Istri Untuk Reyhan

Istri Untuk Reyhan
Bab 18


__ADS_3

Pagi ini Meysi baru saja bisa tertidur, karena di rumahnya sudah terbiasa tidur menggunakan AC sehingga dirinya sedikit kesulitan untuk tidur. Sedangkan, di rumah Zahra hanya menggunakan kipas angin kecil saja.


Tok! Tok!


Zahra yang sedang sibuk berkutat di dapur mendengar ketukan pintu dari luar.


Zahra menatap sang adik, Zanira yang mengerti tatapan sang kakak ia mengangkat kedua bahunya, tanda ia tidak mengetahui juga siapa yang datang.


Zahra meletakkan pisau dapurnya, lalu perlahan melangkah menuju pintu rumahnya.


Saat hendak membuka pintu, bersamaan dengan Zain adik bungsu Zahra yang ingin berangkat sekolah.


Zain membuka pintunya, mereka berdua sedikit terkejut melihat kedatangan seorang pria yang tidak mereka kenal berdiri di depan pintu, akan tetapi ada satu pria yang begitu tidak asing bagi Zahra yang tengah berdiri di belakang dua pria di depannya, yaitu Arga.


Zahra dan pria yang ada di hadapannya saling menatap satu sama lain, bahkan tanpa berkedip.


“Tuan,” panggil Toni dari belakang, karena mematung di depan pintu.


Dia adalah Reyhan, semalam mereka sudah menemukan titik lokasi Meysi dan ternyata dirinya berada di salah satu rumah kecil.


Arga yang melihat titik lokasi tersebut, ia sangat yakin jika Meysi berada di rumah Zahra. Karena lokasi tersebut mengarahkan ke rumah Zahra.


Mereka memutuskan untuk membiarkan Meysi tetap di sana, mereka semua bernapas lega karena Meysi baik-baik saja.


Mendengar suara Toni, Zahra langsung tersadar.


“Sialan, kenapa wanita ini cantik sekali,” gumam Reyhan dalam hati.


“Tuan,” panggil Toni lagi dengan suara pelan sembari menepuk punggung Reyhan.


“Apa yang sedang anda pikirkan? Jangan membuat mereka menunggu,” bisik Toni.


“Cari siapa?” tanya Zahra.


“Kami mencari Nona Meysi? Apakah dia berada di rumah ini, menurut titik lokasi yang kami lihat, bahwa Nona Meysi berada di rumah ini.”


Arga melambaikan tangan pada Zahra dari belakang Toni.


Membuat Zahra semakin bingung, kenapa Arga bisa bersama dengan mereka datang ke rumahnya.


“Maaf, kedatangan kami membuat anda bingung. Perkenalkan ini adalah Kakak dari Meysi,” ujar Toni memperkenalkan tuannya.


“Astaga, mimpi apa aku semalam. Dia sangat tampan sekali, apa ini pria yang di maksud oleh Nona Meysi?” gumamnya dalam hati.


“Nona,” panggil Toni lagi.


“Ah! Iya, silakan masuk dulu,” ujar Meysi.


Mereka melangkah masuk, lalu duduk di kursi yang ada di ruang tamu.


“Nona Meysi ada di dalam kamar. Nona masih tidur, aku akan membangunkan nya,” tuturnya.


“Eh tidak perlu. Apa aku boleh melihat adikku ke kamar?” tanya Reyhan.

__ADS_1


Zahra berpikir sejenak, lalu mengangguk pelan.


Saat melangkah menuju kamar, Reyhan mengikuti langkah Zahra bahkan hampir sejajar, sesekali Reyhan mencuri pandang pada Zahra.


Ceklek!


Zahra membuka pintu kamarnya, Reyhan melihat sekeliling kamar yang terlihat kecil. Namun, masih tertata dengan sangat rapi.


Lalu netranya tertuju pada gadis yang masih meringkuk di ranjang kecil, tertidur pulas dengan napas yang beraturan.


“Apa dia baru tidur?” tanya Reyhan.


“Iya, Nona baru bisa tidur. Mungkin sangat gerah, karena hanya menggunakan kipas angin kecil. Maaf jika rumah saya kecil dan berantakan.”


Reyhan tidak menjawab, ia melangkah dan duduk di tepi kasur.


“Mey,” panggilnya pelan sembari memegang tangan adiknya.


tidak ada pergerakan sama sekali pada adiknya tersebut, Meysi yang tidur begitu pulas tanpa peduli orang sekitanya lagi.


“Mey, bangun. Ini Kakak,” Ujarnya.


Perlahan Meysi mengerjapkan kedua matanya, yang pertama ia lihat adalah kakaknya. Kemudian melihat sekelilingnya, dia baru menyadari jika dirinya tidak di kamarnya.


Meysi perlahan duduk, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


“Meysi, maafkan Kakak ya.” Hendak mengusap wajah adiknya. Namun, tanpa di duga, Meysi sedikit menghindar.


“Meysi, kamu marah?”


“Kenapa Kakak kemari?”


“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja aku mengkhawatirkan mu! kabur dari rumah tidak memberitahu semua orang!”


“Aku tidak kabur!” ketus Meysi sembari melipat tangannya.


“Pergi tanpa memberitahukan orang rumah, itu namanya kabur!” kesal Reyhan, namun masih berkata lembut.


“Kita pulang sekarang ya,” ajak Reyhan.


“Aku tidak mau!”


“Jadi, apa mau mu? Jangan menguji kesabaran ku, ini bukan rumah kita!” masih menahan emosinya.


Melihat percakapan antara kakak dan adik tersebut, Zahra perlahan keluar dari kamar tersebut.


Namun, baru beberapa langkah, dirinya di panggil oleh Meysi.


“Zahra, tolong tunjukan kamar mandi kalian. Aku sangat ingin buang air kecil,” ujarnya pada Zahra yang hendak berlalu pergi.


Zahra mengangguk.


Reyhan hanya menghela napas berat, melihat adiknya selalu menghindar.

__ADS_1


“Bagaimana Tuan?” tanya Toni melihat Reyhan keluar dari kamar tersebut.


Reyhan menggelengkan kepalanya pelan.


“Eh ada tamu? Apa temannya Zahra?” tanya sang ibu yang baru keluar dari kamarnya.


“Iya, Tante,” sahut Arga yang duduk paling ujung.


“Eh Arga, kamu di sini?” tanyanya karena baru melihat ada Arga.


“Iya, Tante. Ini Ayah saya dan ini adalah Kakaknya Meysi,” Ujar Arga memperkenalkan Reyhan dan Ayahnya pada ibunya Zahra.


“Iya, Tuan. Salam kenal, saya ibunya Zahra. Maaf, keadaan rumah saya begini, sangat kecil.” Ibunya Zahra perlahan melangkah, karena merasa sakit di bagian tumitnya dan duduk di kursi kosong.


“Saya sangat berterima kasih pada adik anda Tuan, dia sangat berhati malaikat. Nak Meysi begitu banyak membantu kami, termasuk membiayai rumah sakit.”


Reyhan mengernyit heran, rupanya adiknya sudah begitu dekat dengan keluarga Zahra.


“Iya, Bu. Tidak perlu berterima kasih, itu sudah kewajiban untuk membatu sesama.”


Namun, Reyhan baru menyadari sesuatu. Ia menatap Toni, tatapan minta penjelasan.


Tak lama, Zahra membawakan teh hangat untuk mereka dan beberapa camilan pisang goreng dari dapur.


Toni menghela napas lega, karena menyelamatkan dirinya dari tatapan Reyhan padanya.


“Diminum dulu Tuan, tehnya. Arga, kamu juga.” Meletakkan teh tersebut di meja.


“Ibu, bagaimana dengan kaki ibu? Masih sakit?” tanya Zahra terlihat khawatir, ia tidak malu memeriksa keadaan kaki ibunya.


Reyhan masih menatap wajah gadis yang tengah memeriksa keadaan ibunya, Reyhan langsung teringat ibunya yang sudah bertahun-tahun lamanya pergi menghadap sang maha kuasa.


“Apakah dia wanita yang di maksud oleh Meysi?” gumamnya dalam hati.


“Tuan, apa yang sedang anda pikirkan?” bisik Toni melihat Reyhan melamun sambil menatap Zahra.


“Hah, tidak. Dimana Meysi?” tanyanya.


“Nona masih mandi, Tuan. Mungkin sebentar lagi akan selesai,” sahut Zahra.


“Maaf, saya permisi bawa ibu saya ke kamar dulu. Sudah waktunya untuk minum obat,” pamit Zahra menggandeng tangan ibunya.


Toni dan Reyhan mengangguk, sementara Arga sibuk makan camilan yang ada di meja.


“Paman, apa ini wanita yang di katakan oleh Meysi?” bisiknya.


Toni hanya mengangkat kedua bahunya, karena ia tidak mau memberitahunya.


“Aku yakin Paman sedang berbohong. Tidak mungkin Paman tidak mengetahui ini!” Ujarnya penuh selidik.


Toni hanya diam sambil menyeruput tehnya dan tidak menghiraukan ucapan Reyhan.


Selesai mandi, Meysi menghampiri kakaknya yang tengah duduk di ruang tengah. Sebelum duduk, ia lebih dulu menatap Arah dengan tatapan tajam.

__ADS_1


Membuat nyali Arga menciut, karena melihat tatapan tajam Meysi padanya.


***


__ADS_2