Istri Untuk Reyhan

Istri Untuk Reyhan
Bab 44


__ADS_3

“Lepas!” bentak Arga karena Novi kembali memeluknya.


Novi dengan erat memeluknya, sambil menggelengkan kepalanya.


“Arga, sekali saja balas cintaku! Aku tidak ingin memilikimu, hanya saja aku ingin mendengar kamu membalas cinta ku!”


Arga berusaha melepaskan dekapan Novi, setelah berhasil ia meninggalkannya masuk ke kamar mandi.


Novi hanya bisa mematung menatap kepergian Arga.


Novi mengusap air matanya karena menerima penolakan dari Arga, lalu kembali masuk ke kamarnya.


Sementara Meysi, duduk di tepi kasur. Sangat terdengar jelas jika Novi begitu sangat mencintai Arga suaminya.


Ia baru menyadari, jika pernyataan Novi sore tadi yang mencintai suami orang, dan ternyata adalah suaminya.


Melihat ada seseorang yang memutar kenop pintu kamar, Meysi segera merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya.


Meysi membuka matanya sedikit, melihat Arga sedang berganti pakaian.


Ia menutup matanya kembali seolah dirinya tidak mendengar apa pun, saat melihat Arga hendak merebahkan tubuhnya.


Tidak seperti biasanya, Arga selalu menghadapnya ketika tidur. Berbeda dengan hari ini, ia membelakangi Meysi.


Meysi perlahan membalik tubuhnya, saat ini posisi mereka saling membelakangi.


Masih beringat di benaknya, ucapan Novi sore tadi. Jika dirinya lebih dulu mencintai pria itu, ketimbang istrinya.


Pernyataan tersebut ternyata untuk dirinya dan suaminya.


“Apa benar mereka sebelumnya saling mencintai?” gumam Meysi dalam hati.


Masih berpikir keras mengingat kebersamaan mereka dulu yang sangat dekat, tidak ada di antara mereka berdua mengatakan padanya jika mereka saling mencintai.


Sebuah tangan melingkar di perutnya, membuatnya sedikit terkejut.


“Kenapa bangun?” bisik Arga.


“Huh ... aku baru saja bangun, mau ke kamar mandi.” Melepas pelan tangan Arga, lalu bergegas menuju kamar mandi yang terpisah dari kamar mereka.


Arga menghela napas berat, bukan dengan istrinya.


Melainkan dengan sikap Novi, yang ia takuti bagaimana jika Meysi tahu akan hal ini. Sedangkan mereka sudah bersahabat cukup lama.


Sedang bergelut dengan pikirkannya, Meysi datang kembali lalu mengunci pintu kamarnya.


“Sedang memikirkan apa?” tanya Meysi kembali merebahkan tubuhnya.


Arga menggelengkan kepala, lalu tersenyum perlahan menarik istrinya ke dalam dekapannya.


Walaupun sudah saling menerima satu sama lain, hingga saat ini mereka belum melakukan hubungan suami istri. Arga akan menunggu di mana istrinya sudah siap memberikan sesuatu yang paling berharga itu.


“Jam berapa pulang? Maaf aku ketiduran,” ujar Meysi bermain dengan bulu halus di dagu suaminya.


“Baru saja,” sahutnya.


“Mm ... Arga. Bagaimana kalau kita kembali ke rumah? Begitu banyak pekerjaan di kantor, Paman dan Anton sedikit kewalahan,” usul Meysi.


Namun, tidak ada jawaban dari Arga. Meysi berpikir jika Arga tidak menyetujuinya.


“Aku akan pulang, setelah kamu mau memanggilku tidak dengan sebutan nama!”


Meysi terdiam dan berpikir sejenak.


“Iya adikku,” sahut Meysi terkekeh.


Arga melototkan matanya, mendengar Arga memanggilnya dengan sebutan adik.


“Memangnya, kamu mau di panggil apa?” tanya Meysi lembut.


“Terserah!” sahutnya.


Arga memejamkan matanya, sembari mengeratkan pelukannya.


Meysi tampak berpikir.


“Aku akan pikirkan besok,” Ujarnya membalas pelukan dari Arga.


Hening sejenak, Meysi masih belum bisa memejamkan matanya.


“Arga,” panggil Meysi.


Tidak ada sahutan dari Arga.


“Arga,” panggil Meysi lagi.


“Hm ...” deham Arga, tanpa membuka mata.


“Apa kamu sudah tidur? Kalau belum, apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?” tanya Meysi pelan, melepaskan diri dari dekapan Arga.

__ADS_1


“Hm ....”


Meysi kesal mendengar Arga menyahut dengan dehaman saja. Meysi mencubit perut Arga, membuatnya langsung membuka mata.


“Ada apa? Kenapa mencubitku?” tanya Arga. Bukannya marah, ia malah menarik Meysi ke dalam pelukannya lagi. Karena sebelumnya Meysi melepaskan diri.


“Aku ingin bertanya sesuatu padamu,” sahutnya dengan wajah cemberut.


“Katakan saja, tidak perlu mencubitku!”


“Mmm ... apa dulu kamu pernah menjalin hubungan dengan seseorang?” tanya Meysi mencoba memancing Arga untuk berbicara padanya tentang keributan yang ia dengar di luar tadi.


“Tidak ada,” sahut Arga singkat kembali menutup kelopak matanya.


Mendengar jawaban itu, Meysi Langsung terdiam. Ia tidak ingin lagi bertanya, karena pasti akan menemukan jawaban yang sama dari pria yang baru saja menjadi suaminya tersebut.


“Tidur lah, besok pagi aku akan membawamu ke suatu tempat.”


“Ke mana? Apa kamu akan membawaku ke kapal, seperti yang kak Reyhan lakukan pada Zahra? So sweet, romantis sekali.”


“Aku tidak punya uang sebanyak itu! Besok pagi kamu pasti akan tahu. Tidur lah, jangan banyak bicara. Kamu akan tahu akibatnya jika bicara lagi, aku yakin besok kamu tidak akan bisa berjalan!” ancam Arga.


Mendengar itu, Meysi langsung memeluk Arga. Bukannya takut akan ancaman Arga, hanya menghargai karena sudah menjadi suaminya.


Beda saat dirinya dulu, status Arga yang masih menjadi di anggap adiknya oleh.


***


Pagi hari, terdengar suara burung yang berkicau dan bahkan sinar mentari pagi juga sudah masuk melalui celah jendela.


Tapi, suara kicauan burung itu tidak membangunkan suami istri ini, mereka masih tertidur dalam posisi masih berpelukan.


Karena mendengar panggilan dari ponselnya, membuat Arga terbangun lebih dulu dan perlahan melepaskan dekapannya agar tidak membangunkan istrinya.


Ia menyipitkan matanya, karena sedikit silau dengan layar ponselnya.


Melihat dua panggilan tidak terjawab dari ayahnya.


“Ayah,” ucapnya lirih.


Ia meletakkan kembali ponsel miliknya, lalu mengusap wajahnya pelan.


Melihat ke sampingnya, Meysi yang masih tertidur pulas.


“Sayang, bangun,” bisik Arga di telinga Meysi.


Mengusap pipi istrinya, lalu mengecup bibir Meysi berulang kali.


“Bangun,” Ujarnya dengan tanganya yang tidak bisa diam.


“Hm ...” dehamnya menarik tangan Arga, agar tidak mengganggu tidurnya.


Arga melihat bibir tipis istrinya yang pink pucat itu, lalu menyatukannya.


Tanpa Arga sadari, jika Novi menatap mereka dari ruang tamu.


Semalam Arga keluar kamarnya untuk ke kamar mandi, ia melupakan keberadaan Novi hingga membiarkan pintu kamar mereka terbuka lebar.


“Sayang, bangun.” Masih mengganggu istrinya agar bangun dari tidurnya.


Perlahan Meysi mulai membuka matanya, melihat dari celah jendela hari sudah siang.


“Jam berapa?” tanyanya dengan suara paraunya.


“Jam 06.00 pagi.”


Meysi mengangguk, mengusap wajahnya pelan matanya tertuju pada pintu yang terbuka lebar.


“Arga, pintu kamar sengaja kami buka?” tanyanya.


Arga langsung melirik ke arah pintu, ia baru menyadari jika semalam ia lupa menutup pintunya.


“Astaga, aku lupa menutupnya semalam.”


Meysi bernapas lega, karena berpikir Novi sahabatnya yang membuka pintu mereka. Apalagi saat ini dirinya masih dalam pelukan Arga.


Arga meletakkan bibirnya di leher putih Meysi dan memberikan beberapa tanda merah di sana.


Hal tersebut sengaja ia lakukan, setelah tidak sengaja melihat keberadaan Novi ternyata mengintip mereka.


“Arga, jangan memberi banyak bekas di sana!” protes Meysi mencoba menghindar.


“Kenapa memangnya? Wajar saja, itu tanda agar semua orang tahu jika kamu sudah mempunyai suami!”


Meysi berdecap kesal dan membiarkan Arga melakukan apa yang dia inginkan. Menghindar pun percuma, apalagi saat ini Arga masih berada di atas tubuhnya.


“Nah, ini baru keren.” Tersenyum penuh kemenangan, karena sudah memberi tanda merah di bagian dada istrinya.


“Apanya yang keren?!” kesal Meysi.

__ADS_1


“Keren dong, hasil karya dari suamimu. Apa aku boleh meminta lebih dari ini?” tanya Arga memainkan kedua alisnya.


“Aku masih datang bulan,” sahut Meysi lembut.


Arga mengangguk mengerti, lalu turun dari atas tubuh istrinya.


“Mandi dan bersiaplah. Jam 08.00 kita akan berangkat.”


Tanpa bertanya lagi, Meysi mengangguk. Jika dirinya banyak bertanya meski pun penasaran, Arga pasti tidak akan memberitahunya.


Sementara di ruang tamu, Novi segera pergi setelah melihat Meysi beranjak dari tempat tidurnya.


Novi pergi ke arah dapur, sebelumnya ia sudah memasak sarapan untuk mereka bertiga.


“Hai Nov, sedang apa?” tanya Meysi melihat sahabatnya sedang berdiri di meja dapur. Meysi bersikap seperti biasanya, walaupun ia sudah mengetahui yang sebenarnya.


“Ha-hai. Aku sedang memasak sarapan untuk kita,” sahutnya tampak gugup.


Novi melirik handuk yang melilit di leher Meysi, ia sudah menduga jika itu adalah bekas tanda cinta dari Arga.


“Oh, maafkan aku Nov. Aku terlambat bangun, aku akan membantumu setelah aku mandi.”


Meysi bergegas masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Novi menatapnya dengan tersenyum kecut.


Setelah selesai bersiap, mereka bertiga melakukan sarapan bersama. Tidak ada percakapan di meja makan tersebut, Meysi melirik mereka secara bergantian.


“Kalian kenapa? Kok pada diam, puasa?” tanya Meysi.


“Enggak,” sahut Novi dan Arga secara bersamaan.


Mereka menatap sejenak, dengan cepat Arga mengalihkan pandangannya.


“Aku menunggumu di teras, cepat selesaikan sarapanmu,” ujar Arga kebetulan saat itu ia sudah menyelesaikan sarapannya.


Meysi mengangguk, walaupun ada rasa cemburu di hatinya, Meysi berusaha menyembunyikannya.


“Nov, ikut kami,” ajak Meysi menarik tangan sahabatnya, karena mereka juga sudah menyelesaikan sarapannya.


“Eh, ke mana? Maaf, aku tidak bisa ikut Mey,” tolak Novi.


“Kenapa tidak bisa? Aku memaksa!” menarik paksa tangan Novi.


Dengan langkah berat, Novi mengikuti langkah Meysi.


“Mobil siapa?” tanya Meysi saat tiba di teras rumah, melihat mobil terparkir.


“Aku yang menyewanya,” sahutnya.


Arga melirik sekilas Novi yang ada di belakang istrinya.


“Cepat lah masuk, kita sudah terlambat.”


Arga lebih dulu melangkah dan masuk ke dalam mobil. Setelah memastikan rumah terkunci, Meysi menarik tangan Novi untuk masuk ke dalam mobil.


Di dalam mobil kembali hening, tidak ada percakapan di antara mereka bertiga hingga tiba di tempat tujuan.


Terlihat sebuah warung yang cukup ramai, karena seperti warung tersebut baru buka.


“Apa ini?” tanya Meysi keluar dari mobil berdiri di samping sang suami.


“Ini baru buka dan aku memberikan makanan gratis di hari pertama 500 porsi di setiap cabang,” ujar Arga menjelaskan pada istrinya.


“Ini punya mu?” tanya Meysi tidak menyangka jika suaminya ternyata membuka warung makan bakso dan mie ayam.


Arga mengangguk sembari tersenyum.


“Lebih tepatnya punya kita. Aku nekat meminjam uang di bank beberapa Minggu yang lalu, dan menyewa tempat untuk membuka warung makan bakso, untuk sementara baru buka tiga cabang.”


Meysi melongo mendengarnya.


“Jangan lebar-lebar, nanti masuk lalat.”


Meysi memasang wajah cemberut mendengar candaan suaminya tersebut.


Sudah sejak lama dirinya ingin membuka rumah makan, karena dirinya memang suka memasak. Karena harus bekerja di kantor bersama ayahnya, hingga melupakan cita-citanya tersebut dan menuruti keinginan ayahnya.


Arga menggandeng bahu istrinya untuk masuk, begitu banyak orang yang datang untuk merasakan nikmatnya bakso Arga.


“Keren Arga, dalam waktu yang singkat kamu bisa membuka cabang bakso mu,” ujar Meysi begitu bangga dengan apa yang di inginkan oleh suaminya sejak dulu.


“Panggil aku Sayang!” bisik Arga dengan penuh penekanan.


Meysi tersenyum kecut, ia masih belum biasa dengan panggilan tersebut.


Para karyawan menyambut mereka dengan sopan, dengan bangga Arga memperkenalkan istrinya pada karyawannya.


Banyak yang memuji kecantikan Meysi, apalagi dirinya begitu sangat ramah pada semua orang.


Sementara Novi hanya bisa tersenyum kecut dan terpaksa mengikuti suami istri tersebut dari belakang, apalagi melihat kemesraan Arga yang tidak membiarkan istrinya melepaskan gandengan tangannya membuatnya semakin cemburu akan kemesraan mereka.

__ADS_1


***


__ADS_2