Istri Untuk Reyhan

Istri Untuk Reyhan
Bab 22


__ADS_3

Beberapa bulan sudah berlalu, setelah acara lamaran beberapa hari yang lalu, Reyhan tidak pernah lagi bertemu dengan Zahra. Karena pekerjaan yang terlalu padat, hingga mengharuskannya bolak-balik ke luar negeri.


Bahkan untuk saling mengirim pesan saja pada calon istrinya, Reyhan tidak pernah sama sekali.


Sedangkan Meysi, di sela mengurus pekerjaan di kantor, ia juga tengah sibuk mengurus untuk acara pernikahan untuk kakaknya, yang akan di gelar beberapa hari lagi.


Mendengar keponakan laki-lakinya bersedia untuk menikah, Sifa begitu bahagia.


Sifa dan Meysi bekerja sama untuk menyiapkan acara pernikahan tersebut.


“Kak, sibuk?” tanya Meysi melihat kakaknya tengah berkutat dengan laptopnya.


“Iya, seperti yang kamu lihat. Ada apa?” tanya Reyhan tanpa menoleh.


“Pernikahan Kakak tinggal menghitung hari. Apa Kakak tidak ingin istirahat untuk beberapa hari? Zahra bertanya tentang kakak, apa Kakak tidak pernah memberinya kabar?” tanya Meysi duduk di samping kakaknya.


“Kakak akan menghubunginya nanti, setelah pekerjaan kakak selesai.” Masih fokus menatap layar laptopnya.


“Oke. Aku balik ke kamar,” pamit Meysi, akan tetapi tidak ada sahutan dari Reyhan.


“Sepertinya Kakak benar-benar sangat sibuk,” gumam Meysi dalam hati.


Meysi kembali menutup pintu kamar kakaknya.


***


“Kakak yakin mau menikah dengan pria itu?” tanya Zanira pada kakaknya.


Zahra terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.


“Kenapa kamu bertanya seperti itu?” tanya Zahra sambil menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuhnya.


“Aneh saja sih. Aku tidak pernah melihat kakak dengannya saling berbicara di telepon, ya seperti orang-orang pada umum dengan kekasihnya. Aku curiga ....”


“Sstt ... jangan berpikir yang tidak-tidak. Tuan Reyhan sedang sibuk, jangan banyak bertanya!” sela Zahra.


“Bagaimana dengan kuliahmu di hari pertama?” tanya Zahra pada adik perempuannya.


“Baik,” sahutnya.


Zanira menaruh curiga pada kakaknya tersebut, karena dirinya tidak pernah melihat kakaknya saling mengirim pesan pada Reyhan.


“Apa yang kamu pikirkan? Cepat tidur!”


Zanira saat ini bekerja sambil kuliah, karena Meysi diam-diam mendaftarkan Zanira adik Zahra untuk berkuliah seperti keinginannya dulu.


Meysi menepati janjinya pada Zahra, hingga kehidupan mereka sekarang lebih baik dari pada sebelumnya. Bahkan sang ibu juga sudah membaik, karena rutin berobat ke rumah sakit.

__ADS_1


“Maafkan Kakak Zanira. Kakak harus menempuh jalan ini, karena kakak tidak ingin melihat kalian kesusahan lagi terutama Ibu. Berkat Nona Meysi, kini Ibu sudah sehat,” gumam Zahra dalam hati.


“Kamu pasti bingung kenapa Tuan Reyhan tidak pernah menghubungiku. Tentu saja Tuan Reyhan tidak pernah menghubungiku, karena aku bukan wanita yang spesial untuknya. Pernikahan ini terpaksa ia lakukan karena begitu menyayangi adiknya, begitu pun dengan aku. Aku menyayangi kalian semua, aku rela menikah dengan pria yang tidak aku cintai!” tambahnya lagi sambil menatap adiknya yang sudah tertidur.


***


Hari yang di tunggu itu sudah tiba, Meysi dan kembarannya begitu cantik memakai gaun yang sama bahkan warna pun senada.


Mereka berdua mendampingi kakaknya masuk ke ballroom, dimana tempat acaranya pernikahan kakaknya.


Pagi tadi sudah selesai acara ijab kabulnya, kini dilanjut untuk acara resepsi pernikahan mereka. Tidak ada senyum yang terpancar di wajah Zahra, sejak tadi ia hanya bisa menggenggam tangan ibunya.


“Kenapa Sayang? Kamu pasti sangat gugup,” ujar sang ibu melihat wajah putrinya tanpa senyum sama sekali.


Zahra hanya mengangguk sambil memaksakan senyumnya.


Setelah ijab Kabul tadi pagi jam 10.00, Zahra harus kembali lagi ke kamar untuk berganti pakaian pengantin.


“Kakak sangat cantik. Tapi, kenapa wajah kakak terlihat murung?” bisik Zanira agar tidak terdengar oleh ibunya.


“Kakak hanya gugup,” sahutnya.


“Gugup kenapa? Gugup untuk malam pertama ya,” goda Zanira terkekeh.


“Hust ... anak gadis kok ngomong malam pertama, kuliah yang benar!” tegur ibunya membuat Zanira langsung bungkam.


Mereka keluar kamar menuju lift, di bantu juga oleh pihak MUAnya untuk membantu memegang gaun pengantin bagian bawah yang menjuntai agar Zahra tidak terlalu kesusahan.


Sesampainya di ballroom, Zahra melihat sudah ada beberapa tamu yang datang. Namun, tidak terlalu banyak. Musik-musik yang begitu menggema, di dalam ruangan tersebut.


Zahra sama sekali tidak mengenali orang yang ada di dalam tersebut, selain keluarga dari suaminya.


“Akh ... Zahra. Kamu cantik sekali,” Meysi menghampiri kakak iparnya yang baru datang.


Zahra hanya tersenyum paksa menanggapinya, karena sejak ijab Kabul di laksanakan, Reyhan tidak berbicara sepatah katapun padanya.


Zahra mengerti, jika pernikahan ini hanya terpaksa olehnya.


“Lihatlah, dari kejauhan kak Reyhan sudah terpana melihat kecantikanmu,” goda Meysi sambil menggandeng tangan Zahra untuk membawanya ke pelaminan.


Zahra hanya tersenyum mendengarnya, walaupun hatinya belum yakin dengan pernikahan ini.


“Kak. Lihatlah istrimu, dia sangat cantik, Bukan?” tanya Meysi pada kakaknya.


“Hm ...” deham Reyhan.


“Dasar, suara keramatnya keluar lagi!” kesal Meysi dalam hati, mendengar kakaknya hanya berdehem.

__ADS_1


“Baiklah, selamat untuk pengantin baru.”


Memeluk kakaknya dan bergantian memeluk Zahra.


Begitu pun dengan Mesya yang datang langsung memeluk kakaknya.


“Akhirnya, kakak menikah juga. Aku ikut bahagia,” ujar Mesya dengan suara bergetar menahan tangis, sangat terharu pada pernikahan kakaknya.


“Tuan Reyhan terlihat begitu menyayangi kedua adiknya, tak heran jika dia tidak mampu menolak keinginan adiknya,” gumam Zahra dalam hati.


Setelah selesai, sambil menunggu tamu yang datang, mereka semua berfoto dengan gaya yang berbeda-beda.


Dari kejauhan Zanira menangkap kembali kesedihan dari wajah Kakaknya.


“Apa yang terjadi pada Kakak? Terlihat dari wajahnya ia tidak terlalu bahagia, bahkan mereka tidak saling bicara. Sepertinya ada yang tidak beres,” gumam Zanira dalam hati.


Melihat adik perempuan dari kakak iparnya tersebut duduk sendiri yang sedang menatap kakaknya yang tengah sibuk menyalami tamu, Meysi menghampirinya dan langsung duduk di sampingnya.


“Bagaimana kuliah mu?” tanya Meysi.


“Baik kak. Terima kasih banyak ya kak, kakak sudah banyak ....”


“Sstt ... tidak perlu berterima kasih, aku hanya perantara saja. Semua itu keinginan kak Reyhan, setelah lulus kuliah kamu akan bekerja di perusahaan Kakak.”


Zanira mendengarnya langsung tersenyum bahagia, bahkan ia tidak segan langsung memeluk Meysi dari samping.


“Wah, ada apa ini? Kalian terlihat sangat bahagia,” tanya Sifa yang datang menghampiri mereka.


“Rahasia anak muda,” sahut Meysi terkekeh.


“Meysi, aunty tidak menyangka jika kakakmu mau menikah. Pesona Zahra begitu luar biasa, hingga membuat Reyhan mau menikah dengannya.”


Meysi menyenggol tangan Sifa pelan agar tidak keceplosan bicara, karena ada Zanira di sampingnya.


Beruntung saat itu Sifa mengerti dengan kode yang di berikan oleh Meysi.


Hingga malam hari tamu tak kunjung berkurang, justru semakin bertambah. Begitu banyak tamu undangan yang datang silih berganti, mulai dari kolega penting, hingga teman-teman dari Reyhan yang hadir.


Tapi ada satu tamu yang membuat Meysi kesal melihatnya, yaitu wanita yang berpakaian begitu glamor.


Wanita yang berusaha merayu dirinya sejak dulu, untuk mendekati kakaknya.


“Siapa yang mengundangnya untuk datang?!” kesal Meysi dalam hati.


Wanita itu menatap tajam dirinya dari kejauhan, Meysi tidak takut sama sekali dengan tatapan tajamnya. Meysi menyeringai licik pada wanita tersebut.


***

__ADS_1


__ADS_2