
Arga langsung menoleh ke arah belakang, tampak Reyhan menyungging senyumnya dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana kiri dan kanan.
“Tuan, kenapa bisa ada di sini?” tanya Arga heran.
“Kamu tidak perlu tahu, kenapa aku bisa ada di sini. Jadi, ini pekerjaanmu sekarang.”
Melirik gerobak yang di samping Arga.
Tampak Arga mengangguk pelan.
“Apa aku boleh masuk ke rumahmu? Aku ingin bicara serius padamu!”
Arga kembali mengangguk, lalu mengajak Reyhan untuk masuk ke dalam rumahnya.
Saat masuk, Reyhan menatap sekeliling rumah tersebut yang terbuat dari kayu, bahkan jauh dari kata mewah.
“Tuan, aku akan mengambilkan air untuk Tuan.”
“Tidak perlu, aku kemari ingin bertemu denganmu.”
Reyhan duduk di kursi yang terbuat dari kayu tersebut, begitu pun dengan Arga hanya meja kecil yang menjadi penghalang mereka.
“Apa kamu pantas di sebut sebagai pria yang bertanggung jawab?!” menatap tajam Arga.
Arga langsung mengerti dengan arah pembicaraan Reyhan.
“Aku minta maaf atas apa yang telah aku lakukan! Tuan bisa langsung menghukumku sekarang,” lirih Arga sambil menunduk.
“Itu sudah jelas, tanpa di minta aku akan menghukummu! Berani sekali dirimu, setelah menikahi adikku dan pergi begitu saja!”
Arga menutup matanya sejenak, sambil menghela napas berat.
“Aku akan bertanggung jawab. Aku akan menghubungi Meysi besok dan membebaskannya dari pernikahan ini.”
“Kurang ajar! Kamu ingin menjadikan adikku seorang janda?!”
“Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan, Tuan. Pernikahan ini sebuah kesalahan, dimana Meysi juga pasti sangat keberatan dengan pernikahan dadakan ini. Pasti Meysi sangat membenci ku saat ini, sebenarnya ini hanya salah paham.”
“Jika Tuan, ingin melaporkan aku ke polisi, aku siap di penjara!” tambah Arga lagi.
“Kamu yakin ini hanya salah paham? Atau memang kamu sebenarnya juga menyukai adikku?”
Deg!
Kebingungan kembali melanda dirinya, di sisi lain sebenarnya ia menyukai Meysi. Namun, tidak dengan Meysi.
“Arga,” panggil Reyhan.
“Pulanglah ke rumah, kita harus menyelesaikan masalah kalian berdua. Setelah itu, ku serahkan pada kalian. Jangan pergi dan meninggalkan masalah ini di rumah.”
“Aku tidak pergi Tuan. Saat itu, aku ingin bertanggung jawab dan menceritakannya pada Tuan yang sebenarnya. Ayah menentangku dan langsung mengusir ku dari rumah.”
“Sekarang aku yang memintamu untuk kembali pulang, kita selesaikan masalah kalian di rumah,” ujar Reyhan.
Menepuk bahu Arga.
“Besok pagi bersiaplah, aku akan menjemputmu.”
Tampak Arga kembali menghela napas berat, lalu mengangguk pelan.
Setelah ia berpikir, Reyhan berkata benar. Jika dirinya seharusnya tidak pergi dan meninggalkan masalah tersebut.
__ADS_1
Arga mengantar Reyhan hingga teras rumahnya. Setelah Reyhan menghilang dari pandangannya, Arga kembali membersihkan gerobaknya yang masih berantakan dengan sisa mangkok yang kotor.
***
Ke esokkan paginya, Meysi mengerjapkan kedua matanya dan melihat jam dinding yang ada di kamar Vina, jam tersebut sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi.
Meysi melihat Vina yang sudah terbangun di sampingnya, bahkan menatapnya dengan tersenyum.
“Sehat Vin?” gurau Meysi kembali menutup wajahnya dengan selimut.
Vina menarik paksa selimut tersebut.
“Bangun! Kamu harus menjelaskannya padaku!” ujar Vina menarik paksa selimut tersebut.
“Menjelaskan apa?” tanya Meysi bingung.
“Huftt! Masih mau menutupinya dariku?! Aku sangat kesal padamu!” memukul pelan bahu Meysi, lalu duduk bersandar di bahu tempat tidur.
“Apa sih? Seharusnya aku yang marah, kenapa kamu yang jadi marah!” celetuk Meysi.
“Kenapa kamu menutupi pernikahanmu dengan Arga?” tanya Vina sambil melipat kedua tangan.
Deg!
Meysi langsung terdiam, ia mencoba mengingatnya lagi. Dirinya tidak ada bicara tentang pernikahannya dengan Vina sejak kemarin.
“Kamu pasti berpikir sekarang. Dari mana aku mengetahui ini?” seakan mengerti dengan pikiran Meysi saat ini.
“Dari mana kamu mengetahui ini?” tanya Meysi.
“Kak Reyhan menghubungi ku semalam dan menceritakannya semua. Hiks ... kamu jahat! Kenapa kamu tidak memberitahuku?”
“Dasar singa betina!” kesal Vina meninju bahu sahabatnya tersebut.
“Tidak perlu! Aku sudah tahu semuanya.” Mengusap lembut pipi sahabatnya.
“Aku ikut bahagia dengan atas pernikahan kalian.”
“Vin, aku tidak yakin dengan pernikahan ini. Arga sudah pergi dari rumah dan hingga sekarang aku tidak tahu keberadaannya. Pernikahan ini hanya sebuah kesalahpahaman saja, mungkin akan berakhir sebentar lagi!”
Vina mengusap punggung sahabatnya tersebut, terlihat banyak beban di pikirannya saat ini.
“Aku yakin, kamu mampu melewati semua ini. Pernikahan kalian ini sah, berpikir dulu sebelum mengakhirinya.”
“Temui Arga sekali saja, kalian harus mencari jalan tentang masalah pernikahan kalian. Jangan saling menghindar!”
“Huftt ... Bahkan aku tahu keberadaan dia sekarang. Ponselnya tidak bisa di hubungi, aku sudah mencoba berkali-kali.”
Meysi sudah pasrah dengan jalan hidupnya saat ini.
Drrtt! Drrtt! Suara getar ponsel Meysi, terlihat jelas nama kakaknya Reyhan di layar ponsel itu.
“Halo kak.”
“Keluar lah, aku ada di depan rumah sekarang!”
Meysi membulatkan matanya, ia memicingkan matanya pada sahabatnya tersebut.
“I-iya,” sahutnya lalu mengakhiri panggilannya.
“Kamu!” menunjuk Vina yang sedang tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
“Awas saja!” ancamnya pada sahabatnya.
Meysi melangkah keluar kamar, dan setengah berlari menuju pintu keluar.
Terlihat Reyhan menunggunya sambil bersandar di bahu mobil.
“Kakak kenapa kemari? Aku sedang cuti!”
“Cuti bagaimana? Paman Toni tidak menerima surat pengajuan cutimu, sekarang kemasi barangmu! Aku menunggumu di sini.”
“Tapi kak!”
“Aku tidak menerima penolakan! Aku tidak punya banyak waktu!”
Dengan langkah malas, Meysi kembali masuk ke dalam rumah sahabatnya.
Tiba di kamar, Vina sudah mengemasi semua barangnya.
“Vin, tega banget sih!” kesal Meysi.
“Ini semua kebaikan kamu! Setelah semua beres, aku menunggu kedatangan mu lagi.”
“Huftt ... kamu jahat sekali!” mulut berkata kesal, akan tetapi tidak dengan hatinya yang menarik Vina dalam pelukannya.
“Sekarang pulang lah. Jangan biarkan Kak Reyhan menunggumu lama di luar sana.” Melepaskan pelukannya.
“Tapi, aku belum mandi.”
“Mandi di rumahmu saja. Aku tidak punya air!” protes Vina.
“Jahat sekali. Untung cantik,” gerutunya.
Vina terkekeh mendengar gerutu sahabatnya tersebut, ia tidak ikut mengantar sahabatnya hingga ke teras rumah. Akan tetapi, ia masih menatapnya dari balkon rumahnya.
Sebelum keluar, Meysi lebih dulu berpamitan pada ibu dari Vina dan juga kakak lelaki Vina.
Setelah itu, ia bergegas keluar rumah dengan menggeret koper kecil miliknya.
Dalam perjalanan, Meysi tampak banyak diam sambil melihat keluar jendela.
Namun, Meysi heran dengan jalan yang tidak menuju ke arah bandara.
“Kita mau ke mana?” tanya Meysi.
“Aku menjemput temanku, setelah itu kita pulang.”
Meysi mengangguk mengerti, tanpa menaruh curiga.
Tanpa Meysi sadari, jika dirinya dan Arga ternyata berada di kota yang sama.
Meysi melihat rumah sederhana yang masih tertutup rapat tersebut, tanpa ia tahu jika itu adalah rumah kontrakan yang Arga tempati.
“Keluar lah,” ujar Reyhan membuka pintu mobil untuk adiknya.
“Kita mau ke mana kak?” tanya Meysi tambah bingung.
“Jangan banyak tanya, cepat keluar!”
Dengan terpaksa, Meysi keluar dan mengikuti kakaknya dari belakang.
Bersamaan dengan Arga yang membuka pintu rumah, karena mendengar suara deru mesin mobil yang datang.
__ADS_1
Langkah Meysi terhenti, saat melihat Arga di ambang pintu yang juga saat itu tengah menatapnya.
***