
Kemarin Mesya dan suaminya tidak pergi ke rumah sakit untuk memeriksa dirinya ke dokter kandungan, karena terhalang oleh Dafi anak dari Mila yang muncul di bahu jalan untuk meminta belas kasihan pengendara.
“Mas, kamu masih marah?” tanya Mesya mencoba membujuk suaminya yang terlihat dingin padanya sejak kedatangan Dafi ke rumah mereka.
Terlihat Indra menghela napas berat, lalu menggelengkan kepalanya. Tampak Indra sudah pasrah dengan sikap sang istri saat ini.
“Kita sekarang ke rumah sakit.” Menarik istrinya untuk duduk di pangkuannya.
“Jangan marah ya. Aku hanya Kasihan pada anak itu, aku tidak bisa membayangkan bagaimana di posisi anak itu. Sungguh malang sekali,” ujarnya mengalungkan tangannya di leher sang suami.
“Iya, Sayang. Anak itu memang tidak bersalah, akan tetapi ia juga ikut menerima atas kesalahan ibunya.”
Mesya mengangguk.
“Biarkan dia tinggal di rumah kita, hingga Ibunya bebas dari sel tahanan.”
Indra memeluk sang istri, tidak menyangka jika istrinya mempunyai hati yang begitu tulus.
Setelah selesai berbincang hangat, Indra segera mengajak istrinya untuk ke dokter kandungan.
Indra perlahan melangkah sambil menggandeng tangan istrinya untuk menuruni tangga.
Tampak Dafi sedang bermain di ruang tamu, dengan berbagai macam bentuk mobil mainan tersebut.
“Bi, titip Dafi ya.”
“Iya, Nona.”
Tampak Dafi masih serius dengan memasang roda dari salah satu mobilnya yang terlepas.
Memang seusia Dafi masih dengan dunia mainnya, akan tetapi karena keegoisan orang tua membuatnya ikut menerima akibatnya.
Saat di perjalanan ke rumah sakit, Indra merasakan getar ponsel di dalam saku celananya.
Ia meminta sang istri untuk mengangkatnya, karena dirinya saat ini masih fokus untuk menyetir mobil.
“Halo,” ujar Mesya meletakkan benda pipih tersebut ke daun telinganya.
“Halo, Pak Indra.”
“Saya Istrinya. Ini dari siapa ya?” tanya Mesya berkata dengan sopan.
“Kami dari kepolisian. Saat ini kami hanya ingin mengabarkan, jika Nona Mila meninggal dunia dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.”
“Hah, apa Pak? Ini serius?” tanya Mesya tampak begitu terkejut dengan berita tersebut.
Indra menepikan mobilnya untuk berhenti sejenak, karena melihat wajah sang istri yang begitu kaget.
“Ada apa?” tanyanya.
Ia langsung mengambil ponsel tersebut, lalu meletakkan di daun telinganya.
Mendengar berita itu, Indra tidak kalah terkejutnya dengan sang istri.
Setelah menutup panggilan tersebut, terlihat Indra menghela napas berat.
__ADS_1
“Ini sudah jalannya. Ini yang terbaik untuknya dan memang kita yang harus merawat anak itu.”
Mesya mengangguk pelan, walaupun Mila pernah berbuat jahat padanya. Sedikit pun dari hatinya, ia sama sekali tidak pernah menaruh dendam.
“Kita akan ke makamnya, setelah kita pulang dari rumah sakit, Mas.”
Indra tersenyum, lalu mengangguk.
Setibanya di rumah sakit, mereka langsung masuk ke dalam ruangan dokter kandungan.
Karena sebelumnya mereka sudah atur janji dengan dokter tersebut, apalagi rumah sakit tersebut punya pengaruh besar dengan Indra yang sebagai donatur terbesar di rumah sakit tersebut.
Mesya langsung membaringkan tubuhnya di bangsal rumah sakit, perlahan perawat itu mengoleskan gel di perut Mesya.
Dokter memeriksanya, meletakkannya alat di atas perut Mesya, mereka semua menatap layar monitor yang tampak ada benda sebesar biji kacang.
“Apa kalian tahu ini benda apa?” tanya dokter pada mereka berdua.
Mereka berdua bersamaan menggelengkan kepalanya.
“Ini adalah calon anak kalian, yang sudah tumbuh di rahim Nona.”
Setelah selesai, perawat tersebut kembali membersihkan gel tersebut.
Dokter memberikan resep vitamin untuk Mesya, karena beberapa hari terakhir ini ia mengeluh sakit kepala karena kurang tidur dan dirinya di sarankan oleh dokter untuk meminum juga susu hamil.
Selesai berkonsultasi dengan dokter, mereka keluar dari ruangan tersebut.
Kebahagiaan yang bertubi-tubi menyelimuti keluarga mereka, saat ini Mesya dan kakak iparnya Zahra bersamaan mengandung.
Sebelum ke makam Mila, mereka lebih dulu mampir ke minimarket untuk membelikan susu hamil untuk istrinya.
***
Di villa.
Tidak ada aktivitas berat yang mereka lakukan, setelah berlayar dengan menggunakan kapal pribadinya demi mengujudkan keinginan sang istri yang sudah lama belum terwujud.
Zahra duduk di tepi kolam yang ada di vila tersebut, sambil menunggu sang suami yang berenang.
“Sayang,” panggil Zahra pada suaminya.
Reyhan menoleh ke arah istrinya yang tampak bahagia, membuatnya sangat penasaran.
“Ada apa?” tanya Reyhan berenang mendekati Zahra.
“Ada kabar bahagia. Mesya positif hamil,” ujarnya antusias memberikan kabar bahagia tersebut.
Reyhan yang mendengarnya terlihat sangat bahagia, ia tidak berhentinya bersyukur. Karena adik dan istrinya saat ini sedang mengandung bersamaan.
Setelah puas berenang, mereka masuk ke dalam vila tersebut terdapat beberapa kamar di dalamnya.
Setelah selesai menggantikan pakaiannya, Reyhan mengajak istrinya untuk berjalan-jalan di sekitar vila tersebut.
“Ini vila punya siapa?” tanya Zahra sambil melangkah bersamaan dengan suaminya.
__ADS_1
“Punya mendiang Papa. Sebenarnya ini adalah hadiah untuk ulang tahun Mama, saat itu Mama masih mengandung si kembar. Namun, Mama pergi setelah melahirkan kedua adik perempuanku. Sehingga Papa belum sempat memberikan vila ini pada Mama.”
Tampak ada raut kesedihan dari wajah Reyhan, mengingat kembali kisah kelam itu. Dimana dirinya masih bisa bermanja dengan kedua orang tuanya, sedang si kembar adiknya hanya bisa menatap foto sang Mama.
Zahra mengusap pelan punggung Reyhan, agar memberinya semangat.
“Mama pasti bahagia di sana bersama Papa, apalagi melihat semua anaknya yang berhati malaikat. Mereka yang selalu membantu orang yang sedang kesusahan.”
Zahra mengingat kembali, dirinya yang berjuang mencari uang untuk biaya keluarganya dan membayar cicilan rumah sakit yang sudah menunggak. Meysilah penyelamatnya baginya saat itu, bahkan ia rela menerima tawaran Meysi untuk menikah dengan kakaknya, walaupun saat itu Meysi tidak terlalu memaksakan kehendaknya. Cukup sulit awal pernikahan tersebut, namun berkat doa dan dukungan Meysi padanya hingga mampu melelehkan sebongkah es dengan kesabaran penuh.
Reyhan menjentikkan jarinya, melihat Zahra yang melamun dengan tatapan kosong.
“Apa yang sedang kamu pikirkan? Jadi, sejak tadi kamu tidak mendengarkan aku bicara!” protes Reyhan.
“Tidak. Maksudku, aku mendengarkanmu berbicara.”
“Benarkah?” tanya Reyhan merangkul istrinya.
Saat ini mereka duduk berteduh di pantai, tepat di bawah pohon yang rindang.
“Apa yang sedang kamu pikirkan, hah?” tanya Reyhan mencubit pelan pipi istrinya.
Zahra tersenyum malu.
“Aku hanya mengingat awal pernikahan kita, hingga saat ini.”
“Jangan mengingat masa itu. Masa yang buruk yang pernah aku lakukan padamu. Maafkan aku Sayang, waktu itu hatiku belum sepenuhnya menerimamu.” Menarik pelan lama lengan Zahra untuk duduk di pangkuannya.
“Lalu, sekarang. Bagaimana dengan hatimu?” tanya Zahra lembut.
“Jangan di tanya. Hatiku sudah sepenuhnya untukmu, bahkan sudah ada isinya di dalam sini,” sahut Reyhan menunjuk perut Zahra yang masih rata.
Mereka berdua tertawa bersama.
“Jangan pernah berubah ya. Jika suatu saat nanti kamu bosan padaku, kembalikan saja aku pada keluargaku. Jangan menyakiti hatiku dengan bermain gila di belakang, bersama wanita lain.”
Reyhan meletakkan telunjuknya di bibir Zahra.
“Sstt ... jangan bicara seperti itu. Jika aku berubah, segera sadarkan aku dengan caramu. Jangan pernah berpikir untuk pergi dari rumah. Karena manusia itu tidak luput dari kesalahan dan kita manusia di ciptakan untuk saling mengingatkan.”
Menatap lekat wajah istrinya, lalu mengecup kening istrinya sekilas lalu Reyhan menyatukan kening mereka.
“Jangan tinggalan aku. Kita harus bersama membesarkan anak kita,” ucapnya lirih.
Zahra tersenyum.
“Aku juga berharap seperti itu padamu. Jangan pernah berubah,” balas Zahra.
Panasnya terik matahari siang itu, Reyhan mengajak istrinya untuk kembali ke vila.
Zahra tampak sangat kelelahan untuk melangkah lagi, dengan semangat Reyhan menggendong tubuh sang istrinya hingga ke kamar.
“Istirahatlah dulu, sore nanti aku akan mengajakmu jalan-jalan lagi dengan menggunakan kapal. Kamu sangat senang bukan?” tanya Reyhan lembut.
Zahra memperlihatkan senyum di bibir ranumnya, lalu mengangguk antusias.
__ADS_1
Sejak dulu dirinya sangat ingin berlayar dengan kapal, saat ini keinginan itu di wujudkan oleh Reyhan.
***