Istri Untuk Reyhan

Istri Untuk Reyhan
Bab 35


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Meysi menggeret koper miliknya keluar kamarnya.


Kebetulan saat itu Zahra keluar dari kamar, hendak menyiapkan sarapan dan bekal siang untuk suaminya.


“Mey. Kamu mau ke mana?” tanya Zahra melihat Meysi menutup pintu kamarnya pelan.


Meysi sedikit terkejut, melihat Zahra yang ada di belakangnya.


“Zahra, kamu mengagetkanku. Apa Kakak sudah bangun?” bukannya menjawab, Meysi balik bertanya.


“Belum. Kamu tidak menjawab pertanyaan ku, kamu mau ke mana?” tanya Zahra lagi.


Meysi tersenyum simpul, mendekati Zahra yang masih berdiri pada tempatnya.


“Aku mengambil cutiku dan aku sudah membicarakan ini pada Paman Toni. Katakan pada kakak, jika aku ingin berlibur sejenak dan pulang setelah beberapa hari.”


Ia memeluk Zahra sejenak, lalu kembali melanjutkan langkahnya menuruni tangga.


“Apa kamu tidak menemui Kak Reyhan dulu?”


Sambil menuruni tangga, Meysi menggelengkan kepalanya.


“Aku tidak ingin mengganggu tidur kakak. Baiklah, aku pergi ya.”


Meysi berpamitan langsung melangkah keluar rumahnya menuju mobil yang sudah di tunggu oleh sopirnya.


“Paman,” sapanya melihat Toni menuruni tangga.


“Apa Paman tahu Meysi pergi ke mana?” tanya Zahra.


Toni mengernyit bingung, sebab sejak kemarin dirinya dan Meysi hanya bicara soal pekerjaan, lalu menggelengkan kepalanya.


“Astaga! Bukan kah Meysi sudah berbicara pada Paman?”


“Dia tidak bicara apa pun padaku,” sahut Toni mulia terlihat panik, hendak berbalik menuju ke kamarnya.


“Paman, biarkan Meysi istirahat dan menenangkan dirinya. Mungkin saat ini dia butuh sendiri.”


Langkah Toni terhenti, ia menatap Zahra sejenak lalu mengangguk.


“Aku hanya memastikan dia selamat ke tempat tujuan. Aku tidak ingin kejadian yang di alami oleh kembarannya terjadi pula padanya.”


Zahra mengangguk mengerti.


Setelah itu, Zahra kembali ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk suaminya.


Di dalam mobil, Meysi meminta sang sopir untuk mampir sejenak ke makam orang tuanya terlebih dahulu.


Setelah itu, ia melanjutkan perjalanannya menuju bandara.


Kota tujuannya saat ini adalah, ke kota sahabat lamanya yang berada di daerah pedesaan.


Ia ingin menenangkan diri, tanpa ingin mendengarkan suara riuhnya jalanan kota.


Satu jam 30 menit, pesawat yang ia tumpangi kini mendarat dengan sempurna.


Dari kejauhan seorang perempuan melambai tangannya di balik kaca tempat ruang tunggu penumpang.


“Singa betina,” teriaknya tanpa sadar, membuat Meysi melorotkan matanya.

__ADS_1


Vina langsung membungkam mulutnya sendiri dengan menggunakan tangannya, karena bicara keceplosan.


“Vina, apa kabar?” tanya Meysi langsung memeluk sahabatnya tersebut.


Sejak pernikahan kembarannya dulu, itu adalah pertemuan terakhir mereka.


“Baik. Sekarang ayo kita pulang, Ibu ku sudah memasak makanan enak untukmu.”


“Wah, benarkah? Kebetulan sekali aku belum makan, cepat! Kita pulang sekarang.” Meysi sangat antusias menari koper kecil miliknya.


Mereka bergandengan tangan menuju mobil taksi yang sudah menunggu mereka berdua, di dalam mobil tersebut mereka berdua bicara tidak ada hentinya, penuh canda dan tawa.


Setelah menempuh perjalanan hampir 20 menit, mereka kembali menaiki minibus lagi untuk menuju ke desa Vina.


Dalam perjalanan tersebut memakan waktu hingga dua jam lamanya.


Sejak kemarin Vina sudah datang ke kota untuk menjemput sahabatnya, ia menginap dulu di tempat salah satu saudaranya. Jika ia pergi hari ini, Meysi pasti akan sangat bosan menunggunya.


Persahabatan Vina dan Meysi mulai terjalin, saat mereka sama-sama mendaftar kuliah dan persahabatan mereka awet hingga saat ini.


“Dia tidur?” Gumam Vina melihat sahabatnya tersebut berbaring di pahanya.


Namun, Vina melihat di sudut mata Meysi yang terlihat basah. Ia mengintip dari kacamata yang masih melekat di mata Meysi, terlihat mata yang terlihat sembab.


“Dia menangis? Aku sangat yakin, ada yang tidak beres dengannya.” Vina mengusap kepala sahabatnya itu dengan lembut.


Meysi hanya bisa berbagi cerita pada sahabatnya Vina saja, begitupun sebaliknya.


Cukup lama di minibus tersebut, cukup membuat terasa pegal.


Mereka akhirnya tiba di rumah Vina, ibu dari Vina memperlakukan Meysi sangat baik, sama seperti putri kandungnya.


Sore hari, Vina membawa Meysi untuk jalan menyelusuri jalanan pedesaan. Melihat sunset yang sudah hampir tenggelam, di temani pemandangan sawah. Banyak orang berlalu lalang, karena sudah sore dan waktunya pulang bekerja dari sawah.


Meysi tersenyum, lalu menggeleng kepalanya pelan.


“Aku cape dengan semua berkas! Aku ingin bebas sejenak, dari semua kepenatan.”


“Yakin?”


“Sangat yakin. Jujur ya, Vin. Aku lebih baik menanam padi deh di sawah, dari pada berkutat dengan komputer!” keluh Meysi.


“Hahaha ... kamu ini aneh! Pekerjaan mu itu, semua orang menginginkannya. Kamu malah ingin menanam padi, kasihan tangan halusmu.”


“Apaan sih!” gerutu Meysi.


“Oh ya. Bagaimana kabar Arga? Apa masih menjomblo saat ini?” tanya Vina.


Meysi yang mendengarnya, seperti sangat susah menelan salivanya.


“Mey, kok diam? Aku bertanya padamu?”


“Hah? Mungkin masih sendiri,” sahut Meysi tersenyum paksa.


“Arga itu pria yang baik ya. Selama aku kenal dengan pria, hanya dia pria yang penuh perhatian.”


Meysi mengernyit bingung, apa lagi melihat wajah merona Vina saat membicarakan Arga.


“Kamu menyukainya?” tanya Meysi tanpa ragu.

__ADS_1


Vina hanya tersenyum.


Dari raut wajah Vina, Meysi sudah bisa menebak. Jika Vina menaruh hati pada Arga, yang saat ini sudah menjadi suaminya.


Niatnya ingin menenangkan diri, akan tetapi ia malah mendapati pernyataan sahabatnya.


Meysi menghela napas berat.


“Kita pulang yuk,” ajak Meysi.


Karena hari juga sudah hampir gelap, Vina menyetujui untuk pulang ke rumah.


***


Di kantor, Reyhan tidak fokus dalam bekerja.


Walaupun Toni mengatakan Meysi berada di tempat sahabatnya, tetap saja dirinya masih belum tenang.


Ia mengambil telepon kantor, untuk menghubungi sekretarisnya.


“Siapkan pesawat sekarang,” ujarnya.


Ia melihat jam masih menunjukkan pukul 05.00 sore, masih ada waktu pikirnya. Reyhan terbang dengan menggunakan pesawat pribadinya.


Setelah mengatakan itu, ia bersiap melangkah keluar. Tidak lupa ia mengirim pesan pada istrinya, jika dirinya harus keluar kota.


Jam 08.00 dirinya sudah tiba di sebuah kontrakan kecil, tentu dengan sopirnya sekaligus orang yang ia percaya yang selalu bersamanya.


“Apa benar ini alamatnya?” tanyanya.


“Sepertinya benar, Tuan.”


“Tapi, kenapa sangat sepi sekali? Seperti tidak ada penghuninya.”


“Mungkin, Tuan Arga masih berkeliling untuk menjual baksonya. Menurut info yang saya dapat, jika saat ini Arga berjualan.”


Reyhan tercengang mendengarnya, Arga yang begitu mandiri.


“Jualan bakso? Berkeliling? Menggunakan apa?” tanya Reyhan begitu penasaran.


“Menggunakan gerobak dorong, Tuan.”


“Bagaimana bisa? Caranya bagaimana?” masih belum percaya, karena pertama kalinya dirinya mendengarnya.


“Ya di dorong, Tuan.”


Reyhan berpikir sejenak, masih mencerna ucapan sopirnya tersebut.


Cukup lama mereka berdiri di depan kontrakan kecil tersebut, akhirnya Reyhan memutuskan untuk menunggu di mobil.


Jam 10.00 malam, Reyhan masih betah duduk di dalam mobil untuk menunggu Arga pulang.


Keberuntungan kali ini berpihak padanya, terlihat dari kejauhan Arga tengah mendorong gerobaknya untuk masuk ke halaman rumahnya.


Di saat tengah sibuk memasukkan peralatannya ke dalam rumah, tanpa ia sadari jika Reyhan tengah berdiri menatap dirinya.


“Bagaimana jualanmu hari ini?” tanya Reyhan.


Membuat Arga terkejut, karena sangat mengenali suara tersebut.

__ADS_1


“Tuan Reyhan!” lirihnya.


***


__ADS_2