
Dokter masuk ruang rawat inap ibu dari Zahra, memberitahukan jika mereka sudah bisa pulang hari. Karena kesehatan ibu dari Zahra sudah mulai membaik dan gula darahnya sudah normal kembali.
Dokter tersebut memberikan resep obat dan meminta Zahra untuk mengambil obat tersebut.
“Dek, kakak tebus obat dulu ya, sekaligus mau membayar biaya pengobatan ini ke administrasi.”
Zanira mengangguk, yang tengah menyuapi sang ibu untuk makan.
Zahra melangkah keluar dari ruangan tersebut, dengan langkah besar menuju ke meja administrasi.
“Nona Zahra ya. Maaf Nona, semuanya sudah lunas.”
Zahra mengernyit heran, siapa yang membayar semua biaya rumah sakit tersebut.
Petugas ruang sakit memberi rincian pembayaran yang sudah di lunasi, termasuk hutangnya atas penunggakan saat operasi Ayahnya dulu.
Zahra membulatkan matanya, semuanya memang sudah lunas.
“Siapa yang membayar ini?” tanya Zahra.
“Katanya kerabat Nona Zahra,” sahutnya.
“Kerabat? Siapa dia?” tanyanya dalam hati.
Setelah mengambil obat, Zahra kembali ke ruang rawat inap. Ia melihat ibunya sudah bersiap untuk pulang, walaupun masih sedikit pucat di wajahnya.
“Sudah kak?” tanya adiknya.
“Sudah,” sahutnya.
Mereka melangkah bersama keluar dari ruang rawat inap tersebut, perlahan melangkah menyusuri koridor rumah sakit.
Sebelum itu, Zahra sudah memesan taksi untuk mereka pulang.
Di dalam mobil, Zahra tampak diam menatap ke arah luar jendela.
“Ada apa nak? Maafkan Ibu yang selalu menyusahkan kamu,” tutur ibunya mengusap bahu putrinya sulungnya.
“Ibu, jangan meminta maaf. Ini sudah jadi kewajiban Zahra, sebagai anak tertua Zahra akan bertanggung jawab setelah kepergian Ayah.”
Tiba di rumah, Zahra meminta sang ibu untuk beristirahat di kamar. Sementara dirinya masih sibuk menghubungi Arga, karena ia menduga Arga yang membayar semua tunggakan di rumah sakit.
“Halo Arga, kamu masih kerja?” tanyanya.
“Iya halo. Ada apa, Ra? Aku masih bekerja.”
“Apa aku boleh bertemu denganmu sore nanti? Ada yang ingin aku bicarakan, tapi tidak bisa melalui telepon.”
“Boleh. Kita bertemu di tempat biasa saja,” sahut Arga.
“Iya, kabari aku jika kamu sudah pulang dari kantor.”
“Iya,” sahut Arga.
Mereka mengakhiri panggilannya.
__ADS_1
*
*
*
Sore hari, Zahra sudah lebih dulu tiba di tempat biasa mereka bertemu.
Cukup lama ia menunggu, terlihat sebuah mobil datang, yang bisa di pastikan jika itu adalah milik Arga.
“Hai ...” ujar Zahra melambaikan tangannya.
“Apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Arga tanpa basa basi.
Zahra menatap Arga sejenak.
“Apa kamu yang membayar semua tagihan rumah sakit?” tanya Zahra langsung.
“Aku? Bukan! Aku tidak membayarnya sama sekali, sumpah.” Memperlihatkan dua jari telunjuk dan tengahnya pada Zahra.
“Lalu siapa?” tanyanya.
“Aku,” sahut Meysi yang tiba-tiba ada di belakang mereka.
Keduanya menoleh ke belakang, Zahra sedikit terkejut. Namun, tidak dengan Arga.
Meysi duduk di hadapan mereka berdua, menatap mereka secara bergantian.
“Nona, kenapa anda melunaskan semua tagihan rumah sakit? Walaupun begitu, aku tetap menolak dengan tawaran anda waktu itu,” ujar Zahra tetap pada pendiriannya.
“Apa maksudmu Nona? Aku tidak mengerti. Tapi, yang jelas aku akan menggantikannya. Aku tidak butuh belas kasihan dari orang! Selagi aku mampu.”
“Nona, kami memang miskin! Tapi, semua permintaan maaf tidak perlu dengan uang juga!”
“Aku akan tetap menggantikannya dengan cara di cicil,” tambah Zahra lagi.
“Baiklah kalau itu mau mu, aku tidak memaksa. Aku permisi,” pamit Meysi, ia menatap sekilas wajah Arga yang tampak diam sejak tadi bahkan tidak menatapnya sama sekali.
Meysi pergi dari tempat tersebut, meninggalkan mereka yang masih menatap kepergian Meysi hingga tidak terlihat lagi.
“Arga, kamu mengenali wanita itu?” tanya Zahra.
Arga menghela napas berat, lalu mengangguk.
“Iya. Namanya Meysi, sebelum menikah Ayahku sudah bekerja dengan mereka. Orang tuanya sudah meninggal, dia hanya bertiga dengan kakaknya tinggal di rumah itu. Hingga sekarang Ayahku masih bekerja, bahkan kami semua di minta untuk tinggal di rumah tersebut oleh Pak Reyhan, yaitu Kakak kandung Nona Meysi. Mereka adalah keluarga kedua Ayahku, bahkan nyawanya pun Ayah ku rela dikorbankan untuk mereka. Begitu besar kebaikan mendiang Nenek Dira pada Ayah dan keluarga Ayahku.”
Arga menceritakan panjang kali lebar.
“Oh, jadi kamu sangat mengenalinya?”
“Iya, lebih tepatnya kami sangat dekat seperti Kakak dan adik.”
Hening sejenak.
“Arga, aku ingin memberitahumu sesuatu.”
__ADS_1
Arga menatapnya serius.
“Apa?” tanyanya.
“Sebenarnya Nona Meysi ....”
“Ingin menjodohkan mu dengan Kakaknya,” sela Arga.
“Kamu sudah mengetahui ini?” tanya Zahra membulatkan matanya.
Arga mengangguk.
“Pasti kamu tahu, alasannya. Kenapa Nona Meysi memintaku untuk menikah dengan kakaknya? Apa dia cacat, atau buruk rupa atau juga dia sudah tua dan tidak laku lagi?” tanya Zahra menghujani Arga dengan pertanyaan.
Arga terkekeh, lalu menggelengkan kepala.
“Meysi itu punya kembaran yang baru saja menikah, namanya Mesya. Meysi berpikir jika dirinya sudah menikah, pasti Pak Reyhan akan kesepian dan sendirian di rumah.”
“Lalu kenapa dia tidak menikah juga?” tanya Zahra lagi.
“Siapa?” tanya Arga sedikit bingung dengan pertanyaan Zahra.
“Itu, si Reynan.”
“Reyhan maksudmu?”
“Akh ... iya itu. Entah kenapa namanya susah sekali!” protes Zahra.
“Semenjak orang tuanya meninggal, yang di pikirkan Reyhan adalah bisnis dan kedua adiknya. Ia tidak mempunyai waktu untuk mencari istri, bahkan makan pun Ayahku yang sering mengingatkannya.”
“Tapi, mereka semua orang baik, termasuk Meysi.”
“Apa kamu sudah mempertimbangkan tawaran Meysi? Pikirkan baik-baik, jika kamu ingin menyekolahkan adikmu hingga pendidikan tertinggi dan kamu juga bisa membawa ibumu berobat ke luar negeri.”
“Tidak! Aku bisa bekerja untuk menyekolahkan mereka! Bahkan berobat untuk Ibuku!” tolak Zahra.
“Lagian, jika aku setuju menikah dengan Kakaknya. Aku seperti wanita murahan, menikah karena uang!”
“Dasar bodoh! Siapa yang menganggap mu wanita murahan?! Kamu memang menikah dengan Kakaknya, bukan tidur dengan Kakaknya lalu pergi!”
“Pikirkan baik-baik, Nona Meysi itu adik pengusaha terkenal dengan bisnis ada dimana-mana. Jika dia berkata berjanji membiayai semua kebutuhan keluargamu, dia tidak berkata bohong," tambah Arga lagi.
“Tidak Arga. Aku hanya wanita rakyat jelata, yang tidak cocok disandingkan dengan pangeran kaya,” tutur Zahra meratapi kemiskinannya.
“Ya terserah padamu. Aku tidak memaksa mu, semua keputusan ada di kamu. Sepertinya sudah hampir malam, aku akan mengantarmu pulang.”
Zahra melihat sekelilingnya hari sudah mulai gelap, ia mengangguk.
Mereka melangkah bersama, masuk ke dalam mobil.
“Maaf, Zahra. Di kantor tidak ada lowongan pekerjaan, aku belum bisa membantumu. Jika ada lowongan pekerjaan, aku akan mengabarimu.”
Zahra tersenyum lalu mengangguk.
***
__ADS_1