Istri Untuk Reyhan

Istri Untuk Reyhan
Bab 26


__ADS_3

Tangan Reyhan mulai membuka satu persatu kancing baju sang istrinya, tampak jelas terlihat sangat gugup di wajah Zahra.


“Ini pertama untukmu?” tanya Reyhan pelan, akan tetapi tangannya masih aktif membuka kancing baju.


Zahra mengangguk pelan.


“Ini juga yang pertama untukku. Jika ini menyakitimu, katakan padaku aku tidak akan melakukannya.”


Walaupun Reyhan belum pernah melakukannya. Akan tetapi dirinya sedikit banyaknya tahu tentang melakukan hal itu, karena begitu banyak temanya yang sudah menikah menceritakan hal tersebut padanya.


Mendengar ucapan suaminya, Zahra kembali mengangguk.


Perlahan Reyhan mulai membuka pakaian sang istri, tak dapat di pungkiri jika dirinya juga terlihat gugup.


Kini mereka berdua sama-sama tidak menggunakan pakaian sehelai benang pun, awalnya Zahra merintih kesakitan.


Hingga Reyhan tidak tega untuk melanjutkannya lagi, akan tetapi Zahra memintanya untuk melanjutkannya saja. Karena Zahra tidak tega melihat sang suami, apalagi menahan sesuatu yang belum di tuntaskan.


Hingga awalnya merintih kesakitan, perlahan kesakitan itu mulia menghilang. Kini mereka berdua menikmati malam pertama yang indah, di temani dinginnya angin malam karena derasnya air hujan yang turun di luar sana.


***


Sementara itu di rumah Mesya dan Indra.


Terjadi perdebatan sengit antara Mila dan Indra. Bahkan Mesya tidak bisa menahan mereka lagi, hingga dirinya harus memanggil beberapa penjaga rumahnya. Untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.


Sebulan yang lalu, setelah pernikahan Reyhan kakak iparnya. Rupanya Mila kembali datang ke rumah mereka, saat Mila lengah kesempatan Indra untuk mengambil rambut anak kecil itu.


Indra Kembali melakukan tes DNA, tanpa sepengetahuan Mila dan hasilnya sangat mengejutkan Indra dan Mesya.


Karena sangat kesal pada yang ibunya untuk memintanya menikahi Mila, karena harus bertanggung jawab atas anak tersebut.


Selama sebulan terakhir, Indra membiarkan Mila datang ke rumah. Kadang dirinya tidur di rumah mereka beberapa hari, Mesya tidak mempermasalahkan hal tersebut selama tidak mengganggu dirinya.


Mesya dan Indra tetap menjalani sandiwara mereka, jika di depan Mila mereka tampak tidak saling bertegur sapa. Namun, jika sudah di kamar mereka begitu sangat mesra.


Indra sering sekali protes pada istrinya, Kenapa mereka harus menjalani sandiwara seperti ini. Namun, berulang kali juga Mesya menjelaskan padanya.


Plak!


Tamparan keras mendarat di pipi mulus Mila, bahkan ia mengusap bekas tamparan tersebut yang terasa sangat pedas.


“Wanita penipu! Murahan!” bentak Indra menatap tajam Mila.


“Apa lagi salahku? Kenapa kau menamparku, di depan anakmu?!” protes Mila.


“Anakku katamu?! Cih ... entah siapa ayah dari anak itu!” melempar keras tersebut ke wajah Mila.


Mila mengambil kertas yang di lempar oleh Indra padanya, dan membacanya dengan teliti.


Mila terlihat panik setelah membaca kertas yang ternyata hasil dari tes DNA tersebut, akan tetapi ia berusaha tetap tenang di depan Mesya dan Indra.


“A-apa ini? Ini pasti bohong!” masih bersikeras mengelak.


“Nona, anda percaya bukan sama saya?! Saya berani bersumpah, jika anak ini memang benar anaknya Indra.” Mengambil tangan Mesya, Indra yang melihatnya langsung menepis tangan Mila yang menyentuh tangan istrinya.


“Jauhkan tangan kotormu itu dari istriku! kamu tidak bisa membohongi kami lagi! Keluar dari rumah ku sekarang!” bentak Indra menatap tajam Mila.


Mesya melihat sang suami yang begitu sangat marah, ia mengusap punggung sang suami.


“Sabar, Sayang.”


“Mila, anak itu tidak bersalah. Jangan kamu jadikan umpan, aku tidak menyangkal jika kalian dulu pernah menjalin kasih. Tapi, hubungan kalian sudah lama berakhir. Jadi, jangan memfitnah suamiku! Semua bukti sudah jelas, bahkan aku sendiri yang ke rumah sakit untuk meminta Dokter mencocokkan DNA itu,” ujar Mesya masih berkata lembut.


Mila seakan di tampar dengan ucapan Mesya, bahkan ia tidak bisa mengelak lagi.

__ADS_1


“Asal kamu tahu ya Mesya! Kami hanya berpisah sementara dan hingga sekarang kami belum mengakhiri hubungan kami. Jadi, di sini kamu lah yang pengganggu hubungan kami.” geram Mila.


“Jaga bicara mu! Pak, tunggu apa lagi?! Bawa wanita tidak waras ini keluar dari rumah ini!”


“Ayo keluar dari rumah ini. Jika anda tidak mau, jangan salahkan kami jika membawa dengan paksa!”


Mila memberontak, sehingga butuh dua penjaga untuk membawa Mesya keluar.


“Kamu itu hanya jadi pelampiasan saja, Indra hanya ingin hartamu dan setelah mendapatkan semuanya ia akan kembali padaku!” teriak histeris Mila sambil berjalan di paksa oleh penjaga rumahnya.


“Diam kau!” bentak Indra hendak melangkah mendekati Mila yang tengah di bawa paksa.


“Sayang, sudah, cukup.” Menarik sang suami untuk duduk di sofa.


“Mama,” panggil putra dari Mila yang baru keluar dari kamar tamu.


Indra dan Mesya menatap anak kecil yang tidak bersalah tersebut.


“Sayang ... kemari,” ujar Mesya hingga membuat Indra berdecap kesal, melihat sang istri masih baik pada anak kecil tersebut.


“Nona, maaf. Putranya ketinggalan,” ujar penjaga tersebut berlari kecil.


Penjaga tersebut langsung menggendong bocah tersebut dan membawanya untuk keluar rumah itu.


Melihat sang suami memijit kepalanya, Mesya berinisiatif untuk mengambilkan air minum untuknya.


“Sayang, minum dulu.” Menyerahkan gelas berisi air putih tersebut.


Indra mengambilnya dan meminumnya hingga habis.


“Aku tidak habis pikir, wanita itu memang ular. Bahkan, Mama sendiri langsung percaya padanya!” kesal Indra.


Karena ulah Mila yang mengadu domba, membuat sang ibu meminta Indra untuk menikahi Mila dan mempertanggung jawab kan semuanya.


Sehingga itu, Indra berpikir untuk tes DNA kembali. Karena dirinya sangat yakin, jika anak itu bukanlah darah dagingnya.


Menarik pelan lengan Indra yang masih terlihat marah.


Indra beranjak dari tempat duduknya, mengikuti langkah sang istri untuk ke kamar.


Setibanya di kamar, Indra langsung ke kamar mandi untuk menyegarkan dirinya.


Melihat sang suami masuk ke kamar mandi, Mesya bergegas kembali keluar untuk menemui Mila yang masih berteriak di luar rumahnya.


Karena ia sangat tahu, jika Indra mandi pasti sangat lama.


“Pak!” panggil Mesya pada penjaga yang berada di pos depan rumahnya.


“Iya, Nona.”


“Antarkan mereka ke rumahnya. Ini sudah larut malam, kasihan anaknya.”


Penjaga tersebut mengangguk.


“Mesya, kamu harus mengetahui ini! Biarkan aku masuk!” teriak Mila di luar pagar.


“Mesya, dengarkan aku dulu!” kembali berteriak.


Mesya melangkah lebih dekat, mendekati pagar rumahnya.


“Pulang lah, apa kamu tidak kasihan pada putramu?! Ini sudah larut malam,” ujar Mesya masih memikirkan putra Mila yang masih di gendongannya.


“Tidak! Aku tidak akan pulang, sebelum aku bicara padamu!”


Mesya menghela napas.

__ADS_1


“Saat ini suamiku sangat marah. Besok temui aku di taman,” ujar Mesya.


Mila terdiam sejenak lalu mengangguk.


Melihat Mila setuju, dirinya kembali masuk karena suaminya pasti sudah menunggunya.


“Pak, antar mereka hingga ke rumahnya.”


Setelah mengatakan itu, Mesya melangkah cepat masuk ke dalam rumah.


Sebelum menaiki tangga, Mesya mengambil makan malam untuk sang suami. Karena mereka berdua memang belum makan sejak tadi sore.


Setibanya di depan kamar, Mesya menghela napas terlebih dahulu dan menyiapkan jawaban akan pertanyaan suaminya. Karena, sang suami pasti bertanya, ke mana akan pergi dirinya tadi.


Ceklek!


Pintu terbuka, memperlihatkan Indra yang tengah duduk di kasur sambil menyenderkan bahunya.


“Dari mana kamu?” tanya Indra menatap sang istrinya, pertanyaan itu sudah di tebak oleh Mesya.


Suasana di kamar tersebut langsung mencekam, hingga membuat Mesya menelan salivanya dengan kasar.


“A-aku, mengambilkan makanan untuk kita.”


Meletakkan nampan yang berisi makanan tersebut di meja, sekilas Indra melirik arah meja tersebut.


“Ayo kita makan,” ajak Mesya.


“Aku tidak lapar,” sahutnya membaringkan tubuhnya.


“Jadi, mas tidak ingin makan?” menatap sang suami yang mulai memejamkan matanya.


Tidak ada jawaban dari sang suami, membuat Mesya langsung cemberut.


Ia melangkah ke meja dan mengambil nampan tersebut, lalu melangkah dan membuka pintu balkon dengan kasar.


Karena kesal dengan sikap sang suami yang tiba-tiba dingin.


Indra yang semula ingin tidur, langsung tersadar. Jika saat ini istrinya pasti sedang marah.


“Sayang,” panggilnya beranjak dari tempat tidur dan menyusul sang istri ke balkon.


Indra menatap sang istri yang begitu lahap makan, ia baru menyadari jika mereka berdua memang belum makan sejak tadi sore.


“Kamu lapar?” tanya Indra pelan, karena mengetahui istrinya sedang marah saat ini.


“Hm ...” deham Mesya sambil makan tidak peduli dengan sang suami yang sedang menatapnya.


Ia bahkan meletakkan semua makanan yang di piring satunya, yang rencananya untuk sang suami ke dalam piringnya, ia makan dengan lahap.


“Sayang, kamu marah atau kesurupan?” tanya Indra menelan salivanya.


“Keduanya!” ketus Mesya.


Indra duduk di samping istrinya dan mengambil paksa sendok yang di tangan Mesya.


“Kita makan berdua ya. Maaf, aku sudah membuatmu marah.” Mengambil alih sendok tersebut.


Mesya tidak menjawab, ia masih sibuk mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya.


“Sayang, kita makan berdua ya. Aku juga sangat lapar,” ujar Indra mencoba membujuk sang istri.


Mesya hanya mengangguk.


Dari sejak menikah, sang istri begitu sangat khawatir jika dirinya tidak makan. Bahkan Mesya begitu memperhatikan kesehatan suaminya, sepertinya yang ia lakukan pada kakaknya Reyhan dan Meysi sama persis ia lakukan pada suaminya.

__ADS_1


Karena tidak ingin melihat orang yang sangat ia cintai sakit.


***


__ADS_2