
Siang ini, Mesya menepati janjinya untuk bertemu dengan Mila.
Setelah kepergian sang suami bekerja, tanpa sepengetahuan sang suami ia keluar dari rumah.
Tentu dengan orang rumah yang selalu ikut dengannya, karena wanita licik seperti Mila bisa melakukan apa saja untuk berbuat jahat.
Tanpa Mesya sadari, jika anak buah Toni yang selalu mengawasi gerak gerik Mesya, karena takut terjadi sesuatu pada Mesya.
Dari mereka kecil hingga sudah menikah, mereka semua tidak lepas dari pantauan Toni. Karena sudah berjanji pada mendiang nenek Dira, jika dirinya harus menjaga mereka semua dari tindakan kejahatan.
“Ke mana dia? Apa dia lupa?” gerutu Mesya, karena tidak melihat Mila datang.
Tak lama, datang beberapa pria mendekatinya bahkan ada yang membawa senjata tajam.
“Serahkan semua uangmu! Kalau tidak kamu akan kami culik,” Ujar beberapa pria tersebut.
Di taman itu tidak seperti biasanya, tidak satu orang pun di taman tersebut kecuali dirinya.
“Aku tidak mau!” ujar Mesya memeluk tas kecilnya, karena memang di dalam tas tersebut ada beberapa uang miliknya.
“Hei, apa kamu mau mati?! Serahkan tas mu itu, atau kamu mau mati di sini?!” Ujar penjahat tersebut sambil memperlihatkan senjata tajam tersebut.
Mesya tampak ketakutan, beruntung pria yang selalu menemaninya ketika dirinya bepergian datang menghampirinya.
“Apa yang kalian lakukan? Apa kalian tidak takut dengan ini?” ujarnya memperlihatkan senjata api yang masih menempel di pinggangnya.
Empat orang penjahat tersebut tampak diam, mereka terlihat ketakutan.
Mereka berempat langsung melarikan diri dari hadapan Mesya, yang semula garang kini lari terbirit-birit ketakutan.
Mesya menghela napas lega.
“Sebaiknya, Nona tunggu di dalam mobil saja. Ini terlalu bahaya untuk Nona, di luar sana banyak sekali penjahat.”
Mesya mengangguk.
Langkah kakinya terhenti, saat mendengar seseorang memanggilnya.
“Nona, maaf saya terlambat.”
Mesya hanya tersenyum dan mengangguk.
“Kita langsung ke intinya saja. Ini uang untuk kebutuhan kalian dan pergi jauh dari kehidupan keluarga kecilku!” mengambil uang dari dalam tasnya dan memberikan amplop coklat tersebut padanya.
“Apa ini?” tanya Mila menatapnya.
“Kau pasti tahu itu uang dan aku sangat memohon padamu. Jangan pernah mengganggu keluarga kecilku, kamu akan menerima sendiri akibatnya nanti!” ancam Zahra.
“Kau mengancamku?!”
“Lebih tepatnya memperingatkan!”
“Oh ya?! Sebelum memperingatkan ku, kau harus mengetahui ini dulu.”
Menatap Mesya sambil menyeringai licik.
“Apa yang harus aku ketahui?! Jika tentang masa lalu suamiku, sebaiknya kamu simpan saja. Aku sudah mengetahui semua masa lalunya dan jangan berpikir aku akan meninggalkan suamiku!” ujar Mesya penuh penekanan.
Mila mengangkat sudut bibirnya dengan tersenyum licik.
“Baiklah. Jangan menyesal suatu hari nanti!” ujar Mila meninggalkan Mesya yang masih berdiri menatapnya.
Melihat kepergian mila, ia langsung melangkah masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Sementara Mila melangkah ke gudang kosong yang tidak jauh dari taman tersebut.
“Dasar bodoh!” bentak Mila pada empat pria tersebut.
“Aku meminta kalian langsung menculiknya! Kenapa kalian takut hanya dengan satu wanita?!” kesal Mila.
Awalnya ia ingin menculik Mesya agar dirinya bisa kembali pada Indra, akan tetapi dirinya gagal karena empat orang suruhannya itu tidak bisa menculik Mesya.
“Maaf, Nona. Pria yang bersamanya wanita itu mengancam kami dan bahkan dia membawa senjata api.”
“Dasar bodoh! Begitu saja tidak becus! Kalian itu berempat, sedangkan pria itu hanya sendirian. Dasar tidak berguna!” Mila Kembali membentak empat pria tersebut.
Salah satu di antara pria tersebut terlihat murka mendengar ucapan Mila, ia melangkah dan langsung mencekik Mila.
“Heh, wanita sialan! Berani sekali kamu bicara kamu tidak becus!” bentak pria tersebut.
Mila berusaha melepaskan tangan pria itu dari lehernya, karena dirinya seperti kesulitan untuk bernapas.
“Jika kamu bisa melakukannya sendiri, kenapa harus meminta bantuan kami!” melepaskan tangannya lalu mendorongnya dengan sedikit kasar hingga tubuh kecil Mila terbentur ke tembok.
“Punya nyali besar ternyata kamu, berani datang ke wilayah kami.”
Pria itu mengeluarkan senjata tajam, dan memperlihatkannya pada Mila.
Mila langsung ketakutan, tubuhnya langsung gemetar.
“Apa mau ka-kalian?!” tanya Mila dengan suara gemetar ketakutan, akan tetapi ia berusaha untuk tidak terlihat takut.
“Hahaha ... kamu bertanya apa mau kamu? Bagaimana kalau dengan tubuhmu?” usulnya melihat tubuh putih mulus Mila, apa lagi saat ini ia memakai pakaian dengan belahan terbuka.
Pria itu menelan saliva kasar.
“Jangan coba-coba berani menyentuhku!” Mila tidak mau kalah, menatap tajam pria tersebut.
Pria itu melangkah mendekatinya, melihat Mila dari atas sampai bawah. Netranya tertuju pada bibir Mila, jari jempolnya mengusap pelan bibir tersebut.
“Berani sekali kau menyentuhku!” menunjuk wajah pria itu.
“Bos, hati-hati Bos. Jangan karena hal ini anda masuk penjara lagi,” ujar salah satu temannya, bisa di bilang dirinya adalah bos dari tiga pria tersebut.
“Sialan!” kesalnya.
Ia sedikit menjauh dari Mila dan melirik amplop yang di tangan Mila.
Ia langsung mengambil paksa amplop tersebut, lalu membukanya.
Pria itu menyeringai jahat.
“Ini lebih dari cukup,” Ujarnya melirik Mila yang masih tampak ketakutan.
“Ayo kita pergi dari sini,” ajaknya pada anak buahnya setelah mendapatkan segepok uang dari tangan Mila.
“Aku bisa memberi kalian lebih dari uang itu. Anggap saja itu uang mukanya,” ujar Mila saat melihat empat pria itu hendak pergi.
Ke empat pria itu kembali membalikkan badannya, menatap Mila yang masih belum berpindah pada tempatnya.
“Ckck ... kamu memang wanita yang nyalinya besar, aku suka wanita sepertimu.”
Pria yang biasa di panggil bos oleh mereka itu, Kembali melangkah mendekati Mila.
“Apa yang kamu inginkan?” tanyanya merasa tergiur dengan tawaran Mila.
“Sangat mudah. Culik wanita yang tadi, setelah kalian menyelesaikan tugas itu aku akan memberikan uang sisanya.”
__ADS_1
Pria itu tampak berpikir sejenak, namun netranya tidak berpindah pada tubuh seksi Mila.
“Bagaimana bonus dengan tubuhmu juga? Aku bisa dengan mudah menculik wanita itu dan bahkan membunuhnya!” usul pria itu.
“Jangan gila! Aku tidak mau!” tolak Mila.
“Kalau begitu, kerjakan sendiri!” kesal pria itu karena Mila menolaknya, hendak berbalik badan.
“Baiklah,” ujar Mila lagi, tanpa pikir panjang lagi untuk menerima usulan pria itu.
“Nah, gitu dong. Jadikan lebih enak.”
“Tapi, setelah pekerjaan kalian beres. Jika gagal, kalian harus mengembalikan uang itu dua kali lipat,” usul Mila menatap tajam pria itu sambil melipat kedua tangannya.
“Oke,” sahut pria itu tanpa pikir panjang.
Mereka saling berjabat tangan tanda mereka saling menyetujui kesepakatan itu.
Setelah itu, Mila bergegas pergi dari tempat tersebut meninggalkan empat pria yang masih menatapnya dirinya.
“Bos, apa Bos sadar. Kita baru menghirup udara bebas, jangan sampai kita melakukan kejahatan lagi dan masuk penjara lagi.”
“Diam bodoh, kita atur rencananya agar tangan kita bersih. Bagaimana pun caranya kita harus bisa menculik wanita itu!”.
“Ini terlalu sangat berisiko, wanita itu sangat berbahaya. Bahkan dia mempunyai anak buah yang selalu menjaganya, itu yang terlihat. Kita tidak tahu yang tidak terlihat, mungkin ada banyak anak buahnya yang memantaunya dari kejauhan.”
“Persetan dengan semua itu. Bagaimana pun caranya, kita harus menculik wanita itu! Malam ini juga. Aku tidak peduli dengan anak buahnya itu, aku tidak takut sama sekali!”
“Maaf, Bos. Aku ingin menghirup udara bebas, jadi aku tidak ingin terlibat dalam penculikan ini,” ujar pria itu berlalu pergi.
“Pergi lah dan jangan kembali padaku lagi!” bentaknya pada anak buahnya yang melangkah sudah cukup jauh itu.
“Sialan!” umpatnya.
***
Di perjalanan pulang, di dalam mobil Mesya tampak banyak diam. Ia menatap keluar jendela, yang tampak hujan yang tidak terlalu deras.
Rintik hujan itu berjatuhan di kaca mobil, hingga berbentuk titik bulat.
“Pastikan hal ini suamiku tidak mengetahuinya. Aku tidak ingin membuatnya khawatir,” ujar Mesya membual obrolan pada anak buahnya sekaligus jadi sopirnya.
“Iya, Nona. Saya hanya mengingatkan, berhati-hatilah pada wanita itu. Bisa saja empat pria itu adalah orang suruhannya.”
“Jaman sekarang begitu banyak kejahatan, apalagi dengan uang semua masalah selesai. Selalu membawa orang rumah jika bepergian, wanita itu sangat berbahaya Nona.”
Mesya mengangguk, ia terpikir hal yang sama dengan pria yang menjadi sopirnya saat ini sekaligus anak buah dari sang suami yang di tugaskan untuk menjaga dirinya.
“Sekarang, tolong antar aku ke kantor kakakku. Aku sudah sangat lama tidak masuk ke kantor setelah pernikahanku, setelah itu kita ke kantor suamiku.”
Sang sopir mengangguk.
Tidak ada lagi percakapan di antara mereka hingga tiba di kantor kakaknya Reyhan.
Namun, saat tiba di depan kantor ia tidak mendapati mobil kakaknya yang terparkir di tempat khusus.
“Sepertinya Kakak belum ke kantor. Kita putar balik ke kantor suamiku saja, mungkin nanti malam aku akan ke rumah Kakak.”
Sang sopir kembali mengiyakan dan berputar balik menuju kantor sang suami.
Setelah pernikahannya, Mesya sangat jarang masuk kantor. Ia fokus dengan keluarga kecilnya, apalagi saat ini dirinya dan suami sedang menghadapi ujian yang datang.
Beruntung Reyhan sebagai seorang kakak yang sangat menyayangi kedua adiknya hingga dia mengerti dan tidak mempermasalahkan hal tersebut.
__ADS_1
Karena memang semua bisnis tersebut adalah tanggung jawabnya, untuk mengelolanya. Karena semua itu di serahkan padanya oleh papanya Erwin dan mereka bertiga.
***