hal ini sangat wajar, hampir semua wanita sedang hamil muda mengalaminya. Tapi, ini hanya sementara, Tuan. Setelah masuk usia kandungan tiga bulan, hal tersenyum mulai berkurang. Tekanan darah Nona sangat rendah saat ini, saya akan memberikan resep vitaminnya.”


Dokter menuliskan sebuah resep di kertas miliknya, lalu memberikannya pada Reyhan.


“Istri Tuan baik-baik saja. Istirahat yang cukup, jangan banyak bergadang.”


Reyhan mengangguk.


Setelah selesai memeriksa Zahra, dokter itu berpamitan pulang.


“Minumlah teh mu, setelah ini aku akan membelikan mu makanan. Apa namanya?” tanya Reyhan lagi sambil membantu istrinya untuk meminum tehnya.


“Apa aku boleh ikut?” tanya Zahra pelan.

__ADS_1


Reyhan tidak langsung menjawab.


“Sayang, apa aku boleh ikut?” tanya Zahra lagi mengulang pertanyaannya.


“Iya, sekarang habiskan tehnya dulu. Setelah itu kita akan pergi,” sahutnya.


Terlihat dari wajah Zahra yang terlihat senang mendengar jawaban dari Reyhan.


“Sudah, aku sangat kenyang.”


Zahra mendorong pelan gelas yang di sodorkan oleh suaminya.


“Baiklah, sekarang aku mandi dulu.”


“Jangan lama!” protes Zahra.


Reyhan mengangguk.


Selama kehamilan Zahra begitu sensitif, kadang ia menangis karena hal sepele.


Bahkan Reyhan pernah kebingungan karena Zahra begitu sangat marah padanya karena pulang terlambat dan menuduhnya telah berduaan di kantor.


Sepertinya saat ini, ia tidak ingin membuat istrinya lama menunggu hingga dirinya mandi dalam hitungan detik saja.


“Cepat sekali!” gerutu Zahra melihat suaminya keluar dari kamar mandi dengan air di kepalanya masih menetes.


Reyhan yang mendengarnya hanya bisa menghela napas berat.


Melihat suaminya yang baru keluar mandi begitu sangat seksi, netranya tidak berpindah pada Reyhan yang masih mengenakan pakaiannya.


“Kenapa menatapku seperti itu? Apa suamimu ini sangat tampan, sehingga air liur menetes seperti itu?” gurau Reyhan pada Zahra.


Mendengar itu, Zahra langsung menyapu mulutnya dengan menggunakan tangannya. Namun, ia tidak merasakan ada air salivanya yang mengalir, ia baru tersadar jika dirinya di kerjain oleh Reyhan.


“Apaan sih!” gerutu Zahra.


Selesai bersiap, Reyhan mengajak istrinya untuk mencari makanan yang Zahra inginkan. Bukan mengajak, akan tetapi Zahra yang memaksa ingin ikut bersama suaminya.


“Sayang, apa kita boleh mampir ke apartemen Meysi. Aku merindukannya,” ujarnya saat berada di dalam mobil, dengan menyenderkan kepalanya di bahu Reyhan.


“Sepertinya Meysi dan Arga hari ini sudah masuk bekerja,” sahut Reyhan fokus menyetir mobilnya, karena Zahra ingin berduaan di mobil dengan suaminya sehingga Reyhan tidak membawa sopir.


“Bekerja? Kamu jahat sekali, mereka bukannya masih pengantin baru?!” seru Zahra.


“Bukan begitu Sayang. Pekerjaan di kantor sedang banyak sekali, apalagi setelah sebulan mereka tidak masuk kantor.”


Zahra mengangguk mengerti, walaupun Reyhan menjelaskan tentang pekerjaan kantor padanya, Zahra tidak akan mengerti.


Cukup lama mereka berkeliling kita untuk mencari penjual rujak cingur, akan tetapi tidak menemukannya sama sekali.


Beruntung Zahra ikut bersamanya, karena sudah berkeliling mencarinya penjual tersebut mereka tidak menemukannya.


“Susah sekali mencari makanan itu! Padahal aku sangat ingin sekal!” gumam Zahra mengusap perutnya, terlihat ia berulang kali menelan salivanya karena sudah membayangkan rasa makanan tersebut.


“Harus beli ya? Kenapa tidak meminta Bibi saja di rumah untuk membuatnya?” tanya Reyhan pelan, takut akan membuat istrinya marah lagi.


Tampak Zahra berpikir, lalu tersenyum padanya.


“Aku ingin kamu yang membuatnya. Ayo kita pulang,” Ujar Zahra menggoyangkan lengan Reyhan.


“A-apa? Aku, tidak! Aku belum pernah memasak, apalagi makanan yang kamu sebutkan tadi!” tolak Reyhan langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.

__ADS_1


***


__ADS_2