Istri Untuk Reyhan

Istri Untuk Reyhan
Bab 37


__ADS_3

Arga langsung mengalihkan pandangannya.


“Mey,” panggil Reyhan.


Reyhan menghampiri adiknya yang tidak bergeming dari tempat ia berdiri.


“Mey. Arga masih sah suamimu, kakak tidak menentang pernikahan kalian. Saat itu, aku kecewa dengan berita yang beredar tanpa mengetahui kejadian yang sebenarnya.”


“Sekarang Kakak sudah mengetahui semuanya, dari Istriku Zahra. Ia begitu sangat sedih melihat mu, tidak seceria dulu lagi.”


“Tapi kak.”


“Coba selesaikan masalah kalian, kakak berharap pernikahan kalian baik-baik saja. Kita harus belajar dari mendingan Papa, dimana dia selalu setia kepada satu wanita yaitu Mama. Hingga azal menjemputnya,” tutur Reyhan lembut.


Reyhan memeluk adiknya, setelah sekian lama Meysi mendiamkan dirinya.


“Kakak akan menjemput kalian setelah tujuh hari dan kita akan membuat resepsi untuk pernikahan kalian. Sekarang kakak harus ke luar negeri, ada sedikit masalah di sana.”


Mengusap pucuk kepala adiknya.


“Sekarang temui suamimu, Kamu sudah dewasa kakak yakin kalian bisa memperbaiki hubungan kalian. Tapi, kalian bukan adik kakak lagi! Melainkan sebagai suami istri.”


Meysi mengangguk.


Sebelum meninggalkan mereka, Reyhan berpamitan terlebih dahulu pada Arga.


Niatnya ingin membawa mereka pulang harus gagal, karena ada masalah yang serius membuatnya harus terbang hari ini juga.


“Mey, maafkan kakak pernah membentakmu.”


“Iya kak, maafkan aku juga. Karena diriku, kakak harus menanggung malu dan beberapa klien banyak membatalkan kerja samanya pada bisnis kakak.”


Reyhan tersenyum, ia mengusap pipi mulus adiknya.


Setalah berpamitan pada adiknya, ia kembali masuk ke dalam mobil dan bergegas pergi dari tempat tersebut.


Melihat kakaknya sudah pergi, perlahan Meysi melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam rumah tersebut.

__ADS_1


Tidak ada orang di ruang tamu itu, bahkan ia tidak tahu kemana perginya Arga.


Meysi duduk di ruang tamu, membuka koper miliknya untuk mengambil pakaiannya. Karena pulang dari rumah sahabatnya Vina, ia belum mandi pagi.


Ia mencari-cari letak kamar mandi, perlahan melangkah ke arah dapur.


Terlihat Arga sedang sibuk meracik bumbu, bahkan Meysi tidak tahu Arga membuat masakan apa.


Arga hanya melirik sekilas, lalu fokus dengan bumbunya.


“Kamar mandinya di sebelahmu berdiri,” tutur Arga tanpa melihat Meysi.


Dan benar saja, Meysi melihat ke sampingnya terlihat sebuah pintu kecil.


Hingga Meysi selesai mandi, tampak Arga masih berkutat di dapur.


“Sedang apa?” tanya Meysi menyusul Arga ke dapur.


“Masak,” sahut Arga singkat.


Meysi saat ini hanya berdiri melihat tangan lihai Arga, ia bahkan bingung harus melakukan apa.


Sejenak Arga menghentikan aktivitasnya, lalu mematikan kompornya, lalu mencuci tangannya.


“Arga, tidak seharusnya aku meninggalkan mu saat itu, tanpa mengetahui yang sebenarnya.”


“Nona tidak perlu meminta maaf. Semua itu salahku, jika saja aku tidak melakukan hal bodoh itu, semua akan baik-baik saja hingga saat ini.”


“Arga. A-aku ....”


“Bang Arga tampan,” panggil suara perempuan dari luar rumahnya.


Meysi yang mendengarnya, langsung menatap wajah Arga.


“Sebentar,” ujar Agra melangkah keluar.


Rasa penasaran Meysi yang begitu tinggi, membuatnya melangkah mengikuti belakang suaminya.

__ADS_1


“Wah, calon imamku,” goda wanita yang berpakaian cukup seksi tersebut pada Arga.


“Iya, ada apa Bu?” tanya Arga.


“Aku butuh baksonya sore nanti, lima belas mangkok. Ke rumah ya,” Ujarnya dengan gaya centilnya, bahkan tidak malu memegang tangan Arga.


Arga juga merasa sangat risih, segera menepis tangan wanita tersebut.


“Sore akan saya antar,” sahutnya.


“Uuh Bang Arga! Hanya kamu yang menolak memegang tanganku loh!” kesal wanita tersebut karena di tepis oleh Arga.


“Ekhem ...” dengan Meysi dari belakang.


Arga langsung menoleh ke belakang.


“Eh, siapa? Kenapa ada wanita di rumahmu?! Hmm ... kamu membawa wanita dari mana?” tanyanya memicingkan matanya pada Arga.


“Perkenalkan, saya istri dari mas Arga.” Meysi mengulurkan tangannya pada wanita tersebut.


Wanita itu langsung tercengang, tak terkecuali Arga sendiri.


Wanita tersebut membalas uluran tangan Meysi.


“Loh, Bang Arga sudah menikah? Kenapa tidak bilang Bang?” ujar wanita tersebut menepuk bahu Arga pelan dengan tertawa pelan.


“Hah, Iya Bu.” Sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Oke, ini uangnya. Sore ke rumah ya,” ujar wanita tersebut menyerahkan uangnya, lalu berpamitan pergi.


Meysi tersenyum melihat wajah suaminya yang tampak bingung.


“Wanita itu lucu ya?” ujar Meysi memukul keras bahu Arga, membuatnya mengaduh kesakitan.


“Kuat sekali,” gumam Arga dalam hati sambil mengusap bahunya.


“Berarti wanita itu sering kemari?” tanya Meysi sambil tersenyum, akan tetapi dengan suara penekanan.

__ADS_1


Dengan cepat Arga menggelengkan kepalanya.


__ADS_2