
Novi baru saja mendapati kabar dari sahabatnya Meysi, jika saat ini dirinya masih kota yang sama dan bahkan sudah bertemu dengan Arga.
Mendengar hal itu, ia terlihat bahagia karena sudah di temukan keberadaan Arga.
Namun, di sisi lain ia juga terlihat sedih. Karena sejak dulu dirinya memang menaruh hati pada Arga, akan tetapi Arga sama sekali tidak meliriknya dan bahkan menganggap Novi seperti kakaknya.
“Apa aku menyusul Meysi saja? Aku memang tidak bisa memilikinya, tapi aku bisa melihatnya. Itu sudah cukup bagiku, aku juga ingin banyak bercerita banyak pada Meysi,” gumamnya dalam hati.
Setelah pikir panjang, ahlinya Novi memutuskan untuk menemui sahabatnya tersebut.
Siang ini, Novi berpamitan pada ibunya untuk menginap beberapa hari di rumah Meysi.
Ia segera mencari mini bus yang akan membawanya ke alamat Meysi, dua jam lamanya menempuh perjalanan, kini Novi tiba di rumah kontrakan Arga dan Meysi.
Novi melihat salah satu rumah yang tertutup rapat, Novi melihat lagi nomor rumah yang di kirim oleh sahabatnya tersebut.
“Sepertinya ini alamatnya,” gumamnya.
Ia perlahan mengetuk pintu tersebut, tak lama pintu terbuka. Terlihat sebuah tangan kekar yang membuka pintu tersebut, tiada lain adalah Arga.
“Novi,” sapa Arga.
“Hai,” sahutnya sembari tersenyum pada Arga.
“Masuk, aku akan memanggilkan Meysi.”
Dua hari yang lalu, Arga dan Meysi mencari rumah kontrakan baru. Karena rumah yang lama sudah tidak aman bagi mereka, apa lagi banyak preman di tempat tersebut membuat Meysi kurang nyaman tinggal di rumah itu.
“Sayang,” panggil Arga saat membuka pintu kamar mereka.
Deg!
Bagaikan di sayat sembilu, mendengar panggilan Arga pada Meysi. Novi masih berusaha menahan rasa cemburunya, apa lagi ia sangat dekat dengan Meysi.
Berulang kali Novi menghela napas, agar dirinya terlihat baik-baik saja.
Meysi tampak keluar dari kamar, sambil merapikan pakaiannya.
“Novi, kenapa tidak menghubungiku?” tanya Meysi duduk di sebelahnya.
“Justru aku mau memberikan kamu kejutan,” sahutnya, mereka saling berpelukan sejenak.
Saat Meysi sibuk berbicara padanya, netra Novi tertuju pada leher putih Meysi yang terlihat ada bekas kemerahan.
Sudah di pastikan, jika hubungan Meysi dan Arga sudah sangat dekat dan saling menerima satu sama lain.
“Novi, aku bicara padamu.”
Novi langsung tersadar.
“Sepertinya kamu kelelahan, kita ke kamar kamu harus istirahat dulu.”
Meysi menarik tangan sahabatnya tersebut, sambil menenteng tas kecil milik Novi untuk masuk ke dalam kamar tamu.
Setelah itu, Meysi membiarkan Novi untuk beristirahat. Ia melangkah ke dapur untuk membantu sang suami, karena malam ini Arga kembali berjualan.
“Kok kemari? Novi dimana?” tanya Arga sembari memotong bawang untuk membuat bawang goreng.
“Biarkan dia istirahat. Aku ingin membantumu,” sahut Meysi mengambil pisau kecil dan mulai memotong walaupun tangannya masih kaku.
Cukup lama Meysi memotong bawang tersebut, Arga membulatkan matanya melihat air mata yang mengalir di pipi mulus istrinya.
__ADS_1
“Loh, kenapa menangis?” tanya Arga terlihat panik, segera Arga mencuci tangannya.
Ia mengambil pisau di tangan Meysi, lalu menarik Meysi ke dalam pelukannya.
Perlahan meniup mata Meysi, lalu mengusapnya dengan tisu.
“Pedih ya matanya?” tanya Arga lembut.
Meysi mengangguk dengan air mata yang masih berlinang akibat memotong bawang merah.
“Lain kali jangan ikut membantuku!”
Dengan penuh perhatian, Arga mengambil air menggunakan tangnya lalu mengusap tangannya yang basah pada seluruh wajah Meysi, termasuk di bagian mata.
“Aku baik-baik saja.”
“Tidak. Kamu tidak baik-baik saja, lihat matamu sangat merah. Kita ke kamar,” Ujarnya membawa sang istri untuk ke kamar.
“Masih pedih?” tanya Arga yang terlihat khawatir saat tiba di kamar.
“Aku baik-baik saja. Jangan berlebihan!” protes Meysi.
Arga menangkup kedua tangannya pada wajah Meysi, mengecup bibir Meysi sekilas.
“Jika tidak dengan wanita yang sangat aku cintai, aku tidak mungkin begitu khawatir,” ujar Arga lembut.
Meysi tersenyum.
“Iya adikku, Sayang.”
“Iya, adik sekaligus suamimu!” ujar Arga penuh penekanan.
Setelah beberapa hari, akhirnya Meysi dan Arga sepakat untuk mempertahankan pernikahan mereka. Hingga saat ini, mereka berdua harus membiasakan diri seperti pasangan suami istri lagi, bukan kakak dan adik.
Arga yang begitu lembut dan penuh perhatian pada Meysi, hingga membuat dirinya semakin cemburu.
Novi perlahan menutup pintu kamarnya dan menangis tanpa suara di dalam kamar. Sebelumnya Novi ingin keluar kamar untuk menemui Meysi, akan tetapi ia mendapati suami istri itu sedang bermesraan.
Malam hari, Meysi tidak ikut bersama suaminya untuk berjualan keliling. Karena tidak mungkin meninggalkan sahabatnya sendiri di rumah, Arga juga melarangnya untuk ikut malam ini.
Novi dan Meysi dengan asik berbincang di ruang tamu, sambil menunggu Arga pulang.
“Makan dong baksonya, Nov. Kamu pasti ketagihan,” pujinya pada bakso buatan sang suami.
Novi mengangguk, dengan penuh semangat mereka berdua menikmati bakso yang di buatkan oleh Arga untuk mereka.
Meysi heran dengan sikap Novi yang mendadak jadi pendiam, tidak seperti biasanya yang selalu mengoceh walaupun saat makan.
“Nov, kamu baik-baik saja? Apa ada masalah? Ceritakan saja padaku, kita sudah seperti saudara.”
Novi tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya.
“Mey, apa aku boleh bercerita padamu?”
“Tentu saja,” sahutnya sambil menyeruput kuah bakso yang tinggal sedikit.
“Mey, apa aku salah jika menyukai pria yang sudah beristri?”
Meysi yang mendengarnya langsung tersedak, apalagi saat itu ia sedang menikmati nikmatnya kuah bakso.
Uhuk! Uhuk!
__ADS_1
Novi segera memberikan air putih untuk Meysi.
“Pelan-pelan Mey,” ujar Novi lembut sambil mengusap punggung sahabatnya tersebut.
“Coba ulangi ucapanmu barusan. Apa aku tidak salah dengar?” ujar Meysi meminta Novi mengulangi ucapannya lagi.
“Pelan-pelan!”
“Bukan itu! Sebelumnya,” protes Meysi.
“Menyukai suami orang,” ucap Novi lirih.
“Apa kamu masih waras?” meletakkan tangnya di kening Novi.
“Aku sungguh sulit melupakannya. Jujur, aku lebih dulu menyukai pria itu sebelum ia menikah dengan istrinya sekarang.”
Terlihat Meysi menghela napasnya berat.
“Kamu menyukainya sebelum menikah dengan istrinya. Apa pria itu sangat mencintaimu? Apa kalian sudah punya hubungan sebelum pria itu menikah dengan wanita lain?” tanya Meysi penasaran.
Karena sebelumnya, Novi belum cerita apa pun tentang pria padanya.
Novi menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak tahu, apa pria itu merasakan yang sama seperti diriku. Tapi, hatiku berkata jika pria itu pasti menyukai ku juga,” sahutnya.
Meysi mengangguk mengerti.
“Alangkah baiknya, jika kamu tanya pada pria itu. Agar kamu tidak lagi penasaran dengan hatinya. Tapi, saran aku sih, jangan menjadi pengganggu rumah tangga orang. Hanya karena kamu menyukainya, hingga membuat mereka berpisah.”
Novi tidak menjawab ucapan dari sahabatnya tersebut, ia kembali memakan makanannya untuk mengalihkan pembicaraan tersebut.
Setelah melepas rindu pada sahabatnya, mereka masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.
Sambil menunggu suaminya kembali, Meysi berbaring di kasur sambil bermain dengan ponselnya.
Ia melihat foto kakaknya yang sedang berada di kapal, foto itu di abadikan oleh Reyhan di salah satu sosial media miliknya.
“Enak sekali mereka berlibur!” protes Meysi.
Namun, bibirnya tersenyum melihat kebahagiaan kakaknya tersebut. Dengan penuh banyak Lika liku dan drama membujuk kakaknya untuk menikah, kini hasilnya tidak sia-sia karena menemukan wanita yang sangat tepat untuk kakaknya.
Cukup bosan bermain dengan ponselnya, Meysi tertidur dengan posisi tengkurap, hingga tengah malam tertidur membuatnya tidak menyadari jika suaminya sudah kembali.
Arga membuka pintu kamar pelan, melihat Meysi sudah tertidur pulas. Lalu kembali menutup pintu, karena tidak ingin mengganggu tidur Meysi.
Grep!
Arga merasakan ada pelukan yang memeluknya dari belakang, ia sangat yakin jika itu bukan Istrinya.
Ia langsung melepaskan kasar tangan tersebut.
“Novi, apa yang kamu lakukan? Apa kamu sudah gila?!” tanya Arga terlihat bingung.
“Iya, aku sudah gila. Gila karena cintamu, yang sejak dulu menolakku. Apa salahku, sehingga kamu berulang kali menolakku?” sentak Novi
“Kamu bicara apa? Aku tidak mengerti! Sebaiknya kamu Kembali tidur!”
“Tidak. Sebelum kamu mengatakan jika kamu mencintai ku!”
“Apa kamu sudah gila!” sentak Arga.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, jika Meysi terbangun dari tidurnya karena mendengar keributan di luar kamar, bahkan mendengar jelas percakapan mereka.
***