Istri Untuk Reyhan

Istri Untuk Reyhan
Bab 33


__ADS_3

Zahra langsung terlihat panik, begitupun dengan Meysi dan Reyhan.


“Ada apa Zahra?” tanya Meysi dengan wajah paniknya.


“Mesya. Me-Mesya, di culik!” dengan suara terbata-bata.


Reyhan langsung merampas ponsel di tangan Zahra, karena panggilan tersebut masih tersambung dengan Indra.


“Indra, apa yang terjadi?” tanya Reyhan dengan raut wajah yang panik.


Masih teringat di benaknya, bagaimana penculik menculik sang Mama dulu dan ini terjadi lagi pada adiknya.


“Kak, aku sudah melaporkannya ke polisi. Aku tidak tahu harus apa lagi sekarang.” Dengan suara Indra yang menahan tangis.


“Kami akan ke sana sekarang!”


Reyhan langsung melangkah untuk menuju mobilnya, di ikuti oleh adik dan istrinya.


Saat ini Reyhan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, beruntung jalanan saat itu sedang sepi.


Sementara itu, Meysi tengah sibuk menghubungi Toni dan memberitahukan jika saat ini Mesya kembarannya di culik.


Toni yang mendengarnya tentu sangat terkejut, kini ia kembali lengah dan kejadian dulu terulang kembali.


Toni tidak ingin menunggu lagi dan mengarahkan semua anak buahnya untuk mencari keberadaan Mesya.


Setibanya di rumah adiknya, mereka semua setengah berlari masuk ke dalam rumah.


Tampak Indra setengah berlari menuruni tangga, langkahnya terhenti ketika melihat kakak iparnya sudah tiba di ruang tamu.


“Mau ke mana kamu?” tanya Reyhan.


Melihat wajah sang adik ipar berusaha menahan amarahnya, bahkan ia membawa senjata api di tangannya.


“Jangan gegabah. Aku yakin, penculik itu tidak akan berani menyakiti Mesya. Bagaimana ceritanya hingga Mesya di culik?”


Indra tampak menghela napas berat dan mulai menceritakan kejadiannya.


Siang ini mereka berdua jalan-jalan ke mall dan saat itu mereka berdua tengah duduk sedang menikmati makan siangnya.


Setelah makan siang selesai, Indra saat ingin buang air kecil dan meminta untuk istrinya menunggu sejenak.


Kembalinya Indra dari toilet, ia melihat sang istri tidak ada di tempat duduknya dan melihat dari kejauhan jika istrinya di bawa paksa oleh sekelompok pria yang menodongkan senjata di perutnya.


Indra menceritakan hal tersebut tanpa ada yang tertinggal, bahkan tanpa sadar meneteskan air mata.


“Baiklah, tetap tenang. Penculik itu pasti akan menghubungi salah satu di antara kita dan meminta imbalan. Saat ini kita harus memeriksa cctv yang ada di mall itu,” usul Reyhan.


Indra mengangguk lalu mereka bergegas keluar rumah.


Saat dalam perjalanan menuju mall tersebut, Meysi mendapat kabar dari Toni jika mobil yang di kendarai oleh penculik untuk membawa kembarannya sudah di temukan.


Toni hanya mengirim pesan, jika mereka semua harus tenang dan jangan ambil tindakan yang membahayakan nyawa mereka.


Reyhan mengangguk setelah mendengar kabar dari Toni.


“Kita menunggu kabar dari Paman Toni di rumah. Kamu tidak perlu khawatir, Paman tidak akan membiarkan penculik itu menyakiti Mesya.”


Walaupun berulang kali menenangkan adik iparnya tersebut, tetap saja pikirannya saat ini tertuju pada istrinya.


Drrttt! Drrttt!


Getar ponsel milik Indra, melihat nomor yang tidak di kenal menghubunginya.


Semula ia mengabaikan panggilan tersebut.


“Kenapa tidak di angkat?”


“Nomor tidak di kenal. Aku tidak suka ada yang menghubungiku dengan nomor baru, apalagi di situasi saat ini.”


Indra langsung tersadar, bisa jadi nomor baru tersebut panggilan dari istrinya.

__ADS_1


Dengan cepat Indra menggeser layar ponselnya untuk menerima panggilan.


“Halo, siapa ini?” tanya Indra.


“Sayang, tolong aku!” suara tangis Mesya dari dalam ponsel tersebut langsung pecah.


“Sayang, kamu dimana? Agar kami bisa menjemputmu,” ujar Indra tak terkecuali Reyhan dan yang lainnya.


“A-aku ....”


Dooor!


Suara satu kali tembakan yang begitu nyaring, Mesya pun langsung berteriak ketakutan.


“Mesya, apa kamu masih bisa mendengar suara ku,” teriak Indra.


Reyhan menepikan mobilnya terlebih dahulu.


“Hai ...” sapa suara wanita, akan tetapi bukan suara istrinya.


“Masih kenal dengan suara ku?” tanya wanita tersebut.


Indra mencoba mengingat suara tersebut.


“Siapa kau?” tanya Indra dengan mengepal kuat tangannya.


“Hahaha ... aku adalah ....” wanita tersebut menggantungkan ucapannya.


Lalu terdengar suara teriakan Mesya dengan histeris.


“Lepaskan istriku, bodoh! Apa mau mu?!”


“Hahaha ... aku mau kamu.”


“Kembali lah padaku, baru wanita ini akan aku lepaskan! Ceraikan dia sekarang juga!”


Indra baru menyadari, jika suara tersebut adalah suara Mila, mantan kekasihnya.


“Iya, Sayang. Ini aku, lihat kamu saja begitu sangat mengenali diriku. Kamu itu sudah di takdirkan untukku, tapi karena wanita ini merebutmu dariku!” terdengar suara teriakan Mesya lagi.


“Aaa ... sakit! Tolong lepaskan aku!” dengan suara yang sudah lemah.


“Lepaskan istriku. Kamu akan menerima akibatnya, jika kamu berani melukai istriku sedikit pun!” ancam Indra.


“Ooo takut! Hahaha ....” Mila tertawa dengan suara meledek.


“Aku akan melepaskan dia, asal ada kesepakatan di antara kita!”


“Omong kosong! Lepaskan istriku sekarang juga!” dengan nada penuh penekanan.


“Tidak. Jika kamu tidak menerima kesepakatan ini, maka aku pastikan kamu hanya menemukan jasad istrimu!”


“Baiklah!” jawab cepat Indra.


Mila tertawa puas, mendengar Indra menyerah.


“Lepaskan dia, aku akan mengikuti semua yang kamu inginkan!” Indra tanpa pikir panjang lagi, karena tidak ingin terjadi sesuatu pada istrinya.


Apalagi, Mila mengirimkan foto istrinya di todongkan senjata di kepalanya dengan wajah penuh luka lebam.


“Nah begitu dong. Temui aku ....”


Mila belum menyelesaikan ucapannya, terdengar suara tembakan dari kejauhan yang saling bersahutan.


Panggilan masih aktif, akan tetapi tidak ada suara Mila lagi. Hanya terdengar suara tembakan dan suara tangisan Mesya yang terdengar.


“Lacak nomornya,” ujar Reyhan.


Indra langsung melacak nomor yang belum berakhir tersebut, setelah mendapatkan titik lokasinya Reyhan langsung tancap gas ke tempat tersebut.


***

__ADS_1


Sementara, di hutan tersebut terdapat sebuah gedung yang terbengkalai yang di jadikan markas mereka.


Suara tembakan yang saling bersahutan, dua orang pria pelaku penculikan tersebut sudah di bekukan oleh polisi dan di bantu oleh anak buah dari Toni.


Semua orang berpencar untuk mencari bos mereka.


Mila keluar dari gedung tua tersebut, tangannya satunya melingkar di leher Mesya dan tangan satunya memegang senjata api mengarahkannya ke kepala Mesya.


Toni melihatnya tersenyum licik, bahkan kesan santai.


“Pergi kalian semua! Atau kepala wanita ini, akan aku tembak!” ancam Mila.


Toni membuang puntung rokoknya dan menginjaknya.


“Bagaimana dengan ini?” ancam Toni memperlihatkan putranya yang sedang bermain dengan anak buahnya di layar ponselnya.


Mila membulatkan matanya, ia tidak berpikir jika mereka lebih pandai darinya.


“Apa yang kalian lakukan pada putraku?” menatap tajam Toni.


“Seharusnya aku yang bertanya! Apa yang kau lakukan pada Nonaku?” tanya Toni sambil melipat kedua tangannya berusaha untuk tenang.


“Nyawa di bayar dengan nyawa! Berani menghilangkan nyawa Nonaku, aku pastikan kamu juga akan kehilangan putramu, Ibumu dan seluruh keluargamu. Kejahatan harus di bayar dengan kejahatan yang setimpal!”


Mila hanya bisa terdiam, akan tetapi ia masih belum menurunkan senjata itu dari kepala Mesya.


Toni melihat Mesya yang terlihat sudah sangat pasrah, bahkan berulang kali menarik napas dengan mulut yang tidak berhenti komat Kamit seperti sedang membacakan sesuatu.


Di saat Mila lengah, anak buah dari Toni sejak tadi berdiri dari belakangnya dan tanpa menunggu lagi langsung menembak kedua kaki Mila.


Dooor! Dooor!


Suara tembakan Kembali terdengar, hingga membuat Mila tersungkur ke lantai.


“Agrrh ... sialan kalian!” teriak Mila histeris, sambil menahan kakinya yang terasa sangat sakit akibat timah panas yang masuk ke kedua kakinya.


Toni langsung membawa Mesya untuk masuk ke dalam mobil, sementara beberapa polisi membawa Mila dan dua pria yang bersamanya untuk membawa ke mobil mereka.


“Bos, satu orang melarikan diri.”


“Cari sampai ketemu. Di hutan ini mungkin akan sulit mencarinya, pantau dari kejauhan! Dia tidak akan bisa bertahan jika lama di dalam hutan, tanpa makan dan minum!”


Mereka mengangguk.


Setelah polisi tersebut pergi dari tempat tersebut, membawa Mila dan dua pria yang bekerja sama dengannya.


Datang sebuah mobil, dan berhenti tepat di samping mobil Toni.


“Paman, dimana adikku?” tanya Reyhan yang terlihat sangat cemas.


“Nona ada di dalam mobil. Saya sarankan, bawa Nona langsung ke rumah sakit.”


Tanpa menunggu lagi, Indra membuka pintu mobil Toni dan melihat sang istri duduk lemas di kursi dengan wajah yang penuh luka lebam.


“Sayang.” Indra langsung memeluk istrinya.


Setelah puas, Indra menggendongnya untuk membawa ke mobilnya.


“Paman, terima kasih banyak. Paman yang selalu ada untuk kami, bahkan jadi pelindung kami.”


“Aku tidak pernah melupakan jasa Paman pada kami.”


“Itu sudah tugas saya, Tuan. Kebaikan Nyonya Dira yang tidak pernah saya lupakan.”


Reyhan memeluk Toni tanpa ragu.


“Sudah, Tuan. Bawa Nona Mesya ke rumah sakit sekarang, dia terlihat begitu lemah dan ketakutan.”


Reyhan mengangguk, lalu berpamitan pulang lebih dulu dari tempat tersebut.


Sementara Toni harus menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu kepada anak buahnya.

__ADS_1


***


__ADS_2