
Jam dinding menunjukkan pukul 10.00 pagi, suami istri ini masih betah dalam selimut tebal mereka.
Zahra menggeliat, perlahan mengangkat tangan suaminya yang masih di atas perutnya.
Pagi ini, Zahra merasa sangat segar. Karena ia tidak merasakan mual lagi, tak seperti biasanya setiap pagi dirinya selalu ada drama di kamar mandi karena mual-mual dan muntah.
“Sayang, sudah pagi.” Mengusap dagu yang tampak sudah di tumbuhi bulu-bulu halus.
“Hm ...” deham Reyhan menarik pelan tangan istrinya dari dagunya, karena mengganggu tidurnya.
Melihat Reyhan yang belum bangun juga, Zahra beranjak pelan dari tempat tidur lalu melangkah ke kamar mandi untuk buang air kecil, setelah itu mencuci wajahnya.
Saat keluar dari kamar mandi, melihat mata suaminya masih terpejam. Ia berinisiatif membuka tirai, agar pencahayaan masuk ke dalam kamar mereka.
Lalu membuka pintu balkon, agar angin sejuk di pagi hari masuk ke dalam kamar mereka.
Namun, Zahra mendengar begitu ramai di luar sana. Rasa penasaran yang tinggi, Zahra melangkah ke luar balkon dan melihat ada beberapa wartawan di depan rumah mereka.
“Kok banyak orang. Seperti para wartawan?” gumam Zahra, karena memang dirinya belum mengetahui kejadian yang sebenarnya.
Zahra Kembali melangkah masuk, untuk membangunkan suaminya.
“Sayang, kenapa begitu banyak wartawan di depan rumah? Apa kamu mengundang mereka?” tanya Zahra sembari menggoyangkan bahu suaminya.
Reyhan mulai mengerjapkan matanya, tampak kelopak matanya menyipit karena silau cahaya dari luar.
Perlahan Reyhan duduk, lalu mengusap wajahnya.
“Ada apa Sayang? Kenapa menggangguku sepagi ini?” ujar Reyhan dengan lembut, tidak ingin membuat istrinya tersinggung lagi.
“Kenapa banyak wartawan di depan rumah?” tanyanya.
Reyhan terdiam sejenak.
“Biarkan saja.” Menarik pelan tubuh istrinya untuk memeluknya.
“Sudah siang, ayo bangun. Aku sangat lapar,” keluh Zahra sembari memegang perutnya.
“Makanlah, aku akan menyusulmu.” Perlahan melonggarkan dekapannya.
Zahra mengangguk.
Pagi ini Zahra tidak banyak protes dari hari sebelumnya, yang biasanya harus makan bersama sang suami.
Reyhan melihat istrinya mengangguk, ia tersenyum. Karena tidak seperti biasanya, istrinya tidak protes.
Melihat Zahra yang ingin beranjak, Reyhan langsung menahannya.
“Aku hanya bercanda. Tunggu sebentar,” ujarnya karena tidak mau istrinya turun sendirian.
Reyhan bergegas ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya, lalu kembali keluar menemui istrinya yang tengah merapikan tempat tidur mereka.
Mereka melangkah bersama menuruni anak tangga, tampak di ruang tamu tampak sepi.
Setelah tiba di meja makan, Reyhan dan istrinya mulai sarapan dan makan makanan yang sudah di siapkan oleh asisten rumah tangganya.
***
Di kamar, Meysi mengerjapkan kedua matanya. Melirik ke sampingnya tidak ada suaminya, mengedarkan pandangan ke seluruh kamar. Namun, tidak ada tampak sang suami.
Perlahan duduk di tepi tempat tidur, ia merasakan perutnya yang luka terasa nyeri.
“Sstt ... kok nyeri?”
Membuka bajunya sedikit, untuk melihat lukanya yang masih terbalut perban. Tampak luka tersebut kembali mengeluarkan darah, karena terlihat dari perban putihnya.
Melirik jam dinding, Meysi harus kembali minum obatnya, karena sudah lebih dari 4 jam.
Selesai semuanya, perlahan Meysi melangkah ke sofa. Karena bosan, ia ingin menyalakan televisi di kamarnya.
Salah satu stasiun televisi menayangkan sebuah berita mengejutkan, berita yang membuat Meysi begitu sangat terkejut.
“Novi ... di pe-penjara?” gumamnya sambil terbata.
Sudah ia duga, jika Toni pasti tidak akan membiarkan Novi sahabatnya berkeliaran bebas. Apalagi dirinya sendiri yang menjadi korban oleh sahabatnya.
“Hufft ... entah bagaimana dengan keluarganya? Terutama pada Ibunya yang sudah berumur. Arghh ... kenapa jadi seperti ini? Novi, andai saja kamu ... hah! Sudahlah, aku juga tidak bisa berbuat banyak,” keluh Meysi menyenderkan bahunya, masih melihat siaran televisi yang berlangsung. Namun, bukan berita sahabatnya yang di siarkan, melainkan film kesukaannya.
Matanya tertuju pada televisi, akan tetapi tidak dengan pikirannya yang tertuju akan nasib Novi saat ini.
Ia baru menyadari, kenapa suaminya melarangnya untuk membuka ponselnya pagi tadi.
Ceklek ...
__ADS_1
Pintu kamar terbuka, menandakan ada yang masuk.
Meysi melihat pintu tersebut hanya terbuka, akan tetapi tidak ada orang yang masuk ke dalam kamar.
Per sekian detik, tampak Arga membawa nampan yang berisi makan siang untuk mereka berdua.
“Sayang,” panggil Arga pelan, netranya tertuju pada televisi yang menyala.
Sejenak Arga menghentikan langkahnya, apakah Meysi sudah melihat berita itu.
“Sayang, kenapa berdiri di situ?” tanya Meysi melihat langkah suaminya yang terhenti.
Arga kembali melanjutkan langkahnya, lalu meletakkan nampan tersebut.
Tak lama, ada Toni yang datang mengetuk pintu. Walau pintu sudah terbuka, Toni tetap mengetuk pintu sebelum masuk ke kamar. Bersamaan dengan Reyhan yang baru datang menghampiri mereka.
Setelah berbincang pagi tadi, mereka bertiga sepakat akan memberitahu tentang gadis yang begitu dekat Meysi.
Karena tidak ingin Meysi mengetahuinya lebih dulu dari orang lain, tapi faktanya Meysi lebih dulu mengetahuinya dari siaran televisi.
“Kok pada di sini semua? Tumben!” tanya Meysi heran, bahkan kakak iparnya Zahra juga menyusul suaminya datang ke kamar mereka.
Semua orang duduk di sofa, yang berhadapan dengan Meysi. Kecuali Zahra dan Arga yang duduk di samping kiri dan kanan Meysi.
“Masih sakit Sayang?” tanya Zahra menatap dengan rasa sangat prihatin yang menimpa adiknya, karena korban di tangan sahabatnya sendiri.
“Enggak, kak.”
“Ada apa? Apa ada yang ingin kalian bicarakan padaku?” tanyanya lagi.
“Mey. Kakak ingin bicara serius padamu!”
“Aku sejak tadi serius kak! Aku menunggu kalian untuk bicara!” protes Meysi.
Zahra terkekeh mendengarnya.
Reyhan mulai menceritakan pada adiknya, tentang sahabatnya saat ini. Karena ia tidak bisa menyembunyikan Hal sebesar ini pada Meysi.
Meysi masih mendengarkan apa yang di ceritakan oleh kakaknya.
Reyhan bisa saja menghukum Novi, bahkan membuatnya menderita seumur hidup.
Namun, kebahagiaan adiknya lebih utama saat ini. Reyhan tidak ingin adiknya kecewa atau membencinya, sumber kebahagiaan saat ini adalah adiknya.
Reyhan menatap sang adik, dari raut wajahnya Meysi terlihat kecewa.
“Kakak tidak bisa menahan diri lagi. Sekarang Kakak serahkan padamu, karena kebahagiaanmu adalah kebahagiaan ku juga. Pikirkan semua ini dengan baik-baik,” tutur Reyhan lagi.
Tok ... Tok ...
Salah satu penjaga rumahnya datang.
“Maaf, Tuan. Di luar ada orang yang memaksa masuk, karena ingin bertemu Tuan Reyhan dan Nona Meysi.”
“Siapa? Apa mereka bagian dari wartawan?” tanya Reyhan penasaran.
“Sepertinya bukan, Tuan. Mereka sepasang suami istri yang sudah tua,” sahut penjaga rumahnya tersebut.
Reyhan semakin mengernyit heran, sekaligus penasaran.
Ia beranjak dari tempat duduknya, lalu melangkah keluar.
Ia ingin memastikan siapa yang datang.
Reyhan mengintip dari jendela, terlihat orang tersebut dengan duduk di luar pagar di bawah terik panasnya sinar matahari. Namun, Reyhan tidak pernah melihat suami istri tersebut.
Karena sangat penasaran dengan mereka, Reyhan memperbolehkan mereka untuk masuk.
“Bawa mereka masuk,” ujar Reyhan.
Sambil menunggu dua orang tersebut, Reyhan duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
Saat mereka masuk, dua orang tersebut langsung bersimpuh di kaki Reyhan.
Karena terkejut dengan tingkah mereka yang datang langsung bersimpuh di kakinya, refleks Reyhan langsung berdiri.
“Tuan, maafkan putri kami. Jangan hukum putri kamu, Tuan. Hukum saja kami,” ujar kedua orang tersebut sambil bersimpuh.
Air mata yang tiada hentinya mengalir di pipi wanita tua itu.
“Maaf Bu, Bapak. Jangan seperti ini, kita bisa bicarakan ini dengan baik.” Membawa kedua orang tersebut untuk duduk di sofa.
“Putri siapa yang kalian maksud?” tanya Reyhan bingung.
__ADS_1
Karena memang dirinya tidak mengenali orang yang ada di hadapannya saat ini, apalagi dengan putri mereka.
“Putri kami Novi, Tuan.”
Reyhan langsung membulatkan matanya, dia tidak menyangka jika orang tua dari Novi datang ke rumahnya.
“Tuan, kami memohon dengan segala kerendahan kami. Agar Tuan berbesar hati bisa membebaskan putri kami, kami sendiri yang akan memberinya hukuman yang sangat setimpal.” Wanita itu menyatukan kedua tangannya, dengan kepala menunduk.
Reyhan masih terdiam, melihat pasangan suami istri ini yang sudah tampak keriput. Tangannya yang begitu kurus, hanya terbalut kulit saja.
Tak terbayang di benaknya jika orang tuanya sendiri yang mengemis memohon seperti itu.
Reyhan memijit pelipisnya yang terasa pusing.
“Tuan, kami mohon Tuan.” Suami dari wanita yang ada di hadapannya itu kembali bersimpuh di kakinya.
“Jangan seperti ini, Pak. Aku akan memanggil adikku, kalian bisa langsung bicara dengannya.”
Keduanya mengangguk. Reyhan beranjak dari tempat itu, lalu melangkah kembali ke kamar adiknya.
“Siapa yang datang, Sayang?” tanya Zahra.
Mereka masih duduk di tempat mereka sebelumnya, belum berpindah sama sekali.
“Mey, ada orang tua dari gadis itu. Mereka ingin bertemu denganmu,” ujar Reyhan pada adiknya.
Meysi terdiam, tidak mengiyakan atau menggelengkan kepalanya.
“Kakak serahkan padamu, pikirkan baik-baik sebelum mengambil keputusan. Aku bisa saja langsung menghilangkan nyawa gadis itu sekarang juga! Tapi aku memikirkan kalian, apalagi istriku saat ini sedang mengandung. Aku tidak ingin perbuatanku menjadi malapetaka ketika dia besar kelak dan mengotori masa depan anakku!”
Reyhan berjongkok di depan adiknya, sembari memegang tangan dingin Meysi.
“Aku yakin, ada hikmah di balik ini. Percayalah, Kakak tidak akan membiarkan dia kembali membuat ulah!”
Meysi tersenyum, lalu mengangguk.
“Aku membayangkan jika mereka adalah orang tua kita, melihat mereka rela datang kemari dan tidak malu meminta maaf dan pengampunan dari kita. Bagaimana jika posisi kita berada seperti mereka?” ujar Reyhan.
Sebelumnya, Reyhan tidak ingin membiarkan Novi hidup di dunia ini. Karena saat itu dirinya di penuhi amarah, setelah melihat orang tua dari Novi, pintu hatinya terbuka. Tidak ada satupun di dunia ini tidak pernah melakukan kesalahan.
“Iya, Kak. Akupun merasakan hal yang sama, Meysi sudah memaafkan Novi jauh sebelum orang tuanya datang kemari. Novi adalah tulang punggung keluarganya, bagaimana nasib mereka jika Novi di penjara.”
Reyhan mendengarnya langsung tersenyum.
“Kakak tanya satu kali lagi. Apa kamu sudah yakin ingin membebaskan Novi?” tanyanya.
Tanpa ragu Meysi mengangguk.
“Kakak, kita lupakan masalah ini dan ditutup saja. Aku juga sudah baik-baik saja, bukan? Lukaku juga sudah sembuh, tidak baik menyimpan dendam terlalu lama.”
“Baiklah.” Mengusap pipi adiknya.
Reyhan dan Toni melangkah keluar dari kamar tersebut, untuk kembali menemui orang tua dari Novi yang tengah menunggunya di ruang tamu.
“Sungguh besar hatimu, Sayang. Arga sungguh beruntung mempunyai istri sebaik dirimu,” puji Zahra pada adiknya.
Arga hanya tersenyum menanggapinya, ingin sekali dirinya memeluk istrinya saat ini. Karena begitu bangga mempunyai istrinya seperti Meysi, akan tetapi ia mengurungkan niatnya itu karena masih ada Zahra di kamar tersebut.
***
Di tempat lain, Indra tengah menunggu seseorang yang sudah berjanji sebelumnya untuk bertemu.
Wanita itu datang dengan gaya centilnya, memegang bahu Indra yang tengah duduk di kursi menunggunya.
Indra langsung menepis kasar tangan tersebut, terlihat dari raut wajahnya dirinya sangat jijik dengan wanita itu.
“Melina. Ku peringatkan kamu, jangan pernah mengganggu istriku dan Dafi lagi! Sekali lagi kamu datang dan ingin meminta uang, kamu akan menerima akibatnya!” ancam Indra menatap murka pada Melina.
Karena sebelumnya, Melina datang kembali untuk meminta uang pada istrinya, karena mereka sudah memberikan Dafi pada mereka.
“Wajar aku meminta uang pada kalian, karena Dafi adalah keponakanku!” ketus Melina.
“Oh, ya. Lalu ke mana kalian selama ini?! Anak usia empat tahun mengemis di jalan, meminta belas Kasihan hanya untuk makan!” geram Indra.
“Aku tidak tahu jika dia mengemis!” masih dengan bernada ketus.
“Kali ini aku memberi peringatan keras padamu! Jika kamu datang ke rumah lagi, aku akan menyebarkan video syurmu itu agar seluruh dunia tahu! Bahkan kamu kerap menjual diri demi kepuasanmu!” ancam Indra.
Melina tampak terkejut mendengarnya, bagaimana bisa Indra mengetahui perbuatannya yang menjual tubuhnya pada orang lain.
Karena kesal, Melina langsung beranjak dari tempat itu dan meninggalkan Indra menatap tajam dirinya.
“Kurang ajar sekali dia! Selalu mengganggu istriku, dengan meminta uang setiap Minggu!” kesal Indra karena mendapatkan kabar dari penjaga rumahnya. Bahwa, Melina setiap Minggu datang walaupun sudah ada surat perjanjian dari istrinya dan melina. Bahkan ia mengancam istrinya untuk membunuh Dafi jika tidak memberikannya uang.
__ADS_1
***