Istri Untuk Reyhan

Istri Untuk Reyhan
Bab 42


__ADS_3

Reyhan masih berusaha membujuk istrinya yang masih cemberut, sepertinya sore ini ia rela tidak masuk ke kantor, padahal ada klien penting yang datang.


Terpaksa asistennya yang harus menggantikannya dirinya, karena tidak mungkin meninggalkan sang istri yang dalam keadaan marah.


“Kamu kenapa sih? Tumben banget marahnya seperti ini. Lagi datang bulan?” tanya Reyhan.


“Tahu apa tentang datang bulan?!” ketus Zahra.


Reyhan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung harus cara bagaimana lagi membujuk sang istri.


“Begitu sulit ternyata, membujuk wanita. Kalau ada pilihan lebih baik aku bekerja 24 jam, dari pada harus seperti ini!” gumamnya dalam hati.


Reyhan menyenderkan bahunya di sofa, masih memikirkan bagaimana cara membujuk wanita.


Terlintas di pikirannya, mencari ide melalui ponsel miliknya.


Ia merogoh ponsel yang di dalam tasnya.


Ia mendapatkan hasil dari pencariannya dan membaca sebuah artikel di layar ponselnya, membujuk istri dengan membawanya ke tempat yang romantis menjadi perhatiannya.


Lalu segera ia menghubungi seseorang, karena tidak ingin sang istri mendengar percakapannya tersebut.


Ia melangkah ke arah balkon yang terhubung dengan kamarnya, Zahra memicingkan matanya melihat sang suami menatap curiga.


Karena kesal Zahra memutuskan untuk tidur di kasur, dengan membungkus semua tubuhnya dengan selimut.


Saat kembali dari balkon, Reyhan terkekeh menatap sang yang membungkus dirinya dengan selimut.


“Sayang, masih marah?” tanya Reyhan lembut sembari membuka selimut.


Netranya tertuju pada mata sang istri yang terlihat basah, menarik pelan wajah Zahra agar menatapnya.


“Sayang, kamu menangis? Maafkan aku ya, jujur aku tidak ada hubungan apa pun pada wanita itu. Dia yang tiba-tiba saja memelukku,” tutur Reyhan lembut mencoba menjelaskannya.


Tidak ada jawaban dari Zahra, akan tetapi tangan Zahra memeluk tubuhnya. Bahkan menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami.


Reyhan mengulum senyumnya, itu pertanda jika sang istri sudah tidak marah lagi padanya.


Dua hari terpisah dengan istri, sukses membuat Reyhan begitu rindu.


Ia menghirup aroma tubuh Zahra yang membuatnya candu, hingga terbayang ketika saat dirinya jauh.


Tangan Reyhan yang mulai aktif di area favoritnya, dia mendapatkan angin surga ketika tidak ada penolakan dari sang istri.


Kini mereka mengulang kembali, setelah selama dua hari puasa.


Zahra tertidur pulas di pelukan sang suami, setelah berolahraga melelahkan mereka.


Reyhan menatap lekat wajah Zahra yang selama dua hari tidak bertemu, menyelipkan rambut yang menutupi sebagian wajahnya.


Setelah puas memandang wajah imut sang istri, ia mengambil ponselnya yang tergeletak di nakas.


Ia memeriksa pesan yang masuk, dari orang suruhannya.


Bibirnya tersenyum mengambang, melihat pesan tersebut. Jika kejutan untuk istrinya sudah beres.


Sore hari, Reyhan meminta Zahra agar segera bersiap dengan pakaian yang ia beli dengan secara online.


“Kita mau ke mana sih?” tanya Zahra.


“Sstt ... jangan banyak tanya! Aku akan membawamu ke suatu tempat,” sahutnya.


Setelah semua selesai bersiap, mereka bersama melangkah keluar. Sejak keluar dari kamar, Reyhan selalu menggandeng tangan istrinya.


Tak banyak yang berbisik, melihat mereka yang begitu serasi. Namun, ada satu wanita menatap mereka dengan tidak suka dari kejauhan.


Sekitar 20 menit melakukan perjalanan, mereka tiba di suatu tempat.


Reyhan mengajak istrinya keluar mobil, dengan mata dalam keadaan di tutup dengan kain.


“Sayang, aku kesulitan jalan!” protes Zahra.


“Aku bersamamu. Tenang lah, ayo maju lagi. Pelan-pelan Sayang,” tutur Reyhan lembut.


Melihat Zahra yang seperti takut untuk melangkah , karena melangkah dengan mata yang tertutup.


Reyhan langsung mengangkat tubuh Zahra, menggendongnya ke tempat yang sudah di siapkan oleh Reyhan.


Terdengar suara helaan napas Reyhan, karena menggendong sang istri.


“Aku gendut ya, Sayang?” tanya Zahra terkekeh, karena mendengar helaan napas panjang Reyhan.

__ADS_1


“Huftt ... enggak, cuma montok.”


Perlahan membuka kain penutup mata Zahra, mereka berdua hanya terkekeh mendengar candaan tersebut.


Setelah kain tersebut di lepas, Zahra perlahan mengerjap kedua matanya. Ia langsung terpana melihat tempat tersebut, yang di rahasiakan oleh suaminya sejak tadi.


Saat ini mereka berdua ada di sebuah kapal mewah, kapal pribadi Reyhan tentunya.


Ada meja dan dua buah kursi yang sudah di hias, ada beberapa orang pemandu musik tak jauh dari tempat mereka berdiri.


“Kamu suka?” tanya Reyhan, karena tidak melihat ekspresi sama sekali dari istrinya.


“Ini?”


“Iya, aku menyiapkan ini semua untuk menyambut kedatangan mu. Kamu suka?”


Zahra mengangguk antusias, lalu memeluk sang suami.


Zahra melepaskan dekapannya, Reyhan menarik pelan tangan Zahra untuk duduk.


Musik biola di mainkan, lalu datang beberapa pelayan membawakan makanan untuk mereka.


Makan malam yang cukup romantis, di temani musik di tambah lagi saat ini mereka di atas kapal yang sudah sangat lama di inginkan oleh Zahra.


Seusai makan, Reyhan mengeluarkan sebuah kotak dari sakunya.


Sebuah cincin dan kalung, yang tentu harganya juga sangat fantastis.


“Sayang. Selama pernikahan kita, aku belum pernah memberikan kamu ini.” Mengambil tangan Zahra, lalu menyematkan cincin di jari manisnya.


“Sayang, kamu sudah memberikan aku semuanya. Itu lebih dari cukup.”


“Tidak. Itu sebagai nafkahku padamu dan itu kewajiban. Ini adalah bonus untuk Istriku yang cantik.”


Reyhan melangkah mengitari meja, lalu memasang pelan kalung di leher istrinya.


“Kamu sangat cantik memakai ini,” ujar Reyhan memperhatikan kalung yang di pakai oleh istrinya.


“Terima kasih,” ujar Zahra penuh haru.


Reyhan mengajak istrinya ke lantai atas yang ada di kapal tersebut, di sana tidak kalah indah dengan yang ada di lantai bawah.


Sebuah kursi panjang yang di hiasi berbagai macam-bunga kesukaan Zahra.


Wajah Zahra tampak malu, karena selalu di pandang oleh sang suami.


“I love u,” bisik Reyhan di telinga Zahra.


Mendengar bisikan tersebut, Zahra semakin merah merona.


“I love u,” ucap Reyhan lagi.


Zahra mengangguk sembari menunduk menahan malu.


“Hanya mengangguk? Kamu tidak mau membalas perkataan ku?” ujar Reyhan memperlihatkan wajah kesal yang di buatnya.


“Mm ... aku malu,” ucap Zahra lirih.


“Malu?” ujar Reyhan mengangkat pelan dagu istrinya.


Netranya tertuju pada bibir pink istrinya yang membuat dirinya semakin candu.


Wajah mereka semakin dekat, hampir saja menyatu. Namun, tangan Zahra menahannya.


“Ada apa?” tanya Reyhan heran, melihat Zahra menahannya.


“Aku ada sesuatu untukmu juga,” ujarnya, mengambil sesuatu dari dalam tas kecil miliknya.


“Cari apa?” melihat Zahra yang tampak kesulitan merogoh tangannya ke dalam tas kecil tersebut.


Setelah ketemu, Zahra menatap wajah sang suami sambil tersenyum.


“Ada apa? Kenapa tersenyum seperti itu?”


“Tutup matanya,” pinta Zahra.


Tanpa protes, Reyhan menuruti apa yang di inginkan oleh istrinya. Namun, tangannya belum berpindah dari pinggang sang istrinya.


Merasa Reyhan benar-benar menutup matanya, Zahra mengeluarkan hasil testpack sudah ia tes tadi pagi.


Karena beberapa terakhir ini ia merasakan ada yang tidak beres dengan perutnya, bahkan ia sangat sensitif dengan aroma makanan.

__ADS_1


Apalagi, bulan ini Zahra sudah telat datang bulan. Hingga istri dari Toni yaitu Mala menyarankan untuk melakukan tespack.


Awalnya Zahra tidak percaya dengan hasil tersebut, hingga berulang kali ia mencoba. Namun, hasil yang ia dapati selalu sama yaitu garis dua.


Zahra memastikan hasil tersebut, dengan memperlihatkan tespack tersebut pada Mala.


“Sekarang buka matanya,” ujar Zahra.


Perlahan Reyhan membuka matanya, ia mengernyit heran karena baru pertama kali melihat benda tersebut.


“Apa ini? Kamu demam?” tanyanya membolak balikkan tespack tersebut, karena hampir mirip dengan alat pengukur suhu badan.


“Yakin tidak tahu benda ini?” tanya Zahra.


Reyhan mengangguk.


Zahra menghela napas berat, ternyata kejutan yang ia berikan sama sekali tidak membuat suaminya terkejut.


“Ini namanya alat tes kehamilan dan kamu sebentar lagi akan menjadi Ayah,” bisik Zahra.


Wajah Reyhan yang semula bingung, langsung berubah menjadi tersenyum lebar. Ia memperhatikan benda tersebut, terdapat dua garis dengan satu garis yang masih samar-samar.


“Sayang, kamu hamil?” tanya Reyhan memastikan.


Zahra antusias mengangguk.


Tanpa menunggu lagi, Reyhan langsung memeluk istrinya dengan erat. Bahkan berulang kali mencium wajah istrinya.


Zahra mengalungkan tangnya di leher suaminya, agar tidak terjatuh.


“Terima kasih, Sayang. Ini hadiah terindah untukku.” Reyhan tanpa sadar meneteskan air mata, memeluk masih memeluk sang istri.


“Selamat ya Sayang, kamu akan menjadi Ayah.” Reyhan tidak bisa berkata-kata lagi, ia hanya bisa mengangguk.


Cukup lama mereka berpelukan, tangan Reyhan mulai menyelinap masuk ke dalam baju Zahra.


Dengan cepat Zahra menepisnya, karena melakukan jika ada yang melihat mereka. Apa lagi posisi mereka saat ini di luar kamar, walaupun di kapal pribadi Reyhan. Akan tetapi, kapal tersebut masih dalam keadaan bersandar.


Plak!


“Sayang, kita masih di luar. Bagaimana kalau ada yang melihat kita?!” protes Zahra memukul pelan tangan Reyhan.


“Aku akan menghukum mereka!” ujar Reyhan tanpa peduli.


“Sayang, jangan seperti ini!”


Reyhan akhirnya menyerah dan menuruti apa yang di ucapkan oleh istrinya.


“Baiklah. Sekarang kita masuk ke dalam, udara sangat dingin.” Menggendong tubuh istrinya untuk masuk ke dalam kamar yang berada di kapal tersebut yang sudah di siapkan.


Malam ini, Reyhan mengajak istrinya untuk tidur di kapal. Karena besok pagi, mereka akan jalan-jalan ke villa mereka yang ada di sebuah pulau kecil tidak jauh dari kota tersebut.


“Kita tidur di kapal?” tanya Zahra.


Reyhan mengangguk, ia perlahan meletakkan tubuh istrinya di tempat tidur empuk itu.


Reyhan masih berada di atas tubuh Zahra, sembari merapikan rambut istrinya ke belakang telinga.


Melihat istrinya yang begitu cantik malam ini, apalagi baju yang di kenakan oleh istrinya sehingga membuatnya lebih cantik.


Reyhan tidak bisa lagi menahannya, hingga ia meminta izin pada istrinya untuk mengulang kembali olahraga mereka.


Pertempuran tersebut tidak lama, bahkan Reyhan melakukannya penuh dengan sangat lembut. Mengingat ada nyawa di dalam perut istrinya.


Setelah pertempuran itu selesai, Reyhan menarik istrinya ke dalam pelukannya sembari memainkan rambut istrinya yang halus itu.


“Aku akan mengatur jadwalku untuk memeriksa mu ke Dokter. Kita harus tahu, apakah aku boleh melakukannya.”


“Bukankah kamu baru saja melakukannya, Sayang. Seharusnya, memeriksa kesehatan calon anakmu!” protes zahra.


Reyhan terkekeh.


“Aku tidak bisa menahannya lagi, apa lagi melihatmu begitu sangat cantik malam ini. Pisau belatiku ingin segera masuk ke dalam sarungnya. Aku juga tahu batasannya kok, aku melakukannya dengan sangat lembut.”


“Dasar!” kesal Zahra mencubit perut Reyhan.


Reyhan hanya terkekeh, walaupun berulang kali Zahra mencubit perutnya tidak membuatnya merasa sakit sama sekali.


Reyhan memeluk erat Zahra, dirinya sangat bersyukur bisa bertemu dengan wanita seperti Zahra.


Walaupun awal pernikahan mereka tanpa di dasari cinta, akan terbukti saat ini Reyhan begitu sangat mencintainya.

__ADS_1


Percaya atau tidak, cinta akan tumbuh dengan seiring berjalannya waktu.


***


__ADS_2