Istri Untuk Reyhan

Istri Untuk Reyhan
Bab 57


__ADS_3

Arga melangkah menuju ringan kerja, yang dimana ayah dan Kakak iparnya menunggu dirinya.


Dengan segelas kopi di sebelah tangan kanannya, sementara tangan kiri menggeser pintu ruang kerja yang ada di rumah tersebut hingga terbuka lebar.


Tampak di dalam Reyhan dan Toni masih berbicara serius, mereka bersamaan menoleh ke arah pintu saat Arga datang.


“Apa Meysi sudah tidur?” tanya Reyhan.


Arga mengangguk


Ia mendaratkan bokongnya di kursi, lalu mulai menyeruput kopinya.


“Arga, kamu pasti juga mengenal Novi, bukan?” tanya Reyhan menatapnya dengan serius.


Arga kembali mengangguk, ia meletakkan gelas tersebut ke meja.


“Saat masih di kota z, Novi juga datang ke kontrakan kami. Mulai saat itu aku melihat gelagat Novi yang sangat aneh dan mencurigakan.”


“Aneh?” Reyhan mengernyit heran.


Arga mulia bercerita tentang kedatangan Novi ke kontrakan mereka, Novi yang terobsesi dengan dirinya tidak peduli ada Meysi di kamar. Tanpa ragu memeluk dirinya, bahkan meminta Arga untuk membalas pelukannya.


Sudah jelas Arga tidak mau, karena Novi bukan istrinya.


Saat ingin mengantar Novi ke rumahnya, Novi kembali memeluknya. Arga tidak habis pikir, bagaimana bisa Novi menyukai suami dari sahabatnya sendiri.


Reyhan menggelengkan kepala pelan, melihat percintaan adiknya yang cukup rumit.


“Saat ini Novi sudah mendekam di penjara dan besok pasti banyak wartawan di depan rumah. Berita ini pasti akan tersebar ke mana-mana, aku harap Meysi tidak melihat berita ini.”


Arga mengangguk.


Lalu Arga kembali menceritakan ada wanita setengah baya datang ke apartemen mereka, dengan mengatas namakan dirinya.


Setelah di selidiki oleh ayah dan dirinya. Ternyata wanita itu di bayar oleh Novi untuk meracuni Meysi, nasib beruntung berpihak pada Meysi saat itu, ia tidak makan sama sekali hingga suaminya kembali ke apartemen.


“Berarti gadis itu sudah merencanakan niat jahat itu sebelumnya? karena sudah berani membayar orang hanya untuk meracuni adikku.”


“Mungkin bisa di bilang begitu.”


Reyhan kembali mengangguk.


“Untuk saat ini tidak perlu kembali ke apartemen, sampai semuanya benar-benar aman. Gadis itu sangat berbahaya, wajah polosnya sangat menipu!” kesal Reyhan mengingat Novi yang begitu sangat baik dan sopan pada semua orang yang ada di rumahnya.


Namun, ternyata Novi tak lebih dari seorang psikopat.


Perbincangan mereka selesai hingga jam dua dini hari, Toni lebih dulu berpamitan di susul oleh Reyhan.


Berharap ia kembali ke kamar bisa beristirahat dan tidak ada permintaan Zahra yang aneh-aneh lagi padanya.


Sementara Agra masih berkutat dengan laptopnya, karena memang ada pekerjaan yang belum ia selesaikan.


Cukup melelahkan baginya, ia harus membantu istrinya dan ayahnya di kantor. Lalu ia menjalani bisnisnya yang sedang ia geluti saat ini.


***


Sementara Reyhan baru saja membuka pintu kamar mereka, tampak Zahra menatap kesal dirinya sembari melipat tangannya.


“Ada apa lagi ini?” gumamnya dalam hati.


Reyhan menelan salivanya dengan kasar, ia berpura-pura tidak melihat wajah istrinya yang cemberut.

__ADS_1


“Sayang, kok belum tidur?” tanyanya tanpa melihat Zahra sembari melepaskan jam tangannya dan meletakkannya pada tempatnya.


Tidak ada jawaban dari Zahra, ia hanya melipat tangannya menatap arah lurus.


Sebelum menyusul Istrinya ke tempat tidur, Reyhan lebih dulu melangkah ke kamar mandi.


Sekitar 10 menit di kamar mandi, Reyhan melangkah ke tempat tidur.


“Sayang, kenapa belum tidur?” tanya Reyhan ikut duduk di samping istrinya.


Bukannya menjawab, Zahra malah menangis.


“Hiks ... hiks ... kamu jahat! Kamu sudah tidak mencintaiku lagi?” ujar Zahra dengan suara yang terbata-bata akibat menangis.


Reyhan semakin bingung dengan perkataan istrinya barusan, sebelumnya ia tidak memarahi Zahra apalagi berkata apa yang seperti Zahra ucapannya.


“Memang kapan aku bilang, jika aku tidak mencintaimu?” tanya Reyhan lembut sembari mengusap air mata yang mengalir begitu saja di pipi istrinya.


Reyhan harus ekstrak sabar kali ini, karena hormon istrinya yang begitu cepat berubah.


“Buktinya, saat masuk ke kamar kamu tidak mau melihatku!” kesal Zahra memukul pelan bahu istrinya.


Reyhan berpikir sejenak, lalu terkekeh.


Sebenarnya bukan tidak ingin melihat istrinya, hanya saja dirinya menghindari dari tatapan istrinya.


“Kenapa tertawa? Apa ada yang lucu? Atau kamu senang sekarang?” Zahra kembali kesal melihat suaminya malah terkekeh.


“Kamu ini sensitif sekali. Memangnya, kalau aku tidak menatapmu itu aku sudah tidak mencintaimu? Kamu ini ada-ada saja,” ujar Reyhan menarik Zahra ke dalam pelukannya.


“Bahkan, cintaku padamu itu semakin hari semakin bertambah.”


Berulang kali Reyhan mengecup pucuk kepala istrinya.


“Aku lapar,” ucap Zahra lirih.


“Kamu lapar?” tanya Reyhan melepaskan dekapannya lalu menatap istrinya.


Zahra mengangguk.


“Mau makan apa?” tanya Reyhan sembari merapikan rambut istrinya yang sedikit berantakan.


Meskipun sebenarnya Reyhan sangat lelah, akan tetapi ia harus melayani kemauan istrinya.


“Mau makan nasi goreng. Tapi ....” Zahra menggantungkan ucapannya.


“Tapi apa?” tanya Reyhan penasaran.


“Tapi, aku sendiri yang ingin memasaknya. Sayang harus menemaniku di dapur,” tutur Zahra.


Sebelum kedatangan suaminya, Zahra melihat makanan dari iklan yang ada televisi. Nasi goreng mentega yang begitu lezat, bahkan membayangkannya saja sudah begitu nikmat. Zahra berulang kali menelan salivanya, merasa begitu nikmat jika nasi goreng tersebut sudah mendarat di tenggorokannya.


“Apa kamu mau menemaniku? Hanya menemaniku saja,” ujar Zahra menatap sang suami yang tampak diam saja.


“Tentu saja. Untuk istriku apapun akan aku lakukan,” ujarnya memperlihatkan senyum di bibir ranumnya.


“Oke, baiklah. Ayo,” ajak Zahra.


Ia menarik lengan suaminya, mereka melangkah bersama untuk menuruni tangga.


Setiba di dapur, tangan lihai Zahra mulai memasak. Reyhan melihat punggung istrinya yang ikut bergerak mengikuti irama tangan Zahra yang mulai mengaduk nasi goreng tersebut.

__ADS_1


Sementara dirinya hanya duduk di kursi, sembari melipat tangannya.


Setelah selesai, Zahra menyajikan nasi goreng itu di piring dan mengambil sendok lalu melangkah duduk di sebelah suaminya.


“Wangi sekali,” ujar Zahra mencium aroma masakannya sendiri.


Reyhan menghela napas lega, karena malam ini Zahra tidak meminta makanan aneh lagi.


Satu suapan masuk ke dalam mulutnya, akan tetapi Zahra tidak melanjutkan makannya lagi.


“Kenapa?” tanya Reyhan melihat istrinya tidak melanjutkan makannya, padahal baru beberapa suap.


“Tidak enak!” mendorong pelan nasi goreng tersebut.


Reyhan mengambil sesendok nasi goreng tersebut, lalu memasukkan ke dalam mulutnya.


Reyhan mengernyit heran, padahal nasi goreng itu sangatlah enak.


“Enak?” tanya Zahra melihat sang suami menikmati makanan tersebut.


Reyhan mengangguk.


“Nasi gorengnya sangat enak, sayang. Kemari aku suapi,” ujar Reyhan menyendokkan kembali nasi tersebut dan menyodorkan pada istrinya.


Namun, Zahra menggeleng karena tidak suka dengan rasa nasi goreng tersebut.


“Makan saja, sayang. Aku tidak suka dengan rasanya,” tolak Zahra.


Karena Reyhan memang merasa lapar, ia menghabiskan makanan yang di buatkan oleh istrinya.


“Lapar?” tanya Zahra melihat suaminya begitu lahap makan, bahkan nasi di dalam piring itu sudah hampir habis.


Reyhan mengangguk.


Selesai makan, mereka melangkah kembali ke kamar mereka.


Karena baru selesai makan, Reyhan tidak langsung merebahkan tubuhnya, ia duduk dan bersandar di tempat tidur.


Sementara Zahra memeluk perut suaminya, terbesit di pikirannya untuk mengerjai suami.


Zahra duduk dan mulia mencium leher serta bagian sensitif lainya.


“Sayang, jangan seperti ini. Jangan salahkan aku jika malam ini kamu tidak bisa tidur!” ancam Reyhan sembari menahan sesuatu di sana.


Karena Zahra begitu nakal menggoda dirinya, bahkan Zahra sangat tahu jika Reyhan tidak bisa menahannya jika di goda oleh istrinya.


Namun, Zahra tidak menghiraukan ucapan suaminya. Ia terus saja mencium singkat di bagian yang sangat sensitif.


“Jangan salahkan aku jika aku tidak bisa menahannya,” bisik Reyhan mulai menyatukan bibir mereka.


Saling membalas satu sama lain, awalnya lembut lalu menjadi ganas.


Reyhan mulai melepaskan pakaiannya mereka secara bergantian dan membuangnya ke sembarang arah.


Reyhan melakukannya dengan sangat berhati-hati dan juga lembut. Mengingat ada calon bayinya di perut Istrinya yang s sudah terlihat menonjol, karena tidak ingin membahayakan keduanya.


Hingga mereka menikmati malam yang indah bersama.


Reyhan menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka, setelah selesai penyatuan Zahra tampak langsung tertidur pulas.


Reyhan melirik jam dinding, yang sudah menunjukkan pukul 04.00 dini hari.

__ADS_1


Lalu ia juga merebahkan tubuhnya dan menyusul istrinya ke alam mimpi.


***


__ADS_2