Istri Untuk Reyhan

Istri Untuk Reyhan
Bab 28


__ADS_3

Di perjalanan, Meysi tampak banyak diam.


Arga yang tengah duduk di sebelahnya juga tampak heran, melihat Meysi yang biasanya selalu ceria tampak murung hari ini.


“Ada apa? Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Arga melihat Meysi melihat keluar jendela.


Saat ini mereka berdua dalam perjalanan ke luar kota, selain melihat cabang bisnis di sana yang sedang berkembang dan juga mereka ada pertemuan di kota lainnya untuk bekerja sama dengan bisnis mereka.


Meysi hanya menggelengkan kepalanya. Melihat Meysi menggelengkan kepalanya, Arga tidak bertanya lagi. Ia membiarkan Meysi termenung dengan pikirannya, agar memberinya ruang.


“Menurutmu, apa hubungan kakak dan Zahra baik-baik saja? Aku melihat mereka semalam sedang bertengkar. Aku takut, jika terjadi sesuatu pada Zahra, aku sangat tahu kakakku!” Ujar Meysi masih memandang ke arah luar jendela.


Arga menghela napas lalu membuangnya, ia juga berpikir sama seperti yang di pikirkan oleh Meysi. Apalagi pernikahan yang di jalani oleh Reyhan, semua demi Meysi.


“Kita doakan saja, semuanya akan baik-baik saja. Memang tidak mudah menjalani semua hubungan tanpa di dasari cinta. Tapi aku yakin, cinta akan perlahan tumbuh dengan seiring berjalannya waktu. Zahra itu wanita yang penyabar, aku yakin mereka baik-baik saja sekarang.”


“Iya, kamu ada benarnya.”


Hening sejenak, Arga melirik Meysi yang tengah sibuk dengan ponselnya.


“Mey,” panggil Arga.


Meysi terdiam sejenak, Meysi mengernyit heran karena Arga semakin sering memanggilnya dengan sebutan nama dalam beberapa hari terakhir.


“Ada apa?” tanya Meysi dengan nada malas.


“Bagaimana jika ada seseorang yang ingin mengajak mu menikah? Apa kamu menerimanya?” tanya Arga tanpa melihat Meysi.


Meysi memutar lehernya agar menghadap ke arah Arga.


“Kamu ini bicara apa? Memang siapa yang mau menikahiku?” tanyanya kembali fokus dengan layar ponselnya.


“Tidak ada yang berani menikahi wanita galak seperti diriku!” celetuk Meysi.


“Jika ada yang berani melamarmu, apa kamu bersedia?”


“Siapa?”


“Tidak! Lupakan ucapanku barusan,” ujar Arga mengurungkan perkataan yang hendak ia ucapkan.


Meysi hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Hingga tiba di tempat tujuan, tidak ada lagi percakapan di antara mereka berdua.


***


Reyhan masuk ke dalam kamarnya, akan tetapi sang istri masih belum keluar dari kamar mandi.


Akhirnya Reyhan memutuskan untuk mandi di kamar mandi lain, karena tubuhnya merasa lengket dengan keringatnya.


Ceklek!


Zahra membuka pintu kamar mandi, dengan handuk yang masih melilit di kepalanya.


Ia melirik nampan yang berisi roti dan dua gelas susu dan juga kopi, ia menyimpulkan jika Reyhan dan dirinya akan sarapan di dalam kamar.

__ADS_1


Namun, ia melihat sekeliling kamar tidak menemukan Reyhan, akhirnya Zahra memutuskan untuk memakai pakaiannya terlebih dahulu.


Selesai mengenakan pakaiannya, bersamaan dengan terbukanya pintu kamar.


“Zahra,” panggil Reyhan sembari meletakkan handuk ke sembarang tempat.


“Iya, Tuan,” sahut menatap lembut sang suami.


“Berhenti memanggil ku, Tuan. Aku ini suamimu, panggil dengan sebutan lain.”


Zahra tampak diam sejenak, memikirkan apa yang di ucapkan oleh suaminya.


“Kenapa diam?” tanya Reyhan menatap sang istri dengan handuk yang masih melilit di kepalanya, tanpa sengaja Reyhan melihat leher putih sang istri, terlihat ada tanda merah di lehernya.


“Iya, Om.”


Reyhan menatap istrinya dengan tajam, mendengar panggilan dari Zahra padanya.


Zahra nyengir kuda melihat sang suami.


“Kamu sudah berani bercanda denganku?!” melangkah maju agar mereka lebih dekat.


Melihat hal itu, Zahra tampak gugup. Ia juga perlahan mundur ke belakang hingga terbentur tembok.


“Tidak, Tuan. Maafkan aku, aku hanya bercanda,” ujar Zahra sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Melihat wajah sang suami yang terlihat marah, Zahra berpikir jika Reyhan akan memukulnya. Hingga per sekian detik, tidak ada tanda-tanda pukulan dari Reyhan.


Perlahan ia membuka matanya, ia sedikit terkejut ketika melihat Reyhan yang menatapnya sambil tersenyum, begitu sangat dekat dengan wajahnya.


Kedua tangan Reyhan bertumpu pada tembok, di samping bahu kiri dan kanan Zahra, jadi posisi Zahra saat ini berada di tengah kedua tangan sang suami.


Bibir itu kembali mendarat, Zahra juga mulai berani membalas kecupan sang suami, hingga kini tangan Reyhan tidak bisa di kondisikan lagi.


Setelah cukup puas, Reyhan melepaskan bibirnya dari bibir sang istri.


Reyhan langsung memeluk sang istri dengan napas yang turun naik, bahkan berulang kali mengecup kepala Zahra.


Zahra merasa sangat malu, dengan perlakuan mendadak Reyhan. Apalagi ia juga ikut menikmatinya, bahkan membalasnya.


“Mulai sekarang, berhenti memanggilku Tuan. Panggil aku sayang, kamu mengerti?!” tanya Reyhan memegang bahu sang istri dan menatapnya lembut.


Zahra mengangguk.


“Sekarang kita sarapan, aku sangat lapar.”


Mengusap lembut pipi istrinya, lalu mencium kedua pipinya Istrinya secara bergantian.


Hari ini, Zahra merasa begitu sangat di cintai, bahkan di perlakukan sangat lembut oleh Reyhan.


Reyhan menarik lembut tangan istrinya, lalu mereka duduk bersama dan berdampingan.


Tidak seperti biasanya, Reyhan bahkan tidak pernah duduk makan berdua, ia selalu menghindar dan pergi ke kantor lebih pagi.


Walaupun seperti itu, ia selalu memantau apa yang di lakukan oleh istrinya melalui cctv.

__ADS_1


“Lapar?” tanya Reyhan melihat sang istri begitu lahap makan roti yang di bawa olehnya.


Zahra mengangguk, tanpa peduli lagi pada Reyhan yang menatapnya sambil tersenyum.


Baginya saat ini roti lebih menggoda baginya, karena merasa perutnya begitu sangat lapar.


“Tuan ....”


Reyhan langsung melototkan matanya, mendengar sang istri masih memanggilnya dengan panggilan tuan.


“Sa-sayang, maksudnya. Maaf, aku belum terbiasa.”


“Iya, aku maafkan. Kamu mau bicara apa?” tanya Reyhan karena ucapan sang istri tadi di sela olehnya.


“I-itu. Apa a—aku boleh bertemu Ibuku?” tanya Zahra dengan sedikit gugup untuk meminta izin.


Karena biasanya, dirinya selalu bertanya pada Meysi untuk pergi ke rumahnya.


“Tidak boleh!”


Zahra langsung terhenti mengunyah makanannya, tatapannya langsung sendu.


“Tidak boleh, jika bukan aku yang mengantarmu,” ujar Reyhan meneruskan ucapannya.


Zahra yang mendengarnya langsung menatapnya.


“Apa yang kamu lihat?”


“Boleh?” tanya Zahra lagi.


“Tentu saja,” sahutnya sembari menyeruput kopinya.


Karena begitu senang tanpa sadar Zahra langsung memeluk sang suami dari samping, seketika Zahra langsung tersadar dan segera menjauh dari Reyhan.


Zahra kembali memakan rotinya dan juga susu yang sudah bawa oleh sang suami.


“Bersenang-senang lah di sana, ajak Ibu dan adik-adikmu untuk jalan-jalan. Aku akan menjemputmu sore nanti,” Ujar Reyhan sembari mengeluarkan salah satu kartu dari dalam dompet, lalu menyerahkannya pada Zahra.


Zahra menatap kartu tersebut, tanpa berniat ingin mengambilnya.


“Kenapa diam? Apa kamu dengar apa yang aku bicarakan?”


“I-ini kartu apa?” tanya Zahra tampak ragu karena memang belum pernah melihat kartu tersebut.


“Kartu ini kamu bisa belanjakan sepuasnya. Ini kartu unlimited ini adalah sebagai nafkah ku padamu. Belikan saja apa yang kamu ingin beli.”


“Ayo ambil, apa lagi yang kamu tunggu?!” melihat istrinya masih belum mengambil dari tangannya.


Reyhan mengambil tangan istrinya dan meletakkan kartu tersebut.


Saat melihat sang istri sudah menyelesaikan makannya, Reyhan kembali menarik sang istri ke dalam pelukannya.


Reyhan menarik pelan handuk yang masih melekat di kepala istrinya dan membiarkan rambut tergerai.


“Ingat!! Jangan terlalu dekat dengan pria, walaupun pria itu tinggal di rumah ini. Kamu akan menerima akibatnya, jika aku melihatmu berbicara dengan pria!” Reyhan berkata lembut, akan tetapi dengan nada sedikit mengancam.

__ADS_1


Zahra hanya bisa menelan salivanya.


***


__ADS_2