
Pagi ini Indra di buat panik oleh istrinya, karena Mesya mandi lebih lama dari biasanya.
Karena merasa curiga, Indra membuka paksa pintu kamar mandi.
Saat pintu kamar mandi terbuka, ia membulatkan matanya melihat sang istri tergeletak di lantai tanpa memakai busana.
Tanpa menunggu lagi, Indra langsung menggendong tubuh sang istri dan meletakkannya di tempat tidur.
Dengan tangan yang gemetar, Indra menekan nomor dokter langganannya.
Sambil menunggu dokter tiba, Indra lebih dulu mengenakan pakaian istrinya dan memberikan beberapa titik di bagian tubuhnya dengan minyak telon.
“Sayang, bangun dong.” Berusaha membangunkan istrinya dengan menggosokkan kedua tangannya di tangan dan kaki istrinya.
Tidak lama, seorang dokter muda datang dan langsung masuk ke kamar mereka.
Terlihat Mesya mengerjapkan kedua matanya, sembari memegang kepalanya yang terasa sangat pusing.
“Sayang, tenang ya. Dokter akan memeriksa mu dulu Sayang,” ucap Indra lembut.
“Ada apa Tuan?” tanya seorang dokter tersebut sembari mengambil stetoskop dari dalam tasnya.
Indra menceritakan perihal istrinya yang tergeletak di kamar mandi dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Dokter yang mendengar penjelasan Indra, mengangguk mengerti.
“Apa yang Nona rasakan?” tanya dokter meletakkan stetoskop di bagian perutnya.
“Pusing,” sahut Mesya lirih.
“Merasakan mual dan muntah?” tanya dokter lagi.
Mesya mengangguk pelan.
Setelah menyelesaikan serangkai pemeriksaan dengan alat seadanya, ia meletakkan kembali stetoskop tersebut.
“Apa Nona sedang mengalami terlambat datang bulan?”
Mesya berpikir sejenak, lalu ia kembali mengangguk.
“Bulan ini aku belum datang bulan. Mungkin terlalu stres, hingga membuatku terlambat datang bulan.”
“Apa ada masalah serius dengan kesehatan Istri saya, Dok?”
Dokter tersenyum.
“Tidak ada yang serius. Ini hanya perkiraan ku saja, sebaiknya Nona di bawa ke Dokter Obgyn.”
“Dokter kandungan?” sela Mesya.
“Iya. Dari gejalanya, mungkin saat ini Nona dengan mengandung. Tapi, agar memastikannya Nona sebaiknya di bawa ke Dokter ahlinya.”
Indra yang mendengarnya melongo, seakan tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh dokter tersebut.
“Dokter, apa aku tidak salah dengar?”
__ADS_1
Dokter tersebut menggelengkan kepalanya.
Refleks Indra langsung memeluk istrinya, kebahagiaan yang tidak terkira.
Setelah itu, dokter berpamitan untuk pulang.
Mereka dirinya sudah baikkan, Mesya bersikeras meminta suaminya untuk mengantarnya ke rumah sakit.
Karena begitu penasaran dengan yang di ucapkan oleh dokter yang baru saja memeriksanya, Mesya belum tenang jika belum mengetahui hasilnya.
Indra akhirnya mengalah dan membatalkan kembali meetingnya pagi ini.
Dalam perjalanan ke rumah sakit, Mesya melihat anak kecil yang tidak asing sedang meminta-minta pada pengendara yang mau memberikannya seikhlasnya.
“Mas, itu Dafi.” Menunjuk anak berusia sudah hampir empat tahun itu bersama seorang nenek.
Indra langsung menoleh ke arah yang di tunjuk oleh istrinya.
Saat ini Mila sudah mendekam di penjara bersama rekannya yang membantunya dalam penculikan tersebut.
Indra meminta sang sopir untuk menepikan mobilnya, Mesya dan Indra keluar dari mobil.
“Dafi,” panggil Mesya.
Anak tersebut sangat mengenali suara yang memanggilnya.
“Sedang apa di sini,” tanya Mesya duduk agar sejajar dengan anak tersebut.
Dafi hanya diam menatapnya lesu.
“Tante, Mama di mana?” tanyanya dengan wajah sedih.
“Mas,” panggil Mesya pada suaminya.
Indra hanya bisa menghela napas berat.
Di sisi lain ia juga tidak tega melihat anak tersebut, akan tetapi ia juga sanga benci dengan perbuatan Mila pada keluarganya.
“Biarkan kita yang merawatnya, selama Ibunya tidak ada.”
Indra menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Sayang ....”
“Mas, boleh ya?” dengan wajah yang memelas, agar suaminya menyetujuinya.
“Hufft ... baiklah.” Mesya tersenyum bahagia mendengar jawaban sang suami.
Mesya kembali pada anak tersebut, wanita yang membawa Dafi untuk mengemis tidak menyetujuinya. Karena Dafi adalah sumber keuangannya.
Mesya memberikan wanita tersebut sejumlah uang dan menyerahkan Dafi pada mereka.
Niat awal mereka hendak ke rumah sakit, harus di tunda.
Indra tidak habis pikir dengan sikap sang istri, yang masih mau merawat anak dari ibu yang sudah menculiknya.
__ADS_1
***
Setelah melakukan perjalanan panjang, akhirnya Zahra tiba di kantor sang suami.
Sebenarnya, Reyhan meminta pengawal untuk mengantar istrinya langsung ke hotel. Akan tetapi Zahra menolak, dirinya ingin memberikan kejutan untuk suami dengan membawakan makanan kesukaannya.
Sebelum menuju ke kantor, Zahra mampir terlebih dahulu untuk membelikan makan siang untuk sang suami, di bantu oleh pengawalnya, karena Zahra sedikit kesulitan untuk berbicara dalam berbahasa Inggris.
Dengan tidak sabar, Zahra membuka pintu ruangan sang suami yang di tunjukan oleh pengawal tersebut.
Namun, pemandangan yang tidak di inginkan oleh Zahra. Melihat sang suami yang sedang berpelukan dengan wanita yang sedang menangis.
“Zahra,” ucap Reyhan lirih.
Refleks Zahra langsung menutup pintu itu kembali, setelah beberapa detik melihat pemandangan tersebut.
“Nona, Tuan tidak ada di dalam?” tanya pengawal tersebut yang ada di belakangnya, karena dirinya tidak melihat.
“Iya. Sepertinya kita ke hotel saja, untuk menunggu suamiku,” sahutnya dengan suara bergetar menahan tangis.
Dengan langkah cepat Zahra kembali menuju lift.
Di dalam lift, Zahra berusaha menahan air matanya agar tidak keluar.
Pengawal tersebut masih setia mengikuti Zahra dan mengantarnya ke hotel yang sudah di siapkan oleh suaminya.
Setibanya di kamar tersebut, Zahra tidak bisa lagi menahan tangisnya. Ia menangis di dalam kamar mandi, sambil menutup mulutnya dengan menggunakan tangan.
“Kamu jahat. Aku kira, aku satu-satunya wanita yang ada di hatimu. Namun, ternyata aku salah!” ujar Zahra masih dengan air mata yang mengalir.
Cukup puas menangis, Zahra bersandar di dinding kamar mandi.
Berulang kali ketukan itu terdengar, namun Zahra tidak peduli lagi. Ia hanya duduk termenung, apalagi sangat jelas dirinya melihat Reyhan begitu menikmati pelukan bersama wanita itu.
“Apa aku terlalu egois, karena menginginkan Reyhan hanya untukku?” gumamnya dalam hati.
Terdengar lagi gedoran pintu yang semakin kuat, Zahra beranjak dari duduknya berusaha akan tetap tenang.
Ia mencuci wajahnya di wastafel, agar mengurangi matanya yang sedikit sembab.
Ceklek!
Pintu itu terbuka, terlihat wajah Reyhan yang terlihat ketakutan.
“Sayang, di kantor tadi tidak seperti yang kamu pikirkan. Itu hanya salah paham,” tutur Reyhan mencoba menjelaskan pada istrinya.
Saat Reyhan hendak mengambil tangan sang istri, Zahra langsung menepisnya dan melangkah menuju sofa untuk duduk.
“Sayang, kamu marah? Maafkan aku sayang, jangan tinggalkan aku.” Reyhan duduk di lantai masih berusaha meminta maaf pada sang istri.
“Sayang, jangan diam seperti ini. Aku akan menghubungi wanita itu sekarang, agar dia menjelaskannya padamu. Sungguh, kami hanya sekedar rekan kerja.”
“Oh, kalau sesama rekan kerja boleh bermesraan ya, walaupun bukan hubungan suami istri.”
Reyhan terdiam.
__ADS_1
“Astaga, aku salah bicara!” gumamnya dalam hati.
***